PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA TEMA INDAHNYA KEBERSAMAAN SUBTEMA KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSAKU

ROSIDAH MERDIANA, 105060029 (2016) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA TEMA INDAHNYA KEBERSAMAAN SUBTEMA KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSAKU. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
1. COVER JUDUL 2013.docx

Download (37kB)
[img] Text
2. LEMBAR PENGESAHAN.docx

Download (12kB)
[img] Text
4. MOTTO & PERSEMBAHAN.docx

Download (69kB)
[img] Text
3. PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI.docx

Download (12kB)
[img] Text
7. ABSTRAK.docx

Download (16kB)
[img] Text
7. ABSTRAK INGGRIS.docx

Download (14kB)
[img] Text
5. KATA PENGANTAR.docx

Download (13kB)
[img] Text
6. UCAPAN TERIMA KASIH.docx

Download (17kB)
[img] Text
8. DAFTAR ISI.docx

Download (23kB)
[img] Text
13. BAB I ACC.docx

Download (38kB)
[img] Text
14. BAB II ACC.docx

Download (1MB)
[img] Text
15. BAB III ACC.docx
Restricted to Repository staff only

Download (66kB)
[img] Text
16. BAB IV ACC.docx
Restricted to Repository staff only

Download (276kB)
[img] Text
17. BAB V ACC.docx
Restricted to Repository staff only

Download (18kB)
[img] Text
18. DAFTAR PUSTAKA.docx

Download (21kB)
[img] Text
22. DAFTAR RIWAYAT HIDUP.docx

Download (342kB)

