PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING ( PJBL ) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SDN HALIMUN BANDUNG PADA SUB TEMA WUJUD BENDA DAN CIRINYA

HANIFA, 105060239 (2016) PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING ( PJBL ) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SDN HALIMUN BANDUNG PADA SUB TEMA WUJUD BENDA DAN CIRINYA. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
COVER.docx

Download (36kB)
[img] Text
cover,pengesahan, pernyataan, motto.rtf

Download (750kB)
[img] Text
abstrak, daftar isi, ucapan,.rtf

Download (360kB)
[img] Text
abstrak, daftar isi, ucapan,.rtf

Download (360kB)
[img] Text
BAB I HANIFA.docx

Download (31kB)
[img] Text
BAB II HANIFA.docx

Download (660kB)
[img] Text
BAB III HANIFA.docx
Restricted to Repository staff only

Download (91kB)
[img] Text
BAB IV HANIFA.docx
Restricted to Repository staff only

Download (490kB)
[img] Text
BAB V HANIFA.docx
Restricted to Repository staff only

Download (28kB)
[img] Text
Daftar pustaka skripsi.docx

Download (14kB)
[img] Text
Riwayat hidup skripsi.docx

Download (79kB)

Abstract

Oleh: Hanifa 105060239 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di SDN Halimun Bandung khususnya di kelas V pada subtema wujud benda dan cirinya dengan menggunakan model project based learning. Penelitian ini dilatar belakang dengan adanya temuan bahwa sekolah ini belum menerapkan kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013-2014, selain itu berdasarkan hasil temuan dalam kegiatan observasi yang mendeskripsikan masih kurangnya motivasi dan prestasi belajar siswa yang disebabkan karena guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga motivasi belajar siswa masih rendah yang menyebabkan siswa menjadi bosan dan malas untuk mengikuti pembelajaran. Penelitian ini berlangsung dalam 3 siklus, setiap siklusnya terdiri dari 1 kali pertemuan atau pembelajaran. adapaun tahapnya terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, analisis dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, tes dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Jika dilihat dari hasil belajar kognitif proses pada siklus I dari jumlah siswa 28 orang, siswa yang mencapai KKM 57,14%. Pada siklus II yang mencapai KKM 82,14%. Sedangkan pada siklus III yang mencapai KKM 100%. Hasil belajar afektif pada siklus I siswa yang memperoleh kriteria baik atau 67,18%, pada siklus II siswa yang memperoleh kriteria baik 72,32% dan pada siklus III siswa yang memperoleh kriteria baik 85,04%. Hasil belajar psikomotor pada siklus 3 siswa yang memperoleh kriteria baik 10,71%, pada siklus II 21 siswa yang memperoleh kriteria baik 39, 28% dan siklus III siswa yang memperoleh kriteria baik 42,85%. Hasil belajar kognitif produk pada siklus I diperoleh 71,42% yang mencapai KKM, pada siklus II siswa yang mencapai KKM 82,14%, dan siklus III siswa yang mencapai KKM 100%. Sedangkan dari motivasi belajar siswa pada siklus I siswa yang memperoleh kriteria baik sebanyak 9 siswa atau 32,14%, pada siklus II siswa yang memperoleh kriteria baik sebanyak 16 siswa atau 57,14% dan siklus III siswa yang memperoleh kriteria baik sebanyak 26 siswa atau 92,86%. Dari penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model project based learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Halimun Bandung pada subtema wujud benda dan cirinya. Kata Kunci: Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa, Model Project Based Learning, Pembelajaran Tematik KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada proses belajar ada tujuan belajar dan pembelajaran yang harus dicapai. Keberhasilan seorang pendidik dalam mencapai tujuan dari proses pembelajaran dapat dilihat dari nilai peserta didik dan perubahan tingkah lakunya. Sejalan dengan perkembangan paradigma dunia tentang makna pendidikan, pendidikan dihadapkan ada sejumlah tantangan yang semakin berat. Salah satu tantangan nyata tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang utuh. Berbeda dengan beberapa decade yang lalu, kompetensi yang diharapkan dimiliki sumber daya manusia saat ini lebih dititikberatkan pada kompetensi berpikir dan komunikasi. Kompetensi berpikir artinya bahwa diharapkan sumber daya manusia memiliki pengetahuan yang luas, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berpikir kreatif. Kompetensi komunikasi artinya bahwa sumber daya manusia hendaknya memiliki kemampuan berkomunikasi dalam rangka bekerja dan menyampaikan ide- ide kritis kreatifnya. Menurut Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 mengemukakan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pembelajaran dalam konteks kurikulum 2013 diorientasikan untuk menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Pembelajaran yang bersifat mendorong siswa mencari tahu merupakan pembelajaran aktif dan konstruktif. Ditinjau dari standar proses, sasaran pembelajaran dalam kurikulum 2013 mencakup pengembangan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Oleh sebab itu, proses pembelajaran yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi difokuskan pada pembinaan sikap, keterampilan, dan pengetahuan melalui penerapan model pembelajaran yang tepat. Proses belajar tidak hanya terjadi diruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Oleh karenanya dalam pembelajaran yang mengimpelentasikan kurikulum 2013, guru bukan satu-satunya sumber belajar. Jika kita lihat kondisi pendidikan Indonesia masih saja memprihatinkan, terutama mengenai fasilitas pendidikan di daerah- daerah, baik sarana maupun prasarana pendidikan. Masih saja terdengar kabar ada bangunan sekolah yang tidak layak untuk digunakan. Untuk