PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA SUBTEMA KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSAKU UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN LEUWILIANG KABUPATEN SUMEDANG

SULISTYANINGSIH, 105060318 (2016) PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA SUBTEMA KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSAKU UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN LEUWILIANG KABUPATEN SUMEDANG. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
COVER.docx

Download (36kB)
[img] Text
lembar pengesahan.docx

Download (12kB)
[img] Text
Motto dan Persembahan.docx

Download (11kB)
[img] Text
PERNYATAAN.docx

Download (11kB)
[img] Text
abstrak.docx

Download (16kB)
[img] Text
KATA PENGANTAR.docx

Download (13kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.docx

Download (18kB)
[img] Text
bab 1-5.docx

Download (856kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA1.docx

Download (23kB)
[img] Text
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.docx

Download (88kB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul ”Penerapan Model Discovery Learning pada Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku untuk Menngkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Leuwiliang Kabupaten Sumedang”. Pembelajaran selama ini kurang meningkatkan minat, keaktifan, partisipasi dan pengalaman belajar sehingga siswa dalam pembelajaran kurang bersemangat. Oleh karena itu, guru harus mampu menggunakan metode atau model dalam pembelajaran yang sesuai sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Model yang dimaksud adalah model pembelajaran Discovery Learning dengan tujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan system siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, oservasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil prestasi belajar siswa rata-rata pada siklus I jumlah siswa yang mencapai KKM 19 orang siswa dan yang belum mencapai KKM 8 siswa dengan jumlah presentase 70,37%, sedangkan pada siklus II prestasi belajar siswa meningkat 24 siswa dapat mencapai KKM dan 3 siswa belum mencapai KKM dengan persentase 88,88%. Namun setelah dilaksanakan penelitian kembali pada siklus III prestasi hasil belajar siswa rata-rata meningkat kembali, ketuntasan siswa mencapai 96,30% dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 26 siswa dan 1 siswa belum mencapai KKM. Dari data tersebut menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learnng dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha untuk meningkatkan kualitas diri seseorang di dalam lingkungan masyarakat. Dengan pendidikan manusia dapat lebih dihargai, dihormati dan disegani di dalam lingkungannya, karena manusia yang berpendidikan akan lebih mempunyai sikap tolong-menolong, tanggung jawab, toleransi, dan cinta kasih terhadap sesamanya. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan watak pada diri seseorang karena orang yang cerdas saja tidak akan berkembang kecerdasannya jika tidak diarahkan dan dikembangkan sesuai dengan karakter pendidikan. Maka dari itu, setiap individu dituntut untuk melaksanakan pendidikan agar menjadi manusia yang berkarakter sesuai harapan. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 3, menyatakan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Tercapainya tujuan pendidikan di Indonesia tidak dapat terlepas dari peran guru, siswa, masyarakat maupun lembaga terkait lainnya. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan menuju tercapainya tujuan tersebut perlu diadakan suatu upaya perbaikan sistem pembelajaran inovatif yang merangsang siswa untuk mencintai yang akhirnya mau mempelajari secara seksama terhadap suatu mata pelajaran. Pemerintah dari tahun ketahun selalu menyoroti dunia pendidikan bahkan selalu mengadakan perubahan perbaikan kurikulum, dimaksudkan agar pendidikan di Indonesia ini semakin menuju kearah yang lebih baik dan menciptakan manusia-manusia yang berkarakter dan kecerdasan yang tinggi, karena kemajuan bangsa ditentukan pada generasi-generasi yang hebat. Salah satu upaya pemerintah untuk memperbaiki dunia pendidikan adalah merumuskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, yang diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif, inovatif dan menghasilkan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Setelah dilaksanakannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ternyata kurikulum tersebut masih dirasa perlu adanya perbaikan, karena di dalam kurikulum ini gurulah yang dituntut lebih aktif dan kreatif dalam menyampaikan pembelajaran sehingga berdampak pada siswa yang kurang aktifdan tidak mandiri. Siswa selalu mendapatkan informasi-informasi dari guru sehingga mereka merasa tidak perlu mencari informasi yang mereka butuhkan sendiri hal ini yang menyebabkan siswa menjadi tidak aktif dan selalu bergantung pada guru. Untuk mengatasi permasalah tersebut pemerintah kemudian merumuskan dan melakukan perbaikan kembali kurikulum pembelajaran. Sesuai dengan identifikasi masalah terhadap (KTSP) maka dirumuskanlah kurikulum 2013 berbasis karakter, di mana kurikulum 2013 tersebut menuntut siswa lebih aktif, kreatif, inovatif, kerjasama dan mandiri dalam melaksanakan pembelajaran. Kurikulum 2013 diharapkan mampu menciptakan perubahan yang positif untuk kemajuan dunia pendidikan khususnya SD, SMP, dan SMA. Penerapan pembelajaran tematik terpadu dalam kurikulum 2013 sangat menarik karena menggunakan tema sebagai pemersatu yang mencakup seluruh pembelajaran dalam satu kali pertemuan, serta berpusat pada siswa untuk mencari dan menemukan informasi pembelajaran secara mandiri sehingga siswa mempunyai pengalaman langsung. Untuk membentuk siswa yang berkarakter sesuai dengan harapan bangsa maka peneliti ingin mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran yang termasuk dalam kategori pembelajaran saintifik yaitu discovery learning. Model pembelajaran discovery learning merupakan suatu metode pengajaran yang menitik beratkan pada aktifitas belajar siswa, seperti yang diungkapkan oleh Wilcox (Slavin,1977:70), sebagai berikut. Dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Pendapat lain tentang discovery learning diungkapkan oleh Robert B. Sund (2001: 219) sebagai berikut. Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, dan penentuan. Proses tersebut disebut cognitive process, sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating and principles in the mind. Model pembelajaran discovery learning memiliki beberapa keunggulan seperti yang di ungkapkan oleh Hosnan (2014: 287), diantaranya: (1) Mendorong peserta didik berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri; (2) Mendorong peserta didik berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri; (3) Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; (4) situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. Adapun pelaksanaan strategi discovery learning di kelas, menurut Syah (2004: 244), ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum diantaranya: (1) Pernyataan / identifikasi masalah; (2) Stimulasi / pemberian rangsangan; (3) pengumpulan data; (4) pengolahan data. Menurut pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran discovery learning menitik beratkan pada keaktifan siswa dalam melaksanakan pembelajaran dimana siswa dituntut untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip secara mandiri sehingga siswa mempunyai pengalaman langsung dalam pembelajaran dan akan mempermudah siswa mengingat pembelajaran melalui penemuan yang dilakukannya. Dengan mengaplikasikan model pembelajaran discovery learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan dari diri siswa. Penggunaan model 20ajaran discovery learning, ingin merubah pembelajaran yang pasif menjadi aktif dan kreatif, serta mengubah siswa yang tadinya menerima informasi secara keseluruhan dari guru kini siswa menemukan informasi sendiri. Sehubungan dengan hal-hal di atas bahwa belum adanya penerapan model pembelajaran discovery learning berdasarkan masalah dalam kurikulum 2013, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Discovery Learning pada Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Leuwiliang Kabupaten Sumedang”. Dengan diterapkan model pembelajaran discovery learning di harapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, sehingga berpengaruh pula dengan tercapainya tujuan pendidikan. B. Identifikasi Masalah Berdasar latar belakang masalah di atas, maka dapat diuraikan bahwa berubahnya KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013 melahirkan tujuan pembelajaran yang baru. Perubahan kurikulum tersebut bisa dilihat dari segala aspek misalnya: penyesuaian pola fikir guru dan siswa, perubahan mindset, perubahan proses pembelajaran, bagaimana mengaktifkan siswa saat belajar sehingga menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama dan mendapatkan hasil belajar yang diharapkan. C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Rumusan Masalah Umum Apakah penerapan model pembelajaran discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang Kabupaten Sumedang? 2. Rumusan Masalah Khusus a. Bagaimanakah cara menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku kelas IV SDN Leuwiliang agar keaktifan dan hasil belajar meningkat? b. Bagaimanakah menerapkan model pembelajaran discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku kelas IV SDN Leuwiliang agar keaktifan dan hasil belajar meningkat? c. Adakah peningkatan keaktifan siswa kelas IV SDN Leuwiliang pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku setelah diterapkan model discovery learning? d. Adakah peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku setelah diterapkan model discovery learning? D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tujuan Umum Menerapkan model pembelajaran discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku agar keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang meningkat. 2. Tujuan Khusus a. Untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku kelas IV SDN Leuwiliang agar keaktifan dan hasil belajar meningkat. b. Untuk menerapkan model discovery learning pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku kelas IV SDN Leuwiliang agar keaktifan dan hasil belajar meningkat. c. Untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas IV SDN Leuwiliang pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. d. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang pada subtema Keragaman Budaya Bangsaku dengan menggunakan model discovery learning. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, peneliti dan sekolah sebagai berikut: 1. Bagi guru a. Dengan dilaksanakan penelitian tindakan kelas guru dapat memperbaiki pembelajaran. b. Dapat menemukan strategi pembelajaran yang tepat. c. Dapat lebih termotivasi untuk mengelola pembelajaran secara kondusif. d. Membantu dalam pencapaian ketuntasan belajar siswa. e. Membantu guru untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. 2. Bagi siswa a. Menarik perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. b. Dapat lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. c. Meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang di harapkan. 3. Bagi peneliti a. Bermanfaat menambah wawasan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. b. Sebagai referensi penelitian berikutnya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. 4. Bagi sekolah a. Membantu mencapai visi dan misi sekolah. b. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Kajian Teori 1. Model Pembelajaran Discovery Learning a. Definisi Model Pembelajaran Discovery Learning Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan oleh guru, bertujuan agar pembelajaran di dalam kelas berjalan secara efektif dan sesuai dengan konsep. Kegiatan belajar-mengajar hendaknya tidak hanya bertumpu pada guru, tetapi harus melibatkan siswa secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sehingga siswa dapat menemukan sendiri informasi-informasi yang dibutuhkan. Pembelajaran seperti ini disebut penemuan atau lebih dikenal dengan model pembelajaran discovery learning. Model pembelajaran discovery learning (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. (riensutiati99.Blogspot.com / 2013 / 04 / modd.Pembelajaran discovery-penemuan.html). Suherman, dkk. (2001:78), mengemukakan Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri. Pendapat lain tentang model pembelajaran discovery learning juga diungkap oleh Bell (1978:151), belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagai hasil dari siswa memanipulasi,membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru.Dalam belajar penemuan,siswa dapat membuat perkiraan,merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses deduktif,melakukan observasi dan membuat eksplorasi. Menurut beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa metode pembelajaran discovery learning lebih menitik beratkan pada aktifitas belajar, disini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Peserta didik harus terbiasa menemukan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip melalui pengamatan dan informasi yang di cari sendiri tanpa bantuan guru, karena di sini guru hanya berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Guru dalam memfasilitasi siswa harus memperhatikan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan kognitif siswa. dimaksudkan agar siswa benar-benar mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik dan sesuai dengan konsep-konsep atau prinsip-prinsip pembelajaran tersebut. Dengan demikian akan berpengaruh pada peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Meningkatnya keaktifan siswa dalam pembelajaran menggunakan model discovery learning secara tidak langsung mengubah gaya pembelajaran di dalam kelas yang tadinya siswa sangat tergantung oleh informasi-informasi yang di sampaikan oleh guru, kini siswa lebih aktif dan tertarik untuk mencari informasi pembelajaran yang mereka butuhkan sendiri. Dengan demikian terbentuklah sikap mandiri dalam diri siswa. b. Tujuan Pembelajaran Discovery Learning Model pembelajaran discovery learning bertujuan untuk membentuk siswa yang mandiri dan aktif dalam pembelajaran, dimana dalam model pembelajaran tersebut siswa dituntut untuk menemukan prinsip dan konsep secara mandiri sehingga siswa merasakan pengalaman secara langsung. Bell (1978: 165), mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan,yakni sebagai berikut. 1. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan. 2. Melalui pembelajaran dengan penemuan,siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkret maupun abstrak,juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan. 3. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan. 4. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif,saling membagi informasi serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain. 5. Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilan-keterampilan,konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemun lebih bermakna. 6. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus,lebih mudah ditransfer untuk aktivitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru. Dari pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tujuan pembelajaran discovery learning adalah untuk membuat siswa belajar aktif,saling berbagi informasi dengan teman atau kerja sama dan menuntut siswa untuk berpikir kritis menemukan konsep sendiri sehingga pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa mengalami dan melakukan sendiri pembelajaran tersebut yang diharapkan akan selalu mudah diingat dan tidak mudah lupa dalam memorinya, karena siswa terlibat langsung dalam menemukan hasil akhir. c. Karakteristik Model Pembelajaran Discovery Learning Model pembelajaran discovery learning merupakan model pembelajaran yang di kembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme yang diungkapkan oleh Hosnan (2013:284), yaitu sebagai berkut. 1. Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa. 2. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai. 3. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil. 4. Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan. 5. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar. 6. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa. 7. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa. 8. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif. 9. Banyak menggunakan terminlogi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran seperti prediksi, inferensi, kreasi dan analisis. 10. Menekankan “bagaimana” siswa belajar. 11. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru. 12. Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif. 13. Menekankan pentingnya konteks dalam belajar. 14. Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar. 15. Mmberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata. Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme tersebut, dapat melahirkan strategi discovery learning. Peneliti menyimpulkan karakteristik discovery learning yaitu sebagai berikut. 1) Pembelajaran yang menuntut siswa aktif bertanya,mencari dan berinteraksi dengan teman yang lainnya sehingga hubungan baik akan terjalin. 2) Menjadikan siswa agar merasa sebagai detektif yang mampu menyelidiki dan mencari penemuan-penemuan baru dari informasi yang mereka temukan. 3) Memupuk rasa tanggung jawab dalam diri siswa dalam menyelesaikan tugas- tugas dan masalah yang dihadapinya dalam pembelajaran di kelas. d. Tahap Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learnig Pelaksanaan model pembelajaran discovery learning terlebih dahulu harus merumuskan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran, agar pembelajaran berjalan sesuai dengan prosedur dan mendapatkan hasil yang diharapkan. Markaban (2006: 16), mengemukakan, agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut. a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang di tempuh siswa tidak salah. b. Dari data yang di berikan guru siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang henda dituju, melalui pernyataan-pernyataan, atau LKS. c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya. d. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju kea rah yang hendak dicapai. e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Di samping itu, perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur. f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar. Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran discovery learning adalah perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sehingga tidak terjadi kesalahan dalam konsep pembelajaran, siswa mengolah data, memproses dan menemukan informasi-informasi lain dan menyimpulkan data tersebut secara mandiri. Sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu dan terpacu untuk melakukan penemuan-penemuan berikutnya, dengan demikian akan tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan kurikulum. e. Peranan Guru dalam Pembelajaran Discovery Learning Peranan guru dalam pembelajaran discovery leaning adalah sebagai fasilitator. Guru membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan ketrampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Dahar (1989:80), mengemukakan beberapa peranan guru dalam pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut: 1. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa. 2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan,misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan. 3. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang efektif,ikonik,dan simbolik. 4. Ababila siswa memecahkan masalah laboratorium atau secara teoritis,maka guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor.Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari,tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan.Sebagai tutor,guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat. 5. Menilai hasil belajar merupan suatu masalah dalam belajar penemuan.Secara garis besar,tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan generalisasi-generalisasi itu. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa peranan guru dalam pembelajaran discovery learning adalah merencanakan pembelajaran sedemikian rupa yang bertujuan untuk memberikan motivasi dan menarik minat siswa dalam pembelajaran sehingga pembelajaran di dalam kelas berlangsung secara efektif. Dengan demikian guru dituntut untuk selalu mengeluarkan ide-ide yang kreatif dalam mengelola pembelajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. f. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery Learning Pembelajaran discovery learning mempunyai beberapa keunggulan di antaranya yang diungkapkan oleh Suherman, dkk. (2001:179) sebagai berikut. 1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuannya untuk menemukan hasil akhir. 2. Siswa memhami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat. 3. Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat. 4. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks. 5. Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri. Menurut pemaparan di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning atau metode penemuan dapat merangsang keaktifan dan minat belajar siswa yang tinggi. Dengan menggunakan metode penemuan siswa dapat memiliki daya ingat yang tinggi, karena siswa mengalami sendiri proses penemuan tersebut sehingga tercipta kepuasan batin dalam diri siswa yang secara tidak langsung akan mendorong siswa untuk melakukan penemuan-penemuan berikutnya. Model pembelajaran discovery learning disamping mempunyai keunggulan-keunggulan juga memiliki kelemahan, berikut ini adalah kelemahan model pembelajara discovery learning; 1. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang sebelumnya pemberi informasi menjadi fasilitator, motifator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru, ini bukan pekerjaan yang mudah karena guru memerlukan waktu yang banyak dan guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik. 2. Kesukaran daam menggunakan faktor subjektivitas, terlalu cepat pada suatu kesimpulan. 3. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah. 4. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model discovery learning, hanya topik yang berhubungan dengan prinsip yang dapat dikembangkan dengan model penemuan ini. Menurut pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran discovery learning mempunyai keterbatasan yang sama dengan model pembelajaran yang lain. Model pembelajaran discovery learning hanya dapat digunakan untuk topik tertentu dan kegagalan dalam penerapan model pembelajaran ini dipicu karena siswa masih terbiasa dengan menggunakan model ceramah dan masih sulit untuk menerima dan menggunakan model pembelajaran penemuan. Kegagalan model pembelajaran discovery learning yang dipicu karena siswa masih terbiasa dengan menggunakan metode ceramah dapat diatasi dengan menerapkan model discovery learning secara berulang-ulang serta didukung dengan sarana dan prasarana yang mendukung keberhasilan pembelajaran. 2. Keaktifan Belajar a. Pengertian Keaktifan Belajar Keaktifan belajar adalah aktfitas siswa dimana siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan dapat menelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.Keaktifan belajar tidak hanya terjadi di dalam lingkungan sekolah tetapi juga luar sekolah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 23), keaktifan belajar secara harfiah berasal dari kata aktif yang berarti sibuk, giat, aktif mendapat awalan ke- dan –an, sehingga menjadi keaktifan yang mmempunyai arti kegiatan atau kesibukan, jadi keaktifan belajar adalah kegiatan atau kesibukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah yang menunjang keberhasilan belajar siswa. Keaktifan siswa adalah pada waktu guru mengajar, guru harus mengusahakan agar murid-muridnya aktif, jasmani maupun rohani. Menurut Sriyono, dkk. (1992: 75), keaktifan jasmani dan rohani yang dilakukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut: 1.Keaktifan indera; pendengaran, penglihatan, peraba, dan sebagainya. Peserta didik harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin. Mendikte dan menyuruh mereka menulis sepanjang jam pelajaran akan menjemukan. Demikian pula dengan menerangkan terus tanpa menulis sesuatu di papan tulis. Maka pergantian dari membaca ke menulis, menulis ke menerangkan dan seterunya akan lebih menarik dan menyenangkan. 2.Keaktifan akal; akal peserta didik harus aktif atau dikatifkan untuk memecahkan masalah, menimbang, menyusun pendapat dan mengambil keputusan. 3.Keaktifan ingatan; pada saat proses belajar mengajar peserta didik harus aktif menerima bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan menyimpannya dalam otak. Kemudian pada suatu saat ia siap dan mampu mengutarakan kembali. 4.Keaktifan emosidalam hal ini peserta didik hendaklah senantiasa berusaha mencintai pelajarannya, karena dengan mencintai pelajarannya akan menambah hasil belajar peserta didik itu sendiri. Menurut beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebenarnya semua proses belajar mengajar peserta didik mengandung unsurkeaktifan, tetapi antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya tidaksama. Oleh karena itu, peserta didik harus berpartisipasi aktif secara fisik dan mental dalam kegiatan belajar mengajar. Keaktifan peserta didik dalam proses belajar merupakan upaya peserta didik dalam memperoleh pengalaman belajar, yang mana keaktifan belajar peserta didik dapat ditempuh dengan upaya kegaiatan belajar kelompok maupun belajar secara perseorangan. b. Faktor-faktor yang Memengaruhi Keaktifan Belajar Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dirangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, siswa juga dapat berlatih untuk berfikir kritis dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi timbulnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menurut Gagne dan Briggs (dalam Martinis, 2007; 84), sebagai berkut. 1. Memberikan dorongan atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. 2. Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada siswa). 3. Mengingatkan kompetensi belajar kepada siswa. 4. Memberikan stimulus (masalah, topik dan konsep yang akan dipelajari) 5. Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya. 6. Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. 7. Memberi umpan balik (feed back) 8. Melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur. 9. Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pelajaran. Menurut pemaparan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keaktifan yang paling penting adalah memberikan dorongan atau menarik perhatian siswa karena dengan adanya dorongan siswa dapat lebih terpacu semangatnya dalam pembelajaran. Sebuah dorongan dapat berperan penting bagi diri siswa, misalnya siswa yang tadinya merasa tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya, setelah mendapat dorongan dan semangat dari guru maka siswa tersebut lebih tertantang dan lebih aktif menyelesaikan tugasnya. Faktor yang lebih penting lainnya yaitu melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes, yang dimaksudkan untuk mengukur dan memantau sejauh mana kemampuan siswa dalam melaksanakan pembelajaran tersebut. Dalam faktor tagihan tersebut dapat membentuk sikap tanggung jawab terhadap diri siswa. c. Indikator Keaktifan Belajar Siswa Indikator keaktifan belajar siswa dapat dilihat dari beberapa aktivitas diantaranya perhatian siswa terhadap penjelasan guru, dimana dapat dilihat siswa yang benar-benar mendengarkan penjelasan guru pasti akan aktif mengajukan pertanyaan yang belum dimengerti dan berani mengungkapkan gagasan atau idenya. Indikator yang lain yaitu kerjasama kelompok dimana bisa dilihat dari keaktifan siswa dalam berdiskusi dengan kelompoknya dan mengeluarkan ide-ide cemerlang. Paul D.Deirich (dalam Hamalik, 2007:79), menyatakan bahwa indikator keaktifan belajar siswa berdasarkan jenis aktifitasnya dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut. 1. Kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, memperhatikan gambar, mengamati demostrasi atau mengamati pekerjaan orang laim. 2. Kegiatan lisan (oral activities), yaitu kemampuan menyatakan, merumuskan, diskusi, bertanya atau instruksi. 