PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM SIKAP RASA INGIN TAHU DAN TANGGUNG JAWAB DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK

IPIT LUTPIANA, 105060064 (2016) PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM SIKAP RASA INGIN TAHU DAN TANGGUNG JAWAB DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
Cover skripsi.docx

Download (53kB)
[img] Text
Abstractt.docx

Download (14kB)
[img] Text
Adm.docx

Download (141kB)
[img] Text
BAB 1.docx

Download (29kB)
[img] Text
BAB 2.docx

Download (46kB)
[img] Text
BAB 3.docx

Download (43kB)
[img] Text
BAB 4.docx
Restricted to Repository staff only

Download (342kB)
[img] Text
BAB 5.docx
Restricted to Repository staff only

Download (21kB)
[img] Text
Daftar pustaka.docx

Download (19kB)
[img] Text
Riwayat penulis.docx

Download (137kB)

Abstract

MODEL APPLICATION PROBLEM BASED LEARNING ABILITY TO INCREASE IN ATTITUDE AND TASTE LIKE TO KNOW OF LIABILITY IN THEMATIC LEARNING (Classroom Action Research Matters In Themes Beings, Love Come Subtheme Environment, Student Learning In Class IV Semester 1 SD Negeri 1 Cintakarya District Pangandaran) by Ipit Lutpiana 105060064 ABSTRACT This research is motivated the poor ability of students in aspects of the attitude of curiosity and responsibility for learning is still dominated by the teacher. One taken to seek a way of learning is by using the Problem Based Learning model of learning which is expected to improve the ability of an attitude of curiosity and responsibility in students. Subjects were fourth grade students in elementary School 1 Cintakarya Pangandaran district in the school year 2014/2015, amounting to 19 students. The object of research is the application of the learning model of Problem Based Learning. The research method used is quantitative and qualitative methods. The research design used in this study is the type of classroom action research (Classroom Action Research). Having conducted research in three cycles, resulting conclusion that the learning model of Problem Based Learning can improve the attitude of curiosity and responsibility in students. Through the pre-test mean values obtained by classical and 47.89 percent to reach 10.52% mastery learning. Then conducted a test cycle I gained an average value reached 60.53 and 31.57% mastery learning. In the second cycle reaches 67.89 57.89% mastery learning results are not quite satisfactory so that action again. The results of the third cycle of action obtained an average yield of 74.21 and the classical mastery learning reaches 89.47%, which means mastery learning has been reached. Based on these results it can be concluded that the application of the learning model of Problem Based Learning, can improve the attitude of curiosity and responsibility. Above it is a model of learning Problem Based Learning can be developed and applied. Keywords: Problem Based Learning, Attitude Ability Curiosity and Responsibilities, Thematic Learning BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar ilmu pengetahuan adalah belajar tentang fakta. Fakta adalah situasi nyata dalam kehidupan. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah pengetahuan diajarkan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran agar pemahaman tentang situasi kehidupan nyata dapat diperoleh oleh siswa dengan bermakna. Kenyataan yang ada tentang kebermaknaan pembelajaran ternyata masih kurang menyentuh hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Rustaman (1997, h.10) yang menyatakan bahwa : “Pembelajaran dewasa ini masih kering, bersifat hafalan, dan kurang mengembangkan proses berpikir.” Lebih jauh menurutnya hal tersebut sangat dirasakan sekali pada materi belajar yang padat materi sehingga guru sebagai fasilitator menyampaikan materi tidak tepat sasaran. Rendahnya daya serap siswa terhadap konsep materi pelajaran salah satunya disebabkan oleh kekurang bermaknaan proses kegiatan belajar mengajar. Kebermaknaan pembelajaran dipengaruhi banyak hal, diantaranya guru. “ Guru yang tidak menguasai materi pelajaran tak dapat mengolah materi menjadi bahan ajar yang dapat dicerna siswa. Dan tidak akan dapat mengembangkan daya nalar siswa melalui materi pelajarannya “ (Nuryani dan Andrian Rustaman, 1997, h. 2). Selain itu mungkin pula akibat penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar. “Model pembelajaran (approach to learning) dan strategi atau kiat melaksanakan pendekatan serta metode belajar termasuk faktor-faktor yang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa“ (Muhibbin Syah, 2002, h. 25). Model pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sebab dapat menghubungkan dan menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. Berdasarkan dari observasi di lapangan pembelajaran tematik pada kelas IV di SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran ternyata kemampuan pemahaman siswa dan rasa tanggung jawab yang ditanamkan dari materi pembelajaran belum sesuai dengan harapan. Artinya kemampuan pemahaman siswa dan rasa tanggung jawab yang didapat masih rendah. Hal tersebut di atas diketahui dari hasil pembelajaran pada tema sebelum-sebelumnya. Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan sebesar 68 ternyata masih sulit dicapai. Dari 19 orang siswa kelas IV di SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran, hanya 10 orang siswa saja yang dapat mencapai KKM tersebut. Pada pembelajaran ilmu pengetahuan tema sebelum-sebelumnya siswa kurang antusias mengikutinya, guru seringkali menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan ceramah, aktivitas siswapun hanya dengan duduk dan mencatat saja. Setelah pembelajaran respon siswapun rendah terhadap kepedulian lingkungan sebagai implementasi materi pembelajaran begitu pula terhadap tugas yang diberikan. Rendahnya kualitas pembelajaran yang berimplikasi terhadap hasil belajar siswa. Sebenarnya rendahnya kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai banyak faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya seperti kurikulum, sarana, guru, siswa, model pembelajaran, metode pembelajaran dan hal lainnya. Rendahnya kualitas pembelajaran mengakibatkan pembelajaran kurang bermakna. Selain itu kegiatan pembelajaran yang terjadi di Kelas IV SD Negeri 1 Cintakarya kebanyakan berlangsung satu arah atau bersifat berpusat pada guru dengan kata lain bahwa proses belajar tidak merefleksikan proses sosial yang di dalamnya terdapat interaksi baik berupa dialog atau diskusi atau perilaku antar pelaku dalam kegiatan pembelajaran sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa kurang. Hal tersebut sesuai dengan temuan Redhana (2009, h.101) yang menyatakan bahwa kebanyakan guru masih mendominasi pembelajaran, umumnya guru mengajarkan materi dengan metode informasi dan tanya jawab saja. Kekurang bermaknaan pembelajaran tersebut sebenarnya dipengaruhi banyak hal, diantaranya guru yang belum memaknai dan memahami proses pembelajaran terutama dalam masalah model pembelajaran. Pemahaman tentang model pembelajaran sangat penting sebab model pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan dengan benar dapat menghubungkan dan menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. Upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa terhadap konsep materi pelajaran dapat dilakukan dengan melalui pendekatan dan model mengajar. Artinya pemilihan pendekatan dan model mengajar yang tepat akan berimplikasi terhadap hasil belajar. