Anisa Fitriani, Anisa Fitriani (2025) PEMBELAAN TERPAKSA MELAMPAUI BATAS (NOODWEER EXCES) TERHADAP PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM. Skripsi(S1) thesis, FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PASUNDAN.
|
Text
A. COVER.pdf Download (99kB) | Preview |
|
|
Text
G. BAB 1.pdf Download (312kB) | Preview |
|
|
Text
H. BAB 2.pdf Download (354kB) | Preview |
|
|
Text
I. BAB 3.pdf Restricted to Repository staff only Download (179kB) |
||
|
Text
J. BAB 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (323kB) |
||
|
Text
K. BAB 5.pdf Restricted to Repository staff only Download (156kB) |
||
|
Text
L. DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (175kB) | Preview |
Abstract
Pembelaan terpaksa (noodweer) merupakan alasan penghapus pidana yang menghilangkan sifat melawan hukum suatu perbuatan karena dilakukan untuk mempertahankan diri dari serangan yang melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 49 KUHP, dan dalam kondisi tertentu dapat melampaui batas (noodweer exces) akibat keguncangan jiwa yang hebat. Konsep ini juga dikenal dalam hukum pidana Islam melalui prinsip daf‘u al-shail yang selaras dengan maqashid syariah, khususnya perlindungan jiwa (hifz al-nafs). Dari permasalahan tersebut identifikasi masalah yang diteliti oleh penulis yaitu: Bagaimana aturan pembelaan terpaksa melamapui batas (noodweer exces) menurut hukum pidana islam. Bagaimana penerapan noodweer exces dalam sistem hukum pidana islam di Aceh. Bagaimana hukum pidana islam memberikan solusi keadilan dalam kasus – kasus pembelaan diri khususnya jika pembelaan itu melampaui batas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini Deskriftif Analitis. Metode tersebut menyederhanakan temuan dalam menggambarkan, menjelaskan, dan melaporkan skenario tertentu, data yang digunakan yaitu data studi kepustakaan dan diperkuat oleh studi lapangan melalui wawancara dengan praktisi hukum di Aceh. Data diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukan Dalam hukum pidana Islam, pembelaan diri dibolehkan sepanjang proporsional dan tidak melampaui batas, karena apabila berlebihan dapat menimbulkan pertanggungjawaban pidana berupa qisas atau diyat sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, sedangkan hukum positif Indonesia melalui Pasal 49 KUHP juga mengakui pembelaan terpaksa dan noodweer exces sebagai alasan penghapus pidana dalam kondisi tertentu. Penerapan noodweer exces dalam sistem hukum pidana islam di Aceh dapat dilihat dari kasus Sutikno Miji, dimana dapat dipahami sebagai pembelaan terpaksa melampaui batas (noodweer exces) dalam situasi darurat untuk melindungi keluarganya, yang dalam perspektif hukum Islam selaras dengan maqashid al-syari’ah dan lebih tepat dipandang sebagai upaya perlindungan daripada pembunuhan dengan niat jahat. Dalam kasus noodweer exces, hukum Islam mengkategorikan tindakan tersebut sebagai tindakan semi-disengaja (syibh al-'amd) atau tidak disengaja (al-khata'), menimbulkan pertanggungjawaban diyat (uang darah) atau kaffarah (penebusan) daripada qisas (pembalasan). Penelitian menyimpulkan bahwa di Aceh, di mana hukum Islam diterapkan, belum mengatur tentang noodweer exces di dalam qanun jinayat sehingga untuk kasus pembelaan diri tetap menggunakan KUHP sebagai acuan. Kata Kunci : Noodweer exces, Hukum Pidana Islam, Keadilan, Maqashid alsyari‘ ah.
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Hukum > Ilmu Hukum 2025 |
| Depositing User: | Nandang Haeruman |
| Date Deposited: | 12 May 2026 06:10 |
| Last Modified: | 12 May 2026 06:10 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/83220 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
