PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN TEMATIK

Dian Nurdiani, 105060275 (2016) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN TEMATIK. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
Cover.docx

Download (30kB)
[img] Text
Lembar Pengesahan & motto.docx

Download (16kB)
[img] Text
Abstrak.docx

Download (12kB)
[img] Text
Daftar Isi Lengkap.docx

Download (30kB)
[img] Text
BAB I.docx

Download (29kB)
[img] Text
BAB II.docx

Download (54kB)
[img] Text
BAB III.docx
Restricted to Repository staff only

Download (64kB)
[img] Text
BAB IV.docx
Restricted to Repository staff only

Download (135kB)
[img] Text
BAB V.docx
Restricted to Repository staff only

Download (21kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.docx

Download (16kB)
[img] Text
RIWAYAT HIDUP Dian.docx

Download (128kB)

Abstract

Abstract This research aims to improve to cooperation through problem based learning model in thematic learningmon the theme of cultural diversity of my nation. This researsch was conducted in class IV B State Primary School Karya Mulya I. The background of this research is student’s lack of cooperation in the cultural diversity in class IV B State Primary School Karya Mulya I. Whereas other learning models, especially problem based learning model has never been implemented. This research uses Classroom Action Research (CAR) method using a system consisting of a cycle of planning, implementation, observation, analysis and reflection. This research was conducted in two cycles. In each cyle of learning activities carried out by applying a learning model of discovery learning. Evalution technique used in this research is a test technique. Test to determine students learning outcomes, ad non test to determine the activity of the student. The result of this research showed that using of problem based learning model can improve the diversity of cultural cooperation of the students. It can be seen from the average value of enhanced cooperation learners of cycle I and cycle II, is the emerging understanding of the concept of cycle I 67,10% with the Middle category, cycle II 76,05% with Good category. Conclusion derived from this research is the use of problem based learning model is very support towards improved cooperation in the cultural diversity of my nation at class IV B. Thus, the use of problem based learning model that is applied to the thematic learning. Keyword: Problem based learning, Cooperation BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan penting dalam upaya mengembangkan pontensi, mina, bakat dan prestasi yang dimiliki manusia. Oleh sebab itu manusia banyak belajar untuk mengembangkan potensi yang ada dan pengembangan potensi berikut tersebut dapat dimulai dengan cara menumbuhkan keterampilan dan kemampuan peserta didik. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 21 tahun 2003 tentang fungsi dantujuan Pendidikan Nasional, yaitu : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, pendidik sebagai pengembang kurikulum dan ujung tombak pelaksanaan pendidikan di lapangan, dituntut memiliki kecakapan dasar professional kependidikan. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilaksanakan antara lain dengan mengusahakan penyempurnaan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar meliputi seluruh aktivitas yang pada intinya menyangkut pemberian materi pelajaran agar peserta didik memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang bermanfaat. Peningkatan mutu dan kualitas proses belajar mengajar bertujuan agar peserta didik memperoleh prestasi atau hasil belajar yang lebih baik. Selain hasil yang memuaskan yaitu agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga speserta didik lebih aktif dan terarah perhatiannya. Sehingga sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan, serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, global sehingga diperlukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Hal tersebut penting, guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkonstribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, serta adatif terhadap berbagai perubahan Kurikulum berbasis karakter dan kompetensi diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien, dan berhasil. Oleh karena itu, merupakan langkah positif ketika pemerintah (Mendikbud) merevitalisasi pendidikan karakter dalam seluruh jenis dan jenjang pendidikan, termasuk dalam pengembangan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar yang akan menjadi fondasi bagi tingkat berikutnya. Melalui pengembangan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan berbasis kompetensi, berharap bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, dan masyarakat memiliki nilai tambah (added value) dan nilai jual yang ditawarkan kepada orang lain dan bangsa lain. Sehingga kita dapat bersaing, bersanding, bahkan bertanding dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan global. Hal ini memungkinkan, kalau implementasi Kurikulum 2013 betul-betul dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarahkan pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui implementasi kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter dengan pendekatan tematik dan kontekstual diharapkan peserta didik mampu secara mendiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai dan akhlak mulai sehingga terwuju dalam perilaku sehari-hari. Implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi harus melibatkan semua komponen, termasuk komponen-komponen yang ada dalam sistem pendidikan itu sendiri. Komponen-komponen tersebut antara lain kurukulum, rencana pembelajaran, proses pembelajaran, mekanisme penilaian, kualitas hubungan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sekolah/madrasah, pelaksanaan pengembangan diri peserta didik, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang mengunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). (http:///aginapribadi.blogspot.com/2012/11/bab-i-pendahuluan-a.html//) Bedasarkan observasi awal dilapangan terhadap proses pembelajaran tematik dikelas IV SDN Karya Mulya 1 Cirebon dalam pembelajaran tematik ditemukan gejala-gejala peserta didik dalam proses pembelajaran terutama dalam pengembangan sikap kerjasama peserta didik cenderung kurang bekerjasama. Terlihat pada proses pembelajaran apabila pendidik telah memaparkan langkah-langkah tugas kelompok peserta didik cenderung tidak mendengarkan dengan baik. Peserta didik pun