PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN IPS MENGENAI JASA DAN PERANAN TOKOH DALAM MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN

YULI YULIANTI, 105060122 (2016) PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN IPS MENGENAI JASA DAN PERANAN TOKOH DALAM MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
1.COVER YULI.docx

Download (149kB)
[img] Text
LEMBAR PENGESAHAN.rtf

Download (56kB)
[img] Text
4. MOTTO.docx

Download (14kB)
[img] Text
Lembar Pernyataan.doc

Download (30kB)
[img] Text
ABSTRAK 8.doc

Download (37kB)
[img] Text
ABSTRAK 9.doc

Download (33kB)
[img] Text
KATA PENGANTAR .doc

Download (124kB)
[img] Text
8. DAFTAR ISI 10.docx

Download (30kB)
[img] Text
BAB I.docx

Download (42kB)
[img] Text
BAB II.docx

Download (75kB)
[img] Text
BAB III.docx
Restricted to Repository staff only

Download (66kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA BAB IV.docx

Download (13kB)
[img] Text
15. Curriculum Vitae.docx

Download (29kB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai hasil tes siswa terhadap mata pelajaran IPS, yaitu masih di bawah KKM yang baru mencapai rata-rata 32,6 %. Padahal target yang diharapkan rata-rata 80%. Demikian pula cara guru melaksanakan pembelajaran masih bersifat konvensional yaitu hanya dengan menggunakan metode ceramah, sehingga keterlibatan siswa dalam pembelajaran sangat minim. Penelitian ini ditunjukan pada penggunaan media pembelajaran audio visual dalam pembelajaran IPS tentang jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah meningkatkan pemahaman siswa tentang Jasa Dan Peranan Tokoh dalam Memproklamasikan Kemerdekaan melalui media audio visual. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengadaptasi dari Kurt Lewin dengan tiga siklus, yang pada setiap siklusnya dilakukan dua tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V Semester I SDN Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung yang berjumlah 34 orang. 19 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Instrumen yang digunakan diantaranya adalah lembar observasi, soal proses, soal produk, LKS, afektif karakter, keterampilan sosial, wawancara, dan angket skala sikap. Adapun hasil penelitian dengan menggunakan media pembelajaran audio visual pada pembelajaran IPS menunjukan adanya peningkatan proses pembelajaran baik aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Target penelitian dinyatakan berhasil jika pemahaman siswa telah mencapai indikator keberhasilan 80%. Berdasarkan hasil analisis pada siklus I hasil pemahaman konsep belajar siswa mendapatkan rata-rata 57,94 persentasenya 57% atau dapat dikatakan memiliki kategori kurang belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 80%, pada siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai pemahaman konsep 72,79 persentase yang diperoleh 72% atau dapat dikatan memiliki kategori baik belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 80%, dan siklus III diperoleh nilai rata-rata 85,88 dengan hasil persentase 83% sudah mencapai KKM yang di tentukan yaitu 80% atau dapat dikatakan memiliki kategori sangat baik. Serta hasil lembar observasi siswa nilai afektif karakter dan aspek keterampilan sosial siswa menunjukan peningkatan dan memiliki kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran IPS tentang Jasa dan Peranan Tokoh dalam Memproklamasikan Kemerdekan. Diharapkan guru dapat mencoba mengkaji da mengimlementasikan media pembelajaran tersebut tentang pokok bahasan lainnya pada pembelajaran IPS dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran IPS. Kata kunci: media audio visual, pemahaman siswa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Sudjana (1989: 24) pengertian pemahaman adalah tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2010: 70) pemahaman (understanding), yaitu kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu. Misalnya seorang guru sekolah dasar bukan hanya sekedar tahu tentang tekhnik mengidentifikasi siswa, tapi juga memahami langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam proses mengidentifikasi tersebut. Adapun menurut Suharsimi (2009) mengatakan pengertian pemahaman dalam blog http://megasiana.com/cirukem/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/ di unduh pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 21.00 bahwa : Pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Dengan pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep. Pembelajaran yang dilaksanakan lebih mengaktifkan siswa untuk terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Interaksi antara guru dengan siswa lebih akrab sehingga guru lebih mengenal anak didiknya dengan baik. Terkait dengan pandangan di atas, saat ini guru dituntut untuk melakukan inovasi terbaru. Di dalam proses belajar, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu belajar dapat berlangsung dengan lancar, misalnya mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, seseorang perlu memahami terlebih dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti proses pembelajaran harus bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu. Berdasarkan pengertian pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman sangatlah penting bagi siswa, karena dalam memecahkan masalah siswa harus mengetahui aturan-aturannya yang relevan dan aturan ini di dasarkan pada konsep-konsep yang diperoleh. Siswa dikatakan telah memahami suatu konsep belajar jika siswa dapat menjelaskan suatu informasi dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa di tuntut dalam kegiatan pembelajaran yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar. Pengertian Konsep menurut Kasful Anwar (2010: 102), adalah Sekelompok objek, peristiwa, simbol yang memiliki karakteristik umum/ sama dan diidentifikasikan dengan nama yang sama, misalnya konsep tentang manusia, hari akhir, surga dan neraka. Konsep sangat penting bagi manusia, karena digunakan dalam komunikasi dengan orang lain, dalam berpikir, dalam belajar, membaca, dan lain-lain. Tanpa konsep, belajar akan sangat terhambat. Hanya dengan bantuan konsep dapat dijalankan pendidikan formal. Sebagai mana yang di kemukakan oleh Sapriya (2009: 101) konsep adalah kegiatan yang banyak mempengaruhi proses pembelajaran sehingga setiap guru seyoginya memahami hal dengan baik. Sedangkan menurut Sunaryo (1989: 142) bahwa konsep dikembangkan dari fakta yang dipelajari, generalisasi berkembang dari hubungan antara konsep dan generalisasinya, seyognyalah guru yang mengajar harus memiliki kemampuan untuk mempelajari dan mengeksploatir bersama-sama siswa. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian konsep adalah objek, peristiwa, simbol yang memiliki karakteristik umum/ sama dan diidentifikasikan dengan nama yang sama. Konsep sangat penting bagi manusia, karena digunakan dalam komunikasi dengan orang lain, dalam berpikir, dalam belajar, membaca, dan lain-lain informasi yang digunakan oleh guru untuk bahan tes. Konsep dianggap sebagai hasil. Siswa mengganggap konsep sebagai sesuai yang berguna bagi pribadinya. Konsep dianggap sebagai komoditas yang di perlukan untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu penggunaan konsep siswa memiliki berbagai potensi kebermaknaan baik berkenaan dengan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang hendak dikembangkan didalam pendidikan. Menurut Gintings (2008: 27) Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang dapat memecahkan masalah jika bisa mengubah struktur kogntifnya sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Sedangkan menurut Sagala (2003 : 11) belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Adapun menurut Sagala (2003: 21) mengenai pengertian belajar konsep-konsep (Concept Learning) yaitu. Corak belajar yang dilakukan dengan menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pula pada berbagai objek. Belajar konsep mungkin karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa. Berdasarkan pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa dalam seluruh proses pendidikan, belajar merupakan kegiatan inti. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri peserta didik secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, afektif maupun psikomotor) untuk memperoleh respons yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efesien. Bagi siswa sekolah dasar (SD), belajar akan lebih bermakna jika apa yang dipelajari berkaitan dengan pengalaman hidupnya sehingga mereka dapat memandang suatu objek yang berada dilingkungannya dengan segera. Dengan pemahaman seperti ini maka pendekatan yang digunakan dalam proses belajar adalah pendekatan Saintific dengan media Audio visual dapat meningkatkan pemahaman siswa. Saran bagi guru adalah media Audio visual dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan pemahaman siswa. Media Audio visual adalah media yang mempunyai unsure suara dan unsure gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audio visual merupakan sebuah alat bantu Audio visual yang digunakan dalam sitwasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan ide. Berdasarkan pengamatan media Audio visual sudah tidak diragukan lagi dapat membantu dalam pengajaran apabila dipilih secara bijaksana dan digunakan dengan baik. Menurut Schramm (1985) menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu : Media kompleks (film, TV, video/VCD) dan media sederhana (slide, audio, transportasi, teks). Pengelompokan media berdasarkan unsure pokoknya. Menurut sulaiman (2001), mengemukakan berbagai media yaitu : Madia audio, media visual, media audio visual, media audio motion visual, media audio still visual, media audio semi motion, media motion visual, media cetak. Dapat membantu memberikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran serta hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak. Berdasarkan pengertian di atas media ini sengaja menjadi bahan penelitian agar guru tidak hanya memakai atau menggunakan media ceramah saja dalam menyampaikan pembelajaran, karena hal ini siswa dilibatkan secara langsung sehingga akan menimbulkan kegiatan belajar dan diharapkan dapat terjadi peningkatan dalam segi perolehan nilai serta perubahan sikap sesuai dengan fungsi dan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran Audio visual dapat meningkatkan pemahaman konsep dalam materi yang di sampaikan oleh guru. Dengan media pembelajaran Audio visual juga siswa dapat lebih aktif, kreatif dan antusias ketika berlangsungnya proses pembelajaran. Serta dapat membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar, mendorong minat, meningkatkan pemahaman yang lebih baik, melengkapi sumber belajar yang lain, menambah variasi metode mengajar, menghemat waktu, meningkatkan keingintahuan intelektual, cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak perlu, membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama, dapat memberikan konsep baru dari sesuatu diluar pengalaman biasa. Adapun Tujuan pembelajaran yaitu agar mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Berdasarkan pengertian dan tujuan pembelajaran di atas dapat di simpulkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, guru sebagai pengembangan kurikulum dapat membekali pengetahuan dan wawasan terhadap siswa. Selain itu, dapat membina kesadaran, keyakinan, dan sikap akan pentingnya hidup bermasyarakat dengan penuh rasa kebersamaan, bertanggung jawab dan mahasiswi sejak dini. Guru sebagai salah satu komponen penting sekolah harus memiliki kemampuan profesional yang memadai agar mampu mencapai tujuan pendidikan nasional. Guru tidak mungkin berarti apa-apa tanpa kehadiran peserta didik (siswa), karena objek utama pengembangan adalah siswa, terutama sekali kemampuan profesional, keluasan dan kedalaman wawasan yang digunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Guru harus kaya dengan inovasi kreatif dalam memilih media pembelajaran yang digunakan. Laporan perbaikan salah satu hal yang membantu dalam usaha meningkatkan kemampuan guru melakukan penelitian tindakan kelas. Menurut Kurniasih (2010: 24), pendidikan didefinisikan yaitu sebagai berikut. Pendidikan berlangsung dalam konteks hubungan manusia yang bersifat multi dimensi, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama dan budayanya serta dengan alam. Dalam hubungan yang bersifat multi dimensi itu pendidikan berlangsung melalui berbagai bentuk kegiatan, tindakan, dan peristiwa, baik yang pada awalnya disengaja untuk pendidikan maupun yang tidak disengaja untuk pendidikan. Disadari maupun tidak disadari pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk waktu serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI N0. 