PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN LEUWILIANG SUMEDANG PADA SUBTEMA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN

Dede Suryani, 105060319 (2016) PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN LEUWILIANG SUMEDANG PADA SUBTEMA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
COVER.docx

Download (21kB)
[img] Text
LEMBAR PENGESAHAN 4r.docx

Download (18kB)
[img] Text
SURAT PERNYATAAN.docx

Download (15kB)
[img] Text
Abstrak.docx

Download (16kB)
[img] Text
KATA PENGANTAR.docx

Download (13kB)
[img] Text
UCAPAN TERIMAKSIH.docx

Download (18kB)
[img] Text
Daftar isi.docx

Download (19kB)
[img] Text
PERSEMBAHAN.docx

Download (15kB)
[img] Text
BAB I.docx

Download (27kB)
[img] Text
BAB I1.docx

Download (54kB)
[img] Text
BAB III.docx

Download (87kB)
[img] Text
BAB IV baru.docx
Restricted to Repository staff only

Download (231kB)
[img] Text
BAB V.docx
Restricted to Repository staff only

Download (20kB)
[img] Text
daftar pustaka.docx

Download (15kB)
[img] Text
DAFTAR RIWAYAT HIDUP2.docx

Download (12kB)

Abstract

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI LEUWILIANG SUMEDANG PADA SUBTEMA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN DEDE SURYANI 105060319 ABSTRAK Penelitian ini berisi tentang penerapan model problem based learning yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang Sumedang Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. Yang dihadapi pada pembelaaran ini adalah pelajaran yang disaikan oleh guru masih menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah, proses pembelajaran ini hanya berpusat pada guru dan tanpa melibatkan siswa sehingga kurang menarik minat dan motivasi siswa untuk belajardan siswa menjadi kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Model problem based learning berguna untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), rancangan metode penelitiannya mengacu pada model yang dikembangkan Arends dalam Abbas (2013:66). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Berdasarkan pelaksanaan tindakan yang dilakukan sebanyak tiga siklus, secara keseluruhan telah menunjukkan adanya peningkatan dari data awal proses pembelajaran. Data yang diperoleh pada rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I memperoleh presentase 74.4, siklus II 87.7, dan siklus III 95. Sedangkan untuk pelaksanaan pembelajaran siklus I memperoleh 75 , siklus II 88.6, dan siklus III memperoleh 97. Adapaun hasil pemahaman memperoleh presentase siklus I mencapai 63%, siklus II mencapai 70.38%, dan siklus III mencapai 81.49%. untuk hasil belajar siswa yang terdiri dari ranah afektif, kognitif dan psikomotor memperoleh presentase siklus I mencapai 61.75%, siklus II mencapai 71.38% dan siklus III mencapai 87.65%. dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model problem based learning dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang Sumedang Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. Kata Kunci : Model Problem Based Learning, Pemahaman dan Hasil Belajar BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah Belajar adalah proses perpindahan ilmu dari guru kepada peserta didik. Guru berperan penting dalam berjalannya proses pembelajaran atau dalam mentrasfer ilmu kepada peserta didik dan menanamkan sifat-sifat positif kepada peserta didik. Sebab peserta didik lebih percaya pada apa yang disampaikan guru dibandingkan orang tua dan orang yang berada disekitarnya. Karena asumsi anak, guru mengetahui segalanya dan semua yang dikatakan guru itu benar. Ada beberapa pendapat menurut para ahli mengenai pembelajaran, diantaranya : Menurut Slavin (2013 : 15) pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku individu yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut Munif Chatib (2013:17) pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, yakni antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembejaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang dimana guru sebagai pemberi informasi atau fasilitator dan peserta didik sebagai penerima informasi. Disinilah guru sangat berperan penting dalam mengembangkan pengetahuan dan mengikuti perkembangan jaman di era globalisasi ini dengan teknologi yang semakin canggih. Sebab semakin berkembangnya jaman peserta didik akan lebih kritis dengan pengetahuan yang mereka temukan di luar sana. Seorang guru juga harus senantiasa memberikan kenyamanan kepada peserta didik agar peserta didik merasa senang ketika belajar atau ketika berada di kelas. Sementara itu pada kenyataannya menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menciptakan sistem pembelajaran yang menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap suatu mata pelajaran dan membuat mereka merasa senang ketika berada di kelas ternyata itu sulit dilakukan, tidak banyak guru yang berhasil membuat para siswa termotivasi dan merasa senang ketika berada di kelas. Hal itu terjadi karena sistem pembelajaran yang digunakan oleh guru cenderung membosankan dan monoton, bahkan kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga para siswa merasa jenuh dan ngantuk pada saat pembelajaran berlangsung. Berkaitan dengan permasalahan yang dikemukakan tersebut, peneliti melakukan observasi di salah satu sekolah yang terletak di kabupaten sumedang, yaitu di SDN Leuwiliang Sumedang pada tanggal 14 Juli 2014 . pada saat observasi terlihat proses pembelajaran belum efektif dikarenakan siswa masih banyak yang mengobrol, kurang fokus, keluar bangku, sehingga proses pembelajaran tidak kondusif bahkan peneliti data nilai dari guru kelas IV tentang tema indahnya kebersamaan dari 27 siswa, 17 siswa dinyatakan kurang memahami materi pembelajaran dan harus dibimbing kembali dengan rata-rata nilai dibawah 2.50, serta 10 orang siswa dinyatakan dinyatakan sudah tuntas dengan nilai diatas 2.50. Di sekolah tersebut peneliti menemukan suatu masalah yang berkenaan dengan proses belajar mengajar, masalah tersebut adalah kurangnya penggunaan media atau tidak ada fasilitas alat peraga, jadi guru menyampaikan materi hanya menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan media sehingga pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan tidak begitu baik. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran di SDN Leuwiliang Sumedang belum sesuai dengan kompetensi yang ditargetkan. Maka dari itu, penelliti mengambil keputusan akan melakukan penelitian menggunakan model Problem Based Learning untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang Sumedang sebagai tempat penelitian. Penggunaan media atau alat peraga tentu sangat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu materi, selain itu suasana kelas yang kondusif akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi suksesnya proses belajar mengajar, banyak sekali model dan metode pembelajaran yang bisa diterapkan di dalam kelas. Sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan saja akan tetapi peserta didik mendapatkan pemahaman pembelajaran. Pemahaman konsep dalam suatu pembelajaran tentu sangat penting, juga sangat berpengaruh pada hasil belajar. Maka dari itu pemahaman konsep adalah merupakan langkah awal yang harus dicapai dalam pembelajaran, jika peserta didik sudah paham terhadap suatu materi maka akan memperoleh hasil yang baik. Penanaman sikap yang baik tidak dapat terlepas dari mengajarkan nilai yang berlaku di masyarakat. Dengan kata lain, nilai ketuhanan mengajarkan tentang keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dan nilai yang berlaku di masyarakat bahwa ada keterkaitan tentang belajar dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Menanamkan rasa peduli, menjaga dan memelihara lingkungan yang ada serta dapat menghargai alam sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Materi pokok bahasan pada pembelajaran dapat menggunakan berbagai macam metode yang digunakan, untuk mengembangkan minat peserta didik, rasa ingin tahu dan keterampilan peserta didik. UU RI NO 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yakni, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sesuai dengan UU RI NO 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasiaonal, maka dapat disimpulkan guru harus senantiasa mendidik peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki potensi sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut. Pada proses pembelajaran guru dapat menerapkan berbagai jenis model pembelajaran dengan harapan dan tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Penulis mencoba menerapkan model Problem Based Learning dengan tujuan agar peserta didik menjadi aktif di kelas. Dalam modul pelatihan guru implementari kurikulum 2013 (2014:26) Pembelajaranberbasismasalahmerupakansebuahpendekatanpembelajaran yang menyajikanmasalahkontekstualsehinggamerangsangpesertadidikuntukbelajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world). Permasalahan lain yang timbul seperti layaknya dalam lembaga pendidikan formal pada umumnya termasuk permasalahan proses belajar dibeberapa sekolah dasar yakni bagaimana upaya pengelolaan rencana pembelajaran, sebagai upaya guru dalam meningkatkan kemampuan pemahaman siswa dengan memadukan model pembelajaran, metode, teknik dan strategi pembelajaran guna untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa, yaitu proses pembelajaran dibuat semenarik mungkin dengan menggunakan model Problem Based Learning yakni pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajartentang cara berpikir kritis untuk memecahkan suatu masalah. Permasalahan yang dikemukakan tersebut menjadi acuan bagi penulis untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimasa yang akan datang, dengan adanya permasalahan tersebut penulis berusaha untuk memperbaiki pembelajaran agar siswa lebik aktif dalam belajar dengan menggunakan model Poblem based learning. Penerapan model pembelajaran merupakan salah satu upaya penulis dalam mengembangkan kemampuan peserta didik dan dalam menyelesaikan tugas akhir perkuliahan, dimana penulis akan melaksanakan penelitian tikdakan kelas yang bertempat di SD Negeri Leuwiliang Sumedang. Sehubungan dengan itu penulis akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman”. B. IdentifikasiMasalah Permasalahan secara tidak langsung menurunnya rata-rata hasil belajar siswa, akhirnya dapat disimpulkan bahwa permasalan yang menjadi bahan penelitian tindakan kelas di sekolah tersebut antara lain : 1. Kegiatan pembelajaran yang monoton, tanpa mengembangkan model pembelajaran melalui pendekatan model pembelajaran. 2. Kurangnya sarana penunjang proses pembelajaran seperti alat peraga. 3. Guru menyampaikan materi hanya satu arah, tanpa melibatkan paserta serta didik secara langsung melalui metode diskusi, tanya jawab dan lain-lain. 4. Kurangnya pemahaman peserta didik dalam pembelajaran. 5. Rendahnya hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran. Berdasarkan masalah yang muncul penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas pada Subtema kebersamaan dalam keberagaman, Penulis mengadakan penelitian terhadap masalah tersebut melalui model Problem Based Learning. Permasalahan ini akan dibatasi dengan judul : Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Pemahaman Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang Pada Subtema Kebersamaan Dalam Keberagaman. C. RumusanMasalahdanPembatasanMasalah a. PerumusanMasalah 1. Rumusan Masalah Secara Umum Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka penulis membuat rumusan masalah secara umum yakni Apakah Model Problem Based Learning mampu meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman? 2. Rumusan Masalah Secara Khusus Berdasarkanlatarbelakangdiatas, secarakhususmakarumusanmasalahpadapenelitianiniadalahsebagaiberikut : 1. Bagaimana rencanapembelajaran pada subtema kebersamaan dalam keberagamandisusun agar meningkatkanpemahamandanhasilbelajarsiswakelasIV SekolahDasar Negeri Leuwiliang Sumedang ? 2. Bagaimana langkah-langkahpembelajaranProblem Based Learningdilaksanakan agarpemahamanhasil belajarsiswapadasubtema kebersamaan dalam keberagaman di kelasIV SekolahDasarNegeri Leuwiliang Sumedang? 