PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA TEMA INDAHNYA KEBERSAMAAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN TEMATIK

Lilis Sumiati, 105060097 (2016) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA TEMA INDAHNYA KEBERSAMAAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN TEMATIK. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
COVER SKRIPSII.docx

Download (23kB)
[img] Text
Lembar Pengesahan.docx

Download (17kB)
[img] Text
abstrak.docx

Download (14kB)
[img] Text
DAFTAR ISI lilis.docx

Download (15kB)
[img] Text
BAB 1 PENDAHULUAN acc.doc

Download (87kB)
[img] Text
BAB II KAJIAN TEORI acc.doc

Download (1MB)
[img] Text
BAB III PENELITIAN TINDAKAN acc.docx
Restricted to Repository staff only

Download (661kB)
[img] Text
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.docx
Restricted to Repository staff only

Download (164kB)
[img] Text
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.docx
Restricted to Repository staff only

Download (17kB)
[img] Text
RIWAYAT HIDUP.docx

Download (63kB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran Tematik di Kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. Dalam proses pembelajaran siswa kurang memperhatikan guru, kurang menanggapi atau kurang memberikan respon terhadap apa yang di terangkan guru meskipun keliru, kurang bertanya meski belum mengerti, kurang jujur, kurang mampu mencari alasan saat menyanggah, kurangnya rasa ingin tahu, kurang menuntut hak-haknya sebagai siswa dan kurang mampu memecahkan masalah. Untuk mengatasi hal itu, dilakukan penelitian pembelajaran dengan menerapkan pendekatan model Problem Based Learning (PBL) pada Tema Indahnya Kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang diawali dari masalah-masalah yang ditemukan dalam satu lingkaran. Prinsip yang paling umum dan paling esensial dari Problem Based Learning (PBL) adalah siswa belajar dengan membuat konforntasi dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open-ended melalui stimulus pembelajaran. Forgaty (1997). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus yang masing-masing terdiri dari 1 pertemuan. Temuan pada penelitian ini adalah pada siklus I siswa kurang memberi respon, kurang termotivasi dalam mengungkapkan konsepsi awalnya. Pada tindakan berikutnya siswa mulai mengungkapkan konsepsi awalnya. Selanjutnya pembelajaran ditempuh dengan baik. Semua siswa antusias mengungkapkan konsepsi awalnya, sampai pada akhir tindakan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, pemahaman siswa terhadap materi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat. Nilai pada siklus I nilai pemahaman konsep siswa rata-rata dalam pembelajaran 2,7 dengan kategori kurang. Pada siklus II pemahaman konsep siswa rata-rata dalam pembelajaran 3,8 dengan kategori sangat baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah, bahwa penggunaan model Probled Based Learning (PBL) sangat menunjang terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada Tema Indahnya Kebersamaan Subtema Keberagaman dalam Kebersamaan di Kelas IV Sekolah Dasar. Dengan demikian, penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dapat dijadikan salah satu model pembelajaran untuk diterapkan pada pembelajaran Tematik.   ABSTRACT This research is motivated by the deficiencies in the Thematic learning in Class IV SDN Sirnamanah Hummingbird District of Bandung. In the learning process of students' lack of attention to the teacher, lack of response or lack of response to what the teacher explained that although erroneous, although less asked not understand, less honest, less able to find the time to refute reason, lack of curiosity, less demanding their rights as students and less able to solve the problem. To overcome this, research conducted by applying the model approach learning Problem Based Learning (PBL) on the theme of beauty Togetherness Subtheme Nation Cultural Diversity. Approach to Problem Based Learning(PBL) is a learning approach that begins from the problems found in a loop. The principle is the most common and the most essential of Problem Based Learning (PBL) is a student learns to make confrontation with practical problems, in the form of ill-structured, or open-ended learning through stimulus. Fogarty (1997). The method used in this study is action research. This study consisted of 2 cycles each consisting of 1 meeting. The findings in this study is the first cycle students respond less quickly, less motivated in the initial conception revealed. In the subsequent actions of students began to express the conception initially. Further study is well taken. All students enthusiastically reveals conception initially, until the end of the second cycle. Based on the results of the research, students' understanding of the material and increasing student activity in learning. Value in the first cycle the value of understanding the concept of the average student in the learning category 2.7 with less. In the second cycle students' understanding of the concept of an average of 3.8 in the category of learning is very good. The conclusion from this study is that the use of models Probled Based Learning (PBL) is very supportive to the improvement of students' critical thinking skills in the beauty of togetherness theme Subtheme Diversity at Mutual Elementary School in Class IV. Thus, the use of the model of Problem Based Learning(PBL) can be used as one of the learning model to be applied to the Thematic learning. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia, berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam supriatna (2009: h.3) definisi pendidikan yang dirumuskan dalam pasal 1 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Menanyakan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengadilan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sehingga pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku siswa agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Ilmu Pengetahuan Sosial merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktivitas kehidupan manusia, maka dari itu seorang guru harus mengembangkan potensi siswa sebagaimana yang telah dicantumkan pada pasal 6 Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam anggota IKAPI (2009: h.6) berikut ini: Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sebagaimana diketahui bahawa, pembelajaran atau proses belajar merupakan inti dari proses pendidikan. Pembelajaran adalah “ proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumbee belajar pada suatu lingkungan belajar” (DEPDIKNAS,2003: h.4) Agar proses pembelajaran dapat mengkondisikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat, maka dapat diterapkan pembelajaran tematik, Mengingat, dengan pembelajaran tematik siswa terpisah dengan kehidupan nyata dan