Derajat, Muhammad Fajriansyah (2026) Analisis Semiotika Makna Kesetiaan yang Tak Terucap atas Mitos Cinta Abadi dalam Lirik Lagu 'Panasea' Karya Rumahsakit Band. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
9.DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (269kB) | Preview |
|
|
Text
3.ABSTRAK 3 BAHASA.pdf Download (266kB) | Preview |
|
|
Text
11.KATA PENGANTAR.pdf Download (220kB) | Preview |
|
|
Text
12.DAFTAR ISI.pdf Download (215kB) | Preview |
|
|
Text
2.LEMBAR_PERSETUJUAN.pdf Download (237kB) | Preview |
|
|
Text
5.BAB II.pdf Download (385kB) | Preview |
|
|
Text
1.COVER.pdf Download (217kB) | Preview |
|
|
Text
4.BAB I.pdf Download (253kB) | Preview |
Abstract
Penelitian ini berjudul “Analisis Semiotika Makna Kesetiaan yang Tak Terucap atas Mitos Cinta Abadi dalam Lirik Lagu ‘Panasea’ Karya Rumahsakit Band”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan bahasa puitis, simbol, dan metafora dalam lirik lagu “Panasea” yang memuat pesan mengenai cinta, kesetiaan, kerinduan, jarak, dan keteguhan hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terdapat dalam lirik lagu “Panasea”, serta mengidentifikasi nilai sosial, budaya, dan ideologis yang dibangun melalui lirik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan semiotika Roland Barthes. Data penelitian berupa kata, frasa, baris, dan bait dalam lirik lagu “Panasea” karya Rumahsakit Band. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi teks lirik, dokumentasi, dan wawancara dengan personil Rumahsakit Band sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap pemaknaan Roland Barthes, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, lirik lagu “Panasea” menggambarkan hubungan antara dua individu yang terpisah oleh jarak dan waktu, tetapi masih memiliki keterhubungan emosional. Pada tingkat konotasi, tanda “terang” dan “tenang” merepresentasikan kehadiran, harapan, dan ketenteraman, sedangkan tanda “gelap” dan “resah” merepresentasikan ketidakhadiran, kerinduan, dan kegelisahan. Tanda “nyanyian”, “angan”, dan “napas” menunjukkan bahwa perasaan dan kehadiran orang yang dicintai tetap hidup dalam ruang batin, meskipun tidak selalu disampaikan melalui ucapan. Frasa “takkan kuberubah walau tak bersama” merepresentasikan kesetiaan sebagai keteguhan hati dan komitmen untuk mempertahankan perasaan dalam keadaan terpisah. Pada tingkat mitos, lirik lagu “Panasea” membangun gagasan mengenai cinta abadi, yaitu keyakinan bahwa cinta yang tulus mampu melampaui ruang, waktu, jarak, dan berbagai hambatan kehidupan. Lirik tersebut juga mereproduksi nilai sosial mengenai iii komitmen, kepercayaan, dan keteguhan dalam hubungan, serta nilai budaya mengenai idealisasi cinta sejati. Secara ideologis, lirik “Panasea” menampilkan cinta yang tidak berubah dan berlangsung selamanya sebagai bentuk cinta yang ideal. Dengan demikian, lirik lagu “Panasea” tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi emosional, tetapi juga sebagai teks budaya yang membentuk pemahaman mengenai kesetiaan, harapan, dan cinta abadi dalam hubungan antarmanusia. Kata Kunci: semiotika Roland Barthes, denotasi, konotasi, mitos,
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi 2026 |
| Depositing User: | S.Si Mochamad Yogi |
| Date Deposited: | 07 Oct 2026 04:43 |
| Last Modified: | 07 Oct 2026 04:43 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/85181 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