Abstract

Oleh ROSIDAH MERDIANA 105060029 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep yang dimiliki siswa baik berupa hasil belajar, respon siswa, dan aktivitas pada pembelajaran tematik kedua pada subtema keberagaman budaya bangsaku tema indahnya kebersamaan, baik sebelum penggunaan sumber belajar maupun sesudah penggunaan sumber belajar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya respons, aktivitas dan pemahaman siswa dalam menerima materi ajar, serta rendahnya nilai ketuntasan belajar siswa dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hal tersebut disebabkan karena guru kurang memperhatikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk melaksanakan pembelajaran di kelasnya sehingga tidak adanya peningkatan suasana pembelajaran yang aktif, pengajaran dari guru hanya berpusat pada guru (teacher centered), penggunaan media yang jarang dipakai dalam menunjang pembahasan materi sehingga siswa dalam belajarnya acuh tak acuh dalam mendalami suatu materi, dan sikap siswa yang selama kegiatan belajar berlangsung kurang antusias dalam mencari tahu dan mengetahui pendalaman suatu materi sehingga pemahamannya tentang suatu konsep rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diimplementasikan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari II siklus, yang dilaksanakan di kelas IV SDN Pulokalapa I dengan jumlah siswa 27. Instrumen yang digunakan adalah observasi, tes, wawancara, angket dan penilaian dokumen RPP. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman konsep yang dimiliki siswa yang bisa dilihat dari hasil belajar, aktivitas siswa, dan aktivitas guru. Pada siklus I nilai pretest siswa yang mencapai KKM sebanyak 11,5%. Pada hasil postest siklus I yang telah mencapai KKM 46,1% dan pada hasil pretest siklus II yang mencapai KKM sebanyak 77,8% sedangkan pada hasil postest siklus II siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 96,3%. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Dengan demikian pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Inkuiri Terbimbing, Hasil Belajar ABSTRACT This study aims to improve understanding of the concept of the students in the form of learning outcomes, student response, and thematic learning activities in both the sub-theme of my people's diversity, beauty theme of togetherness, both before use and after use of learning resources learning resources. This research is motivated by the lack of response, and understanding of students' activities in receiving teaching materials, as well as the low value of mastery learning students in achieving the minimum completeness criteria (KKM). This was due to lack of attention to teachers Lesson Plan (RPP) to implement the learning in class so no increased atmosphere of active learning, the teaching of teachers only teacher-centered (teacher centered), the use of media that is rarely used to support the discussion of the material so that students in learning indifferent in absorbing the material, and the attitude of students during learning activities lasting less enthusiastic in finding out and knowing the material so that a deepening understanding of the concept of the low. Based on these problems, the implemented action research (PTK), which consists of the second cycle, which is implemented in the fourth grade SDN Pulokalapa I the number of students 27. instruments used are observation, tests, interviews, questionnaires and assessment RPP documents. The results showed an improved understanding of the concept of the students can be seen from the results of learning, student activities and teacher activities. In the first cycle of students who achieve a pretest value of KKM as much as 11.5%. At posttest results of the first cycle that has reached 46.1% KKM and the pretest results of the second cycle, which reached as much as 77.8% KKM while the posttest results of the second cycle students who have achieved as much as 96.3% KKM. Based on the above results it can be concluded that the application of guided inquiry can enhance students' understanding of concepts. Thus this study can be used as an alternative for teachers to conduct classroom activities. Keywords: Concept Understanding, Guided Inquiry, Learning Outcomes BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Manusia dengan segala persoalan dan kegiatannya secara dinamis dituntut untuk mampu beradaptasi dan memecahkan segala persoalan yang sudah dihadapi saat ini. Tentunya dalam memecahkan segala persoalan dibutuhkan kecerdasan, kreativitas, dan kearifan agar dalam menyelesaikan masalah tidak menimbulkan masalah yang lebih sulit. Untuk menciptakan manusia yang berkualitas tentu tidak terlepas dari cita-cita nasional dan tujuan pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu faktor utama untuk dapat mencapai kemakmuran suatu negara, sebagaimana diatur secara tegas dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3, maka kita dapat mengetahui apa yang menjadi tujuan dan perkembangan pendidikan di Indonesia dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Elemen penting yang perlu diketahui dan saling terkait satu sama lainnya di dalam pendidikan yaitu kurikulum. Kurikulum untuk sekarang ini masih memegang peran penting dalam suatu pendidikan sebab sebagai penentuan arah isi dan proses pendidikan yang menentukan kualitas lulusan kelak di pendidikan Indonesia. Kurikulum dalam kegiatan proses pembelajaran sangat dibutuhkan sebagai pedoman untuk menyusun target dalam proses belajar mengajar. Namun, dalam memahami hakikat kurikulum sering terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman. Kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan untuk digunakan para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kurikulum menurut UU No. 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kurikulum adalah dasar tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat pelajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan. Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum yang diajarkan dari setiap proses pembelajaran tidak terlepas dengan adanya peran guru dalam mengimplementasikan setiap pokok-pokok materi yang terdapat dalam kurikulum. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kurikulum dari tahun ke tahun mengalami perubahan sejalan dengan kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya diberlakukannya kurikulum 2013 pada tanggal 15 juli 2013. Sedangkan implementasinya telah diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014 di sekolah-sekolah tertentu atau masih terbatas. Dulu, masih diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun ajaran 2007-2008. Perbedaan antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013 terletak pada kegiatan pengembangan silabus. Kegiatan pengembangan silabus dalam KTSP merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan tertentu. Namun dibalik perbedaan yang ada, sebenarnya juga terdapat kesamaan esensi antara kurikulum 2013 dengan KTSP yaitu pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah Pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas. Harapan kurikulum 2013 adalah untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan mendorong siswa untuk aktif. Siswa bukan lagi objek tapi justru menjadi subjek dengan ikut mengembangkan tema yang ada. Penerapan kurikulum 2013 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk mewujudkan cita-cita pendidikan. Kenyataanya, kurikulum 2013 akan menjadi pedoman pendidikan di Indonesia. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan berbagai sosialisasi. Berbagai persiapan, seperti penyiapan pelatihan guru, buku pegangan guru, buku paket untuk siswa, dan sebagainya. Disadari bahwa guru merupakan kunci utama keberhasilan proses implementasi kurikulum 2013. Oleh karena itu, harapan keberhasilan pendidikan sering dibebankan kepada guru. Salah satu hal mendasar yang penting disikapi oleh guru adalah kesiapan mental terhadap perubahan. Guru tidak boleh terjebak dalam rutinitas dan formalitas. Masih banyak guru yang enggan mengetahui informasi atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesi. Di lapangan masih banyak guru yang belum menciptakan pembelajaran yang efektif. Sekarang yang harus diperlukan adalah optimalisasi peran guru dalam pengimplementasian kurikulum 2013 untuk mengikuti perubahan dengan mengubah pola pikir terbuka terhadap perubahan. Guru wajib mengikuti atau disertakan dalam program pelatihan dan pengembangan profesi yang bersifat periodik. Sejalan dengan perubahan kurikulum dan kenyataan di lapangan tersebut, peneliti mengambil penelitian di SDN PULOKALAPA I, yang tahun ajaran 2014/2015 menggunakan kurikulum yang baru yaitu kurikulum 2013. Adapun visi dari SDN PULOKALAPA I adalah unggul dalam prestasi, santun dalam berprilaku serta melestarikan budaya. Sedangkan misinya antara lain mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, berprilaku santun dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat mengaplikasikan nilai-nilai luhur budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan faktanya di lapangan dan dari hasil wawancara yang peneliti lakukan di SDN Pulokalapa I, bahwa permasalahan dalam pembelajaran 2 subtema keberagaman budaya bangsaku tema indahnya kebersamaan diantaranya adalah pengajaran guru dengan penerapan kurikulum baru yang diterapkan di SDN Pulokalapa I memunculkan rendahnya respons, aktivitas dan pemahaman siswa dalam menerima materi ajar, serta rendahnya nilai ketuntasan belajar siswa dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh peraturan penilaian kurikulum 2013 yaitu 2,67 (B-). Permasalahan-permasalahan tersebut telah diidentifikasi dan dianalisis penyebabnya oleh peneliti dengan melakukan pengamatan dan observasi awal pada tanggal 16 Mei 2014, yaitu: (1) Guru kurang memperhatikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk melaksanakan pembelajaran di kelasnya sehingga tidak adanya peningkatan suasana pembelajaran yang aktif, (2) Pengajaran dari guru hanya berpusat pada guru (teacher centered) dan berlangsung satu arah yaitu dengan metode ceramah sehingga pengaruh siswa dalam kegiatan belajar mengajar cenderung pasif dan tidak ada penggalian kemampuan siswa atas apa yang sudah diperolehnya setelah pembelajaran selesai, (3) Penggunaan media yang jarang dipakai dalam menunjang pembahasan materi sehingga siswa dalam belajarnya acuh tak acuh dalam mendalami suatu materi, (4) Sikap siswa yang selama kegiatan belajar berlangsung kurang antusias dalam mencari tahu dan mengetahui pendalaman suatu materi sehingga pemahamannya tentang suatu konsep rendah. Penyebab-penyebab tersebut membuat peneliti memunculkan dan menciptakan strategi atau model pembelajaran yang tepat guna untuk mengatasi permasalahan rendahnya pemahaman konsep siswa dan rendahnya nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Maka dari itu, peneliti mengupayakan dan menerapkan model pembelajaran di kurikulum 2013 yaitu dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Menurut Joyce dalam Trianto (2009, h.22) model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Ahmadi dalam Ismawati (2007:35) mengatakan bahwa inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan, dan inkuiri berarti penyelidikan. Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Carin dalam Ismawati (2007: 36) berpendapat bahwa pembelajaran model inkuiri mencakup inkuiri terbimbing dan tak terbimbing, inkuiri deduktif dan pemecahan masalah. Adapun pengertian pembelajaran inkuiri menurut Sanjaya (2008: 200) pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaanya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Jadi Inkuiri terbimbing adalah sebagai proses pembelajaran dimana guru menyediakan unsur-unsur asas dalam satu pelajaran dan kemudian meminta pelajar membuat generalisasi. Gulo (2002) dalam Trianto (2009, h.166) menyatakan bahwa strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Keunggulan dan sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri yaitu: (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; dan (3) mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. Tercapainya penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep, hal ini dibuktikan juga dengan pernyataan hasil penelitian dari Schlenker, dalam Joyce (1992: 198), menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi. Adapun dari hasil penelitian terdahulu oleh Ahmad Danuri (2010) jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN), disebutkan dalam hasil penelitiannya bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan strategi menggunakan permainan dengan rincian hasil belajar siklus I mencapai 65% dan hasil belajar siklus II mencapai 90% nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) siswa. Atas dasar latar belakang tersebut diatas, maka penulis memandang penting dan perlu untuk mengadakan penelitian dengan judul ‘Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada Tema Indahnya Kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku’ B. Identifikasi Masalah Atas dasar latar belakang masalah sebagaimana telah diutarakan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Rendahnya respons siswa kelas IV SDN Pulokalapa I. Hal tersebut dikarenakan guru kurang melibatkan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar. 2. Rendahnya aktivitas guru dan siswa kelas IV SDN Pulokalapa I dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan selama pembelajaran guru kurang mengarahkan kegiatan secara logis dan sistematis terhadap tujuan pembelajaran. 3. Rendahnya pemahaman siswa kelas IV SDN Pulokalapa I. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengembangan sikap pecaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. 4. Interaksi siswa kelas IV SDN Pulokalapa I pada saat pembelajaran berlangsung hanya satu arah. Hal tersebut dikarenakan siswa kurang aktif dalam mencari dan mengolah sendiri informasi. C. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian 1. Rumusan Masalah Atas dasar latar belakang dan identifikasi masalah sebagaimana telah diutarakan di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Apakah penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku pada pembelajaran 2?” 