tidak “gagap” dalam menghadapi perkembangan zaman. Pembelajaran tematik akan menciptakan sebuah pembelajaran terpadu yang akan mendorong keterlibatan siswa dalam belajar, sesuai dengan membuat siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan menciptakan situasi pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa. Pembelajaran tematik yakni kegiatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dalam kurikulum 2013, pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembelajaran atau satu tema. Pembelajaran Tematik dapat pula dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidik, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kuumbuhnya kurikulum. Pembelajaran Tematik member peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar, membuat anak terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah tumbuhnya kreativitas sesuai kebutuhan siswa. Lebih lanjut, diharapkan siswa dapat belajar dan bermain dengan kreativitas yang tinggi. (Sutirjo dan Mamik 2005). Menurut Ibrahim dan Nur (2002:h.2) mengemukakan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan untuk merancang berfikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Sedangkan menurut Tan (Rusman 2010: h.229) Pembelajar Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran, karena dalam PBM kemampuan berfikir sisiwa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berfikir secara berkesinambungan. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dalam mengkaji seperangkat fakta yang terjadi di lingkungan sekitar, siswa harus melakukan sesuatu, mengetahui dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan masalah yang dialaminya. Untuk hal ini bisa didapatkan melalui model Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran ini membantu siswa untuk belajar berpikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi di dalam masyarakat, terutama dalam pembelajaran Tematik. Jadi, kesimpulnnya penggunaan model Problem Based Learning (PBL) Pembelajaran Berbasis Maslah (PBM) adalah suatu proses belajar dengan mengeluarkan kemampuan siswa dapat betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim sistematis sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan yang berorientasi pada masalah dunia nyata. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan di kelas IV SDN Sirnamanah pada Proses Belajar Mengajar (PBM) menunjukkan adanya gejala-gejala kurangnya minat siswa dalam pembelajaran tematik. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran Tematik di SDN Sirnamanah yaitu ≥2,66. nilai siswa di bawah Standar Ketuntasan Belajar Maksimal (SKBM) yaitu rata-rata nilai jika nilai siswa dibawah ≥2,66. Sehingga perlu diadakan perbaikan atau remedial. siswa pun kurang memahami pelajaran yang akan di pelajarinya, ternyata hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti (1) guru kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran, (2) penggunaan media belum/kurang efektif dan bervariasi, (3) siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran dan (4) masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran kurang efektif dan menyenangkan bagi siswa. Selain itu pembelajaran menjadi lebih didominasi oleh guru. Untuk mengatasi permasalahan aktivitas dan hasil belajar siswa diperlukan jalan keluar atau solusi yang tepat. Salah satunya menggunakan model pembelajaranProblem Based Learning (PBL). Berdasarkan hal di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Tema Indahnya Kebersamaan Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran Tematik”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang terjadi di kelas IV SDN Sirnamanah dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Pendidik kurang menggunakan media atau model pembelajaran yang efektif dan bervariasi dalam proses pembelajaran. 2. Didalam proses pembelajaran siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. 3. Pada setiap pembelajaran tematik guru hanya menggunakan metode ceramah konvensional. 4. Masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa didalam proses pembelajaran. C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran tematik pada tema Indahnya Kebersamaan mengenai Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku di kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung? 2. Bagaimana proses pembelajaran tematik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada tema Indahnya Kebersamaan mengenai Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku di kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung? 3. Apakah motivasi belajar siswa pada pembelajaran tematik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning meningkat pada tema Indahnya Kebersamaan mengenai Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku di kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung? D. Pembatasan Masalah 1. Implementasi model pembelajaran Problem based learning (PBL) ditunjukkan dengan adanya perubahan positif terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam setiap siklusnya yang dinyatakan dengan peningkatan persentase rata-rata pada implementasi pembelajaran tiap siklus dan diukur dengan menggunakan lembar observasi. 2. Aktivitas siswa terhadap pembelajaran tematik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai penerapan dalam meningkatkan pemahaman siswa pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku di kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. 3. Peningkatan hasil belajar IPA pada ranah afektif dan psikomotor ditunjukkan dengan adanya perubahan positif terhadap aspek afektif dan psikomotor yang dinyatakan dengan peningkatan persentase rata-rata indikator setiap siklus dan diukur dengan menggunakan lembar observasi. E. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan, tujuan umum dari penelitian ini adalah ingin memperbaiki dan meningkatkan hasil pembelajaran di SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) . Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk memperoleh gambaran tentang perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). 2. Untuk memperoleh gambaran tentang proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). 3. Untuk memperoleh gambaran hasil belajar siswa pada pembelajaran Tematik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Secara Teoritis Secara teoritis penelitian ini akan berguna untuk menambah wawasan keilmuan pada peneliti dan secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan penguatan teori terhadap upaya peningkatan motivasi belajar siswa melalui model model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pemeblajaran Tematik. 