mengatasi berbagai kekurangan ini, pemerintah pun mengupayakan berbagai hal agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa berkembang dan maju. Misalnya dengan memberikan bantuan- bantuan dalam pos pendidikan untuk meringankan biaya sekolah. Tak hanya itu, kualitas guru pun ditingkatkan dengan berbagai pelatihan untuk menambah kemampuan guru dalam menyampaikan mata pelajaran ke siswa-siswinya. Menurut Undang- undang No 14 Tahun 2005, tentang guru dan dosen bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan pancasila dan Undang- undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peran guru sebagai pendidik merupakan peran- peran yang berkaitan dengan tugas- tugas memberi bantuan dan dorongan. Tugas- tugas pengawasan dan pembinaan serta tugas- tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak, agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan –aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Setiap anak mengharapkan guru mereka menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu, tingkah laku pendidik baik guru, orang tua maupun masyarakat harus sesuai dengan norma- norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan Negara. Ketika tugas guru itu dilaksanakan secara bersama- sama dalam kesatuan organisasi harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi fasilitator, motivator dan dinamisator. Jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai- nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik itu pada akhirnya mampu memilih nilai- nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat. Hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru ketika mengajar adalah mempersiapkan segala sesuatunya demi kelancaran proses belajar mengajar, yaitu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, silabus, bahan ajar, media, dan sebagainya. Proses kegiatan belajar mengajar harus sesuai dengan RPP yang dibuat, waktu dan pelaksanaannya juga harus sesuai. Yang menjadi acuan guru ketika mengajar adalah kurikulum dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Menurut permendiknas Nomor 81 A Tahun 2013 pasa 1 tentang Implementasi Kurikulum, mengemukakan bahwa: Implementasi kurikulum pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTS), sekolah menengah atas/madrasah Aliyah (SMA/MA), dan sekolah menengah kejuruan/madrasah Aliyah kejuruan (SMK/MAK) dilakukan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014. Menurut kemdikbud dalam Husamah & Yanur (2013:17), mengatakan: Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi serta daerah kabupaten/kota, sehingga: a) pemerintah bertanggung jawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melakukan kurikulum, b) pemerintah bertanggung jawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional, c) pemerintah provinsi bertanggung jawab dalam melakukan supervise dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di provnsi terkait, d) pemerintah kabupaten/kotaa bertanggung jawab dalam memberikan bantuan professional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/ kota terkait. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 76 Tahun 2013 menegaskan bahwa kurikulum 2013 untuk sekolah dasar didesain dengan menggunakan pembelajaran tematik terpadu. Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis dari pada model pembelajaran terpadu. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. (Depdiknas, 2006:5) Jadi kesimpulan pembelajaran Tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dalam pembelajaran tematik guru tidak mengenalkan pelajaran yang sedang diajarkan tetapi menyebutkan tema unutk hari itu. Disini guru harus lebih kreatif membuat pembelajaran yang menghubungkan pembelajaran satu ke pelajaran lainnya sehingga harus membuat siswa aktif dalam pembelajaran. “Bos dan Kraus dalam Yunus Abidin (2014: 167) mendefinisikan bahwa : Model Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai sebuah model pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang bersifat open-ended dan mengaplikasi pengetahuan mereka dalam mengerjakan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk otentik tertentu. Model pembelajaran ini lebih jauh dipandang sebagai model pembelajaran yang sangat baik digunakan untuk mengembangkan motivasi belajar, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, dan membiasakan siswa mendayagunakan kemampuan berpikir tinggi.” Jadi model Proyek Based Learning menuntut siswa dalam hal mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, inovatif dan membina daya kreativitas produktif siswa. Agar dapat mencapai pada penyelesaian masalah yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam proses penelitian ini peneliti mengukur kemampuan siswa dengan memotivasi agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran baik individu maupun kelompok. Jika siswa sudah termotivasi dalam proses pembelajaran maka siswa akan mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik. Gray dkk (Abdorrakhman Gintings, 2007: 88) yaitu: “ motivasi merupakan hasil sejumlah proses, yang bersifat internal atau eksternal bagi seseorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusianisme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu” Jadi, pengertian motivasi dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu daya penggerak aktif yang muncul baik dari dalam maupun dari luar dirinya yang berupa semangat dan kegigihan perilaku untuk mengarahkan kepada tingkah laku dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Mulyasa (2013: 189) menyatakan bahwa: “Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan belajar pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.” Penulis