Handayani, Fitri (2024) PEMBENTUKAN KONSEP DIRI REMAJA BROKEN HOME MELALUI KOMUNIKASI INTERPERSONAL DI KECAMATAN PAMANUKAN. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (19kB) | Preview |
|
|
Text
Cover.pdf Download (67kB) | Preview |
|
|
Text
Lembar pengesahan.pdf Download (8kB) | Preview |
|
|
Text
Daftar isi.pdf Download (333kB) | Preview |
|
|
Text
Daftar pustaka.pdf Download (128kB) | Preview |
|
|
Text
Kata pengantar.pdf Download (134kB) | Preview |
|
|
Text
BAB 1.pdf Download (199kB) | Preview |
|
|
Text
BAB 2.pdf Download (371kB) | Preview |
Abstract
Remaja adalah fase usia di mana individu berkembang menuju kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik, termasuk cara berpikir, usia remaja tentu memilki sifat labil. Hal ini semakin terlihat pada remaja yang memiliki latar belakang keluarga yang tidak utuh (Broken Home). Terjadinyapembentukan konsep diri yang merupakan proses alami yang yang seharusnya terjadi. Konsep diri seorang remaja dipengaruhi oleh orang tua, lingkungan dan teman sebaya, karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama teman dan lingkungan. Di sinilah terlihat apakah remaja dari keluarga broken home akan terjerumus ke arah negatif atau berhasil mengarahkan dirinya ke arah positif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pembentukan konsep diri remaja broken home. Teori dealektika relasional yang dikembangkan oleh Baxter dan Montgomeryi. Untuk mendiskripsikan secara detail pembentukan konsep diri remaja home, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja berusia 18-22 tahun dengan latar belakang keluarga broken home yang orang tuanya bercerai atau meninggal dunia. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Pamanukan Subang. Cara pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian remaja broken home lebih banyak memiliki konsep diri positif dibanding konsep diri negatif, remaja yang memiliki kepercayaan diri rendah, tidak semangat menggapai impian, menganggap dirinya tidak berguna dan belum berdamai dengan keadaan bahwa dirinya berasal dari keluarga broken home, maka tergolong dalam konsep diri negatif. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya peran orang tua dalam memberi pemahaman, perhatian dan dukungan kepada anak. Sedangkan remaja yang memiliki kepercayaan diri tinggi, semangat meraih cita-cita dan tidak peduli mengenai keluarganya yang broken home karena sudah berdamai dengan keadaan tergolong dalam konsep diri positif. Hal ini dipengaruhi oleh peran serta dukungan orang tua yang dilakukan secara maksimal, dapat membentuk berperilaku positif dan konsep diri positif pada remaja broken home. Konsep diri setiap individu dapat diketahui dengan teori menggunakan teori konsep diri yang dikemukankan oleh Hurlock (2001) yang terdiri dari potensi diri, penerimaan masyarakat, interaksi sosial, pandangan sbeagai anggota keluarga, harapan dan cita-cita. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Broken Home, Konsep Diri.
Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
---|---|
Subjects: | S1-Skripsi |
Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi 2024 |
Depositing User: | Drs Iwan Ridwan |
Date Deposited: | 17 Sep 2024 06:17 |
Last Modified: | 17 Sep 2024 06:17 |
URI: | http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/70161 |
Actions (login required)
View Item |