2. Manfaat Secara Praktis Manfaat yang diharapkan oleh penulis dari peneliti ini antara lain sebagai berikut: a. Untuk Siswa Hasil penelitian ini dapat dijadikan nrujukan pembelajaran bagi siswa dalam pemeblajaran bagi siswa dalam pemeblajaran Tematik pada tema Indahnya Kebersamaan dalam subtema Keberagaman Budaya Bangsaku di kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. b. Untuk Guru Hasil penelitian dapat digunakan sebagai alternatife pilihan dalam menggunakan model pembelajaran seperti model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pemeblajaran Tematik pada tema Indahnya Kebersamaan di Kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. c. Untuk Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pemeblajaran Tematik tema Indahnya Kebersamaan di Kelas IV SDN Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. d. Untuk peneliti Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang penggunaan model pembelajaran based learning (PBL) dalam Pembelajaran Tematik tema Indahnya Kebersamaan di Kelas IV Sirnamanah Kecamatan Sukajadi Kota Bandung. G. Definisi Operasioal 1. Model pembelajaran a. Pengertian Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah strategi yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar yang dilakukan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial dan hasil pembelajaran yang lebih optimal (Isjoni, 2009:h.8). Merujuk pada hal ini perkembangan model pembelajaran terus mengalami perubahan dari model tradisional menuju model yang lebih modern. Model pembelajaran berfungsi untuk memberikan situasi pembelajaran yang tersusun rapi untuk memberikan suatu aktivitas kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra (1995:h.78) mendefinisikan ‘model pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. b. Manfaat Model Pembelajaran Model pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas mengajar guru serta siswa dalam proses belajar mengajar, juga dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Selain pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa dan metode pengajaran akan lebih bervariasi, hal positif anak akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan dari guru, tetapi siswa mengajarkan aktivitas lain seperti mengamati, melakukan mendemonstrasikan dan lain-lain.(Sudjana, 1997:h.2). 2. Pengertian Problem Based Learning (PBL) Menurut Kamdi (2007:h.77) Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. 3. Meningkatkan Pada penelitian ini yang dimaksud dengan meningkatkan adalah usaha untuk menjadikan lebih baik sesuai dengan kondisi yang dapat diciptakan atau diusahakan melalui pelaksanaan belajar mengajar di kelas, khususnya pada pembelajaran tematik dalam upaya meningkatkan hasil pemahaman siswa. Menurut Corey (1986:h.195), Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. 4. Pemahaman Pengertian pemahaman yang dikemukakan oleh para ahli seperti yang dikemukaan Winkenl dan Muhtar (Sudaryono, 2012:h.44) mengemukakan bahwa Pemahaman yaitu kemampuan seseorang untuk menegrti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk menangkap makana dari arti dari bahan yang dipelajari yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu kebentuk yang lain. 5. Pembelajaran Tematik Menurut Dixon dan Collins (1991:h.7) pembelajaran tematik adalah suatu pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa dengan mengaitkan dengan sebuah tema. BAB II KAJIAN TEORI A. Model Pembelajaran 1. Pengertian model pembelajaran Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mecapai tujuan belajar. Dapat diartikan suatu pendekatan yang digunakn dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala aktifitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar (Istarani,2011: h.3). Menurut Joyje dan Weil ( 1980 ) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran lebih terfokus pada upaya mengaktifkan siswa lebih banyak dibandingkan guru namun tetap dalam ruangan lingkup pembelajaran suatu tema tentu yang jelas dapat mencapai tujuan pada saat tertentu tersebut dengan pembuktian indikator-indikator tertentu pula. 2. Manfaat model pembelajaran a. Bagi Guru. 1. Memudahkan dalam melaksanakan tugas pemeblajaran sebab telah jelas langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan waktu yang tersedia, tujuan yang hendak dicapai kemampuan daya serap siswa, serta ketersediaan media yang ada. 2. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mendorong aktifitas siswa dalam pembelajaran. 3. Memudahkan untuk melakukan analisa terhadap prilaku siswa secara personal maupun kelompok dalam waktu relative singkat. 4. Dapat membantu guru pengganti untuk melanjutkan pembelajarn siswa secar terarah dan memenuhi maksud dan tujuan yang sudah ditetapkan ( tidak sekedar mengisi kekosongan). 5. Memudahkan untuk menyusun vahan pertimbangan dasar dalam merencanakan Penelitian Tindakan Kelas dalam rangka memperbaiki atau menyempurnakan kualitas pembelajaran. b. Bagi siswa 1. Kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. 2. Memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran. 3. Mendorong semangat belajar serta keterkaitan mengikuti pebelajran secara penuh. 4. Dapat melihat atau membaca belajar kemampuan pribadi dikelompokannya secara objektif. B. Model Pembelajaran Tematik 1. Hakikat Model Pembelajaran Tematik Menurut Rusman (2012: h.254) mengatakan bahwa: Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Sedangkan menurut Trianto (2009: h.84) menyatakan bahwa: Pembelajaran tematik/terpadu merupakan suatu model yang memadukan beberapa materi pembelajaran dari berbagai Kompetensi Dasar dari satu atau beberapa mata pelajaran. Penerapan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yakni penentuan berdasarkan keterkaitan standar keterkaitan Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Tema dan Masalah yang dihadapi. Jadi berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah sebuah sistem pembelajaran yang memadukan beberapa Kompetensi Dasar dari mata pelajaran. Dalam memadukan beberapa mata pelajaran tersebut dihubungkan oleh sebuah tema. 2. Kelebihan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Tematik a. Kelebihan model pembelajaran tematik Model pelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan. Menurut Trianto (2009: h.89) mengemukakan bahwa kelebihan model pembelajaran tematik bagi siswa antara lain sebagai berikut: 1) Bisa lebih memfokuskan diri dari proses belajar, dari pada hasil belajar. 2) Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif. 3) Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar. 4) Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas. 5) Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga meningkatkan apresepsi dan pemahaman. Menurut Rusman (2012: h.257-258) menyebutkan bahwa keunggulan pembelajaran tematik adalah: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar. 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa. 3) Kegiatan belajara siswa akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa, sehinnga hasil belajar dapat bertahan lebih lama. 4) Membantu mengembangkan keterampilan berfikir siswa. 