20, tahun 2003). Berdasarkan fungsi pendidikan nasional di atas, maka peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan di kelas. Permasalahan gaya mengajar guru kaitannya dengan pengelolaan pembelajaran tidak sederhana. Proses pembelajaran tidak sederhana. Proses pembelajaran banyak mengalami hambatan dan permasalahan. Namun mengatasi hambatan dan permasalahan itu seharusnya guru melaksanakan manajemen kelas yang baik, diantaranya variasi gaya mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru yang diharapkan adalah perubahan yang tidak ambisius, tetapi realistis dan sederhana. Dalam hal ini, guru sebagai tenaga pengajar harus bertanggung jawab di dalam mengartarkan peserta didik agar mampu menguasai materi pelajaran serta keterampilan yang mendukung materi pelajaran tersebut. Salah satu di antara media peningkatan tersebut, tentunya harus dikembalikan kepada tugas seorang guru yaitu melalui penelitian tindakan kelas. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut : 1. Guru mengalami kesulitan untuk membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran IPS. Guru mengeluhkan bahwa konsentrasi sebagian besar siswa pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung tidak terfokus pada pelajaran. Pada umumnya, hanya siswa yang duduk di tempat duduk deretan depan yang dengan seksama memperhatikan penjelasan guru, sementara itu siswa yang duduk di tempat duduk deretan tengah dan belakang lebih banyak melakukan aktivitas lain selain memperhatikan materi yang disampaikan guru seperti berbicara dengan teman sebangku atau saling melempar kertas dan alat tulis dengan teman yang lain; 2. Guru mengalami kesulitan untuk membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran IPS selain buku teks Ilmu Pengetahuan Sosial yang biasa dipergunakannya. Adapun uraian dari hasil wawancara dengan Siswa Kelas V SDN Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung Tahun ajaran 2013/2014 pada tanggal 4 Mei 2013 yaitu Wulan, Riva,Erin dan Nova tentang mata pelajaran IPS yaitu materi tentang Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan seperti yang disebutkan di atas, dapat dipetakan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa adalah sebagai berikut: Permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa adalah sebagai berikut : 1. Siswa kurang bergairah dalam pembelajaran / kurang memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi pembelajaran di depan; 2. Guru masih menggunakan metode ceramah; 3. Rendahnya partisipasi dan inisiatif siswa selama proses pembelajaran berlangsung; 4. Kurangnya keberanian mengemukakan pendapat (mengacungkan tangan) termasuk tidak berani tampil di depan kelas; 5. Guru kurang memperhatikan siswa 6. Guru kurang jelas dalam penyampaian materi; Jika dicermati secara seksama, akar permasalahan di atas adalah kurangnya kemampuan menguasai materi termasuk kurangnya pemahaman konsep belajar siswa dalam mampelajari suatu materi pembelajaran dan media pembelajaran yang tepat untuk mengajarkan pembelajaran. Berdasarkan hasil temuan dilapangan dapat di identifikasikan permasalahan sebagai berikut: 1. Strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kegairahan siswa dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat. 2. Belum maksimal dalam meningkatkan pemahaman siswa pada setiap proses pembelajaran. 3. Rendahnya partisipasi dan inisiatif siswa selama proses pembelajaran berlangsung; Salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat kecapaian kelas V SDN Cikasungka I dalam pembelajaran IPS khususnya terhadap materi tentang Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan adalah tidak adanya pemahaman konsep belajar siswa. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah utama yang akan di kaji melalui penelitian tindakan kelas ini adalah pemahaman konsep belajar siswa dalam pembelajaran IPS sangat rendah. Dari hal-hal tersebut, maka rumusan secara umum yaitu : “Apakah dengan penggunaan media pembelajaran Audio visual dapat meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung Tahun ajaran 2013/2014 pada pembelajaran pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan ?” C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah utama yang akan di kaji melalui penelitian tindakan kelas ini adalah pemahaman konsep belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat rendah. Dari hal-hal tersebut, maka rumusan secara umum yaitu : “Apakah dengan penggunaan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung Tahun ajaran 2013/2014 pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Jasa Dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan ?” Secara khusus penulis merinci rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan menggunakan media Audio visual dikelas V SDN Cikasungka I pada pembelajaran IPS mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan ? 2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media Audio visual ? 3. Apakah penggunaan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan pemahaman konsep Pada Pembelajaran IPS Mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung ? Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalahnya pada: 1. Materi yang diterima siswa selama penelitian berlangsung adalah materi mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. 2. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah kurangnya pemahaman siswa pada proses pembelajaran. 3. Pengukuran hasil belajar dilakukan untuk kategori aktif dalam proses pembelajaran dan mampu menyelesaikan masalah dengan hasil yang maksimal. D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa melalui media pembelajaran Audio visual pada mata pelajaran IPS Pokok Bahasan Mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. 