STIGMA PENYANDANG TOURETTE SYNDROME DALAM INTERAKSI SOSIAL DI MASYARAKAT

Firmantua, Renaldy (2026) STIGMA PENYANDANG TOURETTE SYNDROME DALAM INTERAKSI SOSIAL DI MASYARAKAT. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.

[img]
Preview
Text
LEMBAR PENGESAHAN.pdf

Download (303kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (296kB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (245kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (105kB) | Preview
[img]
Preview
Text
KATA PENGANTAR - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (166kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (418kB) | Preview
[img]
Preview
Text
COVER - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (115kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I - RENALDY FIRMANTUA.pdf

Download (312kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini berjudul “Stigma Penyandang Tourette Syndrome dalam Interaksi Sosial di Masyarakat” yang bertujuan untuk membedah bagaimana stigma terhadap penyandang Tourette Syndrome dikonstruksi secara sosial serta bagaimana penyandang melakukan negosiasi identitas di ruang publik. Fokus utama ini mencakup pemaknaan masyarakat terhadap gejala tik vokal dan motorik juga strategi komunikasi yang digunakan penyandang dalam merespons tekanan sosial tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Landasan teori yang digunakan adalah Teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer yang membedah fenomena melalui tiga premis utama: Bahasa/Label (Language/Labeling), Makna (Meaning), Interpretasi (Interpretation). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memaknai gerakan tik sebagai bentuk ketidaksopanan, perilaku yang salah, kegagalan pola asuh, hingga fenomena mistis akibat rendahnya literasi medis di Indonesia. Stigma ini bermanifestasi dalam bentuk tatapan menghakimi dan pengucilan sosial yang berdampak negatif pada kepercayaan diri penyandang. Sebagai respons, penyandang melakukan masking, selective disclosure, penggunaan instrumen visula seperti pin, serta advokasi melalui media kreatif seperti konten digital ataupun zine. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi paradigma menuju neurodiversitas yang memandang Tourette sebagai variasi neurologis alami manusia sangat krusial untuk menciptakan lingkungan interaksi yang lebih inklusif dan empatik. Kata Kunci: Tourette Syndrome, Stigma, Interaksi Sosial, Interaksionisme Simbolik, Neurodiversitas

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi 2026
Depositing User: S.Si Mochamad Yogi
Date Deposited: 21 Sep 2026 04:17
Last Modified: 21 Sep 2026 04:17
URI: https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/84805

Actions (login required)

View Item View Item