3. Kegiatan mendengarkan (listening activities), yaitu mendengarkan penyajian bahan, diskusi atau mendengarkan percakapan. 4. Kegiatan menulis (writing activities), yaitu menulis cerita, mengerjakan soal, menyusun laporan atau mengisi angket. 5. Kegiatan menggambar (drawing activities), yaitu melukis, membuat grafik, pola atau gambar. 6. Kegiatan emosional (emotional activities), yaitu menaruh minat, memiliki kesenangan atau berani. 7. Kegiatan motorik (motor activities), yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat atau membuat model. 8. Kegiatan mental, yaitu mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan-hubungan atau membuat keputusan. Pendapat yang lain juga diungkapkan oleh sudjana (201:61), indikator keaktifan siswa dapat dlihat dalam hal sebagai berikut. 1.Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya 2.Terlibat dalam pemecahan masalah 3.Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya 4.Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah 5.Melaksanakan diskusi kelompok 6.Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya 7.Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah 8.Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya. Melalui indikator aktifitas belajar tersebut, guru dapat menilai apakah siswa telah melakukan aktivitas belajar yang diharapkan atau tidak. Jika siswa belum dapat melakukan aktifitas belajar yang diharapkan maka guru dapat dengan segera mengadakan perbaikan pembelajaran guna mendapatkan hasil yang diinginkan. d. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi pelaku kegiatan belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran adalah diantaranya dengan meningkatkan minat siswa, membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip individualitas siswa, serta menggunakan media dalam pembelajaran. Upaya guru meningkatkan keaktifan belajar diungkapkan oleh Sudjana (2010:142), sebagai berikut. Guru perlu merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar secara aktif, baik fisik maupun mental. Siswa akan belajar secara aktif kalau rancangan pembelajaran yang disusun guru mengharuskan siswa melakukan kegiatan belajar. Rancangan pembelajaran yang mencerminkan kegiatan belajar aktif perlu didukung oleh kemampuan guru memfasilitasi kegiatan belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Bentuk kegiatan belajar aktif terfokus kepada aktivitas siswa yang terlibat dalam pembelajaran. Siswa banyak melakukan serangkaian kegiatan yang berfungsi untuk mencari pengalaman pembelajaran. Klasifikasi kegiatan pembelajaran dapat berupa; (1) kegiatan penyelidikan dengan membaca, wawancara, mendengarkan radio, maupun menonton film; (2) kegiatan penyajian misalnya membuat laporan, mempertunjukkan, maupun membuat grafik; (3) kegiatan latihan mekanis digunakan bila kelompok menemui kesulitan sehingga perlu diadakan latihan-latihan; (4) kegiatan apresiasi, misalnya mendengarkan musik, maupun menyaksikan gambar; (5) kegiatan observasi dan mendengarkan dengan membuat alat-alat belajar; (6) kegiatan ekspresif kreatif yaitu dengan membuat pekerjaan rumah, bercerita, bermain dan sebagainya; (7) bekerja dalam kelompok; (8) melakukan percobaan di laboratorium maupun di lingkungan; serta (9) kegiatan mengorganisasi dan menilai (Hamalik, 2004: 20). Upaya guru meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran semata-mata untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang diharakan serta siswa mampu melaksanakan pembelajaran dengan mudah dan menyenangkan sehingga pembelajaran berjalan secara efektif. 3. Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi sekolah, yang dinyatakan dengan nilai yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Hasil belajar merupakan indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan dan kecakapan yang dikuasai siswa selama mengikuti proses belajar. Pengertian proses yaitu adanya interaksi antara individu dan kebiasaan belajar tertentu sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku dan kebiasaan belajar yang baik. Pengertian hasil belajar menurut Anni (2005; 40), “Hasil belajar merupakan perubahan yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar”. Perolehan aspek-aspek tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah penguasaan. Hasil belajar ini sangat dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar yang sudah dilaksanakan. Hasil belajar dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Terdapat tiga ranah dalam pembelajaran yang diungkapkan oleh Gefilm, (2011:27) yaitu sebagai berikut. 1. Ranah kognitif Ranah kognitif mengacu pada inteleg, pengetahuan yang meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis dan evaluasi. Penilaian hasil belajar difokuskan pada aspek pemahaman yaitu mengacu kepada memahami makna materi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang betul dengan bentuk tes berupa tes essay. 2. Ranah Afektif Ranah Afektif yaitu mengenai sikap, emosi dan nilai dengan klasifikasi dan terbagi atas lima kategori yaitu; penerimaan, pemberitahuan, respon, penilaian, pengorganisasian dan karakterisasi. Penilaian hasil belajar difokuskan pada aspek penilaian yaitu, perilaku yang konsisten, stabil dan mengandung kesungguhan kata hati dan control secara aktif terhadap perilaku, kejadian tertentu, reaksi-reaksi seperti menolak atau tidak menghiraukan, diklasifikasikan pada sikap. 3. Ranah psikomotor Ranah psikomotor yaitu perilaku ketrampilan dengan klasifikasi tujuan psikomotor yaitu peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi, pengalaman ilmiah.Penilaian difokuskan pada aspek ketrampilan psikomotor dengan tes tindakan pelaksanaan tugas yang nyata atau disimulasikan, mendemonstrasikan, menampilkan, memanipulasi serta kwalitas penerapan secara objektif. Dari pemaparan di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran terdapat tiga ranah yang menunjang terwujudnya pembelajaran yang baik yaitu ranah kognitif yang mengacu pada pemahaman siswa, afektif yaitu sikap atau emosi siswa tersebut serta psikomotor yaitu ketrampilan siswa sendiri. Hal ini sejalan dengan Wahab (dalam Patmawati, 2008:43), sebagai berikut. a. Dilihat dari segi kognitif melahirkan kemampuan membentuk konsep sendiri dan kemampuan menilai sikap. b. Dilihat dari segi afektif yaitu nilai dan moral yang telah dipelajari atau dilatihkan dan mempribadi dalam diri siswa sebagai keyakinan atau prinsip yang kokoh. c. Dilihat dari segi psikomotor, ketrampilan yang dibinakan telah terkuasai secara penuh dan mampu menciptakan ketrampilan baru sesuai dengan dirinya atau sesuai dengan penemuan