2. Pertanyaan Penelitian Mengingat rumusan masalah utama sebagaimana telah diutarakan di atas masih terlalu luas sehingga belum secara spesifik menunjukkan batas-batas mana yang harus diteliti, maka rumusan masalah utama tersebut kemudian dirinci dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut: a. Bagaimana pemahaman konsep siswa sebelum siswa mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing? b. Bagaimana respons siswa selama siswa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing? c. Bagaimana aktivitas belajar siswa selama siswa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing? d. Bagaimana aktivitas guru selama guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing? e. Bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa setelah siswa mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing? D. Pembatasan Masalah Memperhatikan hasil di identifikasi masalah, rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah diutarakan, diperoleh gambaran dimensi permasalahan yang begitu luas. Namun, menyadari adanya keterbatasan waktu dan kemampuan, maka dalam penelitian ini penulis memandang perlu member batasan masalah secara jelas sebagai berikut: a. Pemahaman konsep siswa, hasil belajar, dan proses pembelajaran yang diukur dalam penelitian ini adalah asfek kognitif, afektif dan psikomotor. b. Dari sekian banyak tema di kelas IV, dalam penelitian ini hanya akan mengkaji atau menelaah pembelajaran pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku pada pembelajaran 2. c. Obyek dalam penelitian ini hanya akan meneliti pada siswa SD kelas IV di SD Negeri Pulokalapa I Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada tema indahnya kebersamaan di SDN Pulokalapa I kelas IV Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. 2. Tujuan Khusus Adapun secara khusus tujuan penelitian ini sebagai berikut: a. Untuk melihat perencanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat diterapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran kelas IV SDN Pulokalapa I pada subtema keberagaman budaya bangsaku. b. Untuk melihat pelaksanaan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat diterapkan dalam pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun. c. Untuk melihat seberapa besar peningkatan pemahaman konsep dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku kelas IV di SDN Pulokalapa I. F. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih terhadap pembelajaran tematik kelas IV di SDN Pulokalapa I khususnya pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku. Terutama mampu meningkatkan perkembangan pengajaran melalui penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Berdasarkan manfaat teoritis tersebut, diharapkan pembelajaran dengan tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku pada umumnya akan meningkatkan pemahaman konsep siswa dan memperoleh pengembangan bahan ajar secara nyata yang telah dirancang akan dapat tercapai. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti 1) Penelitian ini dapat memberikan gambaran dan pengetahuan tentang model pembelajaran inkuiri terbimbing pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku. 2) Memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian tindakan kelas yang berguna untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. 3) Memberikan masukan dalam mempersiapkan diri sebagai pendidik di masa yang akan datang. 4) Memberikan arahan pengembangan diri dan keprofesionalan seorang guru professional. b. Bagi Guru 1) Sebagai alternatif dari penerapan model pembelajaran di kelas, sehingga proses belajar mengajar di kelas menjadi lebih bervariasi, serta tidak monoton dan tidak terpaku pada model pembelajaran tertentu. 2) Sebagai bahan perbandingan dengan model pembelajaran yang biasa diterapkan, yang pada akhirnya terlihat kemajuan tingkat pemahaman yang dimiliki peserta didik. 3) Sebagai pengatahuan baru bagi guru untuk dapat menggali kekreatifannya dan keinovatifannya dalam mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mencapai kualitas pembelajaran dalam proses belajar mengajar di kurikulum 2013. c. Bagi Peserta Didik 1) Untuk pengetahuan tambahan bahwa ada model pembelajaran yang lebih menarik dan aktif dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional yang biasa diterapkan oleh guru. 2) Untuk menambah motivasi, minat dan prestasi belajar dengan penerapan model pembelajaran yang sudah diterapkan. 3) Untuk menambah keaktifan siswa dalam proses belajar berlangsung melului penerapan model pembelajaran yang menarik. d. Bagi Sekolah 1) Diharapkan mampu memberikan kontribusi dan kualitas pembelajaran yang baik untuk sekulah pada umunya. 2) Diharapakan dapat menumbuhkan dan meningkatkan kerja sama antar guru dengan warga sekolah. 3) Diharapkan dapat menjadi penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada tema indahnya kebersamaan. G. Kerangka atau Paradigma Penelitian Peneliti mengambil penelitian di kelas IV SDN Pulokalapa I dikarenakan banyak permasalahan-permasalahan yang telah diidentifikasi antara lain: pemahaman konsep siswa, rendahnya nilai KKM, respons siswa, dan aktivitas belajar siswa. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan masalah belajar siswa, maka peneliti memilih dan menerapkan metode atau model pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan apa yang menjadi tujuan ketercapaian pembelajaran, karakter siswa, karakteristik sarana dan prasarana pembelajaran dan esensi dari materi ajar. Adapun model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Pembelajaran inkuiri terbimbing menurut Sanjaya (2008: 200) yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaanya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Jadi Inkuiri terbimbing adalah sebagai proses pembelajaran dimana guru menyediakan unsur-unsur asas dalam satu pelajaran dan kemudian meminta pelajar membuat generalisasi. Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dalam waktu yang relatif singkat. Lebih lanjut Gulo, memberikan alasan bahwa pembelajaran inkuiri tidak lepas dari pengembangan proses inkuiri yaitu: “inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, …. termasuk pengembangan emosional dan ketrampilan inkuiri merupakan suatu proses bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.”(Gulo dalam Trianto, 2009, h. 168) Ketercapainya kemampuan guru dalam mengembangkan proses pembelajaran inkuiri tidak terlepas dari pelaksanaan pembelajaran inkuiri sendiri. Di sini peran gurulah yang memegang peranan penting dalam mengondisikan suasana kelas yang aktif dan nyaman. Kerja sama guru dengan siswa, siswa dengan siswa diperlukan juga adanya dorongan secara aktif dari guru. Kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah: (1) asfek social di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi; (2) inkuiri berfokus pada hipotesis; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta). Untuk menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah sebagai berikut: (1) motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir; (2) fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan; (3) penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat; (4) administrator, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas; (5) pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan; (6) manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas; (7) rewarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa. Penetapan model