3. Bagaimana peningkatanpemahamansiswapada subtema kebersamaan dalam keberagamanmelalui model Problem Based Learning di kelasIV Sekolah DasarNegeri Leuwiliang Sumedang? 4. Adakah peningkatanhasilbelajarsiswapada subtema kebersamaan dalam keberagamanmelalui model Problem Based Learning di kelasIV Sekolah DasarNegeri Leuwiliang Sumedang? b. Pembatasan Masalah Berdasarkanrumusanmasalah di atas, permasalahantersebutdibatasidenganjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Pemahaman Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang Pada Subtema Kebersamaan Dalam Keberagaman”. D. TujuanPenelitian 1. TujuanUmum Sesuaidenganpermasalahan yangdikemukakan, tujuanumumdaripenelitianiniadalahuntukmemperbaikidanmeningkatkanpemahamandanhasilbelajarsiswakelasIV SekolahDasar melalui model Problem Based Learning pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. 2. TujuanKhusus Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian tersebut meliputi : 1. Untuk menyusunrencanapembelajaran subtema kebersamaan dalam keberagamandalam meningkatkan pemahamandanhasilbelajarsiswakelasIV SekolahDasarNegeri Leuwiliang Sumedang? 2. Untuk mendeskripsikan prosespembelajaranProblem Based Learningpadapemahamandan hasil belajarsiswatentangsubtema kebersamaan dalam keberagaman di kelasIV SekolahDasarNegeri Leuwiliang Sumedang? 3. Untuk meningkatkan pemahamansiswakelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang pada sub tema kebersamaan dalam keberagaman melalui model Problem Based Learning? 4. Untuk meningkatkan hasilbelajarsiswakelas IV Sekolah Dasar Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman melalui model Problem Based Learning? E. ManfaatPenelitian Manfaat yang harus didapat dalam melakukan penelitian ini terdiri dari dua aspek, yaitu : 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan wawasan keilmuan tentang penggunaan model problem based learninguntuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran subtema kebersamaan dalam keberagaman . 2. Manfaat Praktis a) Siswa : 1. Meningkatkan pemahaman belajar siswa kelas IV tentang subtema kebersamaan dalam keberagamanmelalui melalui model Problem Based Learning. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV tentang subtema kebersamaan dalam keberagamanmelalui melalui model Problem Based Learning. b) Guru : Menambah wawasan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan sebagai referensi untuk menerapkan model pembelajaran yang baik pada semua mata pelajaran. c) Sekolah : Memanfaatkan hasil penelitian sebagai wadah untuk lebih mengembangkan pembelajaran Problem Based Learning sebagai pendukung kegiatan pembelajaran serta dapat meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan model Problem Based Learning di sekolah. d) Peneliti : Menambah wawasan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman tentang proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)yang bermakna dan berkualitas melalui model-model pembelajaran. BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Teori 1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) a. Definisi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang memiliki konteks pada awal pembelajaran siswa diminta untuk mengamati fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Kemudian siswa mencatat masalah-masalah yang terjadi disekitarnya. Sementara itu guru bertugas untung memberikan rangsangan kepada siswa agar aktif dalam proses pembelajaran yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan keadaan di lingkungan sekitar siswa dan pada akhirnya siswa mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sudah dicari sebelumnya. Pengertian pembelajaran PBL, ada beberapa pendapat yang dijadikan sebagai sebagai panduan di antaranya : Problem Based Learning dapat didefinisikan sebagai lingkungan belajar yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar; sebelum mempelajari sesuatu, siswa diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. PBL juga dapat didefinisikan sebagai sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah bisa dijadikan titik awal untuk mendapatkan ataupun untuk mengintegrasikan ilmu baru. Menurut Nurhadi (2013:65) dalam mrsigitblog.wordpress.com, pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Sedangkan menurut Arends dalam Abbas (2013:66, model PBL adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga ia bisa menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebuh tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, serta meningkatkan kepercayaan diri. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah model pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan mampu menyelesaikan suatu masalah yang diberikan guru mengenai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, selain itu siswa juga diharapkan untuk berpikir kritis agar mendapatkan wawasan atau pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. b. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Sama halnya dengan model pembelaaran yang lain, model pembelajaran Problem Based Learning juga memiliki karakteristik sehingga memiliki perbedaan denga model pembelaaran yang lain. Karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning diantaranya : 1) Belajar dimulai dengan suatu masalah 2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa 3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu 4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar 5) Menggunakan kelompok kecil 6) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telah dipelajari dalam bentuk produk atau kinerja. Adapun karakteristik model pembelajaran PBL menurut Ibrahim dan Nur (2013:73) adalah sebagai berikut : 1) Pengauan pertanyaan atau masalah; 2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu; 3) Penyelidikan autentik; 4) Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya; 5) Kerja sama. Berdasarkan uraian tersebut, model PBL dimulai oleh adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang sesuatu yang telah diketahuinya sekaligus yang perlu diketahuinya untuk memecahkan masalah itu. Siswa juga dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan, sehingga ia terdorong untuk berperan aktif dalam belajar. c. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Setiap model pembelajaran memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan, hal ini membuktikan bahwa semua model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Sama halnya dengan model pembelajaran berbasis maslah. Berikut adalah kelebihan dari model problem based learning, diantaranya : 1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan lantaran ia yang menemukan konsep tersebut 2) Melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menurut keterampilan berpikir siswa yang lenih tinggi 3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki oleh siswa, sehingga pembelajaran lebih bermakna 4) Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran, karena masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata. Hal ini bisa meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajarinya 5) Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, serta menanamkan sikap sosial yang positif dengan siswa lainnya 6) Pengondisian siswa Dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya, sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan. 7) PBL diyakini pula dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual maupun kelmpok, karena hampir disetiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa. Selain berbagai kelebihan tersebut, model PBL juga memiliki beberapa kekurangan, yakni : 1) Bagi siswa yang malas, tujuan dari metode tersebut tidak dapat dicapai 2) Membutuhkan banyak waktu dan dana 3) Tidaksemua mata pelajaran bisa diterapkan dengan model PBL. d. Langkah-langkah Pembelajaran Model PBL Dalam pengelolaan PBL, ada beberapa langkah-langkah utama berikut: a. Mengorientasikan siswa pada masalah b. Mengorganisasikan siswa agara belajar c. Memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok d. Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja e. Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Adapun gambaran rinci langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Langkah No Kegiatan Guru Orientasi masalah 1 2 3 4 Menginformasikan tuuan pembelajaran Menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan teradi pertukaran ide yang terbuka Mengarahkan kepada pertanyaan atau masalah Mendorong siswa mendeskripsikan ide-ide secara terbuka Mengorganisasikan siswa untuk belajar 1 2 3 Membantu siswa dalam menemukan konsep berdasarkan msalah Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi, dan cara belajar siswa aktif Menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukan Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok 1 2 3 4 5 6 Memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah Mendorong kerja sama dan menyelesaikan tugas-tugas Mendorong dialog dan diskusi dengan teman Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah Membantu siswa merumuskan hipotesis Membantu siswa dalam memberikan solusi Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja 1 2 Membimbing siwa dalam mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKS) Membimbing siswa dalam menyaikan hasil kerja Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah 1 2 3 Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan masalah Memotivasi siswa agar terlibat dalam pemecahan masalah Mengevaluasi materi Tabel 2.1 Prosedur pembelajaran berdasarkan masalah (akhmadsudrajat.wordpress.com) Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwalangkah-langkah model Problem based learning adalah sebagai berikut : 1) Guru memotivasi siswa dan merangsang peserta didik untuk aktif dalam belajar dengan cara diberikan suatu masalah yang terjadi di lingkungan sekitar sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai; 2) Peserta didik diberikan kesempatan untuk berdiskusio dengan peserta didik yang lain dengan cara dibuat kelompok kecil, kemudian diminta untuk mencari fakta atau solusi yang berhubungan dengan permasalahan. Ke,udian peserta didik diminta untuk mengidentifikasi masalah terlebih dahulu agar nantinya peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan tersebut; 3) Penyelesaian masalah tersebut dapat dicari dengan cara mencari data ataupun informasi dari sumber-sumber tertentu misalnya mencari data melalui kunjungan ke perpustakaan atau melakukan wawancara kepada seseorang yang dianggap bebar-benar mengetahui apa yang terkait dengan permasalahan yang ada; 4) Peserta didik mencari solusi bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut dari informasi yang mereka dapatkan. 2. Pemahaman Siswa a. Definisi Pemahaman Menurut Sadiman pemahaman merupakan suatu kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, meneremahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman. Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, pemahaman juga bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman siswa, yaitu : 1) Faktor lingkungan yang ada di rumah yaitu keluarga, bagaimana cara kedua orang tua mendidik anaknya. 2) Faktor lingkungan sekolah yaitu pendidik dan teman-temannya, bagaimana pendidik mengajarkan atau mengarahkan peserta didik. 3) Faktor lingkungan masyarakat. c. Upaya guru untuk meningkatkan pemahaman Pendidik merupakan salah satu faktor utama dalam pembelajaran, dimana saat pendidik menyampaikan materi tentu siswa harus memahami apa yang disampaikan pendidik, maka dari itu jika guru menyampaikan materi dengan baik juga menggunakan alat bantu tentu siswa akan lebih mudah dalam memahami apa yang guru sampaikan. Adapun upaya-upaya guru untuk meningkatkan pemahaman, yakni : 1) Menciptakan suasana yang berbeda sehingga memunculkan ketertarikan pada siswa untuk belajar. 2) Guru memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuannya, bisa dengan cara bertanya jawab atau berdiskusi dengan teman. 