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dalam penyampaian konsep materi pelajaran ilmu pengetahuan alam adalah model Problem Based Learning yang berlandaskan pada berpikir konstruktivisme. Model pembelajaran tersebut mengedepankan konsep belajar dimana materi yang diajarkan dikaitkan dengan situasi nyata dalam kehidupan siswa, sehingga siswa melakukan kegiatan dan mengalaminya bukan sekedar menerima konsep materi pelajaran dari gurunya. Salah satu pengertian dari Model Problem Based Learning diantaranya disampaikan oleh Corebima ( 2002, h. 4 ) : “ Secara garis besar Problem Based Learning (PBL) terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka dalam melakukan penyelidikan dan inkuiri.” Istilah Problem Based Learning mempunyai beberapa istilah sebutan seperti yang disampaikan oleh Corebima ( 2002, h. 4 ) : Pembelajaran (PBL) dikenal melalui berbagai nama seperti Pembelajaran Projek (Project Based Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experienced Based Education), Belajar Autentik (Authentic Learning), Pembelajaran berakar pada Kehidupan Nyata (Anchored Instruction). Berdasarkan hal tersebut perlu upaya tindakan agar pembelajaran lebih bermakna sehingga kemampuan hasil belajar siswa dapat meningkat. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Problem based learning (PBL) sebab berdasarkan uraian-uraian tadi model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa selain itu model pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran yang akan disampaikan. Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar SD (2013, h. 1), adalah: Domain sikap adalah pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkunagan sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya. Domain keterampilan adalah pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret. Domain pengetahuan adalah pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban. Sedangkan Kompetensi Inti untuk Kelas IV Sekolah Dasar (2013, h. 1) adalah: 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. 2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya. 3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain. 4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia. Tindakan yang akan dilakukan agar pembelajaran lebih bermakna adalah menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tema peduli terhadap makhluk hidup sub tema ayo cintai lingkungan sedangkan mata pelajaran yang akan ditematikan adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran IPA dan mata pelajaran PPKn. Model Problem Based Learning (PBL) dipandang tepat digunakan untuk peningkatan kemampuan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tema peduli terhadap makhluk hidup sebab menurut Kemdikbud (2013, h. 2) model Problem Based Learning (PBL) mempunyai kelebihan yaitu: 1. Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan. 2. Dalam situasi PBL, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. 3. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dimana siswa lebih aktif, kreatif dan terampil dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Sehingga kualitas pembelajaran meningkat serta hasil belajar siswa dapat memenuhi KKM yang sudah ditentukan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Dalam Sikap Rasa Ingin Tahu dan Tanggung Jawab Dalam Pembelajaran Tematik (Penelitian Tindakan Kelas Pada Tema Peduli Terhadap Makhluk Hidup, Subtema Ayo Cintai Lingkungan, Pembelajaran Pada Siswa Kelas IV Semester 1 SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran).” B. Identifikasi Masalah Pengertian identifikasi masalah menurut Riduwan (2009, h. 21): “Identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dari judul penelitian atau dengan masalah atau variabel yang akan diteliti”. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi diantaranya yaitu: 1. Penyajian pembelajaran tema peduli terhadap makhluk hidup secara klasikal dengan model problem based learning masih awam dilakukan oleh guru-guru. 2. Guru masih menggunakan metode ceramah. 3. Siswa kurang memberikan perhatian dalam kegiatan pembelajaran. 4. Aktivitas guru dan siswa cenderung pasif. C. Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas kemudian berorientasi terhadap tujuan yang hendak dicapai, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan, sebagai berikut: Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik pada tema peduli terhadap makhluk hidup, subtema ayo cintai lingkungan, siswa kelas IV semester 1 SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran melalui penerapan model problem based learning? Rumusan masalah di atas dapat dirinci sebagai berikut: 1. Bagaimana perencanaan pembelajaran model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik? 2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran melalui penerapan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik? 3. Apakah penerapan model problem based learning dapat meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik? D. Batasan Masalah Mengingat banyaknya faktor yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik melalui model problem based learning, maka penelitian ini dibatasi pada: 1. Kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning. 2. Sikap dan aktivitas siswa dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning. 3. Penerapan model problem based learning dalam pembelajaran tematik. E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning sedangkan secara lebih rinci tujuan penelitian ini adalah: 1. Ingin mengetahui perencanaan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik. 2. Ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran melalui penerapan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik. 3. Ingin mengetahui seberapa tinggi peningkatan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini mempunyai manfaat bagi : 1. Guru a. Untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya. b. Memberikan informasi tentang model pembelajaran yang tepat untuk materi tema peduli terhadap makhluk hidup di kelas IV SD. c. Mendapatkan kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki guru. 2. Siswa a. Meningkatkan hasil belajar. b. Mengaktifkan model belajar siswa. c. Menumbuhkan motivasi belajar. 3. Sekolah a. Kualitas pendidikan bagi sekolah yang melaksanakan PTK akan meningkat. b. Kondusifnya iklim pendidikan di sekolah. c. Mempererat hubungan perkembangan sekolah dengan perkembangan kemampuan guru. G. Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahan pahaman dan salah pengertian dalam menafsirkan makna dari kata atau kalimat yang digunakan dalam judul penelitian ini, maka variabel penelitian didefinisikan sebagai berikut: 1. Penerapan Penerapan; Menurut Alwi (2001, h. 1180) adalah: proses, cara, perbuatan menerapkan. 2. Model Problem Based Learning Model Problem Based Learning; Menurut Kemdikbud (2014, h. 22): Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world). 3. Peningkatan Peningkatan; Menurut Alwi (2001, h. 1198) adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan, dsb). 4. Kemampuan Kemampuan; Menurut Alwi (2001, h. 1198) adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan. 5. Sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab Sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab merupakan salah satu kompetensi inti kelas IV sekolah dasar yang harus dicapai oleh siswa berdasarkan kurikulum 2013. Menurut Darmojo (1993, h 12) sikap rasa ingin tahu (curiousity) dan tanggung jawab (responsibility) merupakan tuntutan sikap ilmiah untuk anak usia sekolah dasar. 6. Pembelajaran tematik Pembelajaran tematik; Menurut Depdiknas (2006, h. 1) adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dan aspek belajar mengajar. Menurut Depdiknas (2006, h. 1) pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik hanya dijajarkan pada siswa sekolah dasar kelas rendah, karena pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial. dan emosional. Dalam model ini, guru pun harus mampu membangun bagian keterpaduan melalui satu tema. Pembelajaran tematik sangat menuntut kreatifitas guru dalam memilih dan mengembangkan tema pembelajaran. Tema yang dipilih hendaknya diangkat dari lingkungan kehidupan peserta didik, agar pembelajaran menjadi hidup dan tidak kaku. Demikian halnya pembelajaran menjadi ilustrasi dan contoh-contoh yang menarik dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran ini guru harus bisa memiliki pemahaman yang luas tentang tema yang akan dipilih dalam mata pelajaran. Sehingga saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Karena pembelajaran tematik ini merupakan suatu pembelajaran yang menggabungkan antara materi pelajaran dengan pengalaman belajar. Disamping itu guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan program pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya, peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan belajar harus sudah tersedia, baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Definisi lain mengatakan, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut di atas pembelajaran tematik berkaitan dengan tema. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Alwi, 2001, h. 1156). Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran ipa, bahasa, pkn, dan ips. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti matematika, agama, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka. Dengan tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya: a. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, b. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; c. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; d. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; e. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; f. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: (1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; (2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; (3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; (4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; (5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan (6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: (1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, (2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, (3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. (4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat. 2. Karakteristik Pembelajaran Tematik Sebagai suatu model pembelajaran, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: a. Berpusat pada siswa. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. b. Memberikan pengalaman langsung, Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. c. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa. d. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. e. Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada. f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan 3. Implikasi Pembelajaran Tematik Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup: a. Implikasi bagi guru, Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. b. Implikasi bagi siswa: (a) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya; dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal, (b) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah. c. Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media: (a) Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. (b) Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). (c) Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.(d) Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi. d. Implikasi terhadap Pengaturan ruangan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi: ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan, susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung, peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet, kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar, alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali. e. Implikasi terhadap Pemilihan metode. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap. 4. Model Pembelajaran Pengertian model pembelajaran secara umum sering diartikan sama dengan strategi belajar mengajar yaitu sebagai pola kegiatan pendidik dan siswa di dalam mewujudkan atau menciptakan situasi kegiatan proses belajar mengajar yang kondusif. Pengertian model pembelajaran menurut Sudirman (1990, h. 90): “ ......konsep strategi dalam hal ini menunjuk kepada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru - murid dalam peristiwa belajar mengajar.” Sedangkan pengertian lain dari model mengajar menurut Sudjana (1991, h. 16): “ Setiap kegiatan, baik prosedur, langkah, maupun metode dan teknik yang dipilih agar dapat memberikan kemudahan, fasilitas, dan atau bantuan lain kepada siswa dalam mencapai tujuan-tujuan instruksional.” Lebih lanjut Dahlan (1990, h. 21) menjelaskan model pembelajaran : “ Sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberikan petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya.” Konsep model pembelajaran atau strategi mengajar mengajar mempunyai beberapa analisis bagian diantaranya sebagai berikut : a. Pentahapan langkah-langkah ( syntax ). b. Sistem sosial yang diharapkan dalam model tersebut. c. Prinsip-prinsip reaksi siswa dan pendidik d. Sistem penunjang yang diisyaratkan Secara ringkas model pembelajaran dapat dikatakan sebagai pola urutan atau aturan, siasat dan cara yang dilakukan untuk dapat membelajarkan siswa bagaimana sebenarnya belajar yang bermakna dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Model-model pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan (Uno, 2006, h. 2). Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagipara perancang pembelajaran dan bagi para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Sugandi, 2004, h. 85). Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. 5. Model Problem Based Learning (PBL) Belajar pengetahuan alam adalah belajar tentang fakta. Fakta adalah situasi nyata dalam kehidupan. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah pengetahuan alam diajarkan dengan menggunakan berbagai pendekatan agar pemahaman tentang situasi kehidupan nyata dapat diperoleh oleh siswa di bangku sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar akan mampu membawa siswa pada pemahaman konsep apabila pendekatan yang digunakan tersebut dapat memberikan makna salah satunya mengaitkan konteks dengan pengalaman siswa. Salah satu pendekatan mengajar yang mempunyai karakteristik tersebut yang sekarang sedang berkembang adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsepsi pendekatan mengajar yang mengaitkan antara konteks mata pelajaran dengan situasi dunia nyata. Selain itu memotivasi siswa dalam membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-harinya. Pendekatan kontekstual mempunyai beberapa prinsip yang essensial diantaranya adalah : konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian yang sebenarnya. Prinsip-prinsip essensial tersebut dapat tercermin dalam suatu penggunaan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model Problem Based Learning (PBL). Salah satu pengertian dari model Problem Based Learning (PBL) diantaranya disampaikan oleh Corebima (2002, h. 4): “ Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan yang menyajikan kepada siswa suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka dalam melakukan penyelidikan dan inkuiri.” Istilah Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berdasarkan Masalah mempunyai beberapa istilah sebutan seperti yang disampaikan oleh Corebima (2002, h. 4): Pembelajaran Berdasarkan Masalah atau Problem Based Learning (PBL) dikenal melalui berbagai nama seperti Pembelajaran Projek (Project Based Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experienced Based Education), Belajar Autentik (Authentic Learning), Pembelajaran berakar pada Kehidupan Nyata (Anchored Instruction).” Tujuan Problem Based Learning (PBL) menurut Corebima (2002, h. 12): “Problem Based Learning (PBL) utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi.” Ciri-ciri utama Problem Based Learning (PBL) menurut Corebima (2002, h. 10): “Problem Based Learning (PBL) mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan autentik, multidisiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan, dan menghasilkan karya.” Implementasi Problem Based Learning (PBL) dalam kegiatan belajar mengajar mempunyai lima tahapan atau sintaks. Sintaks tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 2.1 : Sintaks Problem Based Learning (PBL) TAHAP TINGKAH LAKU GURU Tahap 1 Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya. Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. ( Duran Corebima dkk. , 2002 : 14 ) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world). Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar,” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. Berikut ini lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL). a. Permasalahan sebagai kajian. b. Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman. c. Permasalahan sebagai contoh. d. Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses. e. Permasalahan sebagai stimulus aktivitas autentik. B. Materi Ayo Cintai Lingkungan Lingkungan alam dan buatan harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Lingkungan alam dan buatan yang dijaga kelestariannya akan terus memberikan manfaat bagi manusia. Berikut beberapa cara dalam memelihara lingkungan alam dan buatan yang ada di sekitar kita. 1. Cara Memelihara Lingkungan Alam Tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan dan di pegunungan dapat berfungsi untuk melestarikan air, udara, dan tanah. Akar tumbuhan dapat berfungsi sebagai penahan air, sehingga tidak akan terjadi banjir dan erosi pada saat hujan deras. Erosi dan banjir menyebabkan lapisan tanah paling atas akan ikut hanyut. Padahal lapisan tanah paling atas adalah yang paling subur. Hutan juga disebut dengan paru-paru dunia. Tumbuhan yang ada di hutan menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hal ini terjadi pada saat tumbuhan melakukan proses fotosintesis. Oksigen diperlukan makhluk hidup untuk bernapas. a. Menjaga Kelestarian Air Setiap makhluk hidup membutuhkan air. Manusia membu-tuhkan air untuk minum, mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain. Air untuk minum harus dimasak lebih dulu agar kuman-kumannya mati. Hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Tumbuhan memerlukan air untuk pertumbuhan dan kesu-burannya. Air merupakan karunia Tuhan yang harus dijaga keberadaan dan kebersihannya. Air yang kotor atau tercemar tidak dapat dimanfaatkan. Air yang kotor atau tercemar dapat membahaya-kan kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Kelestarian air dapat dijaga dengan cara antara lain: 1) tidak membuang sampah di sungai atau saluran air; 2) melakukan kegiatan penghijuan atau penanaman pohon yang dapat berfungsi sebagai penahan dan penyimpan air; 3) menggunakan air sesuai kebutuhan. 