baru. Brata (1997:45), mengemukakan pengertian serta karakteristik hasil belajar sebagai berikut. a. Hasil belajar merupakan suatu perubahan tingkah lakuyang dapat diukur atau mengukur perubahan tingkah laku tersebut dapat digunakan tes hasil belajar. b. Hasil belajar menunjukan pada individu sebagai pelaku. c. Hasil belajar dapat di evaluasi tinggi rendahnya, baik berdasarkan atas kinerja yang diterapkan terlebih dahulu atau diterapkan menurut standar yang dicapai oleh kelompok. d. Hasil belajar menunjukan kepada hasil dari kegiatan yang dilakukan secara sengaja. Dari pemaparan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan indikator berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, indikator keberhasilan siswa di sekolah ditentukan melalui ujian nasional. Hasil tes tersebut disajikan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol pada tiap-tiap periode tertentu misalnya, dalam kurun satu semester atau dalam kurun satu tahun. Sedangkan menurut Sudjana (2004: 74) menyatakan bahwa; “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”. Adapun menurut Kingsley dalam Sudjana (2004: 22), membagi tiga macam hasil belajar mengajar; (1) Ketrampilan dan kebiasaan, (2) Pengetahuan dan pengarahan, (3) Sikap dan cita-cita. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan ketrampilan, sikap dan ketrampilan yang diperoleh siswa setelah siswa menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu didalam kehidupan sehari-hari. b.Faktor-faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar Belajar dapat dilaksanakan dimanapun dan dalam proses belajar selalu ada faktor yang memengaruhinya. Sebagai suatu proses kegiatan terwujudnya akibat adanya masukan (input) yang akan diproses, dan hasil dari proses tersebut yaitu berupa keluaran (out put). Berhasil atau tidaknya proses belajar tergantung pada faktor-faktor untuk memengaruhinya. Keberhasilan suatu proses belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Para ahli mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, menurut Burhanudin (dalam Sugiarti 2004), mengemukakan bahwa; “ faktor yang mempengaruhi terdiri dari faktor internal (dari dalam diri siswa) dan faktor exsternal ( dari luar siswa). Sejalan dengan pendapat di atas menurut Brata (1994; 253), mengklasifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar menjadi dua yaitu sebagai berikut. a. Faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswadan ini masih bisa digolongkan menjadi dua yakni, faktor sosial dan non sosial. b. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa, dan digolongkan lagi menjadi dua yakni; faktor fisiologis dan psikologis. Secara global, faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu; 1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa ), yaitu keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa. 2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yaitu kondisi lingkungan sekitar siswa. 3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Dari pemaparan di atas, banyak faktor-faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut diatas, muncul siswa-siswa yang high-achievers (berprestasi tinggi) dan under-achievers (prestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka. Sehingga perkembangan belajar peserta didik sesuai dengan yang diharapkan dan tidak terjadi kegagalan-kegagalan yang tidak diinginkan. c. Upaya Guru Meningkatkan Hasil Belajar Berikut adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, diantaranya: a. Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi setiap hari b. Mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata c. Pembelajaran dilaksanakan secara menarik dan bermakna sehingga timbulnya motivasi belajar peserta didik d. Memanfaatkan berbagai sumber belajar yang beragam dan relevan e. Menciptakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif sehingga peserta didik merasakan secara langsung f. Menggunakan media yang cocok dengan materi pembelajaran g. Memberikan kesempatan peserta didik untuk menggali pengetahuannya dari berbagai sumber h. Memberikan motivasi dan semangat belajar kepada peserta didik. (http://ainamulyana.blogspot.com/2012/01/pengertian-hasil-belajar-dan-faktor.html) Menurut uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan hasil belajar siswa guru harus pandai menyusun skenario pembelajaran yang menarik dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan siswa, sehingga siswa termotivasi dan antusias dalam melaksanakan pembelajaran. d. Penilaian Hasil Belajar pada Kurikulum 2013 Penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 sedikit berbeda dengan penilaian hasil belajar KTSP. Dalam penilain hasil belajar kurikukulum 2013 menggunakan penilaian autentk. 1. Definisi Penilaian Autentik(Authentic Assessment) Penilaian Autentik adalah penilaian yang dilaksanakan untuk mengetahui sampai dimana siswa mencapai kompetensi pembelajaran. Penilaian autentik sangat berperan penting dalam pelaksanaan pembelajaran, karena dari hasil penelian autentik tersebut guru dapat merumuskan apakah perlu mengadakan perbaikan pembelajaran jika dirasa hasil pembelajaran yang diperoleh siswa belom mencapai ketuntasan belajar. Menurut Majid, (2006: 50), Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan siswa melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kompetensi telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Menurut Nurhadi, Yasin dan Senduk , (2004:71), penilaian autentik adalah kegiatan menilai apa yang seharusnya dinilai. Penilaian autentik merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran yang berbasis kontekstual. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian autentik adalah penilaian yang harus dilaksanakan oleh guru dengan cara mengumpulkan informasi tentang perkembangan siswa yang bertujuan untuk mengetahui bahwa tujuan pembelajaran dan kompetensi telah tercapai. 2. Prinsip-prinsip Penilaian Autentik Dalam melaksanakan penilaian autentik guru harus memperhatikan prinsip-prinsip agar tidak terjadi kesalahan dalam penilaian, berikut ini adalah prinsip-prinsip penilaian autentik: (http://akbar-iskandar.blogspot.com/2011/05/penilaian-otentik.html) a. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran. b. Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (school workkind of problems). c. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar. d. Penilaian harus bersifat utuh yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran ( kognitif, afektif dan sensori motorik). e. Penilaian yang dilakukan harus mengukur semua aspek pembelajaran; proses, kinerja, dan produk. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian autentik harus memperhatikan seluruh aspek kognitif, afektif dan sensori motorik selain itu juga harus mempergunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar yang bertujuan agar penilaian menghasilkan hasl yang sesuai. 