akan melakukan penelitian di SD Halimun Bandung, SD Halimun ini merupakan sekolah yang bertaraf nasional. Pada tahun 2013 SD Halimun sudah menerapkan kurikulum 2013 di kelas I dan kelas IV, SD Halimun ini juga dijadikan sebagai tempat PPL Mahasiswa UNPAS jurusan PGSD sehingga selama 3 bulan, penulis secara tidak langsung ikut serta dan belajar menerapkan kurikulum 2013 di Sekolah tersebut dengan bantuan guru pamong. Sebagian besar guru- guru yang diamanahkan di kelas I & IV ini sudah bisa menerapkan kurikulum 2013, sedangkan guru yang lainnya yang masih diamanahkan di kelas 2, 3, 5 dan 6 belum bisa memahami kurikulum 2013 karena masih menggunakan KTSP. Diharapkan dengan model Project Based Learning ini dapat menjadikan pengetahuan dan pembelajaran bermakna serta relevan bagi siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan belajar para siswa melalui serangkaian kegiatan merencanakan, melaksanakan penelitian, dan menghasilkan produk tertentu yang dibingkai dalam satu wadah berupa proyek pembelajaran. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti sebagai penulis ingin menerapkan kurikulum 2013 yang meliputi tiga aspek yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan dengan model project Based Learning (PJBL) yang berjudul : “Penerapan Model Project Based Learning (PJBL) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas V SDN Halimun Bandung Pada Sub Tema Wujud Benda dan Cirinya”. B. IDENTIFIKASI MASALAH Peneliti merumuskan permasalahan Motivasi dan Prestasi Belajar pada subtema tentang Wujud Benda dan Cirinya, Sebagai strategi dalam menanggulangi hal tersebut maka tindakan yang diterapkan adalah sebagai berikut: 1. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning 2. Mengingkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pada Pembelajaran Tematik dalam proses pembelajaran. 3. Apakah dengan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning dapat meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pada Subtema Wujud Benda dan Cirinya pada siswa kelas V SDN Halimun? C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “ Apakah dengan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning dapat meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Subtema Wujud Benda dan Cirinya pada siswa Kelas V SD Halimun ?” Permasalahan tersebut merupakan permasalahan pokok yang kemudian akan dijadikan kajian utama dalam penelitian tindakan kelas ini. Dalam proses pelaksanaan permasalahannya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Bagaimana menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning (PJBL) pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya agar motivasi dan Prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun dapat meningkat? 2. Bagaimana menerapkan model Pembelajaran Berbasis Project Based learning (PJBL) pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya agar motivasi dan Prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun dapat meningkat? 3. Adakah peningkatan motivasi belajar siswa kelas V SDN Halimun pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya setelah diterapkannya model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning (PJBL)? 4. Adakah peningkatan prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun pada sub tema Wujud Benda dan cirinya setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis Project Based Learning (PJBL)? D. PEMBATASAN MASALAH Agar penelitian lebih terarah dan tidak terlampau meluas, maka penelitian dibatasi sebagai berikut: 1. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PJBL). 2. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya. 3. Motivasi dan Prestasi Belajar siswa yang menjadi fokus pada penelitian ini. E. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Secara umum tujuan penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana penerapan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning dapat meningkatkan motivasi dan Prestasi belajar dalam Subtema Wujud Benda dan Cirinya di sekolah melalui penelitian tindakan kelas. 2. Tujuan Khusus a. Untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning (PJBL) pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya agar motivasi dan Prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun dapat meningkat? b. Untuk menerapkan model Pembelajaran Berbasis Project Based learning (PJBL) pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya agar motivasi dan Prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun dapat meningkat? c. Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDN Halimun pada sub tema Wujud Benda dan Cirinya setelah diterapkannya model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning (PJBL)? d. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN Halimun pada sub tema Wujud Benda dan cirinya setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis Project Based Learning (PJBL)? F. MANFAAT PENELITIAN Berdasarkan masalah penelitian dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, bahwa model Project Based Learning (PJBL) pada pembelajaran tematik SD di kelas V dapat digunakan sebagai salah satu teknik untuk meningkatkan motivasi dan Prestasi belajar siswa pada tema indahnya kebersamaan sub tema keberagaman budaya bangsaku Kelas V SDN Halimun. Dalam model ini siswa belajar atau mengerjakan tugas tidak secara individu melainkan secara berdiskusi atau berkelompok sehingga siswa dilatih untuk memiliki kemampuan seperti kemampuan berpikir logis, kritis dan kemampuan untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan teman sekelompoknya. Menambah pengetahuan di dunia Ilmu Pengetahuan dan meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti Bagi peneliti manfaat yang dapat diperoleh yaitu menambah wawasan pengalaman, bagaimana cara meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada tema indahnya kebersamaan sub tema Wujud benda dan Cirinya kelas V SDN Halimun, mencari data-data referensi serta memunculkan motivasi belajar siswa untuk lebih semangat. Selain itu, juga dapat menambah pengetahuan dan keterampilan lebih dari sebelumnya tentang model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) dan bagaimana penerapannya dalam kegiatan pembelajaran. b. Bagi Siswa Hasil penelitian ini dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada tema Benda- benda di lingkungan sekitar sub tema wujud benda dan ciirnya kelas V, melalui kegiatan penelitian untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu proyek pembelajaran tertentu. c. Bagi Guru Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternative dalam pembelajaran tematik pada siswa kelas V dengan tema benda- benda di lingkungan sekitar sub tema wujud benda dan ciirnya. Serta dapat memperoleh wawasan dan pengalaman dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Tematik yang lebih kreatif dan efektif, dan inovatif. Meningkatkan professional guru dalam pembelajaran, dan para guru diharapkan dapat menggunakan model Project Based Learning (PJBL). d. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang model- model pembelajaran, meningkatkan mutu dan fungsi SD, sebagai sumber inspirasi bagi sekolah dalam upaya perbaikan kualitas pada pembelajaran tematik, mendorong sekolah agar berupaya menyediakan sarana dan prasarana demi kelancaran proses kegiatan belajar mengajar. BAB II KAJIAN TEORI A. KAJIAN TEORI 1. Model Project Based Learning (PJBL) a. Pengertian Project Based Learning Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) adalah model pembelajaran yang secara langsung melibatkan siswa dalam proses pembelajaran melalui kegiatan penelitian untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu proyek pembelajaran tertentu. Menurut Boss dan Kraus dalam Yunus Abidin (2013:167) mendefinisikan; Model Project Based Learning sebagai sebuah model pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang bersifat open-endeed dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam mengerjakan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk otentik tertentu. Menurut Gandini dalam Yunus Abidin (2013:168): memandang model project Based Learning sebagai sebuah model pembelajaran yang berfungsi sebagai tulang punggung bagi pengembangan pengalaman siswa dalam belajar dan guru dalam mengajar. Menurut Helm dan Katz dalam Yunus Abidin (2013:168) menyatakan bahwa Model Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang secara mendalam menggali nilai- nilai dari suatu topic tertentu yang sedang dipelajari. Kata kunci dalam model ini adalah adanya kegiatan penelitian yang sengaja dilakukan oleh siswa dengan focus pada upaya mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan guru. Menurut Simkins, et al. dalam Yunus Abidin (2013:168) yang menyatakan bahwa Model Project Based Learning sebuah model pembelajaran yang digunakan sebagai sarana bagi siswa untuk beroleh seperangkat pengetahuan dan keterampilan belajar yang baru melalui serangkaian aktivitas merancang, merencanakan, dan memproduksi produk tertentu. Menurut Diffily and Sassman dalam Yunus Abidin (2013:168) menjelaskan bahwa model pembelajaran ini memiliki tujuh karakteristik sebagai berikut: a. Melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran b. Menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata c. Dilaksanakan dengan berbasis penelitian d. Melibatkan berbagai sumber belajar e. Bersatu dengan pengetahuan dan keterampilan f. Dilakukan dari waktu ke waktu g. Diakhiri dengan sebuah produk tertentu Senada dengan karakteristik di atas, Kemendikbud dalam Yunus Abidin (2013:169) menjelaskan bahwa Model Project Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik c. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. d. Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengkases dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinu f. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan g. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Berdasarkan karakteristtik tersebut, MacDonell dalam Yunus Abidin (2013:169) menjelaskan bahwa Model Project Learning merupakan model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan tingkat perkembangan berpikir siswa dengan berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga memungkinkan mereka untuk beraktivitas sesuai dengan keterampilan, kenyamanan, dan minat belajarnya. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri proyek yang akan dikerjakannya baik dalam hal merumuskan pertanyaan yang akan dijawab, memilih topic yang akan diteliti, maupun menentukan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong siswa berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan siswa tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek. Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan, Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang diorientasikan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan belajar para siswa melalui serangkaian kegiatan merencanakan, melaksanakan penelitian, dan menghasilkan produk tertentu yang dibingkai dalam satu wadah berupa proyek pembelajaran. b. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning Pendapat lain yang menjelaskan konsep model pembelajaran berbasis Project Based Learning (PJBL) adalah pendapat Simkins dalam Yunus Abidin (2013:168). Yang menyatakan bahwa Model pembelajaran Project Based Learning sebuah model yang digunakan sebagai sarana bagi siswa untuk beroleh seperangkat pengetahuan dan keterampilan belajar yang baru melalui serangkaian aktivitas merancang, merencanakan, memproduksi produk tertentu. Dalam praktiknya model ini akan melibatkan tujuh dimensi pembelajaran meliputi kurikulum inti, keterhubungan dengan dunia nyata, memperpanjang waktu belajar, pembuatan keputusan oleh siswa, keterampilan berkolaborasi, penilaian, dan produk yang dihasilkan. Sejalan dengan konsep yang dikemukakan Simkins di atas, Diffily and Sassman dalam Yunus Abidin (2013:168), menjelaskan bahwa model pembelajaran ini memiliki tujuh karakteristik sebagai berikut. a. Melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran b. Menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata c. Dilaksanakan dengan berbasis penelitian d. Melibatkan berbagai sumber belajar e. Bersatu dengan pengetahuan dan keterampilan f. Dilakukan dari waktu ke waktu g. Diakhiri dengan sebuah produk tertentu. Senada dengan karakteristik di atas, kemendikbud dalam Yunus Abidin (2013:169) menjelaskan bahwa model Project Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut. a. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. c. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. d. Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinu. f. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. g. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan. Berdasarkan karakteristik tersebut, dapat disimpulkan bahwa model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri proyek yang akan dikerjakannya baik dalam hal merumuskan pertanyaan yang akan dijawab, memilih topik yang akan diteliti, maupun menentukan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong siswa berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan siswa tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek. c. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning Sebagai model yang telah lama diakui kekuatannya dalam mengembangkan kompetensi siswa, banyak ahli mengungkapkan keunggulan model ini. Helm dan Kazt dalam Yunus Abidin (2013:170) memandang model ini memiliki keunggulan yakni dapat digunakan untuk mengembangkan: a) Kemampuan akademik siswa, b) social emosional siswa, dan c) berbagai keterampilan berpikir yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan nyata. Menurut Boss dan Kraus dalam Yunus Abidin (2013:170) menyatakan keunggulan model ini sebagai berikut: a) model ini bersifat terpadu dengan kurikulum sehingga tidak memerlukan tambahan apapun dalam pelaksanaannya. b) Siswa terlibat dalam kegiatan dunia nyata dan mempraktikan strategi otentik secara disiplin. c) Siswa bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah yang penting baginya. d) Teknologi terintegrasi sebagai alat untuk penemuan, kolaborasi, dan komunikasi dalam mencapai tujuan pembelajaran penting dalam cara- cara baru. e) Meningkatkan kerja sama guru dalam merancang dan mengimplementasikan proyek- proyek yang melintasi batas- batas geografis atau bahka melompat zona waktu. Keunggulan model ini juga dikemukakan oleh MacDonell dalam Yunus Abidin (2013:170) yakni bahwa model ini diyakini mampu meningkatkan kemampuan: a) Mengajukan pertanyaan, mencari informasi dan menginterpretasikan informasi (visual dan tekstual) yang mereka lihat, dengar atau baca. b) Membuat rencana penelitian, mencatat temuan, berdebat, berdiskusi, dan membuat keputusan. c) Bekerja untuk menampilkan dan mengontruksi informasi secara mandiri. d) Berbagai pengetahuan dengan orang lain, bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, dan mengakui bahwa setiap orang memiliki keterampilan tertentu yang berguna untuk proyek yang sedang dikerjakan. e) Menampilkan semua disposisi intelektual dan social yang penting yang dibuthkan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Berkenaan dengan keunggulan model ini, kemendikbud dalam Yunus Abidin (2013:171) lebih lanjut merinci keunggulan model ini sebagai berikut: a) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai. b) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah c) Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem- problem yang kompleks. d) Meningkatkan kolaborasi e) Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikan keterampilan komunikasi. f) Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. g) Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber- sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. h) Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara komplek dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. i) Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi menunjukan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. j) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menimati proses pembelajaran. Selain dipandang memiliki keunggulan, model ini masih dinilai memiliki kelemahan- kelemahan sebagai berikut. a) Memerlukan banyak waktu dan biaya b) Memerlukan banyak media dan sumber belajar c) Memerlukan guru dan siswa yang sama- sama siap belajar dan berkembang d) Ada kekhawatiran siswa hanya akan menguasai satu topic tertentu yang dikerjakannya. Dalam konteks kurikulum 2013 penerapan model ini diyakini akan terlalu sulit. Hal ini akan disebabkan oleh kenyataan bahwa waktu belajar telah ditambah, media dan sumber belajar akan dilengkapi pemerintah, guru akan dilatih secara khusus, dan model ini harus dipadukan dengan model kooperatif. Berdasarkan kenyataan ini Model Berbasis Project Learning dapat secara baik diimplementasikan dalam proses pembelajaran kurikulum 2013. Jadi dapat disimpulkan bahwa, dari beberapa uraian di atas keunggulan dari model PJBL adalah meningkatkan motivasi belajar peserta didik, membuat peserta didik menjadi lebih aktif serta meningkatkan kolaborasi. Sedangkan kelemahan dalam model ini yaitu memerlukan banyak waktu dan biaya, memerlukan banak media dan sumber belajar, serta memerlukan guru dan siswa yang sama- sama siap belajar dan berkembang. d. Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning Sintaks adalah tingkah laku yang ditampakan dari suatu langkah. Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning dalam gambar sebagai berikut. Bagan 2.1 Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan kembali bahwa tahapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek adalah Sebagai berikut. a) Praproyek. Tahapan ini merupakan kegiatan yang dilakukan guru di luar jam pelajaran. Pada tahap ini guru merancang deskripsi proyek, menentukan batu pijakan proyek, menyiapkan media dan berbagai sumber belajar, dan menyiapkan kondisi pembelajaran. b) Fase 1: Mengidentifikasi Masalah Pada tahap ini siswa melakukan pengamatan terhadap objek tertentu. Berdasarkan pengamatannya tersebut siswa mengidentifikasi masalah dan membuat rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan. c) Fase 2: Membuat Desain dan Jadwal Pelaksanaan Proyek Pada tahap ini secara kolaboratif baik dengan anggota kelompok ataupun dengan guru mulai merancang proyek yang akan mereka buat, menentukan penjadwalan proyek, dan melakukan aktivitas persiapan lainnya. d) Fase 3: Melaksanakan Penelitian Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan penelitian awal sebagai model dasar bagi produk yang akan dikembangkan. Berdasarkan kegiatan penelitian tersebut mengumpulkan data selanjutnya menganalisis data tersebut sesuai dengan teknik analisis data yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. e) Fase 4: Menyusun Draft/Prototipe Produk Pada tahap ini siswa mulai membuat produl awal sebagaimana rencana dan hasil Penelitian yang dilakukannya. f) Fase 5: Mengukur, Menilai, dan Memperbaiki Produk Pada tahap ini siswa melihat kembali produk awal yang dibuat, mencari kelemahan, dan memperbaiki produk tersebut. Dalam praktiknya, kegiatan mengukur dan menilai produlk dapat dilakukan dengan meminta pendapat atau kritik dari anggota kelompok lain atau pendapat guru. g) Fase 6: Finalisasi dan Publikasi Produk Pada tahap ini siswa melakukan finalisasi produk. Setelah diyakini sesuai dengan harapan, produk publikasikan. h) Pascaproyek Pada tahap ini guru menilai, memberikan penguatan, masukan, dan saran perbaikan atas produk yang telah dihasilkan siswa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, sintaks model pembelajaran Project Based Learning ada beberapa tahapan. Pada tahap yang pertama yaitu prapoyek, kemudian dilanjutkan dengan Fase 1 sampai Fase 6, setelah itu Pascaproyek. e. Implementasi Model, Prinsip Reaksi, Sistem Lingkungan, dan Dampak Model Pembelajaran Berbasis Project a. Implementasi Model Pelaksanaan penerapan Model Pembelajaran membutuhkan waktu antara 140- 200 menit yang berlangsung dalam 1- 4 kali pertemuan. Untuk efektifitas pelaksanaannya, jadwal pembelajaran dilaksanakan 2 kali dalam seminggu. Dalam implementasinya guru dan siswa harus memiliki kemampuan kreatif yang tinggi, terbuka menerima pendapat orang lain, dan memiliki semangat bekerja baik secara individu maupun secara kooperatif. Selama penerapan model, guru harus mencatat berbagai aktivitas dan hasil kerja siswa untuk mengatur dan mengikat pola berpikir dan pola kebiasaan belajar serta mencoba mempengaruhi siswa secara psikologis agar mereka terbiasa beraktivitas dengan baik. Sebagai tambahan, guru juga harus memberikan doorngan kepada siswa yang kurang bersemangat beraktivitas sehingga siswa mampu membangun perspektif yang segar pada masalah yang dibahasnya. b. Prinsip Reaksi Reaksi dari guru yang dibutuhkan pada setiap tahapan pembelajaran. Reaksi utama yang diharapkan dari guru adalah mengusahakan membangkitkan kemampuan kritis, kreatif, dan produktif siswa sebagai alat proses berpikir. Lebih khusus reaksi guru yang diperlukan dalam implementasi model ini ialah (1) guru harus menciptakan suasana kooperatif bukan kompetitif; (2) guru harus meningkatkan kesadaran siswa untuk membuat rumusan hasil kajian yang terbuka untuk sebuah perbaikan; dan (3) mencari keunikan siswa dan menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian. c. System Lingkungan System lingkungan belajar yang diharapkan tersedia adalah ketersediaan media pembelajaran yang relevan, lembar kerja proses yang lengkap secara individu, dan situasi pembelajaran yang mendukung. Selain itu, kelas diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk melakukan kerja kooperatif antar kelompok maupun intrakelompok. Pembagian kelompok juga harus didasarkan atas keberagaman kemampuan siswa sehingga kerja kooperatif semakin mudah terlaksana. Yang tidak kalah pentingnya adalah siswa harus menyadari benar peran dan tugasnya selama pembelajaran yang meliputi (1) mengoptimalkan kemampuan berpikir, keterampilan berkreasi, dan motivasi belajar dan bekerja; (2) terbuka terhadap ide, konsep, gagasan, dan masukan baru; (3) siap bekerja sama secara kolaborasi; dan (4) mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi baik intrakelompok maupun antarkelompok. d. Dampak yang Diharapkan Model Pembelajaran Berbasis Project Based Learning dikembangkan dengan harapan memberi dampak intruksional berupa (1) peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran, (2) pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, dan (3) membina daya kreativitas produktif siswa. Dampak penyertanya adalah dalam hal (1) mengembangkan karakter siswa antara lain disiplin, cermat, kerja keras, tanggung jawab, toleran, santun, berani, dan kritis serta etis dan (2) membentuk kecakapan hidup pada diri siswa, (3) meningkatkan sikap ilmiah dan (4) membina kemampuan siswa dalam berkomunikasi, beragumentasi, dan berkolaborasi/bekerja sama. Secara visual, dampak penerapan model ini dapat digambarkan sebagai berikut. Bagan 2.2 Yunus Abidin (2013:175) Jadi kesimpulan dari implementasi model, Prinsip Reaksi, Sistem lingkungan, dan Dampak model pembelajaran berbasis Project adalah guru dan siswa harus memiliki kemampuan kreatif yang tinggi, terbuka menerima pendapat orang lain, dan memiliki semangat bekerja baik secara individu maupun secara kooperatif. Reaksi utama yang diharapkan guru adalah mengusahakan membangkitkan kemampuan kritis, kreatif, dan produktif siswa sebagai alat proses berpikir. System lingkungan yang diharapkan ketersediaan media pembelajaran yang relevan, lembar kerja proses yang lengkap secara individu, dan situasi pembelajaran yang mendukung. Dampak yang diharapkan adalah mengembangkan karakter siswa, membentuk kecakapan hidup pada diri siswa dan meningkatkan sikap ilmiah. f. Langkah- langkah Dalam konteks kurikulum 2013 penerapan model ini diyakini bahwa tidak akan terlalu sulit. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa waktu belajar telah ditambah, media dan sumber belajar akan dilengkapi pemerintah. Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka model ini memiliki beberapa langkah. Langkah – langkah pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan dalam 3 tahap (Anita, 2007:25) yaitu: 1) Tahapan perencanaan proyek Adapun langkah – langkah perencanaan tersebut adalah sebagai berikut: a. Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai b. Menentukkan topik yang akan dibahas c. Mengelompokan siswa dalam kelompok – kelompok kecil berjumlah 4 – 5 orang dengantingkat kemampuan beragam d. Merencang dan menyusun LKS e. Merancang kebutuhan sumber belajar f. Menetapkan rancangan penilaian 2) Tahap pelaksanaan Siswa dalam masing – masing kelompok melaksanakan proyek dengan melakukan investigasi atau berpikir dengan kemampuannya berdasarkan pada pengalaman yang dimiliki. Kemudian diadakan diskusi kelompok. Sementara guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan dengan betindak sebagai fasilitator. 3) Tahap penilaian Pada tahap ini, guru melakukan evaluasi terhadap hasil kerja masing –masing kelompok. Berdasarkan penilaian tersebut, guru dapat membuat kesimpulan apakah kegiatan tersebut perlu diperbaiki atau tidak, dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Pengimplementasian pembelajaran berbasis proyek tidak terlepas dari kurikulum, pertanggungjawaban, realism, belajar aktif, umpan balik, pengetahuan umum, pertanyaan yang memacu, investigasi konstruktif, serta otonomi. Purnawan dalam Muliawati (2010:11) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis proyek mengacu pada hal –hal sebagai berikut: 1) Curriculum: memerlukan suatu strategi sasaran dimana proyek sebagai pusat 2) Responsibility: PBL menekankan responsibility dan answerbility para siswa ke dari dan panutannya 3) Realism: kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya 4) Active learning: menumbuhkan isu yang berunjung pada pertanyaan dan keinginan siswa untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. 5) Feedback: diskusi, presentasi dan evaluasi terhadap para siswa menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorng kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman 6) General skill: pembelajaran berbasis proyek dikembangkan tidak hanya pada keterampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar bagi keterampilan yang mendasar, seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self management 7) Driving question: pembelajaran berbasis proyek difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu siswa untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. 8) Constuctive investigations: sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para siswa 9) Autonomy: proyek menjadikan aktivitas siswa sangat penting Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa langkah- langkah model project based learning yaitu ada 3 tahap. Tahap yang pertama adalah tahap perencanaan proyek, sedangkan di tahap yang kedua ada tahap pelaksanaan dan yang terakhir adalah tahap penilaian. Pada tahap yang ketiga atau terakhir menurut purnawan dalam muliawati (2010:11) ada 9 hal yang mengacu pada pembelajaran project based learning yaitu Curriculum, Responsibility, active learning, feedback, general skill, driving question, constructive investigations dan Autonomy. 2. Motivasi a. Pengertian Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang mengggeerakan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Menurut Abdorrakhman Gintings ( 2007: 86 ), Motivasi secara psikologi adalah motivasi mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang diarahkan ke arah tujuan tertentu. Motivasi merupakan faktor penggerak maupun dorongan yang dapat memicu timbulnya rasa semangat dan juga mampu merubah tingkah laku manusia atau individu untuk menuju pada hal yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat. Dalam pembelajaran motivasi menurut Abdorrakhman Gintings ( 2007: 86 ) mengemukakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakan atau mendorong siswa untuk belajar dan menguasai materi pelajaran yang sedang didikutinya. Tanpa motivasi siswa tidak akan tertarik dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, dengan adanya motivasi yang tinggi siswa akan tertarik dan terlibat aktif bahkan berinisiatif