Ayodhia Raharjo, Yossi (2026) Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sidang Sarjana Program Strata Satu Pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
Kata Pengantar.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text
Daftar Isi.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text
Lembar Pengesahan .pdf Download (82kB) | Preview |
|
|
Text
Abstrak.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text
Daftar Pustaka.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text
BAB 1.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text
BAB 2.pdf Download (270kB) | Preview |
|
|
Text
Cover.pdf Download (1MB) | Preview |
Abstract
Desa Malasari merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Cimaung, yang memiliki potensi di bidang pertanian, salah satu potensi adalah petani sawi. Berdasarkan penelitian terdapat masalah tingginya ketergantungan petani sawi di Desa Malasari terhadap mitra usaha (bandar) dalam sistem kemitraan informal yang asimetris, di mana petani berposisi rentan dengan penghasilan tidak stabil, ketergantungan pada perantara yang belum berkurang, dan akses informasi pasar terbatas. Tujuan penelitian adalah menganalisis peran kemitraan petani sawi menggunakan Social Exchange Theory (SET). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Menggunakan teknik pengumpulan data observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari lima orang petani sawi dan tiga orang mitra usaha yang dipilih secara purposif, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kemitraan terbentuk dari pembagian fungsi yang saling melengkapi antara petani sebagai pemasok komoditas dan mitra usaha sebagai penampung hasil panen sekaligus penghubung ke pasar induk, dengan ketimpangan akses terhadap jaringan pasar menjadi faktor struktural yang mendorong petani bergantung pada mitra usaha. Reward yang diperoleh petani bersifat multidimensi, mencakup kepastian ekonomi, ketenangan psikologis, informasi teknis, dan akses pasar, sementara cost yang ditanggung berupa biaya produksi, risiko gagal panen, dan ketidaktransparanan harga yang dirasakan sebagian petani. Reciprocity terjalin melalui pola generalized reciprocity, di mana mitra usaha memberikan bantuan modal dan sarana produksi, sedangkan petani memberikan loyalitas penjualan secara eksklusif. Kepercayaan terbentuk melalui tiga mekanisme bertingkat, yaitu kelancaran pembayaran, konsistensi perilaku mitra, serta keterbukaan informasi sebagai dasar kepercayaan, yang secara langsung menentukan komitmen petani, baik afektif maupun kalkulatif. Hambatan yang dihadapi meliputi asimetri informasi harga, risiko produksi dan fluktuasi harga pasar, serta keterbatasan modal petani, yang diatasi melalui pemberian bantuan modal dan sarana produksi oleh mitra usaha, komunikasi terbuka, dan pemanfaatan jaringan lapak langganan di pasar induk. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kemitraan ini merupakan hubungan pertukaran sosial yang asimetris, namun petani tetap bertahan karena reward multidimensi yang diperoleh dinilai melebihi cost yang ditanggung serta rendahnya alternatif pemasaran di luar kemitraan. Saran yang dapat diberikan adalah petani perlu membentuk kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar, mitra usaha perlu meningkatkan transparansi harga, pemerintah desa perlu memfasilitasi akses informasi dan permodalan formal, serta peneliti selanjutnya disarankan memperluas cakupan wilayah dan mengembangkan pendekatan kuantitatif. Kata Kunci: Kemitraan Petani, Social Exchange Theory
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Administrasi dan Kebijakan Publik 2026 |
| Depositing User: | S.Si Mochamad Yogi |
| Date Deposited: | 06 Oct 2026 06:49 |
| Last Modified: | 06 Oct 2026 06:49 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/85149 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