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya. 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Sedangkan menurut Kunandar (2007: h.315) Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni: 1) Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik. 2) Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan 3) Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. 4) Mengembangkan keterampilan sosial melalui kerja sama. 5) Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama. 6) Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain. 7) Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik. Jadi berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya adalah: proses pembelajaran lebih menyenangkan karena lebih relevan dan sesuai dengan apa yang peserta didik alami, hasil belajar akan bertahan lebih lama karena proses pembelajaran lebih bermakna, mengajarkan siswa akan sebuah sikap toleransi dan mengembangkan kemampuan model pembelajaran tematik. b. Kelemahan model pembelajaran tematik Selain kelebihan yang dimiliki, pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan. Menurut Indrawati (Trianto 2009: h.90) menyebutkan bahwa pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan, terutama dalam pelaksanaannya yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Sedangkan kelemahan model pembelajaran tematik menurut Kunandar (2007:h.315) adalah: Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk meningkatkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika sekenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian stándar kompetensi dan kompetensi inti tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa nama. Jadi berdasarkan pengertian di atas, penelitian dapat menyimpulkan bahwa kelemahan model pembelajaran tematik terdapat pada pelaksanaannya. Dimana jika perencanaan skenario pembalajaran tidak didukung dengan metode yang inovatife maka setandar kompetensi dan kompetensi inti tidak akan tercapai karena menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna. Dan juga perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menurut guru untuk melakukan evaluasi proses dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung. 3. Tahap-Tahap Pelaksanaan Model Pembelajaran Tematik Tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran tematik dari sumber internet http://mgpips.wordpress.com/2008/04/01/tahap-persiapan-pelaksanaan pembelajaran-tematik/ pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 12.30 WIB bahwa: 1. Pemetaan Kompetensi Dasar Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Penjabaran Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar kedalam indikator. Melakukan kegiatan penjabaran Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam Indikator. Dalam mengembangkan Indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 2) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakeristik mata pelajaran. 3) Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur. b) Menentukan tema 1) Cara penentuan tema Dalam menentuka tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: Cara pertama, mempelajari Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan tema yang sesuai. Cara Kedua, Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasam dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. 2) Prinsip Penentuan Tema Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu: (1) Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa (2) Dari yang termudah menuju yang tesulit. (3) Dari yang sederhana menuju yang kompleks. (4) Dari yang konkrit menuju ke yang abstrak. (5) Tema yang dipilih memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa. (6) Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan dan kemampuannya. c) Identifikasi dan analisis Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator. Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator. 2. Menentukan Jaringan Tema Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan Kompetensi Inti dan Indikator dengan tema mempersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, Kompetensi Dasar dan Indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan dengan alokasi dari setiap tema. 3. Penyusunan Silabus Hasil seluruh poses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari Kompetensi inti, Kompetensi Dasar dan Indikator, pengalaman belajar, alat/sumber dan penilaian. 4. Penyusunan Rencana Pembelajaran Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: a. Indentitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, sementar dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan). b. Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dilaksanakan. c. Materi pokok beserta uraian yang perlu dipelajari sisiwa dalam rangka mencapai Kompetensi Dasar dan Indikator. d. Strategi pembelajaran kegiatan pembelajaran secara konkrit yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Indikator, kegiatan ini terulang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup. e. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian Kompetensi Dasar, serta sumber yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan Kompetensi Dasar yang harus dikuasai. f. Penialaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil belajar). Sedangkan menurut Rusman (2012: h.260-261) mengemukakan bahwa dalam merancang pembelajarn tematik di sekolah dasar bisa dilakukan dengan dua cara yaitu: Pertama, dimualai dari menetapkan terlebih dahulu tema-tema tertentu yang akan dijadikan, dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang di perkirakan relevan dengan tema-tema tersebut. Tema-tema ditetapkan dengan memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa, dari hal yang termudah menuju yang sulit, dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari hal yang konkrit menuju ke hal yang abstrak. Kedua, dimulai dengan mengidentifikasi Kompetensi Dasar dari beberapa mata pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjut dengan penetapan tema pemersatu. Dengan demikian tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari Kompetensi Dasar dan Indikator yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran. Penetapan tema dapat dilakukan dengan melihat kemungkinan materi pelajaran pada salah satu mata pelajaran yang dianggap dapat mempersatukan beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan. Jadi menurut beberapa penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpilkan bahwa tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran tematik adalah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tema yang akan memadukan beberapa pelajaran dengan membuat pemetaan tema berdasarkan Kompetensi Dasar, Kemudian membuat jejaring tema, lalu menyusun silabus tematik dan rencana pembelajaran tematik. C. Pendekatan Saintifik 1. Esensi Pendekatan Saintifik/Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah, karena itu kurikulum 2013 mengamatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendidikan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelalaran induktif (Inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian meanarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik kedalam relasi yang leih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kejadian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atau suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarían (method of inquiry) harus berbaris pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prisip-prinsip penalaran yang spesifik. Metode ilmiah pada umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi dan menguji hipótesis. 2. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Menurut peremdikbud Nomor 81 Tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: a. Mengamati b. Menanya c. Mengumpulkan informasi/eksperimen d. Mengasosialisasikan/mengolah informasi dan e. Mengkomunikasikan Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan sebagaimana tercantum dalam tabel berikut: Tabel 2.1 Karakteristik antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar Dan Maknanya Langkah Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Kompetensi yang Dikembangkan Mengamati. Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi. Menanya. Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat holistik. Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Mengumpulkan informasi/eksperimen. - Melakukan eksperimen - Membaca sumber lain selain buku teks - Mengamati objek/kejadian - Aktivitas wawancara dengan narasumber . Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, merepakan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, megembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat. Mengasosiasikan/ mengolah informasi. - Mengolah informasi yang sudah disimpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan yang dikumpulkan. - Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah kelasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan. Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja kers, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berfikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Mengkomunikasikan. Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Mengembangkan sikap jujur, teliti toleransi, kemapuan berfikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. D. Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) 1. Pengertian Model Problem Based Learning (PBL) Menurut Suherman (2003: h.7) Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Winataputra (2010: h.7.17) kegiatan belajar melalui pemecahan masalah bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi, mengembangkan kemampuan berfikir alternatife dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan alternatife yang tersedia. Konsep yang dikemukakan Suherman menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah suatu bentuk bagaimana interaksi yang tercipta antara guru dan siswa berhubungan dengan strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Belajar terjadi dari aksi siswa dan pendidik hanya berperan dalam memfasilitasi terjadinya aktivitas kontruksi pengetahuan oleh pembelajaran. Pendidik harus memusatkan perhatiannya untuk membantu peserta didik dalam mencapai keterampilan self directed learning (pembelajaran yang berpusat pada siswa). Menurut Nurhadi ( 2004: h.109) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Barrow (Yuliana Septiana, 2011:h.15) mengemukakan pendapat mengenai PBL, yaitu: Instead of promoting a teacher-centered learning environment, PBL places students in the center of the intruksional paradigm. This shift in pedagogical focus requires students to take control of their own learning by” identifying what they need to know to better understand to manage the problem on which they are working and determining where they will will that information. Barrow berpendapat bahwa, PBL dapat menjadikan pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan menerapkan metode PBL, siswa dapat mengontrol sendiri proses pembelajaran. Siswa dapat mengidentifikasi apa yang ingin mereka pelajari, mengendalikan masalah yang muncul dan bagaimana mencari sumber informasinya. Dari konsep yang diungkapkan peneliti mengenai PBL, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah proses kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan pemikiran bagi siswa dalam memecahkan masalah untuk memperoleh pengetahuan dari suatu materi pelajran. Menurut Tan (Rusman 2010:h.229) Pembelajaran Berbasis Masalah ( Problem Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran, karena dalam PBM kemampuan berfikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berfikir secara berkesinambungan. Sedangkan menurut Ibrahim dan Nur (2002:h.2) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan untuk merancang berfikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada maslah dunia nyata, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Jadi, kesimpulanya penggunaan model Problem Based Leraning (PBL) juga bisa disebut Pembelajara Berbasis Masalah (PBM) adalah suatu proses belajar dengan mengeluarkan kemampuan siswa dengan betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sitematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan yang berorientasi pada masalah dunia nyata. Karena perkembangan intelektual siswa terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman serta ketika mereka berusaha memecahkan masalah yang dimunculkan. 1. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL) Menurut Tan (Rusman, 2010, h.232) Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Adapun karakteristik PBM menurut Rusman (2010, h.232) adalah sebagai berikut: a. Permasalahan menjadi starting ponit dalam belajar; b. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur; c. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspektif); d. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar; e. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama; f. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBM; g. Belajar adalah kolaboratif, komunikatif dan kooperatif; h. Pengembangan keterampilan inquiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan; i. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar; dan j. PBM melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar. Di samping memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas, strategi belajar berbasis masalah (PBM) juga harus dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Menurut Fogarty (Made Wena, 2011, h.92), tahap-tahap strategi belajar berbasis masalah ada pada halaman berikut: a. Menemukan masalah, b. Mengidentifikasikan masalah, c. Mengumpulkan fakta, d. Menyusun hipotesis (dugaan sementara), e. Melakukan penyelidikan, f. Menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan, g. Menyimpulkan alternatif pemecahan secara kolaboratif, dan h. Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah. Adapun alur proses Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) menurut Rusman (2010, h.233) dapat dilihat pada flowchart berikut ini: Gambar 2.1 Keberagaman Penggunaan PBM 2. Tujuan Model Problem Based Learning (PBL) Menurut Rusman (2010, h.238) tujuan PBL adalah penguasaan isi belajar dari disiplin heuristic dan pengembangan keterampilan pemecahan masalah. PBL juga berhubungan dengan belajar tentang kehidupan yang lebih luas (lifewide learning), keterampilan memaknai informasi, kolaboratif dan belajar tim, dan keterampilan berpikir reflektif dan evluatif. Prof. Howard dan Kelson (Amir, 2009, h.21) ikut andil dalam menggungkapkan pendapatnya mengenai PBL, kedua orang tersebut mengungkapkan bahwa PBL adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Maksudnya adalah bahwa di dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Dari pengertian ini kita dapat mengetahui bahwa pembelajaran berbasis masalah ini difokuskan untuk perkembangan belajar siswa, bukan untuk membantu guru mengumpulkan informasi yang nantinya akan diberikan kepada siswa saat proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir serta pemahaman siswa, cara memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata yang telah mereka alami sebelumnya ataupun simulasi dan menjadi pembelajar yang mandiri. PBL merupakan salah satu pendekatan yang mempunyai harapan lebih baik dalam meningkatkan hasil belajar terhadap pembelajaran tematik yang sesuai dengan tujuan kurikulum adalah penggunaan Model Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning (PBL) pertama kali diperkenalkan pada awal 1970-an di Universitas MC Master Fakultas Kedokteran Kanada, sebagai satu upaya menemukan solusi dalam diagnosis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sesuai situasi yang ada. Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Problem Based Learning (PBL) bertujuan untuk: a. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah, b. Belajar peranan orang dewasa yang otentik. c. Menjadi siswa yang mandiri. d. Untuk bergerak pada level pemahaman yang lebih umum, membuat kemungkinan transfer pengetahuan baru. e. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif. f. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. g. Meningkatkan motivasi belajar siswa. h. Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru i. Meningkatkan keterampilan memaknai informasi, kolaboratif dan tim. j. Memiliki keterampilan berpikir reflektif dan evaluatif. 3. Ciri-Ciri Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) Berdasarkan tujuan yang dikemukakan di atas, maka dalam melaksanakan proses pembelajaran PBL ini, terdapat ciri-ciri model Pembelajaran Berbasis Masalah menurut Arends, terdiri dari: a. Pertanyaan atau masalah perangsang. Alih-alih mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip akademis atau keterampilan tertentu, Pembelajaran Berbasis Masalah mengorganisasikan pengajaran di seputar pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara personal bagi siswa. Mereka menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana dan ada berbagai solusi yang competing untuk menyelesaikannya. b. Fokus interdisipliner. Meskipun Pembelajaran Berbasis Masalah dapat dipusatkan pada subjek tertentu (sains, matematika, sejarah), tetapi masalah yang diinvestigasi dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek. Sebagai contoh, masalah polusi yang muncul dipelajaran Chesapeake Bay menyangkut beberapa subjek akademik maupun terapan yang meliputi biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan. c. Investigasi autentik. Pembelajaran Berbasis Masalah mengharuskan siswa untuk melakukan investigasi autentik yang berusaha menemukan solusi riil untuk masalah riil. Mereka harus menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bilamana mungkin), membuat inferensi, dan menarik kesimpulan. Metode-metode investigative yang digunakan tentu bergantung pada sifat masalah yang diteliti. d. Produksi artefak dan exhibit. Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut siswa untuk mengonstruksikan produk dalam bentuk artefak dan exhibit yang menjelaskan atau mempresentasikan solusi mereka. Bentuk itu bisa berbentuk debat bohong-bohongan, seperti dalam pelajaran “Roots andWings”; bisa berbentuk laporan, model fisik, video, atau program komputer. Artefak dan exhibit yang nanti akan dideskripsikan, dirancang oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada orang lain apa yang telah mereka pelajari dan memberikan alternatif yang menyegarkan untuk makalah wajib atau ujian tradisional. e. Kolaborasi. Pembelajaran Berbasis Masalah ditandai oleh siswa-siswa yang bekerja bersama siswa-siswa lain, paling sering secara berpasangan atau dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Bekerja bersama-sama memberikan motivasi untuk keterlibatan secara berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan penyelidikan dan dialog bersama dan untuk mengembangkan berbagai keterampilan sosial. Jadi berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri utama Pembelajaran Berbasis Masalah meliputi pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya serta peragaan. 4. Kriteria Bahan Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) Berdasarkan tujuan dan ciri-ciri Problem Based Learning (PBL) yang telah dijabarkan di atas, maka kriteria pemilihan bahan pembelajaran berbasis masalah diantaranya: a. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman, video dan lain sebagainya. b. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik. c. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak, sehingga terasa manfaatnya. d. Bahan yang dipilih adalah bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku. e. Bahan yang dipilih sesuai dengan minta siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya. 5. Langkah-Langkah Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) PBL memiliki langkah-langkah dalam proses pembelajarannya, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Jauhar (2001, h.88) sebagai berikut: a. Tahap 1: Orientasi siswa pada masalah Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan. b. Tahap 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar Pada tahap ini guru membantu siswa dalam mengartikan dan mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah tersebut, guru menyampaikan informasi-informasi kepada siswa untuk menambah pengetahuan dasar siswa mengenai masalah yang ditelusuri. c. Tahap 3: Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Pada tahap ini guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan masalah yang dibahas, menyaring informasi dan mengolahnya untuk mendapatkan penjelasan dalam pemecahan masalah. d. Tahap 4: Mengembangkan dan menyajikan karya Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan mempersiapkan penyajian karya yang nantinya akan dipresentasikan bersama teman sekelompoknya di depan kelas. e. Tahap 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Pada tahap terakhir ini, guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau perbaikan sebagai bahan evaluasi terhadap penyelidikan mereka pada masalah dan membantu dalam proses-proses yang mereka gunakan dalam mencari suatu solusi dalam memecahkan masalah. Berdasarkan kutipan di atas bahan alam penyelidikan suatu masalah, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a) Membaca dan menganalisis skenario dan situasi masalah. Periksa pemahaman seorang guru tentang skenario dengan mendiskusikan hal itu dalam kelompok guru. Sebuah upaya kelompok mungkin akan lebih efektif dalam menentukan apa faktor-faktor kunci dalam situasi ini. Karena ini adalah situasi pemecahan masalah nyata, setiap guru akan harus secara aktif mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah. b) Daftar hipotesis, ide, atau firasat Tulis dalam daftar teori atau hipotesis tentang penyebab masalah atau ide-ide tentang bagaimana untuk memecahkan masalah. Seorang guru juga akan mendukung atau menolak ide-ide sebagai hasil penyelidikan. Daftar ide yang berbeda lain yang perlu ditangani. c) Daftar apa yang dikenal Buat pos berjudul “Apa yang kita ketahui?” pada selembar kertas. Kemudian temukan informasi yang terkandung dalam skenario. d) Mengembangkan sebuah pernyataan masalah Suatu pernyataan masalah harus berasal dari analisis seorang guru apa yang diketahuinya. Dalam satu atau dua kalimat guru harus dapat menjelaskan apa yang kelompok siswa sedang mencoba untuk menyelesaikan, memproduksi, menanggapi, tes, atau mencari tahu. Pernyataan masalah mungkin harus direvisi sebagai informasi baru ditemukan dan dibawa ke menanggung pada situasi. e) Daftar apa yang dibutuhkan Siapkan daftar pertanyaan kita sebagai seorang guru, pikir perlu dijawab untuk memecahkan masalah. Rekam mereka di bawah daftar kedua berjudul: “Apa yang kita perlu tahu?” Beberapa jenis pertanyaan yang mungkin sesuai. Beberapa orang mungkin alamat konsep atau prinsip-prinsip yang perlu dipelajari untuk mengatasi situasi. Pertanyaan lain mungkin dalam bentuk permintaan untuk informasi lebih lanjut. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membimbing pencarian yang mungkin akan terjadi online, perpustakaan, atau dalam pencarian out-of kelas yang lain. f) Daftar tindakan yang mungkin Daftar rekomendasi, solusi, atau hipotesis di bawah judul: “Apa yang harus kita lakukan?”. Daftar rencana kita untuk penyelidikan. Rencana ini mungkin termasuk mempertanyakan ahli, mendapatkan data online, atau mengunjungi perpustakaan. g) Mengumpulkan dan menganalisis informasi Bagilah tanggung jawab untuk mengumpulkan, mengorganisir, menganalisis, dan menafsirkan informasi dari banyak sumber. Menganalisis informasi yang kita kumpulkan. Kita mungkin perlu merevisi pernyataan masalah. Kita dapat mengidentifikasi laporan masalah yang lebih. Pada titik ini, guru mungkin akan merumuskan dan menguji hipotesis untuk menjelaskan masalah. Beberapa masalah mungkin tidak memerlukan hipotesis, bukan solusi yang dianjurkan atau pendapat (berdasarkan data riset kita) mungkin tepat. h) Menyajikan temuan-temuannya Siapkan laporan dimana kita membuat rekomendasi, prediksi, kesimpulan, atau solusi lain yang tepat untuk masalah berdasarkan data kita dan latar belakang. Bersiaplah untuk mendukung rekomendasinya. Jika laporan yang dibuat telah sesuai, pertimbangkan presentasi multimedia dengan menggunakan gambar, grafik, atau suara. Kemudian dengan bimbingan guru siswa dapat mempresentasikan hasil pengerjaan kelompoknya di depan kelas dan saling memberikan informasi pada siswa lain yang berada di kelasnya. Ibrahim dan Nur (2000: h.13) dan Ismail (2002: h.1) mengemukakan bahwa langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebagai berikut: Tabel 2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah Fase Indikator Tingkah Laku Guru 1. Orientasi siswa pada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. 2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. 3. Membimbing pengalaman individual/kelompok Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yangs sesuai seperti laporan dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya. 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan. 6. Pengembangan Langkah-Langkah Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) Menurut Fogarty (Rusman, 2010, h.243) PBM dimulai dengan masalah yang tidak terstruktur-sesuatu yang kacau. Dari kekacauan ini siswa menggunakan berbagai kecerdasannya melalui diskusi dan penelitian untuk menentukan isu nyata yang ada. Dari ungkapan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) sebelumnya, maka dapat dikembangkan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran menggunakan PBL sebagai berikut: a. Langkah pertama. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran PBL. b. Langkah kedua. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran PBL. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjauan dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan penilaian keterampilan setiap individu maupun kelompok dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran menggunakan model PBL yaitu: 1) Tetap berada dalam kelas. 2) Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru. 3) Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok. c. Langkah ketiga. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi dari spesifik sampai yang bersifat umum. d. Langkah keempat. Memberi kesimpulan Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. e. Langkah kelima. Memberikan penghargaan 7. Manfaat dan Hambatan Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) Apabila langkah-langkah proses pembelajaran yang terdapat pada PBL dipenuhi dan dilaksanakan dengan benar, maka PBL memiliki potensi manfaat seperti yang dikemukakan Amir (2010, h.27) sebagai berikut: a. Menjadi lebih ingat dan meningkatkan pemahamannya atas materi ajar. Jika pengetahuan itu didapatkan lebih dekat dengan konteks praktiknya, maka kita akan lebih ingat. a. Meningkatkan fokus pada pengetahuan yang relevan. Siswa tidak menerima materi saja akan tetapi diimbangi dengan melakukan praktik berupa mengemukakan pendapatnya dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap masalah yang imbasnya siswa berpikir secara kritis untuk mencari solusi dalam pemecahan masalah. b. Mendorong siswa untuk berpikir. Siswa dianjurkan untuk tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu, tetapi siswa dianjurkan untuk mencoba menemukan dasar-dasar ilmu atas argumennya dan fakta-fakta yang mendukung terhadap masalah. c. Membangun kerja tim, kepemimpinan dan keterampilan sosial. Peserta didik diharapkan memahami perannya dalam kelompok dan menerima pendapat dari pandangan orang lain. d. Membangun kecakapan belajar. Siswa harus mengembangkan bagaimana kemampuan untuk belajar mandiri dan menjadi tutor bagi siswa lain yang dianggap lemah dalam belajar. e. Memotivasi siswa. Disinilah peran guru sebagai pendidik yang sangat menentukan dalam menyajikan suatu tema masalah dan dalam menumbuhkan rasa ingin tahu serta memotivasi siswa ketika akan melakukan pembelajaran. Diantara manfaat yang diperoleh dari PBL, terdapat pula hambatan utama yang ditemui dalam pembelajaran menggunakan PBL berdasarkan dengan yang dikemukakan oleh Jauhar (2011, h.86) adalah: a. Untuk siswa yang malas tujuan dari PBL tidak tercapai, karena siswa telah terbiasa dengan pengajaran yang berpusat pada guru seperti mendengarkan ceramah sehingga malas untuk berpikir. b. Relatif menggunakan waktu yang cukup lama dan menuntut keaktifan siswa untuk mencari sumber-sumber belajar, karena siswa terbiasa hanya mendapatkan materi dari guru dan buku paket saja. c. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan menggunakan model ini, karena PBL merupakan model yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah yang akan dicari jalan keluarnya sehingga berhubungan erat dengan mata pelajaran tertentu saja. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran terutama menggunakan model PBL terdapat manfaat atau kelebihan,terutama dalam meningkatkan pemahaman siswa atas materi ajar, meningkatkan fokus siswa pada pengetahuan yang mereka miliki dan yang mereka pelajari di sekolah, mendorong siswa untuk lebih berpikir kritis dan termotivasi untuk selalu belajar, belajar bersosialisasi dengan teman kelompok dengan cara kerja tim, serta membangun kecakapan belajar mereka. Adapun kelemahan dari model PBL yaitu tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan model ini, dalam proses pembelajaran memerlukan waktu yang cukup lama dan untuk siswa yang malas tujuan dari PBL tidak akan tercapai, karena model PBL ini menuntut keaktifan siswa untuk mencari sumber-sumber belajar yang tidak hanya didapat dari guru dan buku paket saja. E. Pemahaman 1. Pengertian Pemahaman Pemahaman ini berasal dari kata “Faham” yang memiliki arti tanggap, mengerti benar, pandangan, ajaran. Adapun pengertian tentang pemahaman yaitu kemampuan memahami arti suatu bahan pelajaran, seperti menafsirkan, menjelaskan, meringkas atau merangkum suatu pengertian kemampuan macam ini lebih tinggi dari pada pengetahuan. Pengertian pemahaman menurut Winkel dan Mukhtar (Sudaryono, 2012: h.44) mengemukakan bahwa: Pemahaman yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti bahan yang dipelajari atau mengubah data dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain. Sedangkan menurut Soedjana (2010: h. 46) dalam kamus, pemahaman adalah: (1) Menerima arti, menyerap ide, memahami, (2) Mengetahui arti kata-kata seperti dalam bahasa, (3) Menyerap dengan jelas fakta. Daryanto (2008: h. 106) menjabarkan kemampuan pemahaman menjadi tiga bagian yaitu: a. Menerjemaahkan (translation) Pengertian menterjemaah disini bukan saja pengalihan translation arti bahasa yang satu dengan yang lain. Dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu model, yaitu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya. b. Menginterpretasi (extrpretation) Kemampuan ini lebih luas dari pada menerjemaahkan. Ini adalah kemampuan untuk mengenal dan memahami. Ide utama suatu komunikasi. c. Mengekstapolasi(extrapolation) Agar lain dari menerjemaahkan dan menafsirkan, tetapi lebih tinggi sifatnya. Ia menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemahaman adalah suatu proses cara memahami konsep berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, menagitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau mengintegrasi pengetahuan baru dengan skema yang sudah ada dalam pemikiran siswa dan hasilnya dapat menjelaskan atau mengidentifikasi dan menginterprensikan suatu informasi dengan kemungkinan yang terkait menggunakan kata-kata sendiri. 2. Tingkatan Pemahaman Tingkat kemampuan untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berada tingkatannya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Berikut tingkatan pemahaman yang dibagi menjadi 3 kategori yaitu: a. Tingkat Rendah Pemahaman terjemah mulai dari terjemaahan dalam arti sebenarnya misalnya Bahasa Asing dan Bahasa Indonesia. b. Tingkat Menengah Pemahaman yang memiliki penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terpadu dengan diketahui beberapa bagian dari gerafik dengan kejadian atau peristiwa. c. Tingkat Tinggi Pemahaman ekstrapolasi dengan ekstrapolasi yang diharapkan seseorang mampu melihat dari balik, yang tertulis dapat membuat ramalan konsekuensi atau dapat memperluas resepsi dalam arti waktu atau masalah. 3. Indikator Pemahaman Adapun indikator-indikator keberhasilan sebagai tolak ukur dalam mengetahui pemahaman siswa adalah: a. Daya serap terhadap bahan penagajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok. b. Penilaian yang digariskan dalam indikator telah tercapai, baik secara individual maupun kelompok. c. Siswa dapat menjelaskan, mengidentifikasi dengn kata-kata sendiri dengan cara penggungkapannya melalui pertanyaan, soal dan tes. Menagcu pada indikator-indikator diatas berarti apabila siswa dapat menegrjakan soal-soal yang diberikan dengan baik dan benar maka siswa dikatakan paham. F. Materi 1. IPS Tahukah kamu bahwa Indonesia terdiri atas banyak pulau, suku bangsa, tarian, rumah adat, serta agama? Ayo, kita cari tahu lebih jauh tentang keberagaman itu. Keberagaman Budaya Indonesia dikenal memiliki kekayaan dan keberagaman budaya, terdiri atas berbagai suku bangsa, agama, bahasa,adat istiadat, cara berpakaian, makanan tradisional, dan kesenian. Kekayaan budaya tersebut perlu diperkenalkan kepada siswa dalam rangka meningkatkan kecintaandan kebanggaan terhadap tanah air. Sikap toleransi dalam menghadapi perbedaan perlu dikembangkan melalui kegiatan sehari-hari. Indonesia adalah negara yang sangat beragam budaya, agama, dan bahasa daerahnya. Sebagai warga negara yang baik, kita wajib menghargai keberagaman tersebut. 2. Bahasa Indonesia Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa dan budaya yang berbeda-beda, namuntetap dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 28 Jun 2016 09:34
Last Modified: 28 Jun 2016 09:34
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5270

Actions (login required)

View Item View Item