3. Hasil Belajar a. Definisi Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mereka menerima proses pembelajaran di sekolah. Hasilnya dapat berupa angka atau yang biasa disebut nilai, atau berupa perubahan tingkah laku yang dialami oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran. Definisi hasil belaar menurut Purwanto (2013) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Sudjana (2010) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar baik dari ranak kognitif (pengetahuan), apektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan), hasilnya dapat berupa nilai atau perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Di dalam proses belajar terdapat persoalan diantaranya ada input, proses dan output. Input merupakan asupan dari guru berupa materi, proses merupakan proses teradinya perubahan kemampuan pada diri siswa, sedangkan output adalah hasil dari proses. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar diantaranya : 1. Kondisi jasmani dan rohani siswa 2. Fakor lingkungan yang merupakan masukan dari lingkungan dan seumlah faktor instrumental yang dirancang untuk mencapai hasil yang diharapkan, untuk menghasilkan perubahan tingkah laku sesuai dengan hasil belajar yang telah dicapai. Faktor keluarga, sekolah dan masyarakat memegang peranan yang cukup penting dalam tingkat keberhasilan belajar siswa itu sendiri. menurut J. Guilbert mengelompokkan faktor yang mempengaruhi proses belajar diantaranya : 1. Faktor materi 2. Lingkungan 3. Instrumental 4. Faktor individual Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah proses belajar itu sendiri yang meliputi kondisi jasmani dan rohani,selain dari itu ada juga faktor lain diantaranya faktor lingkungan, faktor instrumental juga keluarga dan masyarakat sekitar. c. Upaya Guru untuk Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Pendidikan di sekolah dasar perlu adanya upaya-upaya yang untuk mengembangkan hasil belajar peserta didik. Berikut diantaranya upaya-upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik, diantaranya : 1) Guru mengkondisikan siswa sebelum memulai pembelajaran; 2) Guru memberikan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan konsentrasi, agar siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan baik; 3) Penggunaan metode atau strategi belajar yang tepat agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa; Menurut Ilawati Pristiani www.ilawatiapt.com/cara_meningkatkan_hasil_belajar/, menyatakan ada beberapa cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yakni : 1) Menyiapkan mental dan fisik siswa Persipkan fisik da mental siswa. Karena apabila siswa tidak siap fisik dan mentalnya dalam belajar, maka pembelaaran akan berlangsung sia-sia atau tidak efektif. Dengan adanya persiapan fisik dan mental, maka siswa akan bisa belajar lebih efektif dan hasil belajar meningkat. 2) Meningkatkan konsentrasi Lakukan sesuatu agar konsentrasi belajar siswa meningkat. Hal ini tentu akan berkaitan dengan lingkungan dimana tempat mereka belajar. Apabila siswa tidak dapat konsentrasi dan terganggu oleh berbagai hal diluar kaitan dengan belajar, maka proses dan hasil belajar tidak akan maksimal. 3) Meningkatkan motivasi belajar Motivasi sangatlah penting. Motivasi merupakan faktor yang penting dalam belajar. Tidak akan ada keberhasilan belajar diraih apabila siswa tidak memiliki motivasi yang tinggi. 4) Menggunakan strategi belajar Pengajar bisa juga harus membantu siswa agar bisa dan terampil menggunakan berbagai strategi belajar yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari. Setiap pembelaaran akan memiliki karakter strateginya juga berbeda-beda. 5) Belajar sesuai gaya belajar Setiap siswa punya gaya belajar yang berbeda-beda satu sama lain. Pengajar harus mampu memberikan situasi dan suasana belajar yang memungkinkan agar gaya belajar siswa terakomodasi dengan baik. 6) Belajar secara menyeluruh Maksudnya disini adalah mempelajari secara menyeluruh adalah mempelajari semua pelajarn yang ada, tidak hanya sebagian saja. Perlu untuk menekankan hal ini kepada siswa, agar mereka belajar secara menyeluruh tentang materi yang sedang mereka pelajari. 7) Biasakan berbagi Tingkat pemahaman siswa pastilah berbeda-beda satu sama yang lainnya. Bagi yang sudah dulu memahami pelajaran yang ada, maka siswa tersebut diajarkan untuk bisa berbagi dengan yang lain. Sehingga mereka terbiasa juga mengajarkan atau berbagi ilmu dengan teman-teman yang lainnya. Penjelasan di atas dapat disimpilkan bahwa upaya guru yang dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar yang lebih baik, yaitu dengan cara : 1) Menyiapkan fiik dan mental siswa, meningkatkan konsentrasi dan motivasi siswa dalam belajar untuk memperoleh hasil belajar yang memuaskan. 2) Penggunaan metode, strategi dan gaya belajar yang baik tentu sangat menunjang hasil belaar peserta didik setelah mengikuti pembelaaran. 4. Pembelajaran Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku Pemetaan Kompetensi Dasar 1 dan 2 Matematika Matematika Bagan 1.1 Pemetaan Kompetensi Dasar 1 dan 2 Pemetaan Kompetensi Dasar 3 dan 4 Bagan 1.1 Pemetaan Kompetensi Dasar 3 dan 4 Ruang Lingkup Pembelajaran Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Kompetensi yang dikembangkan 1 • Mengenal keberagaman budaya Indonesia • Memahami keberagaman budaya • Berekspresi dengan lagu Sikap: • Peduli, percaya diri, dan rasa ingin tahu Keterampilan: • Berkomunikasi dan mencari informasi Pengetahuan: •Keberagaman budaya dan lagu nasional 2 • Bereksplorasi tentang sudut dengan rumah adat • Memahami keberagaman budaya rumah adat • Memahami keberagaman tarian tradisional Sikap: • Toleransi, rasa ingin tahu, dan teliti Keterampilan: • Mengukur dan mencari informasi Pengetahuan: • Keberagaman budaya rumah adat, tarian tradisional, dan sudut 3 • Memainkan permainan tradisional • Mengamalkan sila Pancasila • Menulis pengalaman berinteraksi dengan orang lain • Membuat poster tentang keberagaman Sikap: • Toleransi, tekun, dan teliti Keterampilan: • Membuat poster dan mencari informasi Pengetahuan: • Permainan tradisional, poster, sila Pancasila, dan Keberagaman 4 • Mengenal alat musik tradisional • Bereksplorasi