Rahmawati, Azzahra (2026) FENOMENA FATHERLESS PADA PENENTUAN KRITERIA PASANGAN HIDUP PEREMPUAN (Studi Deskriptif Kualitatif Perempuan Fatherless Di Kota Bandung). Skripsi(S1) thesis, FISIP UNPAS.
|
Text
Lembar Persetujuan Skripsi.pdf Download (299kB) | Preview |
|
|
Text
Abstrak.pdf Download (297kB) | Preview |
|
|
Text
Daftar Pustaka.pdf Download (255kB) | Preview |
|
|
Text
Daftar Isi.pdf Download (268kB) | Preview |
|
|
Text
Kata Pengantar.pdf Download (312kB) | Preview |
|
|
Text
Cover.pdf Download (311kB) | Preview |
|
|
Text
BAB I (1).pdf Download (449kB) | Preview |
|
|
Text
BAB II.pdf Download (468kB) | Preview |
Abstract
Fenomena fatherless merupakan kondisi ketika anak tumbuh dengan minimnya kehadiran atau keterlibatan figure ayah, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi tersebut dapat membentuk pengalaman subjektif yang memiliki peran untuk mengubah cara individu memandang hubungan interpersonal, termasuk dalam menentukan kriteria pasangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami fenomena fatherless pada penentuan kriteria pasangan hidup anak perempuan di Kota Bandung melalui dimensi logical inconsistency, cultural mores, opinion generality, dan past experience dalam teori disonansi kognitif Leon Festinger (1957). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Teknik pengumpulan data di lakukan melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Informan penelitian terdiri dari lima informan inti yang merupakan perempuan dengan memiliki pengalaman fatherless dan satu informan ahli yaitu psikolog klinis. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian datam dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami fatherless mengalami berbagai bentuk disonansi kognitif dalam menentukan kriteria pasangan hidup. Pada logical inconsistency, ditemukan adanya pertentangan antara kriteria pasangan ideal yang diharapkan dengan pilihan pasangan yang pernah hadir dalam pengalaman hubungan mereka. Cultural mores, informan cenderung membangun kriteria pasangan berdasarkan kebutuhan emosional dibandingkan mengikuti standar pasangan ideal yang berkembang dalam masyarakat. Pada opinion generality, pendapat dari keluarga, teman, dan lingkungan sosial memunculkan keraguan serta proses evaluasi terhadap hubungan yang dijalani. Sementara past experience, pengalaman masa lalu terkait ketidakhadiran figure ayah menjadi aspek yang paling dominan dalam membentuk pemahaman, harapan, dan pertimbangan terhadap pasangan hidup. Pengalaman tersebut membentuk kognisi baru yang menjadikan perhatian, rasa aman, tanggung jawab, komitmen, dan kehadiran emosional sebagai kriteria utama pasangan hidup. Pengalaman fatherless menjadi bagian penting dalam pembentukan sudut pandang perempuan terhadap kriteria pasangan hidupnya. Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kebutuhan emosional tertentu, tetapi memunculkan berbagai pertimbangan dan konflik kognitif dalam proses penentuan kriterian pasangan hidup. Kata Kunci: Fatherless, Kriteria Pasangan Hidup, Anak Perempuan, Disonansi Kognitif, Leon Festinger.
| Item Type: | Thesis (Skripsi(S1)) |
|---|---|
| Subjects: | S1-Skripsi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi 2026 |
| Depositing User: | S.Si Mochamad Yogi |
| Date Deposited: | 14 Jul 2026 06:19 |
| Last Modified: | 14 Jul 2026 06:19 |
| URI: | https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/84076 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