tidak melaksanakan kerja kelompok dengan baik. Mungkin ada beberapa sebab kurangnya peserta didik kerjasama, hal tersebut diakibatkan peserta didik masih banyak yang bermalas-malasan untuk kerja sama dalam sebuah kelompok. Sehingga peserta didik kurang kerjasama dalam pembelajaran secara kelompok. Serta masih banyak peserta didik yang tidak berani mengemukakan pendapatnya sendiri dalam kelompoknya sendiri, kurangnya komunikasi anatar anggota kelompok. Keberhasilan implementasi kurikulum 2013 dalam pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik dapat dilahat dari segi prosese dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembentukan kompetensi dan karakter dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinngi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, prosese pembentukaan kompetensi dan karakter dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku positif pada peserta didik seluruhnya sebagian besar (75%). Lebih lanjut pembentukan kompetensi dan karakter dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masuk merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarkat dan pembangunan. Kerjasama adalah gejala saling mendekati untuk mengurus kepentingan bersama dan tujuan yang sama. Kerjasama dan pertentangan merupakan dua sifat yang dapat dijumpai dalam seluruh proses sosial/masyarakat, diantara seseorang dengan orang lain, kelompok dengan kelompok, dan kelompok dengan seseorang (Saputra dkk, 2005, h.39). (http:///fixquy.wordpress.com/makalah-kerja-sama/) Menurut Johnson, dkk (dalam Saputra, 2005, h.50) bahwa pembelajran kerjasama dapat didefinisikan sebagai sitem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur termasuk di dalam struktur adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergantungan positif tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. (http://lompoulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-kerjasama.html//) Hubungan kerjasama bermakna bagi diri/kelompok sosial sendiri maupun bagi orang atau kelompok yang diajak kerjasama. Makna timbal balik ini harus diusahakan dan dicapai, sehingga harapan-harapan motivasi, sikap dan lainnya yang ada pada diri atau kelompok dapat diketahui oleh orang atau kelompok lain. Menurut Arends dalam Abbas (2000), model pembelajaran based learning (PBL) adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga ia bisa menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkankembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, serta meningkatkan percaya diri. (http:///pgsd-vita.blogspot.com/2013/01/v-behavioururdefaultumlo.html//) Menurut Riyanto (2009, h.288) Problem Based Learning (PBL) memfosuskan pada peserta didik menjadi pembelajaran yang mandiri dan terlibat lansung secara aktif dalam pembelajran kelompok. Model ini membantu peserta didik untuk mengembangkan berpikir peserta didik dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan ontentik. (http:///ian43.wordpress.com//2011/06/07/problem-based-learning//) Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi dkk, 2009, h.16). (www.academia.edu) Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan model pembelajaran problem based learning adalah menekankan keaktifan peserta didik serta peserta didik dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah. Problem Based Learning (PBL) menghendaki para peserta didik menggeluti penyelidikan otentik dan berusaha memperoleh pemecahan-pemecahan masalah nyata. Mereka harus menganalisa dan mendefinisikan masalah itu, mengembangkan hipotesisi dan membuat prediksi mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bila diperlukan) membuat inferessi, dan membuat kesimpulan. Problem Based Learning (PBL) juga ditandai oleh peserta didik yang bekerjasama dengan peserta didik lain, sering kali dalam pasangan-pasangan atau kelompok-kelompok kecil. Bekerja sama akan mendatangkan motibasi untuk keterlibatan berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan memperkaya kesempatan-kesempatan berbagi inkuiri dan dialog, dan untuk perkembangan keterampilan-keteramplian sosial. B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah terdapat beberapa masalah dalam penelitian ini. Adapun masalah – masalah tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut : 1. Dalam proses pembelajaran tematik kelas IV Sekolah Dasar Negeri Karya Mulya 1 anak cenderung kurang kerjasama dalam proses pembelajaran. 2. Peserta didik susah untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. 3. Peserta didik susah banyak yang tidak peduli dengan kelompoknya. 4. Peserta didik masih banyak yang mengganggu proses kerja kelompok 5. Kurangnya komunikasi antar anggota kelompok. C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah Agar penelitian ini lebih terarah, maka perlu adanya pembatasan dan pemfokusan masalah sehingga yang diteliti lebih jelas dan kesalahpahaman dapat dihindari. Untuk itu perlu dibatasi ruang lingkup dan fokus masalah yang diteliti adalah “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa Kelas IV Pada Pembelajaran Tematik”. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan kerjasama siswa kelas IV SDN Karya Mulya 1 tentang tema indahnya kebersamaan dalam pembelajaran tematik ? 2. Bagaimana aktivitas belajar siswa dengan menggunakan penerapan model pembelajaran problem based learning pada pembelajaran tematik terpadu ? 3. Apakah hasil pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan kerjasama siswa kelas IV SDN Karya Mulya 1 Cirebon pada pembelajaran tematik ? D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan kerjasama siswa pada pembelajran tematik kelas IV di SDN Karya Mulya 1 Cirebon sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran tematik dengan menggunakan penerapan model pembelajaran problem based learning 2. Untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik penerapan model pembelajaran problem based learning pada pembelajaran tematik terpadu kelas IV SDN Karya Mulya I 3. Untuk mengetahui kerjasama dalam pembelajaran tematik menggunakan model pembelajaran problem based learning kelas IV SDN Karya Mulya I E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat secara teoritis Secara teoritis manfaat pembelajaran tematik terpadu dengan penerapan model problem based learning yaitu untuk menambahkan wawasan dalam penggunaan model-model pembelajaran yang digunakan pada proses pembelajran di SD, terutama dalam meningkatkan kerjasama siswa dengan menggunakan penerapan model pembelajaran problem based learning pada pembelajaran tematik terpadu dikelas IV SDN Karya Mulya I agar pembelajaran lebih bermakna dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. 