2. Tujuan Khusus Adapun secara khusus tujuan penelitian ini sebagai berikut: a. Untuk menyusun perencanaan pembelajaran IPS Mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. b. Untuk melaksanakan implementasi pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Audio visual bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. c. Meningkatkan pemahaman konsep Pada Pembelajaran IPS Mengenai Jasa dan Peranan Tokoh Dalam Memproklamasikan Kemerdekaan bagi Siswa Kelas V SDN Cikasungka I Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung ? E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Secara Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan berguna untuk wawasan keilmuan bagi guru-guru Sekolah Dasar dalam pembelajaran di sekolah dengan menggunakan media pembelajaran audio visual untuk meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa tentang jasa dan peranan tokoh dalam memproklamsikan kemerdekaan pada siswa Kelas V SDN Cikasungka I Kec. Cikancung Kab. Bandung Tahun ajaran 2013/2014. 2. Manfaat Secara Praktis a. Siswa Manfaat secara praktis bagi siswa yaitu dapat menerima pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan baik, meningkatkan kemampuan dan pemahanan siswa dalam menggunakan media pembelajaran Audio visual, meningkatkan keberanian untuk tampil di muka kelas dan meningkatkan kreatifitas berfikir dan bernalar siswa. b. Guru Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran tematoik khusunya materi ajar pada Tema indahnya kebersamaan Subtema Keragaman budaya bangsaku Kegiatan Pembelajaran I di Kelas IV SDN I Cikasungka Kec. Cikancung Kab. Bandung. c. Sekolah Dengan adanya penelitian tindakan kelas ini, dapat meningkatkan kualitas lulusan, meningkatkan kreadibilitas sekolah yang bersangkutan dan meningkatkan grade sekolah. d. Bagi Peneliti Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat membantu peneliti dalam mengatasi sifat pasif siswa dan sebagai alternatif dalam media belajar yang lebih menarik serta diharapkan agar peneliti selanjutnya mendapatkan pengalaman nyata dalam menerapkan media Audio Visual. e. PGSD Menambah wawasan bagi mahasiswa PGSD untuk menjadi bahan acuan dalam menghadapi profesi guru nanti serta hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi PGSD sebagai bahan kajian yang lebih mendalam guna meningkatkan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan media Audio visual. G. Definisi Operasional Secara oprasional istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini di definisikan sebagai berikut : 1. Media Audio visual adalah salah satu media pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mendorong minat siswa dalam belajar dan berprestasi.Media Audio visual adalah media yang mencangkup 2 jenis media yaitu : Audio dan Visual, media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu Media Audio dan Media Visual. 3. Menurut Sudjana (1989: 24) pengertian pemahaman adalah : Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2010: 70) pemahaman (understanding), yaitu kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu. Misalnya seorang guru sekolah dasar bukan hanya sekedar tahu tentang tekhnik mengidentifikasi siswa, tapi juga memahami langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam proses mengidentifikasi tersebut. 4. konsep adalah kegiatan yang banyak mempengaruhi proses pembelajaran sehingga setiap guru seyoginya memahami hal dengan baik. Sedangkan menurut Sunaryo (1989: 142) bahwa konsep dikembangkan dari fakta yang dipelajari, generalisasi berkembang dari hubungan antara konsep dan generalisasinya, seyognyalah guru yang mengajar harus memiliki kemampuan untuk mempelajari dan mengeksploatir bersama-sama siswa. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian media pembelajaran Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa sehingga akan membantu keefektifan proses pembelajaran dalam penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan memadatkan informasi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Perkembangan IPTEK semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Teknologi paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah system percetakan yang bekerja atas dasar fisik mekanik. Kemudian lahir teknologi audio visual yang menggabungkan penemuan mekanik dan elektronik untuk tujuan pembelajaran. Selain teknologi media audio visual masih ada lagi teknologi multimedia yang sering kali digunakan dalam pembelajaran. Lahirnya teknologi multimedia adalah hasil dari perpaduan kemajuan teknologi elektronik, teknik komputer dan perangkat lunak. Kemampuan penyimpanan dan pengolahan gambar digital dalam belasan juta warna dengan resolusi tinggi serta reproduksi suara maupun video dalam bentuk digital. Multimedia merupakan konsep dan teknologi dari unsur – unsur gambar, suara, animasi serta video disatukan didalam komputer untuk disimpan, Diproses dan disajikan guna membentuk interaktif yang sangat inovatif antara komputer dengan user. Dengan banyaknya variasi media pembelajaran ini, perlu kita ketahui bahwa tidak ada satu media pun yang paling baik. Setiap media memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu penting bagi guru untuk memahami setiap media pembelajaran, mulai dari karakteristik tiap-tiap media pembelajaran hingga faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media pembelajaran tersebut. B. Media Audio Visual 1. Pengertian Media Audio Visual Media pembelajaran sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat. Cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Dari ketiga jenis media yang ada yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran, bahwasanya media audio-visual adalah media yang mencakup 2 jenis media yaitu audio dan visual. Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis Media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu Media Audio dan Media Visual. Menurut Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan Audio-Visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan menurut (Harmawan, 2007) mengemukakan bahwa “Media Audio Visual adalah Media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi) meliputi media yang dapat dilihat dan didengar)”. Adapun menurut Wina Sanjaya (2010) secara umum : Media merupakan kata jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Istilah media juga digunakan dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pembelajaran. Sedangkan media audio yaitu media yang berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Beberapa jenis media yang termasuk dalam kelompok ini adalah radio, dan alat perekam pita magnetik. a) Pengertian Media Visual Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peranan yang sanagat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektiv, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Yang termasuk dalam kelompok ini yaitu Gambar representasi, Diagram, Peta, Grafik, Overhead Projektor (OHP), Slide, dan Filmstrip. b) Pengertian Media Audio Visual Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audio visual merupakan sebuah alat bantu audio visual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide. Adapun Penggunaan media Berbasis Audio Visual Menurut Wina Sanjaya (2010): Media audio visual yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan menarik. Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Dan dilihat dari segi keadaannya, media audio visual dibagi menjadi audio visual murni yaitu unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film audio cassette. Sedangkan audio visual tidak murni yaitu unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slide proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder. Dalam hal ini, media audio visual yang digunakan yaitu film atau video. Video sebenarnya berasal dari bahasa Latin, video-vidi-visum yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 1119) mengartikan video dengan: 1) agian yang memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi. Senada dengan itu, Peter Salim dalam The Contemporary English-Indonesian Dictionary (1996:2230) memaknainya dengan sesuatu yang berkenaan dengan penerimaan dan pemancaran gambar. Tidak jauh berbeda dengan dua definisi tersebut, Smaldino (2008: 374) mengartikannya dengan “The storage of visuals and their display on television-type screen” (penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi). Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi. Azhar Arsyad (2002) Menyatakan film atau gambar hidup, yaitu : Gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan film dan video melukiskan gambar hidup dan suara memberinya daya tarik sendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu dan mempengaruhi sikap. 2. Tujuan Pembelajaran audio visual Tujuan pokok pembelajaran audio visual adalah untuk meningkatan pemahaman prestasi akademik dan pemahaman peserta didik untuk memaksimalkan belajar siswa agar dapat menjalin saling pengertian sehingga materi mudah dipahami, dan dapat merubah prilaku perserta didik agar lebih berkonsentrasi, membawa kesegeraan, hasil belajar lebih bermakna,memberikan umpan balik, menambah pengalaman, menambah wawasan dan waktu yang dibutuhkan lebih efesien serta menjadikan pendidik inovatif dan kreatif. Peserta didik akan lebih berkonsentrasi dan berimplikasi pada pemahaman karena alat pendengaran dan penglihatan digunakan secara bersamaan sehingga membutuhkan konsentrasi yang besar. Serta dapat membantu peserta didik dalam memahami sebuah materi atau ilmu. Berdasarkan tujuan audio visual di atas, maka dapat di simpulkan bahwa media pembelajaran audio visual bertujuan agar siswa mampu mencapai pemahaman dengan alat pendengaran dan penglihatan yang digunakan secara bersamaan. 3. Alasan Menggunakan Media Audio visual Mengajar dapat dipandang sebagai usaha yang dilakukan guru agar siswa belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan belajar itu sendiri adalah proses perbahan tingkah laku melalui pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Oleh karena itu media yang digunakan dalam proses pembelajaran juga memerlukan perencanaan yang baik. Sebelum memasuki pembahasan mengenai alasan pemilihan media audio visual dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu mengetahui alasan penggunaan media dalam pembelajaran. Secara umum dalam memnggunakan media pengajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip pemilihan, perlu juga memperhatikan factor-faktor sebagai berikut : a. Objektivitas. Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa. b. Program Pengajaran. Program pengajaran yang akan disampaikan keada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi, struktur maupun kedalamannya. c. Sasaran Program. Media yang digunakan harus dilihat kesesuaiananya dengan tingkat perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa, sombol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu penggunaannya. d. Situasi dan kondisi. Yakni situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan dipergunakan, baik ukuran, perlengkapan, maupun ventilasinya, situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran baik jumlah, motivasi dan kegairahannya. e. Kualitas teknik. Terkait pengecekan keadaan media sebelum digunakan. Selanjutnya dalam menggunakan media pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip yang dimaksudkan dikemukakan Oleh Nana Sudjana (1991) sebagai berikut : 1) Menetukan jenis media dengan tepat; 2) Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat; 3) Menyajikan media dengan tepat; 4) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. 4. Langkah-langkah Penggunaan Media Audio visual Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan audio-visual untuk pembelajaran yaitu: a. Guru harus mempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu, kemudian baru memilih media audio-visual yang tepat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. b. Guru juga harus mengetahui durasi media audio-visual misalnya dalam bentuk film ataupun video, dimana keduanya yang harus disesuaikan dengan jam pelajaran c. Mempersiapkan kelas, yang meliputi persiapan siswa dengan memberikan penjelasan global tentang isi film, video atau televisi yang akan diputar dan persiapan peralatan yang akan digunakan demi kelancaran pembelajaran. d. Aktivitas lanjutan, setelah pemutaran film atau video selesai, sebaiknya guru melakukan refleksi dan tanya jawab dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi tersebut. 