KEBIJAKAN PERTAHANAN JEPANG PASCA PENERAPAN AIR DEFENSE IDENTIFICATION ZONE (ADIZ) CHINA DI KEPULAUAN SENKAKU

PRATIWI, NURUL (2026) KEBIJAKAN PERTAHANAN JEPANG PASCA PENERAPAN AIR DEFENSE IDENTIFICATION ZONE (ADIZ) CHINA DI KEPULAUAN SENKAKU. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.

[img]
Preview
Text
KATA PENGANTAR.pdf

Download (273kB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (95kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Lembar pengesahan (1).pdf

Download (182kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (194kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR TABEL.pdf

Download (83kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (426kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (166kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (338kB) | Preview

Abstract

Penerapan Air Defense Identification Zone oleh China di Kepulauan Senkaku ini bermula dari adanya sengketa wilayah, dimana China mengklaim dengan nama Kepulauan Diayou sedangkan pihak Jepang mengklaim dengan nama Kepulauan Senkaku. Namun berdasarkan sisi historisnya, Jepang lah yang secara sah memiliki kedaulatan atas Kepulauan Senkaku. Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) ini pertama kali diterapkan oleh Amerika Serikat pasca Perang Dunia II, yang pada saat itu Jepang berada di bawah kendali Amerika Serikat. Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Jepang telah diperluas dua kali lipat sejak Jepang menerima otoritas atas wilayah udara yang diberikan Amerika Serikat pada tahun 1969. Perluasan pertama pada tahun 1972 mencakup Kepulauan Senkaku serta seluruh Pulau Yonaguni dan perluasan yang kedua sedikit pergeseran ke arah barat di atas Pulau Yonaguni pada tahun 2010. Dengan penerapan ADIZ China di Kepulauan Senkaku pada tahun 2013 ini, justru kemudian membawa dampak yang cukup signifikan. Pada tahun setelahnya terjadi eskalasi militer yang menimbulkan ancaman bagi keamanan Jepang. Serangkaian upaya pertahanan keamanan Jepang ini justru menimbulkan dilema keamanan bagi Jepang sendiri. Dalam kondisi dunia yang anarki, kepemilikan ADIZ Jepang yang sudah diterapkan lebih dulu di atas Kepulauan Senkaku yang awalnya dianggap oleh Jepang sebagai upaya self-help, justru direspon sebagai ancaman bagi stabilitas keamanan regional, yang kemudian memicu adanya arm race. Terlebih lagi Jepang di sini membawa negara sekutu yakni Amerika Serikat. Maka dengan adanya keberadaan Amerika Serikat ini yang kemudian berpengaruh terhadap stabilitas keamanan Asia Timur. Dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan ADIZ China di sekitar Kepulauan Senkaku ini dapat mendorong perubahan orientasi kebijakan Jepang dalam mengambil strategi pertahanannya. Maka dari itu, dalam penelitian ini menggunakan neorealismme dan security dilemma sebagai kerangka teori dan konsepnya. Untuk metode penelitiannya sendiri, penulis menggunakan metode kualitatif dengan memakai teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan seperti; artikel ilmiah, situs pemerintahan, jurnal, serta media berita. Manuver angkatan laut maupun udara yang dilakukan China ini semakin mendorong Jepang untuk berubah. Maka dengan demikian orientasi kebijakan pertahanan Jepang ini sedikit demi sedikit berubah dari yang bermula pasifis menjadi terlihat lebih ofensif. Jepang meresponnya dengan meningkatkan pertahanannya dalam bentuk koordinasi atau kerjasama dengan negara sekutu, dalam hal ini khususnya Amerika Serikat; melakukan patroli udara dan pengintaian; serta memperbanyak jumlah pesawat militer. Kata Kunci: Air Defense Identification Zone, security dilemma, kebijakan pertahanan

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional 2026
Depositing User: S.Si Mochamad Yogi
Date Deposited: 06 Aug 2026 07:23
Last Modified: 06 Aug 2026 07:23
URI: https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/84414

Actions (login required)

View Item View Item