tentang sumber bunyi • Berkreasi dengan bunyi •Bercerita tentang pengamalan nilai-nilai Pancasila Sikap: • Toleransi, percaya diri, dan rasa ingin tahu Keterampilan: • Mencari informasi, kerja ilmiah, dan menulis Pengetahuan: • Musik tradisional, sumber bunyi, dan nilai-nilai Pancasila 5 • Bereksplorasi tentang media perambatan bunyi • Menulis laporan •Berkreasi membuat rumah adat impian Sikap: • Rasa ingin tahu, teliti dan kerja sama Keterampilan: • Kerja ilmiah, mengukur besar sudut, dan menulis Pengetahuan: • Media perambatan bunyi, teks instruksi, sudut, dan Laporan 6 • Bereksplorasi dengan segi banyak • Menganalisis teks cerita Sikap: • Toleransi dan teliti Keterampilan: • Menghitung, mencari informasi, dan membaca peta Pengetahuan: • Segi banyak, teks cerita, kata baku dan tidak baku Tabel 2.2 Ruang lingkup Pembelajaran 5. Teknik Penyususnan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran a. Hakikat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan acuan dalam kegiatan pembelajaran yakni sebagai upaya pencapaian suatu Kompetensi Dasar. Menurut Permendikbud No. 65 Tahun 2003 tentang Standar Proses, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Sementara itu menurut panduan teknis penyusunan RPP di SD (kemendikbud, 2013: 9) RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa RPP adalah suatu rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu kali pertemuan atau lebih yang bertujuan untuk mencapai Kompetensi Dasar. b. Karakteristik Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memiliki karakteristik, diantaranya : 1. RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan silabus yang telah dikembangkan pada tingkat nasional ke dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran. 2. RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi pada satuan pendidikan baik kemampuan awal peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan emosi, maupun gaya belajar. 3. RPP mendorong partisipasi aktif peserta didik. 4. RPP sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 untuk menghasilkan peserta didik sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses pembelajaran dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar, dan kebiasaan belajar. 5. RPP mengembangkan budaya membaca dan menulis. 6. Proses pembelajaran dalam RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 7. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, remedi, dan umpan balik. 8. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu kebutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasi pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran untuk sikap dan keterampilan, dan keragaman budaya. 9. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasikan secara terintegrasi, sistematis, dan dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. c. Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran, tentu guru harus terlebih dahulu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelaaran (RPP), berikut adalah langkah-langkah penyusunan RPP. Pada implementasi Kurikulum 2013 (2014: 110), tema tidak dinegosiasikan dengan siswa, tetapi sudah ditetapkan oleh pemerintah yang termuat dalam silabus tematik, buku guru, dan buku siswa telah disediakan oleh pemerintah. Untuk keperluan penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu di kelas, guru dapat mengembangkan RPP Tematik dengan memperhatikan silabus tematik, buku guru, dan buku siswa yang telah tersedia serta mengacu pada format dan sistematika RPP yang berlaku. RPP Tematik adalah rencana pembelajaran tematik terpadu yang dikembangkan secara rinci dari suatu tema dengan tahapan sebagai berikut. 1. Mengkaji Silabus Tematik Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu dalam pelaksanaan kurikulum SD. Komponen silabus mencakup : Kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus berfungsi sebagai rujukan bagi guru dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada kurikullum 2013, silabus temtik telah disiapkan oleh pemerintah, guru tinggal menggunakan sebagai dasar penyusunan RPP. Guru memilih kegiatan-kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tema/subtema yang akan dilaksanakan pada satu pertemuan atau lebih. Kegiatan yang dipilih harus mencakup kegiatan pembelajaran sesuai dengan standar proses (Kemdikbud, 2013:12-13). 2. Mengidentifikasi Materi Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan : a) potensi peserta didik; b) relevansi dengan karakteristik daerah; c) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritualpeserta didik; d) kebermanfaatan bagi peserta didik; e) struktur keilmuan; f) aktualisasi, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran; g) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkuungan; h) alokasi waktu. Kegiatan mengidentifikasi materi pembelajaran dilakukan dengan mengkaji buku guru dan buku siswa untuk SD. a. Mengkaji Buku Guru SD Buku guru SD berisi hal-hal berikut ini. 1) Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Inti (KI). 2) Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) 1 dan 2 serta KD 3 dan 4. 3) Ruang lingkup pembelajaran untuk satu subtema yang terdiri dari 6 pembelajaran dalam 1 minggu. 4) Pemetaan indikator pembelajaran untuk setiap pembelajarn. 5) Setiap pembelajaran berisi tentang uraian kegiatan pembelajaran yang mencakup : a) Nama kegiatan; b) Tujuan pembelajaran; c) Media dan alat pembelajaran; d) Langkah-langkah kegiatan; dan e) Penilaian. 6) Setiap akhir pembelajaran, guru hendaknya melakukan kegiatan refleksi untuk melakukan kegiatan remedial dan pengayaan. b. Mengkaji Buku Siswa SD Buku siswa merupakan buku panduan selkaligus buku aktivitas yang akan memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Buku siswa dilengkapi dengan penjelasan lebih rinci tentang isi dan penggunaan sebagaimana dituangkan dalam Buku Guru. Kegiatan pembelajaran yang ada dibuku siswa lebih merupakan contoh kegiatan yang dapat dipilih guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu. Guru diharapkan mampu mengembangkan ide-ide kreatif lebih lanjut dengan memanfaatkan alternatif-alternatif kegiatan yang ditawarkan di dalam Buku Guru, atau mengembangkan ide-ide pembelajaran sendiri. 