Alya, Khairunnisa (2026) CELAH REGULASI DAN KETERGANTUNGAN IMPOR LIMBAH PLASTIK DARI BELANDA KE INDONESIA. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Abstrak.pdf Download (153kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Daftar isi.pdf Download (134kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Lembar Pengesahan.pdf Download (142kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Daftar Pusaka (1) - Copy.pdf Download (229kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Kata pengantar - Copy.pdf Download (168kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Bab 2.pdf Download (257kB) | Preview |
|
|
Text
Alya khairunnisa_222030140_Cover.pdf Download (148kB) | Preview |
|
|
Text
Alya Khairunnisa_222030140_Bab 1 - Copy.pdf Download (422kB) | Preview |
Abstract
Pergeseran arus perdagangan limbah plastik global pasca diberlakukannnya kebijakan National Sword Policy oleh Tiongkok pada 2018 telah mengubah struktur ekspor limbah dari negara-negara maju ke kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indoensia sebagai salah satu tujuan utama. Dalam arus tersebut, Belanda muncl sebagai eksportir limbah plastik paling dominan ke Indoensia dengan volume mencapai 119.560 ton pada tahun 2023 atau setara dengan 40,9% dari total impor nasional. Penelitian ini menganalisis pola perdagangan limbah plastik Belanda- Indonesua periode 2018-2025 sserta mengkaji bagaimana celah regulasi berkontribusi terhadapt terbentuknya ketergantungan struktural Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis data dokumen dari UN Comtrade, Badan Pusat Statistik (BPS), Konvensi Basel, dan berbagai laporan lingkungan, penelitian ini mengidentifikasi tiga lapis celah regulasi yang saling memperkuat: (1) ambiguitas klasifikasi dan celah dalam Amandemen Basel 2021 yang memperoleh ekspor limbah plastik tanpa persetujuan penuh dari negara penerim; (2) inkonsistensi antara Undang- Undang No. 18/2008 dengan regulasi turunan di Indonesia serta lemahnya pengawasan di pelabuhan; (3) kontradiksi antara ambisi ekonminsirkular Belanda dengan praktik ekspor limbahnya negara berkembang. Dengan menggunakan teori ketergantungan yang dikemukakan oleh Theotonio Dos Santos, penelitian ini menemukan bahwa celah regulasi tersebut telah menciptakan ketergantungan struktural dalam empat dimensi: ketergantungan bahan baku, kualitas, ekonomi yang bersifat self-reinforcing serta posisi tawar yang lemah dalam sistem perdaganagan global. Meskipun Indonesia memberlakukan larangan impor limbah plastik mulai Januari 2025, ketergantungan ini tetap mengakar dan membutuhkan reformasi sistemik untuk mengatasinya. Penelitian ini merekomendasikan serangkaian perbaikan aturan dalam negeri, pengawasan pelabuhan yang lebih ketat, penguatan industr berbahan baku lokal serta upaday diplomati untuk memperbaiki kelemahan dalam Amandemen Basel 2021. Kata Kunci: perdagangan limbah plastik, ketergantungan struktural, celah regulasi, Konvensi Basel, Belanda- Indonesia
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional 2026 |
| Depositing User: | S.Si Mochamad Yogi |
| Date Deposited: | 06 Oct 2026 03:21 |
| Last Modified: | 06 Oct 2026 03:21 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/85128 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