5. Kelebihan dan kekurangan Media Audio Visual 1) Kelebihan Media Audio Visual, antara lain: a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis atau lisan belaka). b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti: Objek yang terlalu besar digantikan dengan realitas, gambar, filmbingkai, film atau model, Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor micro, film bingkai, film atau gambar, Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan tame lapse atau high speed photografi, Kejadian atau peristiwa yang terjadi masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film,video, film bingkai, foto maupun secara verbal, Obyek yang terlalu kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain. Konsep yang terlalu luas (gunung ber api, gempa bumi, iklim dll) dapat di visualkan dalam bentuk film,film bingkai, gambar,dll. c. Baik untuk semua siswa karena dapat mendengar dan melihat. d. Variatif karena jenisnya beragam, guru dapat menggunakan beragam film yang ada kartun , tiga dimensi, empat dimensi, dan documenter. e. Bisa diperlambat dan diulang, sehingga anak akan lebih jelas dan paham. f. Dapat digunakan tidak hanya untuk satu orang. 2) Kelemahan Media Audiovisual, antara lain: a. Terlalu menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangannya dan tetap memandang materi audio-visual sebagai alat bantu guru dalam mengajar. b. Media audio visual cenderung menggunakan model komunikasi satu arah. c. Media audio-visual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena media audio-visual cenderung tetap di tempat dan dalam menggunakan video berarti memerlukan dua unit alat, yaitu VCD/DVD dan monitor TV, serta harganya relatif mahal. d. Sering dianggap sebagai hiburan TV. e. Kegiatan melihat video adalah kegiatan pasif. 6. Komponen Pembelajaran Audio visual Media pembelajaran audio visual merujuk kepada media pembelajaran yang padanya mengandung komponen (unsur) berupa visual (pemandangan/gambar/dilihat) dan audio (suara/didengar). Jadi media pembelajaran audio visual adalah perantara atau penyampai pesan pembelajaran yang mengandung komponen visual dan suara. Karena menggunakan lebih dari satu indera dalam pemanfaatannya, maka media audiovisual seringkali juga dimasukan ke dalam kelompok multimedia. Media pembelajaran audio visual terdiri dari beragam bentuk. Jika kita menengok ke beberapa dekade yang lalu maka kitapun sudah mengenal media pembelajaran audio visual tradisional seperti: 1. Media pembelajaran audio visual jenis taktil (sentuh) seperti globe (bola bumi), beragam bentuk peta dan relief, serta berbagai bentuk media pembelajaran manipulatif lainnya. 2. Media pembelajaran visual seperti slide, foto-foto, film, dan rekaman video. 3. Media pembelajaran audio seperti rekaman pita kaset, CD (Compact Disc), dan sebagainya. B. Hakekat pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran IPS SD IPS adalah salah satu mata pelajaran di SD yang terdiri atas dua bahan kajian pokok: pengetahuan sosial dan sejarah. Pengetahuan sosial mencangkup antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi dan tata negara. Bahan kajian sejarah meliputi perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini (Kurikulum SD, 1994: 85). Menurut Trianto (2010: 171) pengertian IPS yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik hukum dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena budaya. Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial ( sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya). Menurut Dik Das Men (1999:14) Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang mengkaji kehidupan sosial yang bahannya didasarkan pada kajian sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropolgi dan tata negara. IPS yang diajarkan di SD terdiri atas dua bahan kajian yaitu pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan kajian sosiologi mencakup antropolgi, sosiologi, geografi, ekonomi dan tata negara. Bahan kajian sejarah menurut perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga masa kini. Sedangkan pengertian IPS menurut Sapriya (2009: 31) Pengertian IPS di tingkat persekolahan itu sendiri mempunyai perbedaan makna khususnya antara IPS untuk Sekolah Dasar (SD) dengan IPS untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan IPS untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Pengertian IPS di persekolahan tersebut ada yang berarti program pengajaran, ada yang berarti mata pelajaran yang berdiri sendir, ada yang berarti gabungan dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu. Perbedaan ini dapat pula diidentifikasi dari perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan tersebut. Berdasarkan pendapat diatas bahwa IPS mempunyai pengertian yang lebih mengacu pada bidang kajian sosial kemasyarakatan yang didasarkan pada disiplin-disiplin ilmu yang terangkum dalam ilmu-ilmu sosial. IPS salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah dasar erat kaitannya dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhanny, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya. Oleh karena itu diperlukan pendidikan IPS yang baik dan terarah sejak dini agar tercipta manusia yang mempunyai rasa sosial terhadap sesama. Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkngan sekitar sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun dimasa lampa. Dengan demikian siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia. 2. Fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial Menurut Aqib (2006: 102) fungsi IPS yaitu IPS di Sekolah Dasar berfungsi mengembangkan pengetahuan sikap dan keterampilan dasar untuk memahami kenyataan sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajaran sejarah berfungsi menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini. Adapun fungsinya menurut Sapriya (2009: 13) yaitu Pendidikan IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu dengan identitas bidang kajian eklektik yang dinamakan “an integrated system of knowledge”, “synthetic discipline”. “multidimensional”, dan “kajian konseptual sistemik” merupakan kajian (baru) yang berbeda dari kajian monodisiplin atau disiplin ilmu “tradisional”. Dengan pertimbangan semakin kompleksnya permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia maka tahun 1970an mulai diperkenalkan Pendidikan IPS (PIPS) sebagai pendidikan disiplin ilmu. Gagasan tentang PIPS ini membawa implikasi bahwa PIPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian tang bersifat terpadu (integrated, interdisipliner, multidimensional bahkan cross-disipliner. Karakteristik ini terlihat dari perkelbangan PIPS sebagai mata pelajaran di sekolah yang cakupan dan rumitnya permasalahan sosial yang memerlukan kajian secara terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, tehnologi, humaniora, lingkungan bahkan sistem kepercayaan. Berdasarkan fungsi IPS di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi IPS yaitu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajaran sejarah berfungsi menumbuhkan rasa kebangsaan dan kebanggaan terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini. 3. