SCREENLIFE SEBAGAI FORMAT VISUAL: STUDI KASUS FILM MISSING (2023).NPM:206020055

Hikmat Nur Akbar, Regina Octavia Ronald, M.Si (2026) SCREENLIFE SEBAGAI FORMAT VISUAL: STUDI KASUS FILM MISSING (2023).NPM:206020055. Skripsi(S1) thesis, FISS UNPAS.

[img] Text
SKRIPSI FINAL_AKBAR_2025 (1).pdf
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)
Official URL: https://repository.unpas.ac.id/cgi/users/home?scre...

Abstract

Screenlife merupakan merupakan format visual yang telah berkembang dari proyek independen menjadi film layar lebar, dokumenter, dan program televisi yang terkenal di dunia. Ide dasarnya adalah segala sesuatu yang dilihat penonton terjadi dilayar komputer, tablet, atau ponsel pintar. Semua acara ditampilkan langsung di layar perangkat. Screenlife, sebuah gaya pembuatan film yang sangat inovatif, dipelopori oleh sutradara film “Wanted” Timur Bekmambetov sebagai sebuah tanggapan atas pekembangan teknologi pada layar modern dan perangkat seluler, screenlife menciptakan segala aksi yang terjadi melalui sudut pandang yang baru yaitu sudut pandang komputer, tablet, dan smartphone yang digunakan oleh para pemeran film. Sebagai salah satu format visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh format visual screenlife pada keberhasilan sebuah film dalam industri, dengan menggunakan film "Missing" (2023) sebagai objek studi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi film "Missing" dan wawancara dengan dua editor yang terlibat dalam produksi film tersebut. Film Missing disutradarai oleh Nicholas D. Johnson dan Will Merrick yang sebelumnya menjadi editor dari film Searching yang merupakan spin-off dari film Missing, film Missing meraup keuntungan sebesar 48 juta USD dengan biaya produksi sebesar 7 juta USD serta mendapatkan skor 7,1 dari IMDB. Analisis akan difokuskan pada teknik sinematografi, pencahayaan, editing, penggunaan efek visual, dan desain produksi yang memberikan keberhasilan film dalam menyampaikan naratif melalui format Screenlife. Dalam film Missing terdapat 64 scenes dari durasi film 1 jam 51 menit, dalam film tersebut dari segi aspek sinematografi menggunakan kamera sinema, kamera gawai, kamera cctv, kamera dari jam tangan pintar. Lalu menggunakan tiga perangkat lunak untuk proses penyuntingan dari Adobe Creative Cloud, serta desain produksi yang menggunakan aspek digital sebagai paling utama. Film Missing menunjukkan bahwa integrasi seni kreatif dan tekonologi modern dapat mencapai kesuksesan besar bahkan dengan anggaran yang relative rendah. Format visual screenlife seperti Missing pun memiliki kekurangan yaitu pentingnya lisensi penggunaan aplikasi atau situs-situs yang menunjang penceritaan dalam sebuah film. Kata Kunci: Film, Screenlife, Missing

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Seni dan Sastra > Fotografi dan Film 2024
Depositing User: mr FISS-Oman -
Date Deposited: 09 Feb 2026 07:27
Last Modified: 09 Feb 2026 07:27
URI: https://repository.unpas.ac.id/id/eprint/82217

Actions (login required)

View Item View Item