4) Air bekas cucian dan mandi diusahakan tidak langsung meresap ke dalam tanah, tetapi dialirkan ke saluran pembuangan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi pence-maran air tanah. b. Menjaga Kelestarian Udara Udara sangat penting bagi kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup di bumi membutuhkan udara. Manusia dan hewan me-merlukan udara untuk bernapas. Tanpa udara semua makhluk hidup akan mati. Udara perlu dijaga kebersihannya. Asap pabrik dan asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Pencemaran udara sama dengan polusi udara. Untuk mengurangi pence-maran udara, pabrik-pabrik yang besar harus menggunakan cerobong asap. Udara yang bersih baik untuk kesehatan badan. Untuk mengurangi terjadinya pencemaran udara sebaiknya di kanan kiri jalan ditanami pohon. Kamu juga harus ikut serta dalam menjaga kebersihan udara. c. Menjaga Kesuburan Tanah Tanah merupakan tem-pat hidup bagi makhluk hi-dup. Semua hasil pertanian, perkebunan, tambang, dan hasil bumi lainnya berasal dari tanah. Tanah yang subur dapat menghasilkan tanaman yang baik. Tanah yang tandus perlu diolah agar menjadi subur. Sampah dari daun baik untuk menyuburkan tanah.Untuk menjaga kelestarian tanah tanamilah tanah kosong di sekitarmu agar tidak menjadi tandus. Tanah harus diolah dengan pengairan dan pemupukan yang benar. Kelestarian tanah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membuang sampah di sembarang tempat. Sampah harus dibuang di lokasi pembuangan yang semestinya. Sampah yang kita buang umumnya terdiri atas sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup. Contoh sampah organik adalah daun-daun, sisa-sisa makanan, dan sebagainya. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari benda tak hidup. Contoh sampah anorganik antara lain kaleng, botol, dan plastik. Sampah organik dapat membusuk dan terurai oleh bakteri atau jamur sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Sementara sampah anorganik tidak dapat terurai sehingga akan merusak kelestarian tanah. Oleh karena pentingnya tanah, air, dan udara maka jagalah kelestarian tanah, air, dan udara di sekitarmu. Hal ini bertujuan agar dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan. Semua itu karunia Tuhan Yang Maha Esa. 2. Cara Memelihara Lingkungan Buatan a. Menjaga Ketertiban Lingkungan Lingkungan yang aman, ter-tib, dan tenteram menjadi harapan semua orang. Oleh karenanya, setiap warga harus menjaga keamanan dan ketertiban. Apa yang terjadi jika kita tidak menjaga ketertiban lingkungan? Tentu saja lingkungan tidak akan aman, banyak terjadi pencurian, kekacauan, dan berbagai keributan lain.Akibatnya warga merasa terancam dan tidakdapat hidup tenang. b. Menjaga Kebersihan Lingkungan Lingkungan yang bersih merupakan dambaan setiap orang. Kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab setiap orang. Perhatikan uraian berikut. Di kompleks perumahan Pak Tatang setiap hari minggu diadakan kerja bakti. Pukul tujuh pagi semua warga sudah berkumpul untuk melak-sanakan kerja bakti. Mereka membawa alat-alat yang diperlukan untuk kerja bakti. Pak Tatang, selaku ketua RT, memberikan petunjuk kepada warga. Ada yang membersihkan saluran air, ada yang mendorong gerobak sampah, ada yang mencangkul, meratakan tanah, dan ada yang membersihkan rumput liar. Anak-anak juga ikut serta dalam kegiatan kerja bakti tersebut, dengan mengumpulkan sampah dan membuangnya ke tempat sampah. Ibu-ibu menyediakan makanan dan minuman untuk para warga. Sekarang kompleks perumahan tersebut menjadi bersih dan asri. Lingkungan yang bersih akan mencegah berjangkit-nya berbagai penyakit. Kamu harus selalu menjaga lingkungan tempat tinggalmu agar selalu bersih dan sehat. 3. Contoh Perilaku Memelihara Lingkungan Alam Kalian semua tentu per-nah melihat sungai, baik sungai yang besar maupun sungai yang kecil. Sungai termasuk ketampakan alam. Tahukah kalian manfaat sungai? Manfaat sungai banyak sekali seperti yang telah dijelaskan di depan. Agar sungai selalu dapat dimanfaatkan oleh manusia, sungai harus dijaga kelestarian dan kebersihannya. Contoh perilaku yang baik dalam memelihara sungai adalah dengan tidak membuang sampah dan limbah ke sungai, karena dapat mencemari dan mengotori sungai. Selain itu sampah yang dibuang di sungai juga dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir. Selain sungai, ketampakan alam dan buatan yang harus dijaga kelestariannya adalah hutan. Hutan ada yang alami dan ada yang buatan. Hutan alami adalah hutan yang ada dengan sen-dirinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hutan buatan adalah hutan yang sengaja dibuat oleh manusia untuk berbagai tujuan dan kepentingan hidupnya. Manfaat hutan yang paling utama adalah sebagai tempat penyimpanan air serta mencegah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, kita tidak boleh merusak hutan. Hutan wajib dijaga kelestariannya dengan cara tebang pilih (menebang pohon dengan cara memilih pohon yang lebih tua dan siap untuk ditebang) dan reboisasi. Reboisasi adalah penanaman kembali pohon-pohon di hutan. Sawah merupakan contoh lingkungan buatan yang sengaja dibuat manusia. Petani menanam padi di sawah. Dari menanam padi petani mendapatkan beras yang dimasak menjadi nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Agar dapat memperoleh hasil yang maksimal petani harus mengolah lahan pertaniannya dengan baik, seperti penggunaan pupuk yang benar, sistem pengairan yang baik, dan mengolah tanah dengan baik. Usaha-usaha tersebut merupakan bentuk pemeliharan dan pelestarian lingkungan alam dan buatan. C. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan Penelitian tentang model problrm based learning dengan judul Perbedaan Hasil Belajar Siswa Konsep Ekosistem yang menggunakan Model Problem Based Instruction dengan Direct Instruction melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning di SMP Negeri 2 Kalipucang Kabupaten Ciamis, dilaporkan oleh Mutiah (2005). Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis diperoleh kesimpulan bahwa kecenderungan hasil belajar siswa konsep ekosistem yang menggunakan model problem based instruction melalui pendekatan contextual teaching and learning yang diikuti oleh 30 siswa diperoleh skor rata-rata 14,50 simpangan baku 5,41. Secara komparatif menunjukkan bahwa hasil belajar siswa konsep ekosistem yang menggunakan model problem based instruction melalui pendekatan contextual teaching and learning lebih baik dari pada hasil belajar siswa konsep ekosistem yang menggunakan model direct instruction melalui pendekatan contextual teaching and learning. Penelitian tentang model problem based learning dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Pemecahan Masalah Pada Materi Garis dan Sudut dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas VII-F SMP Negeri 10 Tasikmalaya tahun Ajaran 2002/2003), dilaporkan oleh Mardiana (2003). Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data diperoleh kesimpulan Penerapan model pembelajaran pemecahan masalah pada materi garis dan sudut dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII-F SMP Negeri 1 Ciawi Tasikmalaya . Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis hasil belajar siswa pada siklus 1 sampai 3. Aktivitas siswa selama pembelajaran materi garis dan sudut dengan menerapkan model pembelajaran pemecahan masalah mengalami peningkatan pada aktivitas siswa mempelajari bahan ajar, berdiskusi atau bertanya antar siswa, bertanya kepada guru, keberanian mengemukakan pendapat, dan aktivitas berani tampil di depan kelas. Aktivitas siswa memperhatikan penjelasan guru dan aktivitas siswa berprilaku yang tidak relevan dalam kegiatan belajar mengajar mengalami penurunan persentase. Berdasarkan hasil temuan tersebut bahwa pembelajaran yang menggunakan model problem based learning ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik pada materi pelajaran IPA ataupun Matematika. Selain hasil belajar siswa aktivitas kegiatan belajar mengajar antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa juga mengalami peningkatan. D. Kerangka Pemikiran Atas dasar paparan tersebut di atas, maka dapat dibuat alur kerangka pemikiran sebagai berikut: Gambar 2.1 : Kerangka Pemikiran 1. Variabel Konteks Kegiatan penelitian dimulai dengan melakukan persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Persiapan yang dilakukan oleh guru tersebut diantaranya menyiapkan rencana pembelajaran, lembar kerja siswa, lembar observasi, lembar evaluasi, media pembelajaran, sumber pembelajaran, menata tempat duduk siswa, menyeting ruang kelas, koordinasi dengan observer atau pengamat dan hal yang paling penting adalah mengkondisikan siswa untuk siap belajar. 2. Variabel Proses Pada variabel proses yaitu pada proses berlangsungnya pembelajaran ada dua hal yang diamati atau diselidiki: a. Aktivitas Guru Aktivitas guru adalah kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Aktivitas tersebut meliputi cara membuka pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, memberikan evaluasi, dan menutup pembelajaran. b. Aktivitas Siswa Aktivitas siswa adalah kegiatan siswa ketika sedang mengikuti pembelajaran ketika dimulai pembelajaran, proses pembelajaran yang di dalamnya ada interaksi anatara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, melaksanakan evaluasi, dan ketika pembelajaran ditutup. Kegiatan proses tersebut diamati oleh pengamat atau observer yang mengikuti proses pembelajaran di kelas tersebut dimana observer atau pengamat tersebut berfungsi sebagai pengamat perubahan tingkah laku guru/siswa dalam pembelajaran tematik yang disajikan dengan model Problem Based Learning (PBL). 3. Variabel Hasil Variabel hasil merupakan tujuan dan hasil dari kegiatan pembelajaran yang meliputi: a. perubahan kemampuan siswa b. kemampuan sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab c. efektivitas model Problem Based Learning (PBL). E. Hipotesis Penelitian Sukardi (200, h.42) menyatakan bahwa hipotesis penelitian mempunyai fungsi memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau reasearch questions. Hipotesis dikatakan jawaban yang masih bersifat sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan dan analisis data. Berdasarkan pendapat di atas maka hipotesis dalam penelitian tindakan ini: 1. Terdapat peningkatan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning. 2. Terdapat peningkatan sikap dan aktivitas siswa dalam pembelajaran tematik melalui penerapan model problem based learning. 3. Model problem based learning dapat meningkatkan kemampuan dalam sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam pembelajaran tematik. BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Waktu Penelitian Waktu kegiatan penelitian dari penyusunan proposal sampai pelaporan hasil penelitian direncanakan 6 bulan dari bulan Maret sampai dengan Agustus 2014, sedangkan waktu penelitian dalam waktu 3 minggu dengan rincian 6 jam pelajaran tiap minggunya. 2. Tempat Penelitian Kegiatan penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran di kelas IV pada tahun pelajaran 2014/2015. B. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV di SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran pada tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 19 orang siswa. Subjek penelitian ini dipilih karena siswa kelas tersebut memiliki sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab yang rendah. Salah satu indikatornya hasil belajar yang rendah dan kurang motivasi belajar misalnya jarang ada siswa yang bertanya, kurang antusias dalam belajar. Tugas yang diberikan oleh guru kadang-kadang tidak dilaksanakan kalaupun dilaksanakan dikumpulkan tidak tepat waktu. Kepedulian terhadap lingkunganpun rendah, misalnya dalam hal tanggung jawab kebersihan padahal sudah diberi jadwal tugas kebersihan. Sebagai kolaborator atau pengamat (observer), peneliti meminta seorang teman sejawat, seorang guru kelas IV. 2. Objek Penelitian Objek penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan model problem based learning model pembelajaran ini dipilih dengan maksud agar ada peningkatan hasil belajar dan kegiatan belajar sehingga memacu sikap rasa ingin tahu selain itu dengan model pembelajaran tersebut dapat ditanamkan rasa tanggung jawab siswa. Kegiatan pembelajaran dengan penerapan model problem based learning diterapkan dalam pembelajaran tematik pada tema peduli terhadap makhluk hidup, subtema ayo cintai lingkungan. Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum SD Tahun 2013 atau yang lebih populer disebut Kurikulum 2013. C. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui seberapa hasil belajar atau prestasi belajar siswa setelah menggunakan model problem based learning ini. Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui bagaimana hasil sikap rasa ingin tahu dan rasa tanggung jawab siswa sebelum dan sesudah diimplementasikannya model problem based learning di kelas ini. D. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Menurut Ridwan (2002 : 5) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bentuk proses pengkajian berdaur (siklus) yang terdiri dari 3 tahap, yaitu : (a). Perencanaan (planing); (b). Tindakan (action) diikuti oleh pengamatan (observation); dan (c). refleksi (reflection). Desain penelitian dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), guru bertindak sebagai fasilitator. Desain penelitian adalah merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti (Sugiyono, 2000: 5). Desain penelitian yang direncanakan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam kegiatan yang terbentuk dalam siklus dengan mengacu pada model yang diadopsi dari Hopkins (Wiriatmadja, 2005: 48). Setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu: 1. perencanaan, 2. tindakan pelaksanaan, 3. observasi, dan 4. refleksi. Selanjutnya empat kegiatan itu berlangsung terus namun ada modifikasi pada tahap perencanaan yaitu perbaikan perencanaan. Desain penelitian tindakan kelas mengikuti desain Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis (Wiriatmadja, 2005: 48). Desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan dengan 3 siklus dengan alur sebagai berikut: Gambar 3.1: Desain Penelitian PTK Model Ebbut Sumber : (Wiriatmadja, 1993, h. 52) E. Operasionalisasi Variabel Fokus kajian dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi hal-hal apa yang diteliti atau variabel-variabel yang diteliti yang terdiri atas variabel konteks dan variabel proses dan variabel hasil. 1. Variabel Konteks Kegiatan penelitian dimulai dengan melakukan persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Persiapan yang dilakukan oleh guru tersebut diantaranya menyiapkan rencana pembelajaran, lembar kerja siswa, lembar observasi, lembar evaluasi, media pembelajaran, sumber pembelajaran, menata tempat duduk siswa, menyeting ruang kelas, koordinasi dengan observer atau pengamat dan hal yang paling penting adalah mengkondisikan siswa untuk siap belajar. 2. Variabel Proses Pada variabel proses yaitu pada proses berlangsungnya pembelajaran ada dua hal yang diamati atau diselidiki: 1) Aktivitas Guru Aktivitas guru adalah kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Aktivitas tersebut meliputi cara membuka pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, memberikan evaluasi, dan menutup pembelajaran serta tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran. 2) Aktivitas Siswa Aktivitas siswa adalah kegiatan siswa ketika sedang mengikuti pembelajaran diantaranya adalah ketika dimulai pembelajaran, proses pembelajaran yang di dalamnya ada interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, melaksanakan evaluasi, dan ketika pembelajaran ditutup. Kegiatan proses tersebut diamati oleh pengamat atau observer yang mengikuti proses pembelajaran di kelas tersebut dimana observer atau pengamat tersebut berfungsi sebagai pengamat perubahan tingkah laku guru/siswa dalam pembelajaran tematik pada tema peduli terhadap makhluk hidup, subtema ayo cintai lingkungan yang disajikan dengan model problem based learning. 3) Variabel Hasil Variabel hasil merupakan tujuan dan hasil dari kegiatan pembelajaran yang meliputi: (1) Perubahan sikap rasa ingin tahu siswa dan rasa tanggung jawab. (2) Hasil belajar siswa. (3) Efektivitas model problem based learning. Fokus kajian yang berupa variabel-variabel tersebut kemudian diteliti. Adapun fokus kajian tertera sebagai berikut: Tabel 3.1 Fokus Kajian Fokus Kajian Aspek yang dikaji Indikator Alat Ukur Peningkatan sikap rasa ingin tahu siswa dan tanggung jawab menggunakan model problem based learning. 1. Langkah penggunaan model problem based learning. 2. Perubahan sikap rasa ingin tahu dan tanggung jawab siswa setelah digunakan model problem based learning. a. Perencanaan pembelajaran b. Pelaksanaan pembelajaran 1) membagi siswa ke dalam kelompok. 2) membagikan bahan ajar membaca untuk membaca teks. 3) membimbing siswa melakukan diskusi. 4) membimbing siswa untuk merangkum teks bacaan. 5) membimbing siswa menyimpulkan teks bacaan. 6) menyuruh siswa mempresentasikan hasil kegiatan. 7) memberikan penguatan c. Evaluasi pembelajaran 1) Penilaian proses belajar melalui tes awal 2) Penilaian hasil belajar melalui tes akhir a. Persiapan. b. Pengamatan teks bacaan c. Aktifitas. d. Merangkum isi informasi bacaan. e. Mengungkapkan secara lisan dan tertulis isi informasi bacaan. Lembar observasi,diisi oleh observer (Tutor/ guru) Kriteria perubahan kemampuan siswa di amati dan dianalisis oleh observer (Guru/ tutor). Test siswa diisi oleh siswa diperiksa oleh guru Sumber: Arikunto, S., Suhardjno dan Supardi (2008: 68) F. Prosedur Penelitian Penelitian ini dibagi menjadi tiga siklus yang tiap siklusnya terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap refleksi yang diuraikan sebagai berikut: 1). Tahap Perencanaan Siklus I Tahap ini terdiri dari langkah-langkah : (1) Sebelum melakukan perencanaan tindakan pada siklus I, dilakukan observasi awal dengan cara mengadakan wawancara nonformal kepada seluruh guru kelas IV SD Negeri 1 Cintakarya Kabupaten Pangandaran untuk menemukan permasalahan termasuk mendata hasil belajar siswa pada pertemuan sebelum dilakukan tindakan siklus I. (2) Menentukan kelas yang dijadikan subjek penelitian kemudian melakukan wawancara dengan beberapa orang siswa pada kelas tersebut untuk mengidentifikasi masalah yang mereka alami terutama dalam proses pembelajarannya sehari-hari. (3) Melakukan studi pendahuluan dengan cara menganalisis kurikulum dan telaah pustaka untuk menyusun rencana pembelajaran. (4) Merancang kegiatan belajar mengajar dan pertanyaan produktif yang sesuai. (5) Menyusun dan memperbanyak instrumen penelitian berupa rencana pembelajaran, LKS, soal untuk tes, serta format observasi. (6) Melakukan judgement instrumen pada dosen ahli, dilanjutkan dengan melakukan uji coba. (7) Membagi siswa menjadi 4 kelompok berdasarkan nilai hasil belajar untuk pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya. 2). Tahap Pelaksanaan Siklus I Tahap ini terdiri dari langkah-langkah : (1) Memberikan prates untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum pembelajaran. (2) Melaksanakan Rencana Pembelajaran tindakan siklus I. Selama pembelajaran berlangsung, para observer melakukan observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru. Pada akhir pembelajaran, siswa diberikan pascates sebagai evaluasi. 