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial Tujuan IPS Menurut Aqib (2006: 102) adalah IPS di sekolah dasar bertujuan agar mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran sejarah bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Adapun Tujuan IPS Menurut Sumantri (1996: 61) Tujuan utama pendidikan IPS adalah untuk melatih siswa dapat bertanggung jawab sebagai warga negara yang baik. Di samping itu juga untuk menolong anak dan pemula untuk dapat aktif berpengetahuan, menjadi manusia yang mampu beradaptasi, mampu berfungsi dan berperan dalam menghadapi seluruh kehidupannya dan mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkunyannya lewat kegiatan pembelajaran Pendidikan IPS di SD. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa tujuan IPS yaitu membekali pengetahuan dan wawasan terhadap siswa. Selain itu, dapat membina kesadaran, keyakinan, dan sikap akan pentingnya hidup bermasyarakat dengan penuh rasa kebersamaan, bertanggung jawab dan mahasiswi sejak dini. 4. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehingga ruang lingkup pengajatan IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik MI/SD. Ruang lingkup IPS mengungkapkan bahwa yang di pelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi: a. Substansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan; b. Gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber pada masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber pada masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPS yang melupakan masyarakat atau yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai tujuannya Adapun ruang lingkup mata pelajaran IPS menurut Mulyasa (2011: 29) meliputi aspek-aspek sebagai berikut. a) Manusia, Tempat, dan Lingkungan b) Waktu, keberlanjutan, dan Perubahan c) Sistem Sosial dan Budaya d) Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan 5. Karakteristik Ilmu Pengetahuan Sosial Ilmu Pengetahuan Sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didiktumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Menurut Sapriya (2009: 22) mengidentifikasikan sejumlah karakteristik dari ilmu-ilmu sosial sebagai berikut: a. Berbagai batang tubuh (body of knowkedge) disiplin ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan secara sistematis dan ilmiah. b. Batang tubuh disiplin itu diberisikan sejumlah teori dan generalisasi yang handal dan kuat serta dapat diuji tingkat kebenarannya. c. Batang tubuh disiplin ilmu-ilmu sosial ini disebut juga structure disiplin ilmu, atau ada juga yang menyebutnya dengan fundamental ideas. d. Teori dan generalisasi dalam struktur itu disebut pula pengetahuan ilmiah yang dicapai lewat pendekatan “conceptual”dan “syntactis”, yaitu lewat pro e. Bertanya, berhipotesis, pengumpulan data (observasi dan eksperimen). f. Setiap teori dan gagasan ini terus dikembangkan, dikoreksi, dan diperbaiki untuk membantu dan menerangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan serta membantu memecahkan masalah-masalah sosial melalui pikiran, sikap, dan tindakan terbaik. 6. Kurikulum IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai SMP. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD mata pelajaran IPS memuat Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. B. Pengertian Metode Pemahaman Konsep Belajar Siswa Menurut Sudjana (1989: 24) pengertian pemahaman adalah tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2010: 70) pemahaman (understanding), yaitu kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu. Misalnya seorang guru sekolah dasar bukan hanya sekedar tahu tentang tekhnik mengidentifikasi siswa, tapi juga memahami langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam proses mengidentifikasi tersebut. Adapun menurut Suharsimi mengatakan pengertian pemahaman dalam blog http://megasiana.com/cirukem/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/ di unduh pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 21.00 bahwa : Pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Dengan pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep. Pembelajaran yang dilaksanakan lebih mengaktifkan siswa untuk terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Interaksi antara guru dengan siswa lebih akrab sehingga guru lebih mengenal anak didiknya dengan baik. Semantara Kurnaeni (2008:8) berpendapat bahwa: Pemahaman meliputi 3 aspek yaitu tranlasi, interprestasi dan ekstrapolasi. Translasi meliputi dua kemampuan: 1) menerjemahkan sesuatu dari bentuk abstrak ke bentuk yang lebih konkret, 2) menerjemahkan suatu simbol ke dalam bentuk lain seperti menerjemahkan tabel, grafik, simbol dan sebagainya. Interprestasi meliputi 3 kemampuan: 1) membedakan antara kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, 2) memahami rangka suatu pekerjaan secara keseluruhan, 3) memahami dan menafsirkan isi berbagai macam bacaan. Ekstrapolasi meliputi 3 kemampuan: 1) menyimpulkan dan menyatakan lebih eksplisit, 2) menprediksi konsekuensi-konsekuensi dari tindakan yang digambarkan dari sebuah komunitas, 3) peka terhadap faktor yang mungkin membuat prediksi menjadi akurat. Sebagaimana yang di kemukakan Sunaryo (1989: 142) Bahwa konsep dikembangkan dari fakta yang dipelajari, generalisasi berkembang dari hubungan antara konsep dan generalisasinya, seyognyalah guru yang mengajar IPS memiliki kemampuan untuk mempelajari dan mengeksploatir bersama-sama siswa. Menurut Ruseffendi (2006: 165) konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan non contoh. Menurut Vestari (2009: 16) pengertian pemahaman konsep