3. Menentukan tujuan Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu ditinjukkan. Tujuan itu kemudian mencantumkan Behavior atau kemampuan yang harus didemonstrasikan dan Condition seperti apa perilaku atau kemampuan yang akan diamati. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan bari itu harus dicapai dan diukur, yaitu dengan standar seperti apa kemampuan itu dapat dinilai. 4. Mengembangkan kegiatan pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belaar lainnya dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwuud melalui pengguanaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. 5. Penjabaran jenis penilaian Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Oleh karena pada setiap pembelajaran peserta didik didorong untuk menghasilkan karya, maka penyajian portofolio merupakan cara penilaian yang harus dilakukan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. 6. Menentukan alokasi waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Oleh karena itu, alokasi tersebut dirincidan disesuaikan lagi dalam RPP. 7. Menentukan sumber belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial dan budaya. 6. Penelitian Terdahulu Berikut ini adalah contoh hasil penelitian lain yang relevan, yang telah digunakan sehingga pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. 1. Elis Eliah dari Universitas Pasundan (2012) dalam penelitiannya tentang pendekatan Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Patrol 1 kecamatan solokanjeruk kabupaten bandung. Kesimpulannya hasil penelitian bahwa pembelajaran bagian tumbuhan dan fungsinya pada kelas IV SD Negeri Patrol 1 dengan menerapkan model problem based learning dapat menciptakan situasi belajar yang interaktif antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa serta dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal ini terbukti dengan meningkatnya nilai presentase pada setiap siklus. Setelah dilaksanakan tindakan I, II dan III mengalami peningkatan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Pada siklus I presentase mencapai 67 %, jika dibandingkan dengan nilai presentase kelas, siklus I nilai naik pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik sehingga presentasenya mencapai 73 %, dan presentase belajar pada siklus III mencapai 82 %. Hal ini masih ditingkatkan lagi karena secara individu masih ada yang nilainya sama dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelaaran pada pokok bahasan bagian tumbuhan dan fungsinya dapat ditingkatkan dengan menggunakan model problem based learning. 2. Yuliana Septiana dari Universitas Pasundan (2012) dalam penelitiannya tentang pendekatan Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas IV SD Negeri Cigugur Girang kecamatan parongpong kabupaten bandung barat. Kesimpulannya hasil penelitian bahwa pembelajaran IPS tentang topik masalah sosial pada kelas IV SD Negeri Cigugur Girang dengan menerapkan model problem based learning dapat menciptakan situasi belajar yang interaktif antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa serta dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Hal ini terbukti dengan meningkatnya nilai presentase pada setiap siklus. Setelah dilaksanakan tindakan I, II dan III mengalami peningkatan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Pada siklus I presentase mencapai 33,3 %, jika dibandingkan dengan nilai presentase kelas, siklus I nilai naik pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik sehingga presentasenya mencapai 78,3 %, dan presentase belajar pada siklus III mencapai 97 %. Hal ini masih ditingkatkan lagi karena secara individu masih ada yang nilainya sama dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada pokok bahasan topik masalah sosial dapat ditingkatkan dengan menggunakan model problem based learning. B. Kerangka Berfikir Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh keterampilan dan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk hidup dimasa depan. Untuk memperoleh keterampilan dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui pembelajaran Problem Based Learning. Selama ini dalam melakukan proses pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah yang sesekali divariasikan dengan metode lain, seperti tanya jawab dan pemberian tugas. Metode ini memposisikan guru sebagai pusat kegiatan belajar sementara siswa hanya menjadi objek saja. Dengan metode pembelajaran seperti ini siswa akan cenderung jenuh, monoton bahkan siswa akan merasa bosan dan ngantuk karena siswa kurang aktif. Penggunaan metode ceramah dalam proses belajar mengajar tidak selamanya jelek, jika penggunaan metode ini dipersiapkan dengan baik dan didukung oleh alat peraga yang baik pula, maka proses belajarpun akan berkembang, paling tidak dengan menggunakan media atau alat peraga siswa akan lebih aktif dan proses pembelajaranpun tidak akan jenuh. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan pada proses belajar mengajar adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends dalam Abbas (2013:66) yang menyatakan bahwa : Model PBL adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga ia bisa menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebuh tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, serta meningkatkan kepercayaan diri. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning menekankan keaktifan siswa. Dalam model ini, siswa dituntuk aktif dalam memecahkan suatu masalah. Model tersebut bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus pemecahan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Memecahkan suatu masalah nyata yang dihadapinya dapat menmbentuk pribadi yang mandiri dan senantiasa memahami kondisi lingkungan sekitar. Seiring dengan meningkatnya kemandirian dan pemahaman siswa tentu akan berdampak baik pada hasil belajarnya, karena model ini memiliki kelebihan menurut Mustaji (2005: 33) yaitu diantaranya: 1. Pembelajaran lebih memahami konsep yang deiajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut. 2. Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir pembelajaran lebih bermakna. 3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki pebelajar sehingga pembelajaran lebih bermakna. 4. Pebelajar dapat merasakan manfaat pembelajarn sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan keterkaitan pebelajar terhadap bahan yang dipelajari. 5. Menjadikan pebelajar lebihy mandiridan lebih dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara pebelajar. 6. Pengkondisian pebelajar dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajarn dengan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar pebelajar dapat diharapkan. Berdasarkan pendapan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model peoblem based learning sangat membantu pada pemahaman dan berdampak baik pada hasil belajar siswa setelah melakukan pembelajara. Hal ini hal tersebut dapat di lihat pada hasil penelitian yang relevan ditulis oleh Elis Eliah dari Universitas Pasundan (2012) Program Studi PGSD-S1. Tempat penelitian SD Negeri Patrol 1 kecamatan solokanjeruk dalam skripsi yang berjudul “Pendekatan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Pada Konsep Bagian Tumbuhan dan Fungsinya”. Melalui penelitian ini menunjukkan bahwa problem based learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Ketuntasan klasikal meningkat dari siklus I, II dan III yaitu pada siklus I presentase mencapai 67 %, pada siklus II mencapai 73 %, dan pada siklus III mencapai 82 %. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah tercapai. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menerapkan model problem based based learning berdasarkan beberapa pertimbangan seperti hal-hal yang telah diuraikan di atasdengan adanya hasil nyata peneliti akhirnya menerapkan model problem based learning dalam upaya meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Leuwiliang Sumedang pada subtema 2 kebersamaan dalam keberagaman. Secara deskripsi pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model problem based learning telah terjabar seperti berikut. Pada siklus awal keadaan sekolah yang belum siap dengan penerapan Kurikulum 2013 dan penggunaan model pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga mengakibatkan kejenuhan dalam proses pembelajaran hal tersebut berpengaruh pada pemahaman siswa. Dengan demikian peneliti malakukan tindakan untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa yang akan berpengaruh pada hasil belajarnya. Tindakan yang diambil yaitu dengan menerapkan model problem based learning, diharapkan siswa akan menjadi mandiridalam memecahkan masalah yang dihadapinya pada kehidupan nyata. Pada siklus I siswa mengamati sebuah gambar yang berhubungan dengan kebersamaan sebagai upaya untuk menumbuhkan sikap saling menghargai dan teliti, selanjutnya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan dengan bimbingan guru berdasarkan kelompok yang telah di bagi, mereka akan bermain permainan tradisional engklek dan mengelakan konsep pengubinan dengan permainan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kekompakan antar siswa dan menumbuhkan kebersamaan walaupun pada dasarnya mereka memiliki perbedaan. Tetapi apabila dengan permainan tersebut tidak berhasil dilakukan, maka maka masalah yang timbul yaitu kurangnya tanggapan dan kebersamaan siswa karena terkadang terdapat pula siswa yang mempunyai sikap kurang baik terhadap teman atau belum bisa bersosialisasi. Penerapan model problem based learning pada siklus I hasil yang di dapat masih belum memuaskan maka akan dilakukan Siklis II. Pada Siklus II siswa yang telah mampu melakukan engklek dan memahami konsep pengubinan akan memudahkan siswa dalam merancang pengubinan akan memudahkan siswa dalam berkomunikasi dengan lingkungan kelompoknya. Kegiatanyang akan dilakukan pada siklus II yatu melakukan wawancara dengan mewawancarai masyarakat yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Upaya yang dilakukan guru pada Siklus II yaitu untuk menumbuhkan sikap percaya diri dan rasa ingin tahu. Siklus I dan Siklus II belum berhasil maka dilakukan Siklus III yaitu dengan mendengarkan sumber suara dengan menggunakan indra pendengar dan membuat sebuah gambar batik tradisional yang terdapat pola pengubinan. Dilakukannya Siklus III dengan rencana yang matang setelah dilakukannya Siklus I dan Siklus II dengan menghindari kesalahan yang ada pada Siklus I dan Siklus II. Hasil akan meningkat baik dari segi sikap saling menghargai maupun dari dari hasil belajar siswa seiring dengan terlaksananya proses pembelajaran yang sesuai dengan perencanaan peneliti. Bagan 1.2 Kerangka Berpikir C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka berpikir di atas, diduga bahwa dengan menggunakan model problem based learning dapat meningkatkan kemandirian siswa kelas IV SD Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. Lebih jelas penulis rinci hipotesis tindakan, sebagai berikut : 1) Rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun dengan menggunakan model problem based learning dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa IV SD Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. 2) Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan deng sintax model problem based learning dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa IV SD Negeri Leuwiliang Sumedang pada subtema kebersamaan dalam keberagaman. 3) Pemahaman siswa pada subtema kebersamaan dalam keberagaman mampu meningkat dengan diterapkan model problem based learning di kelas IV SD Negeri Leuwiliang Sumedang. 4) Hasil belajar siswa pada subtema kebersamaan dalam keberagaman mampu meningkat dengan diterapkan model problem based learning di kelas IV SD Negeri Leuwiliang Sumedang.

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 25 Jun 2016 04:56
Last Modified: 25 Jun 2016 04:56
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/4977

Actions (login required)

View Item View Item