3). Tahap Refleksi Siklus I (1) Melakukan analisis hasil observasi observer dan analisis evaluasi jawaban siswa terhadap soal-soal prates dan pascates. (2) Melakukan refleksi terhadap hasil yang diperoleh pada siklus I termasuk mencatat kekurangan dan kelebihannya. 4). Tahap Perencanaan Tindakan Siklus II Membuat rencana pembelajaran untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I. 5). Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus II (1) Melaksanakan tindakan untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I sesuai rencana pembelajaran Siklus II. (2) Memberikan penghargaan kelompok atas perolehan peningkatan skor kelompok pada siklus I, mengarahkan cara diskusi yang benar, observasi proses pembelajaran siklus II oleh observer dan tidak dilakukan evaluasi hasil belajar pascates. (3) Berdasarkan jawaban LKS, diskusi kelas dan masukan dari para observer maka Siklus II perlu dilakukan peneliti untuk menguatkan konsep materi pembelajaran yang dianggap belum dipahami benar oleh siswa. 6) Refleksi Siklus II Identifikasi kelebihan dan kekurangan yang muncul pada siklus II. 7) Perencanaan Siklus III Pada siklus III telah direncanakan membahas materi baru. Perencanaannya meliputi (1) Menyusun rencana pembelajaran (2) Membuat dan memperbanyak lembar kerja siswa yang memuat pertanyaan produktif (3) Membuat dan memperbanyak soal untuk kuis dengan bentuk soal uraian sebanyak 5 butir soal (4) Menyiapkan dan memperbanyak format observasi aktivitas siswa dan guru. 8) Pelaksanaan Siklus III (1) Melaksanakan proses pembelajaran sesuai Rencana Pembelajaran siklus III yang diobservasi oleh para observer. (2) Memberikan tes evaluasi pada akhir pembelajaran siklus III. (3) Memberikan penghargaan kelompok. (4) Melaksanakan test formatif (5) Melakukan analisis terhadap hasil tes siklus III. 9) Refleksi Siklus III Refleksi siklus III dilakukan atas dasar: (1) Data dari para observer yang mengobservasi kegiatan guru dan siswa (2) Hasil evaluasi belajar siswa. (3) Dilanjutkan dengan pencatatan atas beberapa tanggapan yang disampaikan oleh siswa melalui tanya-jawab dan menarik kesimpulan. G. Rancangan Pengumpulan Data Data penelitian dikumpulkan melalui : 1. Pengamatan pembelajaran sebelum penelitian. 2. Pengisian angket oleh siswa sebelum dan sesudah penelitian dilakukan. 3. Pengisian lembar pengamatan proses pembelajaran selama penelitian oleh kolaborator dan peneliti sendiri. 4. Melalui tes (prates dan pascates) materi penelitian sebelum dan sesudah tindakan dilakukan. 5. Tanya jawab langsung dengan siswa pada waktu refleksi sesudah proses pembelajaran dengan tindakan dilaksanakan. 6. Diskusi dengan kolaborator untuk merencanakan langkah-langkah siklus kedua. H. Pengembangan Instrumen Penelitian Untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel maka digunakan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah : 1. Perangkat pembelajaran Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kegiatan siswa (LKS) dan soal. 2. Angket Angket digunakan untuk mengungkap sikap siswa secara umum terhadap kemampuan penguasaan konsep dalam usaha pencapaian hasil belajar. 3. Lembar Observasi Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi dan proses pembelajaran di kelas, khususnya gambaran mengenai aktivitas siswa dan motivasi siswa selama kegiatan belajar. 4. Wawancara Wawancara dilakukan untuk memperoleh data mengenai tanggapan siswa dan guru tentang pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning. 5. Handycam Handycam digunakan untuk merekam kegiatan penelitian tindakan kelas yang nantinya hasil dari dokumentasi dari handycam dituangkan dalam bentuk laporan tertulis atau deskripsi tertulis. I. Rancangan Analisis Data 1. Metode Analisis Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Melalui penelitian kualitatif dapat dikenali subjek dan merasakan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian kualitatif (qualitatif research) adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kualifikasi lainnya. Penelitian ini dapat digunakan untuk meneliti kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, pergerakan-pergerakan sosial atau hubungan kekerabatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Dengan menggabungkan batasan pengertian inti, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa (Arikunto, 2006 : 3) Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini Nasution (Sugiyono, 2006: 275 ) menyatakan “Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang “grounded”. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif komparatif dan analisis kritis. Teknik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni membandingkan hasil antar siklus. Peneliti membandingkan hasil sebelum penelitian dengan membandingkan hasil pada akhir setiap siklus (Hermawan, 2008: 70). Teknik analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif, yakni mencakup kegiatan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kriteria normatif. Hasil analisis tersebut dijadikan dasar dalam penyusunan perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles dan Huberman (Sugiyono, 2006: 91), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display,dan conclution drawing / verification. 2. Teknik Pengumpulan Data dan Pengolahan Data 1). Teknik Pengumpulan Data Data-data yang terkumpul dalam penelitian ini dijaring melalui instrumen evaluasi belajar siswa berbentuk uraian, format wawancara (nonformal), lembar observasi aktivitas guru yang dilengkapi catatan lapangan dari observer (field note), lembar observasi aktivitas siswa. Data yang dijaring melalui evaluasi (prates dan pascates) berupa soal uraian dilakukan pada siklus I dan III saja. Data-data yang diperoleh berupa: (1) Hasil evaluasi yang diujikan diberi skor kemudian diberikan penghargaan. (2) Kegiatan guru selama pembelajaran berlangsung dan field note (catatan lapangan) dari observer digunakan sebagai refleksi untuk siklus selanjutnya. (3) Keterlibatan siswa dalam kelompok dicatat dalam format observasi aktivitas siswa. (4) Tanggapan/respon siswa mengenai pembelajaran diperole

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 25 Jun 2016 04:55
Last Modified: 25 Jun 2016 04:55
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/4976

Actions (login required)

View Item View Item