2. Manfaat secara praktis Secara hasil dari pelaksanaan penelitian ini akan memberikan manfaat bagi perorangan/institusi dibawah ini : a. Bagi Peserta Didik Penelitian ini dapat menjadikan pengalaman belajar, lebih menarik, menyenangkan dan memberikan dampak yang baik terhadap kerjasama antar peserta didik. b. Bagi Pendidik Untuk memperbaiki kinerja serta dapat mengembangkan kreativitas pendidik dalam merancang strategi pembelajaran tematik terpadu. c. Bagi sekolah Mendorong sekolah untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran dalam penggunaan model-model pembelajaran dalam kurikulum 2013. d. Bagi penelitian lanjutan 1) Penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang pembelajaran tematik dengan penerapan pembelajran problem based learning untuk meingkatkan kerjasama siswa SD. 2) Dapat meningkatkan kerjasama siswa 3) Menumbuhkan motivasi untuk melakukan inovasi-inovasi baru. F. Definisi Operasional Untuk menghindari salah penafsiran tentang makna istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan makna beberapa definisi operasional sebagai berikut : a. Pengertian model pembelajaran problem based learning Menurut Riyanto (2009, h.288) Problem Based Learning (PBL) memfosuskan pada peserta didik menjadi pembelajaran yang mandiri dan terlibat lansung secara aktif dalam pembelajran kelompok. Model ini membantu siswa untuk mengembangkan berpikir peserta didik dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan ontentik. (http:///ian43.wordpress.com//2011/06/07/problem-based-learning//) Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan model pembelajaran problem based learning adalah menekankan keaktifan peserta didik serta peserta didik dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah. b. Pengertian kerjasama Menurut Johnson, dkk (dalam Saputra 2005, h.50) bahwa pembelajaran kerjasama dapat didefinisikan sebagai sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur termasuk di dalam struktur adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergantungan positif tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. (http://lompoulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-kerjasama.html//) Untuk mencapai efektifitas dan produktifitas sebuah kelompok atau tim kerja, diperlukan suasana yang solid dan kondusif untuk memungkinkan terjadinya kerjasama di antara sesama anggotanya dalam mencapai tujuan kelompok. c. Pengertian pembelajaran tematik Menurut Poerwadarminta (1983), pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang mengunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. (http:///aginapridi.blogspot.com/2012/11/bab-1-pendahuluan-a.html//) BAB II KAJIAN TEORI A. Tematik Terpadu 1. Pengertian Tematik Terpadu Konsep pembelajaran tematik merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh pendidikan yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdilipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu. Pemeblajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengkaitkan beberapa aspek baik dalam intramata pelajaran maupun antar-mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik. Bermakna artinya bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajasi melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar-konseop dalam intra maupun antar-mata pelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvesional, pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajran sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajran untuk pembuatan keputusan. (Abdul M, 2014, h.85) Kurikulum 2013 SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas IV. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Kata tema berasal dari kata Yunani tithenai yang berarti “menempatkan” atau “meletakkan” dan kemudian kata itu mengalami perkembangan sehingga tithenia berubah menjadi tema. Menurut arti katanya, tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan” atau “sesuatu yang telah ditempatkan” (Gorys Keraf, 2001, h.107) Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar-mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami. Kegiatan pembelajaran terpadu memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, paling tidak pelaksanaan belajar mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, materi beberapa mata pelajaran disajikan dalam tiap pertemuan sedangkan cara yang kedua, tiap kali pertemuan hanya menyajikan satu jenis mata pelajaran. Pada cara kedua ini, keterpaduannya di ikut dengan satu tema pemersatu. Pada pembelajaran terpadu di sekolah dasar didasari beberapa hal, yaitu : a. Sesuai dengan penghayatan dunia kehidupan anak yang bersifat holistik. b. Sesuai dengan potensis pengaitan mata pelajaran di sekolah dasar sehingga mampu membuahkan penguasaan isi pembelajaran secara utuh. c. Idealisasi pelaksanaan kurikulum yang selayaknya dikembangkan secara integratif. (Depdikbud, 1995, h.3). Pengertian sacara luas, tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada peserta didik secara utuh. Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan tema dimaksudkan agar peserta didik mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Keterpaduan pembelajaran ini dapat dilihat dari proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar-mengajar. Jadi pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunkan tema sebagi persatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali pertemuan. Pengertian pembelajaran tematik dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pembelajaran yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat yang digunakan untuk memahami gejala-gejala, dan konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya. 2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia riil di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak. 3. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan. 4. Menggabungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar lebih baik dan bermakna. Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditunjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam prosese pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk srcara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka. (Abdul M, 2014, h.86) 2. Prinsip Pembelajaran Tematik Integratif Beberapa prinsip yang berkenaan dengan pembelajaran tenatik integratif sebagai berikut : a. Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual, dekat dengan dunia peserta didik dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa mata pelajaran. b. Pembelajaran tematik integratif perlu memilih materi beberapa mata pelajaran yang mungkin saling berkaitan. Dengan demikian, mater-materi yang dipilih dapat mengungkapkan tema secara bermakna. Mungkin terjadi, ada materi pengayaan horizontal dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam standar isi. Namun ingat, penyajian materi pengayaan seperti ini perlu dibatasi dengan mengacu pada tujuan pembelajaran. c. Pembelajaran tematik integratif tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integratif harus mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum. d. Materi pembelajaran yang dapat dipadukan dalam satu tema selalu mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan pengetahuan awal. e. Materi pelajaran yang dipadukan tidak terlalu dipaksakan. Artinya, materi yang tidak mungkin dipadukan tidak usah dipadukan. (Abdul M, 2014:89) 3. Karakteristik Pembelajaran Tematik Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut : a. Berpusat pada peserta didik Pembelajaran tematik berpusat pada peserta didik (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar, sedangkan pendidik lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar. b. Memberikan pengalaman langsung Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experience). Dengan pengalaman langsungini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas Dalam pembelajaran tematik, pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan peserta didik. d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran Pembelajaran tematik menyajian konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. e. Bersifat fleksibel Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan peserta didik dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan peserta didik berada. f. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyengkan. (Abdul M, 2014, h.89) Adapun karakteristik dari pembelajaran tematik ini menurut TIM Pengembangan PGSD, 1997 (Hesty, 2008) adalah : a. Holistik, suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus, tidak dari sudut pandang yang berkotak-kotak. b. Bermakna, pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki oleh peserta didik, yang ada gilirannya nanti, akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang dipelajari. c. Otentik, pembelajaran tematik memungkinkan peserta didik memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari. d. Aktif, pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasarkan pada pendekatan inqury discovery di mana peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi. (Abdul M, 2014, h.92) B. Model Pembelajaran Problem Based Learning 1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning Menurut Arends dalam Abbas (2000), model pembelajaran problem based learning (PBL) adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik, sehingga ia bisa menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkankembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan peserta didik, serta meningkatkan percaya diri. (http:///pgsd-vita.blogspot.com/2013/01/v-behavioururdefaultumlo.html//) Menurut Jonassen (2011) berpendapat Model Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan model yang sangat efektif untuk mengembangkan pemahaman peserta didik tentang hukum sebab akibat sebagai hukum dasar berpikir ilmiah sehingga peserta didik akan mampu belajar dan mentransfer berbagai keterampilan dalam memecahkan masalah. Menurut Riyanto (2009, h.288) problem based learning (PBL) memfokuskan pada peserta didik menjadi pembelajaran yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran kelompok. Model ini membantu peserta didik untuk mengembangkan berpikir peserta didik dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan ontentik. (http:///ian43.wordpress.com//2011/06/07/problem-based-learning//) Kemendikud (2013b) Memandang model pembelajaran berbasis masalah menggemukkan bahwa suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik unuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Sejalan hal ini, model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. (Y. Abidin, 2014, h.159) Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan model pembelajaran problem based learning adalah menekankan keaktifan peserta didik serta peserta didik dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah. Problem based learning (PBL) menghendaki para peserta didik menggeluti penyelidikan otentik dan berusaha memperoleh pemecahan-pemecahan masalah nyata. Mereka harus menganalisa dan mendefinisikan masalah itu, mengembangkan hipotesisi dan membuat prediksi mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bila diperlukan) membuat inferessi, dan membuat kesimpulan. Serta model pembelajaran problem based learning menekankan pada keaktifan peserta didik. Peserta didik dituntut aktif dalam pemecahan suatu masalah. Strategi problem based learning itu adalah memberikan masalah dan tugas yang akan dihadapi dalam dunia kerjasama kepada peserta didik sekaligus usahanya dalam memecahkan masalah tersebut. Dalam proses pembelajaran peserta didik bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri, karena keterampilan itu yang akan dibutuhkan olehnya nanti dalam kehidupan profesionalnya. Peserta didi dbisa menerapkan sesuatu yang telah diketahui, menemukan sesuatu yang perlu diketahuinya, dan mempelajari cara mendapatkan informasi yang dibutuhkan lewat berbagai sumber,termasuk sumber-sumber online, perpustakaan, profesional, dan para pakar. Problem based learning bertujuan mengembangkan dan menerapkan kecakapan yang penting, yakni pemecahan masalah, belajar sendiri, kerja sama tim, dan pemerolehan yang luas atas pengetahuan. 2. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning Problem Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Belajar dimulai dengan satu masalah. 2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata peserta didik. 3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu. 4) Masalah yang digunakan dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta kompetensi peserta didik. 5) Menekankan pentingnya pemerolehan keterampilan meneliti, memecahkan masalah, dan penguasaan pengetahuan. 6) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada peserta didik dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar. 7) Menggunakan kelompok kecil. 8) Mendorong peserta didik agar mampu berpikir tingkat tinggi : analisis, sintesis, dan evaluatif. 9) Menuntut peserta didik untuk mendemonstrasikan yang telah dipelajari dalam bentuk produk atau kinerja. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.72) 3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Problem Based Learning Adapun ciri-ciri model pembelajaran problem based learning menurut Ibrahim dan Nur (2000) adalah sebagai berikut : 1) Pengajuan pertanyaan atau masalah. Problem based learning mengorganisasikan pengajaran dengan masalah yang nyata dan sesuai dengan pengalaman keseharian peserta didik. 2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu. Masalah dan solusi pemecahan masalah yang diusulkan tidak hanya ditunjau dari satu disiplin ilmu (biologi/kesehatan), tetapi dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya ekonomi, sosiologi, geografi, politik, dan hukum. 3) Penyelidikan autentik itu problem based learning mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan terhadap masalah nyata melalui analisis masalah, observasi, maupun eksperimen. Dalam hal ini, sisa bisa menggumpulkan informasi dari beragam sumber pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan sekaligus mengembangkan hipotesis terhadap penyelesaian masalah yang dikemukakan. 4) Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. Problem based learning menuntut peserta didik menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefek (poster, puisi, laporan, gambar dan lain-lain) guna menjelaskan atau mewakili penyelesaian masalah yang ditemukan, kemudian memamerkan produk tersebut. 10) Kerja sama dalam model pembelajaran problem based learning dicirikan oleh peserta didik yang bekerja sama secara berpasangan maupun dalam kelompok kecil guna memberikan motivasi sekaligus mengembangkan keterampilan berpikir melalui tukar pendapat serta barbagai penemuan. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.73) 4. Tujuan Pembelajaran Problem Based Learning Secara umum, tujuan pembelajaran dengan model problem based learning adalah sebagai berikut : 1) Membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, serta kemampuan intelektual. 2) Belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan peserta didik dalam pengalaman nyata atau simulasi. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.74) 5. Pendekatan Berpikir Berbasis Masalah Menurut Duch, Groh, Allen (2001) dalam pendekatan ini, speserta didik diharapkan mampu memilki beberapa diorientasikan sebagi berikut : 1) Peserta didik mampu meneliti. 2) Peserta didik berpikir kritis, menganalisis, serta memecahkan masalah kehidupan yang kompleks. 3) Bekerja secara kooperatif dalam tim. 4) Peserta didik mampu mengemukakan pendapat. 5) Menerapkan pengetahuan sebelumnya. 6) Mendemonstrasikan keterampilan berkomunikasi secara efektif baik komunikasi lisan ataupun tulisan. (Miftahul Huda, 2013, h. 270) 6. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Based Learning Adapun 5 langkah dalam problem based learning (PBL) menurut Mustaji (2005, h.76) adalah sebagi berikut: 1) Mengorientasikan pebelajar pada masalah Pada awal problem based learning (PBL), pembelajaran terlebih dahulu menyampikan secara jelas tujuan pembelajaran, menetapkan sikap positif terhadap pembelajaran, dan menjelaskan pada pembelajaran bagaimana cara pelaksanaannya. Berdasarkan masalah tersebut pebelajar dilibatkan secara aktif memecahkan, menemukan konsep, prinsip-prinsip, dan seterusnya dalam mata pelajaran difusi inovasi pendidikan. 2) Mengorientasikan pebelajar untuk belajar Problem based learning (PBL) memerlukan ketrampilan pengembangan kolaborasi diantara pebelajran dan membantu mereka menyelidiki masalah secara bersama-sama. Hali ini merupakan bantuan merencanakan penyelidikan dan pelaporan tugas-tugas mereka. Selain itu perlu adanya kelombpok belajar. Adanya beberapa hal penting yang perlu diperhatikan di dalam mengorganisasikan pebelajar ke dalam kelompok pembelajaran berdasarkan masalah yakni pebelajar ke dalam kelompok problem based learning (PBL) yakni pebelajar dibentuk bervariasi denhan memperhatukan kemampuan, ras, etnie dan jenis kelamin sesuain dengan tujuan yang akan dicapai. 3) Memandu menyelidiki secara mandiri maupun kelompok Penyelidikan dilakukan secara mandiri, berkelompok kecil yang merupakan inti model problem based learning (PBL). Walaupun setiap situasi masalah memerlukan sedikit perbedaan teknik penyelidikan, paling banyak meliputi proses pengumpulan data dan eksperimen, hipotesis penjelasan dan pemberian penyeleseian. Pada tahap ini pembelajaran mendorong pebelajar mengumpulkan data dan melaksanakan kegiatan aktual sampai mereka benar-benar mengerti dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar pebelajar dapat mengumpulkan informasi cukup untuk mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Pada tahap ini pembelajaran harus banyak membaca selain apa yang telah ada dalam bahan ajar. Pembelajaran membantu pembelajaran pada pengumpulan informasi dari beberapa sumber dan mengajukan pertanyaan pada pebelajar untuk mendeteksi pemahaman mereka tentang masalah dan konsep yang ditemukan serta jenis informasi yang dibutuhkan untuk menemukan pemecahan masalahnya. 4) Mengembngkan dan menyajikan hasil kerja Hasil-hasil yang telah diperoleh harus dipresentasikan sesuai dengan pemahaman pebelajar. Pebelajar secara mandiri atau kelompok memberikan tanggapan atas hasil kerja temannya. Berdiskusi, berdialog bahkan berdebat memberi komentar terhadap pemecahan masalah yang disajikan. Dalam hal ini pembelajar mengarahkan, memberi pandangan atas tanggapan-tanggapan pebelajar tetapi tidak memerankan sebagai nara sumber sebagai justifikasi. 5) Menganalisa dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah Tahap akhir pembelajaran berdasarkan masalah meliputi bantuan pada pebelajran menganalisa dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri sebagaimana kegiatan dan ketrampilan intelektual yang mereka gunakan di dalam pencapaian hasil pemecahan masalah. Selama tahap ini, pembelajaran menugasi pembelajaran menyusun kembali hasil pemikiran dan kegiatan mereka pada setiap tahap pembelajaran. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.78) Adapun gambaran rinci langkah-langkah tersebut dapat dicermati dalam tabel berikut : Langkah No Kegiatan Guru Orientasi Masalah 1 Menginformasikan tujuan pembelajaran. 