adalah: Kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkap suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interprestasi dan mampu mengaplikasikannya. Pemahaman konsep tidak sekedar hanya memahami secara sederhana, namun dapat pula dijabarkan sebagai kemampuan dalam mengklasifikasikan dan menggeneralisasikan objek-objek. Pemahaman konsep merupakan ukuran kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep. Menurut Rosser (2006: 16) Pemahaman konsep adalah suatu konsep abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Sedangkan menurut Purwanto (2008: 11), pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang dketahuinya serta dapat menjelaskan dengan kata-kata sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, dengan tidak mengubah artinya. Selanjutnya Kilpatrick (2007: 71) mengemukakan indikator pemahaman konsep, yaitu: a) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari; b) Kemampuan mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atas tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut; c) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma; d) Kemampuan memberikan contoh dari konsep yang telah dipelajari e) Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal); f) Kemampuan mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep. Menurut Jafar Ahiri (2011: 15) Pemahaman konsep siswa dapat diukur dengan menggunakan instrument berupa tes tertulis berbentuk pilihan ganda yang mencangkup indikator-indikator pemahaman konsep. Indikator pemahaman konsep yaitu: a. Menyatakan ulang sebuah konsep b. Mengklasifikasian objek-objek menurut sifat-sifat tertentu c. Memberi contoh dan non contoh dari konsep d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi IPS e. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur tertentu f. Mengaplikasikan konsep Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan pemahaman konsep belajar siswa adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat, memahami atau mengerti apa yang diajarkan. Menurut Gintings (2008: 27) Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang dapat memecahkan masalah jika bisa mengubah struktur kogntifnya sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Sedangkan menurut Sagala (2003 : 11) belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Adapun menurut Sagala (2003: 21) mengenai pengertian belajar konsep-konsep (Concept Learning) yaitu. Corak belajar yang dilakukan dengan menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pula pada berbagai objek. Belajar konsep mungkin karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa. Berdasarkan pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri peserta didik secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, antara lain murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku, modul, majalah, dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas (perekam pita audio dan video, rekaman video atau audio, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboraturium, pusat sumber belajar, dan lain-lain). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman suatu konsep belajar siswa sangatlah penting bagi siswa, karena dalam memecahkan masalah siswa harus mengetahui aturan-aturannya yang relevan dan aturan ini di dasarkan pada konsep-konsep yang diperoleh. Siswa dikatakan telah memahami suatu konsep belajar jika siswa dapat menjelaskan suatu informasi dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa di tuntut dalam kegiatan pembelajaran yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar. C. Hakekat perangkat pembelajaran berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses merujuk Perencanaan Proses Pembelajaran 1. Pendahuluan Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkai prinsip penyelenggaraan pendidikan untuk dijadikan landasan dalan pelaksanaan reformasi pendidikan. Salah satu prinsip tersebut adalah pendidikan diselenggarakan sebagai proses pemberdayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi yang kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik peserta didik, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dasar memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakars, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sesuai dengan amanat peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (tentang Standar Nasional Pendidikan) salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajran pada satuan pendidikan dasar dan menengah diseluruh wilayah hokum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada system paket maupun pada sistem kredit semester. Proses ini meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien. 1. Silabus Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaranbatau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/ madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk Ml, MTs, MA, dan MAK. 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen RPP adalah : 1. Identitas mata pelajaran Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan. 2. Standar kompetensi Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. 3. Kompetensi dasar Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. 4. Indikator pencapaian kompetensi Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 6. Materi ajar Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7. Alokasi waktu Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar. 8. Metode pembelajaran Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 9. Kegiatan pembelajaran a. Pendahuluan Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b. Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. c. Penutup Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. 10. Penilaian hasil belajar Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. 11. Sumber belajar Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom petensi. C. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP 1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. 2. Mendorong partisipasi

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 25 Jul 2016 15:07
Last Modified: 25 Jul 2016 15:07
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/6276

Actions (login required)

View Item View Item