3. Tujuan Penilaian Autentik Tujuan penilaian autentik yaitu untuk menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu, menentukan kebutuhan pembelajaran, membantu dan mendorong minat siswa dalam pembelajaran. Menurut Santoso (2004: 49), tujuan penilaian otentik itu sendiri adalah untuk: (1) menilai kemampuan individu melalui tugas tertentu, (2) menentukan kebutuhan pembelajaran, (3) membantu dan mendorong siswa, (4) membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik, (5) menentukan strategi pembelajaran, (6) akuntabilitas lembaga, dan (7) meningkatkan kualitas pendidikan. Penilaian autentik adalah instrument yang sangat berperan penting dalam memantau kegiatan pembelajaran di sekolah. Dengan penilaian autentik guru atau lembaga pendidkan dapat memantau sejauh mana keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di kelas. 4. Manfaaat Penilaian Autentik Manfaat penilaian autentik dapat dilihat dari beberapa aspek di bawah ini: a. Perubahan peran siswa: 1. aktif dalam serangkaian penilaian kegiatan 2. alat penilaian ini dapat diadaptasi untuk bekerja sama dengan siswa yang beragam dalam hal kemampuan, gaya belajar dan latar belakang yang berbeda. b.Perubahan peran Guru: mampu memberikan informasi yang dibutuhkan baik untuk memantau kemajuan siswa maupun untuk mengevaluasi strategi pengajaran. c. Perubahan peran orang tua: Sebagai tenaga relawan (volunteers) menjadi pengamat dan evaluator padaberbagai penilaian. (http://akbar-iskandar.blogspot.com/2011/05/penilaian-otentik.html) 5. Komponen Pelaksanaan Penilaian Autentik Komponen-komponen dalam pelaksanaan penilaian autentik adalah sebagai berikut: 1. Tugas-tugas (tasks) Penilaian autentik sering disebut dengan “tugas-tugas (tasks)” karena penilaian tersebut berisi tugas-tugas yang menyangkut tentang aplikasi dari dunia nyata yang kita harapkan untuk ditampilkan oleh siswa. 2. Rubrik (Rubric) Guru mengembangkan rubrik dengan skala nilai/skor (scoring scales), karena penilaian yang berdasarkan pada hasil performansi tidak dapat dilakukan dengan tes tertulis atau mesin. Rubrik penskoran menggambarkan tingkat performansi siswa (levels of students performance ) sesuai dengan standar kemampuan yang diharapkan, kemudian menempatkan hasil pekerjaan tersebut ke dalam skala (scale) yang telah disusun sebelumnya. (http: penilaian otentik.com) 6. Macam-Macam Penilaian Autentik Penilaian outentik harus memperhatikan beberapa aspek berikut: a. Sikap atau Perilaku Data diperoleh melalui:Pengamatan dan Menerima informasi verbal Manfaat :mengetahui faktor faktor psikologis siswa yang mempengaruhi pembelajaran, memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa. b. Kriteria kinerja( performance ) 1. Situasi dimana siswa diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam kontekstugas-tugas. 2. Tugas singkat (short assessment tasks), tugas-tugas yang mengacu pada suatu peristiwa (event tastks), dan tugas-tugas dalam jangka panjang (long-term extended tasks ). 3. pertanyaan terbuka (open-ended questions) atau disebut juga jawaban bebas (free-response questions ). 4. permainan (game), bermain peran (role play), demonstrasi (demonstration), oleh raga (do exercise), bermain musik, bernyayi, pantomin, menari, berpusi, berpidato, bercerita, debat, mewawancara, memelihara tanaman. c. Penilaian Diri (Self Assessment) 1. Penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang bersangkutan untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar di tingkat kelas. 2. Penerapan konsep penilaian diri adalah penilaian berbasis kelas atau Classroom Based Assessment. 3. Hasil penilaian diri merupakan masukan bagi guru di kelas dan bagi pimpinan sekolah untuk meningkatkan kinerja semua staf dan guru guru di sekolah di masa datang. 4. Pembelajaran Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku Kelas IV SDN Leuwiliang. Penelitian akan dilaksanakan pada Tema Indahnya Kebersamaan yang berisi tiga pembelajaran dengan menggunakan model pebelajaran yang sesuai yaitu discovery learning atau model penemuan. Dan berikut ini adalah rincian pemetaan kompetensi dasar KI 1 dan KI 2, kompetensi dasar KI 3 dan KI 4, dan pemetaaan Indikator pembelajaran 4, 5, dan 6. Bagan 1.1 Pemetaan Kompetensi Dasar KI 1 dan KI 2 Bagan 1.2 Pemetaan Kompetensi Dasar KI 3 dan KI 4 Bagan 1.3 Pemetaan Indikator Pembelajaran 4 Bagan 1.4 Pemetaan Indikator Pembelajaran 5 Bagan 1.5 Pemetaan Indikator Pembelajaran 6 Kompetensi Inti (KI) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. 2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya. 3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan bertanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpai di rumah, sekolah, dan tempat bermain. 4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia. 1. Pembelajaran 4 Kompetensi Dasar dan Indikator IPA Kompetensi Dasar 1.1 Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya. 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, objektif, jujur, teliti, cermat, tekun, hati-hati, bertanggung jawab, terbuka, dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan inkuiri ilmiah dan berdiskusi. 3.5 Memahami sifat-sifat bunyi melalui pengamatan dan keterkaitannya dengan indra pendengaran. 4.4 Menyajikan hasil percobaan atau observasi tentang bunyi. Indikator 3.5.1Menjelaskan sumber bunyi dalam bentuk lisan. 4.4.1Membandingkan bunyi yang dihasilkan oleh benda yang bergetar. PKN Kompetensi Dasar 1.1 Menghargai kebhinneka-tunggalikaan dan keberagaman agama, suku bangsa, pakaian tradisional, bahasa, rumah adat, makanan khas, upacara adat, sosial, dan ekonomi di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitar. 2.1 Menunjukkan perilaku, disiplin, tanggung jawab, percaya diri, berani mengakui kesalahan, meminta maaf dan memberi maaf sebagaimana dicontohkan tokoh penting yang berperan dalam perjuangan menentang penjajah hingga kemerdekaan Republik Indonesia sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila 3.1 Memahami makna dan keterkaitan simbol-simbol sila Pancasila dalam memahami Pancasila secara utuh. 4.1 Mengamati dan menceritakan perilaku di sekitar rumah dan sekolah dari sudut pandang kelima simbol Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh. Indikator 3.1.1 Mendeskripsikan simbol-simbol sila pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 4.1.1 Menceritakan pengalaman mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. IPS Kompetensi Dasar 1.3 Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya. 2.3 Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya. 3.5 Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial,budaya,dan ekonomi. 4.4 Menceritakan manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial,budaya,dan ekonomi. Indiator 3.5.1 Mengidentfikasi interaksi manusia dengan lingkungan masyarakat sekitar. 4.4.1 Menceritakan pengalamannya menjaga keharmonisan hubungan dengan teman sebagai pengalaman nilai-nilai Pancasila. 2. Pembelajaran 5 Kompetensi Dasar dan Indikator Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 1.1 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. 