2 Menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadi pertukaran ide yang terbuka. 3 Mengarahkan kepada pertanyaan atau masalah. 4 Mendorong siswa mengekspersikan ide-ide terbuka Mengorganisasikan siswa untuk belajar 1 Membantu siswa dalam menemukan konsep berdasarkan masalah 2 Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi, dan cara belajar siswa aktif 3 Menguji pemahaman siswa atas konsepyang ditemukan Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok 1 Memberikan kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah 2 Mendorong kerja sama dan penyelesaian tugas-tugas 3 Mendorong dialog dan diskusi dengan teman 4 Membantu siswa mengidentifikasi dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah 5 Membantu siswa merumuskan hipotesis 6 Membantu siswa dalam memberikan solusi Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja 1 Mebimbing siswa dalam mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKS) 2 Membimbing siswa dalam menyajikan hasil kerja Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah 1 Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan masalah 2 Memotivasi siswa agar terlibat dalam pemecahan masalah 3 Mengevaluasi materi Tabel 2.1 Langkah-langkah pembelajaran model Problem Based Learning (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.79) 7. Evaluasi dalam Problem Based Learning Menurut Nursalam dan Ferry (2008), tidak selamanya proses belajar dengan metode problem based learning berjalan secara lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul. Hambatan yang paling sering terjadi adalah kurang terbiasanya siswa dan guru dengan metode ini. Mereka masih terbawa dengan metode konvensional, yakni pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu. Proses problem based learning terkadang membutuhkan waktu yang lebih banyak. Peserta didik kadang memang memerlukan waktu untuk menghadapi persoalan yang diberikan. Sementara itu, waktu pelaksanaan problem based learning harus disesuaikan dengan beban kurikulum untuk mengetahui berhasil atau tidaknya metode problem based learning, maka perlu dilakukan proses evaluasi/penilaian. Dalam pembelajaran yang berorientasi pada proses, terdapat dua komponen pokok yang perlu diperhatikan dalam proses evaluasi, yakni : a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik (peserta didik diharapkan mendapatkan pengetahuan lebih setelah melalui proses belajar). b. Serta proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik (peserta didik diharapkan menggunakan pendekatan belajar deep learning, yaitu melakukan proses belajar yang aktif, mandiri dan bertanggung jawab ). Pendidik bisa memberikan umpan balik atau menggunakan prosedur penilaian formatif dan sumatif sesuai dengan aturan penilaian dari sekolah. Hal ini juga membantu memberikan dalam mempertimbangkan penilaian kelompok secara keseluruhan. Dalam hal itu, kelompok didorong untuk merefleksikan penampilan dalam problem based learning, termasuk proses, keterampilan komunikasi, menghargai teman, dan kontribusi individu. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.81) 8. Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Learning a. Kelebihan Problem Based Learning Model pembelajaran ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya ialah sebagai berikut : 1) Peserta didik lebih memahami konsep yang diajarkan lantaran ia yang menemukan konsep tersebut. 2) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir peserta didik yang lebih tinggi. 3) Pengetahuan tertanama berdasarkan skemata yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga pembelajaran lebih bermakna. 4) Peserta didik dapat merasakan manfaat pembelajaran, karena masalah-masalah yang diselesaikan langsung ddikaitkan dengan kehidupan nyata. Hal ini bisa meningkatkan motivasi dan keterkaitan peserta didik terhadap bahan yang dipelajari. 5) Menjadikan peserta didik lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, serta menanamkan sikap sosial yang positif dengan peserta didik lainnya. 6) Pengondisian peserta didik dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temannya, sehingga pencapaian ketuntasan belajar peserta didik dapat diharapkan. 7) Problem based learning diyakini pula dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas peserta didi, baik secara individual maupun kelompok, karena hampir di setiap langkah menuntut adanya keaktifan peserta didik. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.82) Adapun kelebihan menurut Kemendikbud (2013b) sebagai berikut : 1) Dengan model pembelajaran berbasis masalah akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermaknadan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan denga situasi tempat konsep diterapkan. 2) Dalam situasi model pembelajaran berbasis masalah, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. 3) Model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. (Y. Abidin, 2014, h.161) b. Kekurangan Problem Based Learning Selain berbagai kelebihan tersebut, model problem based learning juga memiliki beberapa kekurangan, yakni : 1) Bagi peserta didik yang malas, tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. 2) Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3) Serta tidak semua mata pelajaran bisa diterapkan dengan metode problem based learning. (Sitiatava Rizema Putra, 2013, h.84) 9. Implementasi Model, Prinsip Reaksi, Sistem Lingkungan, dan Dampak Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) a. Implementasi Model Pelaksanaan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran membutuhkan waktu antara 70-140 menit yang berlangsung dalam 1-3 kali pertemuan. Untuk efektifitas pelaksanaannya, jadwal pembelajaran dilaksanakan 2 kali dalam seminggu. Dalam implementasinya pendidik dan peserta didik harus memiliki kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, terampil berkomunikasi, dan memiliki semangat serta motivasi bekerja baik secara individu maupun secara kooperatif. Selama model penerapan model, pendidik harus mencatat aktivitas dan hasil kerja peserta didik untuk mengatur dan mengikat pola berpikir dan pola kebiasaan belajar serta mencoba mempengaruhi peserta didik secara psikologis agar mereka terbiasa beraktivitas dengan baik. Sebagai tambahan, pendidik juga harus memberikan dorongan kepada peserta didik yang kurang bersemangat beraktivitas sehingga peserta didik mampu membangun perspektif yang segar pada masalah yang dibahasnya. b. Prinsip Reaksi Reaksi guru yang harus dilakukan pada setiap tahapan pembelajaran telah diuraikan terpadu. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa reaksi utama yang harus diberikan adalah pendidik harus senantiasa membangkitkan motivasi belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan produktif, membiasakan peserta didik bekerja secara kooperatif, lolaboratif, dan komunikatif. ( Y. Abidin , 2014, h. 165) c. Sistem Lingkungan Pendidik menerapkan model ini, sistem lingkungan belajar diharapkan tersedia adalah ketersediaan kasus yang bisa dipecahkan secara multiperspektif, media, dan sumber belajar yang relevan, lembar kerja proses yang lengkap secara individu dan kelompok, dan situasi pembelajaran yang mendukung. Yang tidak kalah pentingnya adalah peserta didik harus menyadari benar peran dan tugasnya selama pembelajaran yang meliputi sebagai berikut : 1) Mengoptimalkan kemampuan berpikir, keterampilan berkreasi, dan motivasi belajar dan bekerja. 2) Terbuka terhadap ide, konsep, gagasan, dan masukkan baru 3) Siap bekerja sama secara kolaborasi dan kooperatif 4) Mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi baik intrakelompok maupun antar kelompok. d. Dampak yang Diharapkan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dikembangkan memberikan dampak insruksional sebagai berikut : 1) Peningkatan kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran. 2) Pengembangan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah otentik. 3) Peningkatan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. ( Y. Abidin , 2014, h. 165) Dampak penyertaan ialah dalam hal sebagai berikut : 1) Mengembangkan karakter peserta didik antar lain disiplin,, cermat, kerja keras, tanggung jawab, toleran, santun, berani, dan kritis serta etis. 2) Membentuk kecakapan hidup pada diri peserta didik. 3) Meningkatkan sikap ilmiah. 4) Membina kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, berargumentasi, dan kolaborasi/bekerja sama. Secara visual, dampak penerapan model ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Dampak Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Y. Abidin, 2014, h. 167) C. Kerjasama 1. Pengertian KerjaSama Menurut Johnson, dkk (dalam Saputra 2005: 50) bahwa pembelajaran kerjasama dapat didefinisikan sebagai sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur termasuk di dalam struktur adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergantungan positif tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Kerjasama adalah adanya keterlibatan secara pribadi diantara kedua belah pihak dami tercapainya penyelesaian masalah yang dihadapi secara optimal (Sunarto, 2000). (http:///al-bantay-112.blogspot.com/2009/11/kumpulan-teori-kerjasama.html//) Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok diantara kedua belah pihak manusia untuk tujuan bersama dan mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. Jika tujuan yang ingin di capai berbeda maka kerjasama tidak akan tercapai. Thorndike (dalam Novy. S, 2013, h.35) menemukan pemecahan masalah secara kelompok, yaitu : a. Kelompok lebih banyak membawa pengalaman masing-masing dalam situasi problematis dari pada seorang individu. b. Kelompok lebih banyak memberikan bermacam-macam saran atau pendapat dibandingkan dengan seorang individu saja. c. Macam-macam pendapat yang berbeda-beda lebih representatif dari pada pendapat seorang saja. d. Adanya bermacam-macam latar belakang, minat, tujuan dalam kelompok mungkin mempersukar tercapainya suatu persetujuan yang riil. Tetapi perbedaan-perbedaan tersebut akan menjadikan masalah itu lebih riil atau nyata. e. Anggota kelompok saling merangsang dalam setiap usaha kelompok. f. Dinamika interpersonal merupakan suatu unsur yang penting dalam pertukaran pendapat. 2. Manfaat Kerjasama Adapun manfaat kerjasama sangat besar bagi kehidupan makhluk hidup khusunya manusia, manfaat kerjasama menurut para ahli sebagai berikut: Menurut H. Kusnadi (2003) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian kerja sama mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut: 1. Kerjasama mendorong persaingan di dalam pencapaian tujuan dan peningkatan produktivitas. 2. Kerjasama mendorong berbagai upaya individu agar dapat bekerja lebih produktif, efektif, dan efisien. 3. Kerjasama mendorong terciptanya sinergi sehingga biaya operasionalisasi akan menjadi semakin rendah yang menyebabkan kemampuan bersaing meningkat. 4. Kerjasama mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarpihak terkait serta meningkatkan rasa kesetiakawanan. 5. Kerja sama menciptakan praktek yang sehat serta meningkatkan semangat kelompok. 6. Kerjasama mendorong ikut serta memiliki situasi dan keadaan yang terjadi dilingkungannya, sehingga secara otomatis akan ikut menjaga dan melestarikan situasi dan kondisi yang telah baik. (Novy. S.A, 2013, h. 34) 3. Prinsip-prinsip Kerjasama Prinsip-prinsip kerjasama sebagai berikut : 1. Peserta didik melihat tujuan, rencana, dan masalah yang jelas dan mengandung arti bagi mereka. 2. Setiap anggota memberikan sumbangan masing-masing. 3. Setiap individu merasa bertanggung jawab kepada kelompok 4. Peserta didik turut berpartisipasi dan bekerjasama dengan peserta didik lain secara efektif. 5. Digunakan prosedur demokratis dalam perencanaan, penyelesaian, dan memberi keputusan. 6. Pemimpin dapat menciptakan suasana dimana setiap orang mau menyumbangkan buah pikirannya dan bekerjasama secra kooperatif. 7. Setiap anggota merasa puas dan aman berada dalam kelas. 8. Digunakan penilaian terhadap kemajuan kelompok dalam segala segi, sosial, kepemimpinan, aktivitas, dan sebagainya. 9. Menimbulkan perubahan konstruktif pada tingkah laku psesrta didik. (dalam Novy. S, 2013, h.37) 4. Upaya Pelaksanaan Kerjasama dalam Pembelajaran Asas kerjasama dapat diterapkan dalam semua kegiatan dan proses pembelajaran. Untuk melaksanakan asas ini, dipilih alternatif pendayagunaan seperti yang dikemukakan oleh William Burton ( dalam Novy. S, 2013, h.38) yakni : 1) Kerja kelompok untuk memecahkan suatu proyek atau problema. Langkah-langkah yang diikuti adalah sebagai berikut : a. Timbulnya masalah b. Pembagian atau analisis masalah c. Pembagian tugas d. Kegiatan kelompok e. Penyelidikan oleh kelompok f. Konklusi 2) Diskusi kelompok. Diskusi selalu ditujukan untuk memecahkan masalah yang menimbulkan berbagai pendapat. Kerjasama merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (pendidik dan peserta didik) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Kerjasama yang dimaksudkan disini penekanannya adalah pada peserta didik, seebab dengan adanya kerjasama peserta didik dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar aktif. Dengan kerjasama peserta didik dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi anatara peserta didik dengan peserta didik lain. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing peserta didik dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Dalam kerjasama selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi peserta didik untuk belajar. Peserta didik dikatakan memiliki kerjasama apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti saling membantu, menguatkan, dan kepemimpinan, mau mengerjakan tugas yang diberikan pendidik, mampu menjawab pertanyaan dan lain sebagainya. Dari penjelasan di atas penelitian dapat menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kerjasama peserta didik pada pembelajaran tematik dapat menggunakan model problem based learning. Karena model ini merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan kepada proses pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan pembelajaran yang diharapkan bukan hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi peserta didik dituntut untuk aktif berfikir, berkomunikasi sesama temanya, berinteraksi dalam kelompoknya, bekerjasama, serta peserta didik dapat mengemukakan pendapat, mencari dan akhirnya menyimpulkan. Kerjasama juga dapat dilihat dari ciri-ciri seperti saling membantu, menguatkan dan kepemimpinan, mau mengerjakan tugas yang diberikan pendidik, mampu menjawab pertanyaan dan lain sebagainya. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kerjasama dalam kegiatan pembelajaran agar peserta didik tidak merasa bosan dan jenuh ketika belajar, dengan melakukan kerjasama, peserta didik mendapatkan pengetahuan dan pengalaman langsung yang dilakukan dengan teman kelompoknya. D. Hasil Penelitian Terdahulu 1. Judul : Penerapan problem based learning untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Tegalweru Kecamatan Dau Kabupaten Malang oleh Yulfika Yasmin. Penulis : Yasmin, Yufika Penerbit : 2009, S1 Program Studi S1 PGSD Ketuntasan belajar klasikal meningkat dari siklus I, dan siklus II yaitu masing-masing 27,6% dan siswa yang tuntas pada siklus II sebesar 86,2%. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Peningkatan setiap komponen motivasi siswa dalam belajar tersebut yaitu motivasi siswa, untuk komponen minat belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 46 %. Komponen Perhatian siswa terhadap pelajaran B. Indonesia mengalami peningkatan sebesar 66,4%. Komponen ketekunan siswa selama proses pembelajaran mengalami peningkatan sebesar 82,76%. Serta untuk rata-rata semua komponen motivasi belajar siswa meningkat sebesar 63% dari siklus I ke siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning berdampak baik dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Dengan hasil penelitian tersebut, disarankan agar guru-guru dapat memanfaatkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran bahasa indonesia dan pada mata pelajaran lainnya. Melalui penelitian ini menunjukkan bahwa PBL memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran serta saran bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian yang membahas tentang peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) . E. Kerangka Pemikiran Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana sikap kerjasama peserta didik dalam proses pembelajaran. Apakah sikap kerjasama siswa tinggi atau kurang. Disini peneliti mendapatkan observasi awal dilapangan. Berdasarkan observasi awal dilapangan terhadap pembelajaran tematik di kelas IV SDN Karya Mulya I Cirebon dalam proses pembelajaran tematik ditemukan gejala-gejala peserta didik dalam proses pembelajaran terutama dalam pengembangan sikap kerjasama peserta didik cenderung kurang. Terlihat pada proses pembelajaran apabila guru telah memberi tugas kelompok hampir sebagian peserta didikctidak ada yang bekerjasama dengan kelompoknya, disini terlihat kerjasama peserta didik sangatlah rendah. Mungkin ada beberapa sebab kurangnya kerjasama peserta didik, hal tersebut diakibatkan karena anak malas bekerjasama, masih mengandalkan kepada satu temannya, dan masih belum ada kemauan untuk bekerjasama. Sehingga peserta didik masih ada yang kurang untuk bekerjasama. Dari gejala-gejala diatas yang ditemukan pada observasi awal maka peneliti mengambil solusi untuk mengatasi hal tersebut maka proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning. Untuk meningkatkan kerjasama peserta didik. Menurut Riyanto (2009:288) Problem Based Learning (PBL) memfokuskan pada peserta didik menjadi pembelajaran yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran kelompok. Model ini membantu peserta didik untuk mengembangkan berpikir peserta didik dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan ontentik. (http:///ian43.wordpress.com//2011/06/07/problem-based-learning//) Dalam proses pembelajaran peserta didik bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri, karena keterampilan itu yang akan dibutuhkan olehnya nanti dalam kehidupan profesionalnya. Peserta didik bisa menerapkan sesuatu yang telah diketahui, menemukan sesuatu yang perlu diketahuinya, dan mempelajari cara mendapatkan informasi yang dibutuhkan lewat berbagai sumber,termasuk sumber-sumber online, perpustakaan, profesional, dan para pakar. Serta model pembelajaran problem based learning menekankan pada keaktifan peserta didik. Peserta didik dituntut aktif dalam pemecahan suatu masalah. Strategi problem based learning itu adalah memberikan masalah dan tugas yang akan dihadapi dalam dunia kerjasama kepada peserta didik sekaligus usahanya dalam memecahkan masalah tersebut. Problem Based Learning bertujuan mengembangkan dan menerapkan kecakapan yang penting, yakni pemecahan masalah, belajar sendiri, kerja sama tim, dan pemerolehan yang luas atas pengetahuan. Peneliti berharap dari penggunaan model pembelajaran problem based learning diharapkan kerjasama peserta didik dalam pembelajaran mengalami peningkatan, dari yang tadinya malas bekerjasama dengan model ini sikap kerjasama peserta didik meningkatkan.

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 12 Jul 2016 03:28
Last Modified: 12 Jul 2016 03:28
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5509

Actions (login required)

View Item View Item