pembelajaran inkuiri terbimbing tersebut diperkuat oleh penelitian terdahulu yang sudah dibuktikan sebelumnya diantaranya yaitu, Ahmad Danuri dari jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) tahun 2010, disebutkan dalam hasil penelitiannya bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan strategi menggunakan permainan dengan rincian hasil belajar siklus I mencapai 65% dan hasil belajar siklus II mencapai 85% nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) siswa. Oleh karena alasan penelitian tersebut, penulis ingin melakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing tetapi dengan fokus permasalahan yang berbeda yatu dengan meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa pada tema indahnya kebersamaan di kelas IV SDN Pulokalapa I Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Menurut Sudjana (2002: 19) pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya menghafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari konsep atau masalah. Instrumen yang digunakan untuk menunjang penelitian tersebut terdiri dari lembar observasi kegiatan siswa saat kegiatan belajar mengajar, lembar observasi kegiatan guru saat kegiatan belajar mengajar, lembar kerja siswa, tes formatif (pilihan ganda, dan essay), serta angket respon siswa terhadap kegiatan belajar mengajar. Dari pemikiran penulis tersebut diatas, maka penulis membuat diagram berikut: Diagram 1.1: Kerangka Berpikir Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada Tema Indahnya Kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku Kesimpulan atas hasil pemikiran penulis yaitu bahwa dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku akan dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas IV SDN PULOKALAPA I Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. H. Asumsi Berdasarkan kerangka pemikiran atau paradigm penelitian sebagaimana diutarakan di atas, maka beberapa asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menurut Gulo (2002) dalam Trianto (2009, h.166) menyatakan bahwa strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. 2. Menurut Sudjana (2002: 19) pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya menghafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari konsep atau masalah. 3. Hasil penelitian Schlenker, dalam Joyce (1992: 198), menunjukan bahwa latihan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi. I. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka penelitian dan asumsi sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada tema indahnya kebersamaan subtema keberagaman budaya bangsaku di kelas IV SDN PULOKALAPA I”. J. Definisi Operasional Untuk menghindari terjadinya salah pengertian terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam variabel penelitian ini, maka istilah-istilah tersebut kemudian didefinisikan sebagai berikut: 1. Model Pembelajaran, adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. (Joyce dalam Trianto 2009, h.22) 2. Inkuiri terbimbing, adalah suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaanya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Jadi Inkuiri terbimbing adalah sebagai proses pembelajaran dimana guru menyediakan unsur-unsur asas dalam satu pelajaran dan kemudian meminta pelajar membuat generalisasi. (Sanjaya 2008: 200) 3. Pemahaman konsep, adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Hal ini siswa tidak hanya menghafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari konsep atau masalah. (Sudjana 2002: 19). BAB II LANDASAN TEORI A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Secara sederhana Robbins, mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah di pahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari definisi ini dimensi belajar memuat beberapa unsur, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2) sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi dalam makna belajar, disini bukan berangkat dari seuatu yang benar-benar belum diketahui (nol), tetapi merupakan keterkaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru. (Romberg & Kaput, 2001). Pandangan Robbins senada dengan apa yang dikemukakan oleh Brunner dalam (Romberg & Kaput, 2001), bahwa belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun (mengkonstruksi) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya. Pandangan konstruktivisme ‘Belajar’ bukanlah semata-mata mentransfer pengetahuan yang ada di luar dirinya, tetapi belajar lebih pada bagaimana otak memproses dan menginterpretasikan pengalaman yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam format yang baru. Proses pembangunan ini bisa melalui asimilasi atau akomodasi (Mc Mahon, 2002). Definisi belajar secara lengkap dikemukakan oleh Slavin (2000: 141), yang mendefinisikan belajar sebagai: Learning is usually defined as a change in an individual caused by experience. Changes caused by development (such as growing taller)are not instances of learning. Neither are characteristic of individuals that are present at birth (such as reflexes and respons to hunger or pain). However, humans do so much learning from the day of their birth (and some say earlier) that learning and development are inseraparably linked. Selanjutnya Slavin juga mengatakan: Learning takes place in many ways. Sometimes it is intentional, as when students acquire information presented in a classroom or when they look something up in the encyclopedia. Sometimes it is unintentional, as in the case of the child’s reaction to the needle. All sorts of learning are going on all the time. Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak lahir dan bahkan ada yang berpendapat sebelum lahir. Bahwa antara belajar dan perkembangan sangat erat kaitannya. Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku yang tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Jadi, belajar disini diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri. Unsur terpenting dalam mengajar ialah merangsang serta mengarahkan siswa belajar. Mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa (Subiyanto, 2003: 30 dalam Trianto 2009) Cara mengajar guru yang baik merupakan kunci dan prasarat bagi siswa untuk dapat belajar dengan baik. Salah satu tolak ukur bahwa siswa telah belajar dengan baik ialah jika siswa itu dapat mempelajari apa yang seharusnya dipelajari, sehingga indikator hasil belajar yang diinginkan dapat dicapai oleh siswa. Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkannya. Dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya. (Trianto, 2009) Dalam konteks inilah kemudian diperlukan kurikulum atau pengetahuan apa yang diinginkan siswa dan bagaimana cara yang efektif untuk mendapatkannya. Alur proses tersebut ditunjukkan pada gambar dibawah ini: Gambar 2.1 Alur Proses Pembelajaran 2. Ciri-ciri Belajar Syaifull Bahri Djamarah (2002), mengemukakan ciri-ciri belajar sebagai berikut: (1) Perubahan yang terjadi secara sadar, (2) Perubahan dalam belajar yang bersifat fungsional, (3) Perubahan dalam belajar yang bersifat positif dan aktif, (4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, (5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah, (6) Perubahan mencakup seluruh asfek tingkah laku. Ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu: 1) Perubahan yang Disadari dan Disengaja (Intensional) adalah perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. 2) Perubahan yang Berkesinambungan (Kontinyu) adalah Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. 3) Perubahan yang Fungsional adalah setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru, 4) Perubahan yang Bersifat Positif adalah perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru, 5) Perubahan yang Bersifat Aktif untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya, 6) Perubahan yang Bersifat Permanen adalah perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut, 7) Perubahan yang Bertujuan dan Terarah adalah individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, 8) Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan adalah perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. (Moh Surya, 2007) Belajar juga tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu. Dengan demikian, maka ciri-ciri belajar juga dapat dirumuskan sebagai berikut. 1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor). 2) Perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan prilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik. Misalnya, seorang anak akan mengetahui bahwa api itu panas setelah ia menyentuh api yang menyala pada lilin. Di samping melalui interaksi fisik, perubahan kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui interaksi psikis. Contohnya, seorang anak akan berhati-hati menyeberang jalan setelah ia melihat ada orang yang tertabrak kendaraan. Perubahan kemampuan tersebut terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Mengedipkan mata pada saat memandang cahaya yang menyilaukan atau keluar air liur pada saat mencium harumnya masakan bukan meruapakan hasil belajar. Di samping itu, perubahan prilaku karena faktor kematangan tidak termasuk belajar. Seorang anak tidak dapat belajar berbicara sampai cukup umurnya. Tetapi perkembangan kemampuan berbicaranya sangat tergantung pada rangsangan dari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan kemampuan belajar. 3) Perubahan tersebut relatif tetap. Perubahan perilaku akibat obat-obatan, minuman keras, dan yang lainnya tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku hasil belajar. Seorang atlet yang dapat melakukan lompat galah melebihi rekor orang lain karena minum obat tidak dapat dikategorikan sebagai hasil belajar. Perubahan tersebut tidak bersifat menetap. Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen. 3. Prinsip Belajar Pertama, prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri: a. Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari b. Kontinyu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya. c. Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup d. Positif atau berakumulasi e. Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan f. Permanen atau tetap, sebagaimana dikatakan oleh Walker (2007: 19), belajar sebagai any relatively permanent change in an organism’s behavioral reperoire that occurs as a result of a experience. g. Bertujuan dan terarah h. Mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan Kedua, belajar merupakan proses. Belajar adalah terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistemik yang dinamis, konstruktif, dan organik. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar. Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara siswa dengan lingkungannya. 4. Efektivitas Pembelajaran Dewasa ini, yang kita lihat bahwa sebagian besar pola pembelajaran masih bersifat transmisif, pengajar mentransfer dan menggeroyokkan konsep-konsep secara langsung pada peserta didik. Menurut pandangan ini, siswa secara pasif “menyerap” struktur pengetahuan yang diberikan guru atau yang terdapat dalam buku pelajaran. Pembelajaran hanya sekadar penyampaian fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan kepada siswa (Clements & Battista, 2001). Senada dengan itu, Soedjadi (2000) menyatakan bahwa dalam kurikulum sekolah di Indonesia terutama pada mata pelajaran eksak ta dan dalam pengajarannya selama ini terpatri kebiasaan dengan urutan sajian pembelajaran sebagai berikut: (1) Diajarkan teori/teorema/definisi; (2) Diberikan contoh-contoh; dan (3) Diberikan latihan soal-soal. Pandangan konstruktivisme memberikan perbedaan yang tajam dan kontras terhadap pandangan tersebut. Prinsip-prinsip dasar pandangan konstruktivisme menurut Suparno (1997) adalah sebagai berikut: a. Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa, baik secara personal maupun secara sosial. b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa menalar c. Siswa aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah. d. Guru berperan sebagai fasilitator menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pengetahuan siswa berjalan mulus. Sistem pembelajaran dalam pandangan konstruktivis Hudojo (2002) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) siswa terlibat aktif dalam belajarnya, (b) Siswa belajar materi (pengetahuan) secara bermakna dengan bekerja dan berpikir, dan (b) informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu dengan schemata yang dimiliki siswa. Implikasi ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstruktivis adalah penyediaan lingkungan belajar yang konstruktif. Lingkungan belajar yang konstruktif adalah lingkungan belajar yang: (1) menyediakan pengalaman belajar yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan, (2) menyediakan berbagai alternative pengalaman belajar, (3) mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistic dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, (4) mengintegrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerja sama antara siswa, (5) memanfaatkan berbagai media agar pembelajaran lebih menarik, dan (6) melibatkansiswa secara emosional dan sosial sehingga materi pembelajaran lebih menarik dan siswa mau belajar. (Hudojo, 2002) Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar (Sadiman, 1987 dalam Irfa’i 2002: 102). Menurut Tim Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1999) dalam Lince (2001: 42), bahwa efisiensi dan keefektifan mengajar adalah segala daya upaya guru untuk membantu para siswa agar bisa belajar dengan baik. Untuk mengetahui keefektifan mengajar, dengan memberikan tes, sebab hasil tes dapat dipakai untuk mengevaluai berbagai aspek proses pengajaran. Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran, yaitu: (1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap kegiatan belajar mengajar, (2) Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa, (3) Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan, dan (4) Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mendukung. (Soemosasmito (2003) dalam Trianto (2009: 20) Guru yang efektif adalah guru yang menemukan cara dan selalu berusaha agar anak didiknya terlibat secara tepat dalam suatu mata pelajaran dengan presentasi waktu belajar akademis yang tinggi dan pelajaran berjalan tanpa menggunakan teknik yang memaksa, negatif atau hukuman (Soemosasmito, 2003: 119). Selain itu, guru yang efektif adalah orang-orang yang dapat menjalin hubungan simpatik dengan para siswa, menciptakan lingkungan kelas yang mengasuh, penuh perhatian, memiliki suatu rasa cinta belajar, menguasai sepenuhnya bidang studi mereka dan dapat memotivasi siswa untuk bekerja tidak sekadar mencapai suatu prestasi namun juga menjadi anggota masyarakat yang pengasih (Kardi dan Nur, 2000a: 5) Sikap diri seperti yang dikatakan Roseshine dan Frust (2000) dalam Soemosasmito (2003: 119), dapat diidentifikasi 5 variabel proses guru yang memperlihatkan keajegan hubungan dengan pencapaian tujuan, yaitu: (1) kejelasan dalam penyajian; (2) kegairahan mengajar; (3) ragam kegiatan; (4) perilaku siswa akan melaksanakan tugas dan kecekatannya; dan (5) kandungan bahan pengajaran yang diliput siswa. Salah satu strategi yang membantu siswa belajar dari teks tertulis dan sumber-sumber informasi yang lain adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sehingga siswa harus berhenti dari waktu ke waktu untuk menilai pemahaman mereka sendiri terhadap teks atau apa yang diucapkan gurunya (Pressley dkk., 2001; Rickard, 2000; Crooks, 1999 dalam Trianto 2009: 21) 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Prestasi belajar yang dicapai oleh anak didik merupakan hasil dari interaksi antara berbagai macam faktor yang mempengaruhinya. Menurut Slameto (2003: 5-7) faktor yang mempengaruhi belajar ada 2 yaitu faktor intern yang terdiri dari faktor jasmani, psikologis, dan kelelahan sedangkan faktor ekstern terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Faktor yang akan diteliti atau menjadi variabel dalam penelitian ini adalah faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern terdiri dari intelegensi, minat, bakat, motivasi sedangkan faktor ekstern terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. a. Faktor Intern Faktor intern adalah kondisi dan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran, yang terdiri dari: 1) Intelegensi Menurut Bischor, (1954: 1) dalam (Dalyono, 2009: 184) intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah. Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dengan situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor diantara faktor-faktor yang lain. Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis kecakapan, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat (Slameto, 2003: 56) Tinggi rendahnya kecerdasan yang dimiliki seorang siswa sangat menentukan keberhasilannya mencapai prestasi belajar, termasuk prestasi-prestasi lain sesuai macam-macam kecerdasan yang menonjol yang ada pada dirinya (Slameto, 2004: 78). 2) Minat Minat adalah sesuatu yang timbul karena keinginan sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain. Menurut Hilgard minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus disertai dengan rasa senang dan dari hal tersebut diperoleh kepuasan (Slameto, 2003: 57). Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya. Ada tidaknya minat siswa terhadap suatu mata pelajaran dapat dilihat dari cara mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, dan konsentrasi terhadap materi pelajaran. Kegiatan yang diminati seseorang, biasanya akan diperhatikan secara terus-menerus dan disertai dengan rasa senang. 3) Bakat Bakat adalah kemampuan yang ada pada seseorang yang dibawanya sejak lahir, yang diterima sebagai warisan dari orang tua (Slameto, 2004: 79). Sedangkan menurut Staton dalam (Sardiman, 2005: 46) bakat adalah kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Jadi bakat adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa sejak lahir diperoleh melalui proses genetik yang akan terealisasi menjadi kecakapan sesudah belajar. 4) Motivasi Motivasi menurut Mc. Donald adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Djamarah 2002: 148). Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Motivasi berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan dan perbuatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Motivasi merupakan daya penggerak/pendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai suatu tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya. b. Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah aspek lingkungan luar siswa yang menentukan hasil belajar, faktor ekstern tersebut terdiri dari: 1) Faktor Lingkungan Keluarga Faktor lingkungan keluarga ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cukup besar terhadap perkembangan siswa. Hal ini diungkapkan oleh Wirowidjoyo dalam Slameto (2003: 61) dengan pernyataannya bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama Keluarga adalah wadah yang sangat penting di antara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya. Sudah barang tentu keluargalah yang pertama-tama menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anak-anak (Ahmadi, 2007: 108). Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, Negara dan dunia. Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya (Slameto, 2003: 60). a) Orang Tua Peningkatan belajar anak membutuhkan adanya dukungan dan perhatian dari orang tua, adanya dukungan dan perhatian dari orang tua tentu sangat berpengaruh terhadap perilaku dan prestasi anak. Salah satu dukungan dan perhatian orang tua terhadap anak adalah dengan memperhatikan dan mengingatkan anak untuk belajar dengan rajin, hal ini merupakan bukti bahwa orang tua peduli terhadap tugas anak yaitu belajar untuk mencapai hasil yang optimal. b) Suasana Rumah Suasana rumah yang dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana anak berada dan belajar (Slameto, 2003: 63). Suasana rumah yang tenang dan hubungan yang harmonis antar sesame anggota keluarga akan senantiasa membuat anak merasa betah untuk belajar di rumah. Sudah pasti hal ini akan memberikan pengaruh yang baik untuk prestasi belajar anak, akan tetapi sebaliknya apabila suasana rumah terlalu ramai, sering terjadi ketegangan dan pertengkaran tidak mungkin anak akan dapat belajar dengan baik karena konsentrasinya terganggu dan akibatnya prestasi belajar menurun. c) Keadaan Ekonomi Keluarga Keadaan ekonomi keluarga sangat erat hubungannya dengan kegiatan belajar anak. Keadaan ekonomi orang tua siswa yang serba kekurangan dan pas-pasan akan menghambat kemajuan seorang anak dalam belajar, karena banyak kebutuhan belajar yang tidak terpenuhi. Keadaan semacam ini akan senantiasa membuat anak menjadi kurang semangat dalam belajar, sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. 2) Faktor Lingkungan Sekolah Sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberikan pengaruh pada prestasi belajar siswa (Slameto, 2004: 81). Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup guru, alat/media, kondisi gedung dan kurikulum. a) Guru Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik. Dengan ilmu yang dimilkinya seorang guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang pintar. Kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar mengajar di kelas, karena hal ini mempengaruhi pola kepemimpinan guru ketika mengajar di kelas. Ada guru yang menyampaikan materi dengan sangat jelas sehingga mudah diterima oleh siswanya begitu pula sebaliknya ada guru yang menyampaikan materi kurang jelas sehingga siswa kurang mampu memahami dan cenderung bingung, penyampaian materi yang kurang baik ini tentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. b) Alat/media Pengajaran Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik serta dapat belajar dengan baik pula (Slameto, 2003: 67). c) Kondisi Gedung Kondisi gedung sekolah merupakan keseluruhan ruang yang ada di sekolah yang dapat menunjang ataupun menghambat belajar anak di sekolah. Kondisi gedung yang kokoh, kuat dan memenuhi syarat kesehatan yang baik diantaranya seperti ventilasi udara yang baik, sinar matahari yang dapat masuk, serta penerangan yang cukup menjadikan siswa merasa nyaman di dalam belajar, kondisi gedung yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula terhadap proses dan prestasi belajar siswa yang menempatinya. Udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan, dinding yang bersih, lantai tidak becek atau kotor, jauh dari keramaian (pasar, bengkel, pabrik dan lain-lain), sehingga anak lebih konsentrasi dalam belajarnya (Slameto, 2003: 69). d) Kurikulum Kurikulum diartikan :sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa” (Slameto, 2003: 65). Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar. Kurikulum yang kurang baik itu misalnya komposisi materi yang terlalu padat, tidak seimbang, dan tingkat kesulitan diatas kemampuan siswa. Disinilah peran guru untuk menyampaikan materi dalam kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga akan membawa keberhasilan dalam belajar. 3) Faktor Lingkungan Masyarakat Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Lingkungan masyarakat yang dapat menhambat kemajuan belajar anak (Slameto, 2003: 70-71) yaitu: a) Media Massa Media massa seperti bioskop, radio, televisi, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Media massa yang baik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. b) Teman Bergaul Teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek akan berpengaruh jelek terhadap diri siswa. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka perlulah diusahakan agar siswa memiliki teman bergaul yang baik-baik. c) Lingkungan Tetangga Lingkungan tetangga juga mempengaruhi belajar siswa. Corak kehidupan misalnya suka main judi, minum-minuman keras, menganggur, tidak suka belajar akan berpengaruh akan berpengaruh negatif bagi anak-anak yang sekolah. Namun sebaliknya jika lingkungan anak adalah orang-orang terpelajar yang baik-baik, mereka mendidik dan menyekolahkan anaknya, antusias dengan cita-cita ke masa depan anaknya, pengaruh itu akan mendorong semangat anak untuk belajar lebih giat lagi. d) Aktivitas Siswa di Masyarakat Aktivitas siswa di masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain, maka belajarnya akan terganggu lebih-lebih jika tidak pandai dalam mengatur waktunya. B. Model Pembelajaran 1. Pengertian Secara harfiah model dimaknakan sebagi objek atau konsep yang digunakan untuk mempresentasikan sesuatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif (Trianto, 2009). Sebagai contoh, model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik, dan lem adalah model nyata dari pesawat terbang. Contoh lain adalah ide politik, opini publik diibaratkan sebagai sebuah pendulum sebab ia berubah-ubah tiap periodiknya dari kiri ke kanan begitu terus berkelanjutan. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Trianto 2009: 22) Selanjutnya, Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Adapun Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan demikian, aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar. Arends (2002: 7) menyatakan, “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, ayntax, environment, and management system.” Istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaannya. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat cirri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah: (1) Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, (2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), (3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan (4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. (Kardi dan Nur, 2000: 9) Pengajaran suatu pokok bahasan (materi) tertentu harus dipilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan-pertimbangan. Misalnya: materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, dan sarana atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. (Hamalik, 2003) Hal yang sangat penting bagi para pengajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang model pembelajaran yang telah diketahui. Karena dengan menguasai beberapa model pembelajaran, maka seorang guru dan dosen akan merasakan adanya kemudahan di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam proses pembelajaran dapat tercapai dan tuntas sesuai yang diharapkan. Implementasinya di lapangan, model-model pembelajaran di atas bisa diterapkan secara sendiri-sendiri, dan bisa juga merupakan gabungan dari beberapa model tersebut sesuai dengan sifat dan karakteristik dari materi yang akan dipelajari. 2. Model Pembelajaran Inkuiri Model pembelajaran inkuiri ilmiah (Scientific Inkuiri Learning Model) merupakan salah satu model yang memenuhi karakteristik dasar suatu model dan kondusif bagi pengimplementasian pendekatan kontruktivisme. Model inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Suchman pada tahun 1962 yang memandang hakikat belajar sebagai latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan. Suchman (2001) mengemukakan inti gagasan model inkuiri adalah (1) siswa akan bertanya (inquire) bila mereka dihadapkan pada masalah yang membingungkan, kurang jelas atau kejadian aneh (discrepant event); (2) siswa memiliki kemampuan untuk menganalisis strategi berpikir mereka; (3) strategi berpikir dapat diajarkan dan ditambahkan kepada siswa, dan (4) inkuiri dapat lebih bermakna dan efektif apabila dilakukan dalam konteks kelompok. a. Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Ahmadi dalam Ismawati (2007: 35) mengatakan bahwa inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan, dan inkuiri berarti penyelidikan. Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Model inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang menitikberatkan kepada aktifitas siswa dalam proses belajar. Tujuan umum dari pembelajaran inkuiri adalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir intelektual dan keterampilan lainnya seperti mengajukan pertanyaan dan keterampilan menemukan jawaban yang berawal dari keingin tahuan mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh Joyce dalam Cahyono (2010: 16) menyatakan bahwa “ The general goal of inkuiri training is to help students develop the intellectual discipline and skills necessary to raise questions and search out answers stemming from their curiosity” Dalam pembelajaran inkuiri diharapkan siswa secara maksimal terlibat langsung dalam proses kegiatan belajar, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa tersebut dan mengembangkan sikap percaya diri yang dimiliki oleh siswa tersebut. Carin dan Sund dalam Ismawati (2007: 36) berpendapat bahwa pembelajaran model inkuiri mencakup inkuiri induktif terbimbing

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 12 Jul 2016 03:28
Last Modified: 12 Jul 2016 03:28
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5500

Actions (login required)

View Item View Item