2.2 Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap penggunaan alat teknologi modern dan tradisional, proses pembuatannya melalui pemanfaatan bahasa Indonesia. 3.2 Menguraikan teks instruksi tentang pemeliharaan pancaindera serta penggunaan alat teknologi modern dan tradisional dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. 4.1 Menerangkan dan mempraktikkan teks arahan/petunjuk tentang teks arahan/ petunjuk tentang pemeliharaan pancaindera serta penggunaan alat teknologi modern dan tradisional secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. Indikator: 3.2.1 Mempraktikkan langkah-langkahyang terdapat pada teks percobaan perambatan bunyi 4.1.1 Menyajikan langkah-langkah percobaan dalam bentuk laporan IPA Kompetensi Dasar 1.1 Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya. 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, objektif, jujur, teliti, cermat, tekun, hati-hati, bertanggung jawab, terbuka, dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan inkuiri ilmiah dan berdiskusi. 3.5 Memahami sifat-sifat bunyi melaluipengamatan dan keterkaitannyadengan indra pendengaran. 4.4 Menyajikan hasil percobaan atauobservasi tentang bunyi. Indikator 3.5.1 Menjelaskan perambatan sumber bunyi. 4.4.1 Membandingkan hasil percobaan perambatan bunyi melalui padat, cair, dan gas. Matematika Kompetensi Dasar 1.1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. 2.2 Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar. 3.12 Mengenal sudut siku-siku melalui pengamatan dan membandingkannya dengan sudut yang berbeda. 4.13 Merepresentasikan sudut lancip dan sudut tumpul dalam bangun datar. Indikator 3.12.1 Menjelaskan sudut siku-siku dan membandingkannya dengan sudut yang berbeda. 4.13.1 Mendesain rumah adat impian dengan memperhatikan penggunaan sudut lancip, tumpul, dan siku-siku. SBdp Kompetensi Dasar 1.1 Mengagumi ciri khas keindahan karya seni dan karya kreatif masing-masing daerah sebagai anugerah Tuhan. 2.1 Menujukkan sikap berani mengekspresikan diri dalam berkarya seni. 3.1 Mengenal karya dua dan tiga dimensi berdasarkan pengamatan. 4.2 Membuat karya seni kolase dengan berbagai bahan di lingkungan sekitar. Indikator 3.1.1 Membedakan lukisan / gambar dua dan tiga dimensi berdasarkan pengamatan. 4.2.1 Mendesain gambar rumah adat impian dengan teknik kolase. 3. Pembelajaran 6 Kompetensi Dasar dan Indikator Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 1.1 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. 2.2 Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap penggunaan alat teknologi modern dan tradisional, proses pembuatannya melalui pemanfaatan Bahasa Indonesia. 3.4 Menggali informasi dari teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. 4.4 Menyajikan teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam secara mandiri dalam teks bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. Indikator 3.4 Menemukan kosakata baku untuk mengganti kosakata tidak baku dalam teks cerita. 4.4 Menuliskan cerita pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan pilihan kata yang tepat dan runtut. Matematika Kompetensi Dasar 1.1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. 2.2 Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar. 3.12 Mengenal sudut siku-sikumelalui pengamatan dan membandingkannya dengan sudutyang berbeda. 4.13 Merepresentasikan sudut lancip dansudut tumpul dalam bangun datar. Indikator 3.12.1 Membedakan segi banyak dan bukan segi banyak. 4.13.1 Mengidentifikasi sudut-sudut yang ada dalam bangun datar danmengukur besar sudutnya. 5. Penyusunan RPP a. Hakekat RPP RPP adalah singkatan dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam pedoman umum pembelajaran untuk penerapan Kurikulum 2013 disebutkan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. RPP mencakup: (1) data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) materi pokok; (3) alokasi waktu; (4) tujuan pembelajaran, KD dan indikator pencapaian kompetensi; (5) materi pembelajaran; metode pembelajaran; (6) media, alat dan sumber belajar; (6) langkah-langkah kegiatan pembelajaran; dan (7) penilaian. Semua guru di setiap sekolah harus menyusun RPP untuk mata pelajaran kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas dan guru mata pelajaran). Guru kelas adalah sebutan untuk guru yang mengajar kelas-kelas pada tingkat tertentu di Sekolah Dasar (SD). Sedangkan guru mata pelajaran adalah guru yang mengampu mata pelajaran tertentu pada kenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Pengembangan RPP dianjurkan untuk dikembangkan/disusun di setiap awal semester atau awal tahun pelajaran.Hal ini ditujukan agar agar RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan proses penyusunan/pembuatan/ atau pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara berkelompokdi MGMP . Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau secara bersama-sama melalui musyawarah guru MATA pelajaran (MGMP) di dalam suatu sekolah tertentu semestinya harus difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Pengembangan RPP melalui MGMP antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan. (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/11/perancangan-RPP-Kurikulum-2013.html). b. Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP Penyusunan RPP harus menggunakan prinsip-prinsip sesuai dengan prosedur, agar pembelajaran berjalan dengan efektif dan tidak terjadi kesalahan dalam konsep. Adapun pengembangan prinsip-prinsip RPP kurikulum 2013 berdasarkan Permendikbud No 57 Tahun 2014 adalah sebagai berikut: a. Setiap RPP harus memuat secara utuh memuat kompetensi sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4). b. Memperhatikan perbedaan individual peserta didik misalnya kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuansosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. c. Mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif. d. Menggunakan prinsip berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian. e. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung. f. Memberi umpan balik dan tindak lanjut untuk keperluan penguatan, pengayaan dan remedial. g. Menekankan adanya keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. h. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. i. Menekankan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara integratif, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. Menurut pemaparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan RPP kurikulum 2013 adalah RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum berdasarkan silabus yang telah dikembangkan ditingkat nasional dengan memperhatikan kondisi di satuan pendidikan baik kemampuan awal peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar bela

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 12 Jul 2016 03:27
Last Modified: 12 Jul 2016 03:27
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5355

Actions (login required)

View Item View Item