RAMADHAN, ADITYA (2026) KETERGANTUNGAN INDONESIA PADA JEPANG DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI OTOMOTIF DI INDONESIA. Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
16_DAFTAR_PUSTAKA.pdf Download (227kB) | Preview |
|
|
Text
05_KATA_PENGANTAR.pdf Download (205kB) | Preview |
|
|
Text
02_LEMBAR_PENGESAHAN.pdf Download (204kB) | Preview |
|
|
Text
06_ABSTRAK_3_BAHASA.pdf Download (212kB) | Preview |
|
|
Text
08_DAFTAR_ISI.pdf Download (411kB) | Preview |
|
|
Text
11_BAB_1.pdf Download (236kB) | Preview |
|
|
Text
01_COVER.pdf Download (205kB) | Preview |
|
|
Text
12_BAB_2.pdf Download (295kB) | Preview |
Abstract
Kerja sama bilateral melalui IJEPA periode 2021–2024 diproyeksikan untuk menarik investasi dan mengubah Indonesia dari negara perakit (assembler) menjadi produsen mandiri yang padat teknologi. Namun, realitasnya menunjukkan paradoks ketimpangan struktural karena pihak Jepang dinilai tidak transparan dalam alih rancang bangun mesin inti (core technology). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis realitas program pengembangan kapasitas IJEPA, membongkar dampak dominasi korporasi Jepang terhadap fenomena lokalisasi semu (pseudo-localization), serta mengevaluasi implikasinya bagi kemandirian otomotif nasional. Penelitian kualitatif ini menggunakan strategi studi kasus Robert K. Yin dengan pisau analisis yang mengintegrasikan Teori Kerja Sama Bilateral (K.J. Holsti), Teori Ketergantungan (Theotonio Dos Santos), Konsep MNC (Robert Gilpin), dan Konsep Global Value Chain (Gary Gereffi). Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dokumentasi arsip resmi, lalu dianalisis secara interaktif meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menemukan bahwa program alih teknologi melalui Manufacturing Industry Development Center (MIDEC) masih terjebak pada karakteristik process-oriented (efisiensi lantai pabrik) dan mengabaikan aspek product-oriented seperti desain mesin inti dan ECU. Di hilir, fasilitas fiskal User Specific Duty-Free Scheme (USDFS) justru memicu ketergantungan impor komponen utama dari Jepang berbea masuk 0%. Kondisi ini melahirkan fenomena lokalisasi semu; meskipun capaian TKDN diklaim mencapai 80%–88%, struktur rantai pasok utama (Tier-1) tetap dimonopoli eksklusif oleh vendor yang berafiliasi dengan prinsipal Jepang. Hambatan transfer teknologi di hulu dan tingginya ketergantungan impor di hilir melanggengkan relasi asimetris "Pusat-Pinggiran" yang menjebak Indonesia dalam kondisi enclave economy atau sebatas industri perakitan. Memasuki era elektrifikasi, korporasi Jepang menerapkan strategi defensif dengan mempromosikan kendaraan Hybrid secara agresif guna menunda transisi ke Full Electric Vehicle demi melindungi investasi mesin konvensional mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerja sama IJEPA gagal memenuhi prinsip resiprositas yang setara, melainkan bertindak sebagai instrumen ketergantungan struktural baru yang menghambat kedaulatan teknologi otomotif nasional. Kata kunci : IJEPA, Industri Otomotif, Alih Teknologi, Teori Ketergantungan, Kendaraan Listrik.
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional 2026 |
| Depositing User: | S.Si Mochamad Yogi |
| Date Deposited: | 09 Jul 2026 08:46 |
| Last Modified: | 09 Jul 2026 08:46 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/83968 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