dalam proses pembelajaran. Dengan motivasi yang tinggi siswa akan berupaya sekuat-kuatnya dan dengan menempuh berbagai strategi yang positif untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Pandangan lain tentang motivasi adalah sebagaimana dikemukakan oleh Gray dkk (Abdorrakhman Gintings, 2007: 88) yaitu: “Motivasi merupakan hasil sejumlah proses, yang bersifat internal atau eksternal bagi seseorang individu, yang menyebabkan imbulnya sikap antusianisme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu”. Sedangkan menurut Gintings (2008: 86) mengemukakan bahwa, motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere yang dalam bahasa Inggris berarti to move adalah kata kerja yang artinya sebuah kata benda yang penggerakan. Menurut Dimyati (2013: 80) mengatakan bahwa: Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar. Jadi, pengertian motivasi dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu daya penggerak aktif yang muncul baik dari dalam maupun dari luar dirinya yang berupa semangat dan kegigihan perilaku untuk mengarahkan kepada tingkah laku dalam mencapai suatu tujuan tertentu. b. Sumber-sumber Motivasi Belajar Siswa Dalam pembelajaran dikenal dua jenis motivasi yang dilihat dari sumber datangnya motivasi tersebut yang dikemukakan oleh Abdorrakhman Gintngs (2007: 88) yaitu: 1) Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari luar diri siswa itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini diantaranya ditimbulkan oleh fackor-faktor yang muncul dari luar pribadi siswa itu sendiri termasuk dari guru. Faktor-faktor tersebut bisa positif dan bisa negatif. Contoh dari motivasi ekstrinsik yang negatif adalah rasa takut siswa akan hukuman yang akan diberikan oleh guru mendorong siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Contoh motib=vasi ekstrinsik t=yang positif adalah dorongan siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena ingin mendapatkan pujian dari guru. Dari kedua contoh tersebut maka dapat disimpulkan beberapa sifat-sifat motivasi ekstrinsik sebagai berikut : 1) karena munculnya bukan atas kesadaran sendiri, maka motivasi ekstrinsik mudah hilang atau tidak dapat bertahan lama, 2) motivasi ekstrinsik jika diberikan terus menerus akan menimbulkan motivasi intrinsic dalam diri siswa. 2) Motivasi Intrinsik Motivasi intrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari diri siswa itu sendiri. Motivasi intrinsik ini diantaranya ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari pribadi siswa itu sendiri terutama kesadaran akan manfaat materi pelajaran bagi siswa itu sendiri. Manfaat tersebut bisa berupa: a) Keterpakaian kompetensi dalam bidang yang sedang dipelajari dalam pekerjaan atau kehidupannya kelak. b) Keterpakaian pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran dalam memperluas wawasannya sehingga memberikan kemampuan dalam mempelajari materi lain. c) Diperolehnya rasa puas karena keberhasilan mengetahui tentang sesuatu yang selama ini menjadi obsesi atau dambaannya. d) Diperolehnya kebanggaan karena adanya pengakuan oleh lingkungan sosial terhadap kompetensi prestasinya dalam belajar. Diantara sifat-sifat motivasi intrinsik yaitu walaupun motivasi intrinsik sangat diharapkan namun justru tidak selalu timbul dalam diri siswa. Karena munculnya atas kesadaran sendiri maka motivasi intrinsic akan bertahan lebih lama dibandingkan motivasi ekstrinsik. Berikut ini adalah tanda-tanda adanya motivasi intrinsik dalam diri siswa (Gintings, 2007: 90) sebagai berikut: a) Adanya bukti yang jelas tentang keterlibatan, kreativitas, dan rasa menikmati pelajaran dalam diri siswa selama pembelajaran berlangsung. b) Adanya suasana hati (mood) yang positif seperti keseriusan dan keceriaan. c) Munculnya pertanyaan dan pengamatan dari siswa yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. d) Terdapat diskusi personal lajutan setelah selesainya jam pelajaran. e) Menyerahkan tugas tanpa diingatkan oleh guru. f) Berusaha keras dan tidak cepat menyerah dalam mengatasi kesulitan belajar atau komunikasi serta penyelesaian tugas. g) Mengusulkan atau menetapkan tugas yang relevan untuk dirinya sendiri. h) Mengupayakan penguasaan materi secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai strategi dan sumber belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber- sumber motivasi belajar yaitu ada motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Dalam motivasi intrinsik itu sendiri ada 8 hal yang harus diperhatikan oleh guru yang sudah dijelaskan di atas. c. Bentuk-bentuk dalam motivasi pembelajaran Adakalanya guru menghadapai siswa yang belum memiliki motivasi belajar yang baik. Ddengan menggunakan penguat berupa hadiah atau hukuman, seyogianya guru memperbaiki disiplin diri siswadalam beremansipasi. Menurut Hamzah B. Uno (2012: 34) menyatakan bahwa bentuk-bentuk dalam motivasi pembelajaran diantaranya adalah: 1) Pernyataan perhargaan secara verbal Pernyataan verbal mengandung makna interaksi dan pengalaman pribadi yang langsung antara siswa dan guru 2) Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan Pengetahuan atas hasil pekerjaan merupakan cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa 3) Menimbulkan rasa ingin tahu Rasa ingin tahu merupakan daya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 4) Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa 5) Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa Hal ini memberikan semacam hadiah pada tahap awal belajar yang memungkinkan siswa semangat semangat untuk belajar selanjutnya. 6) Menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar 7) Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami 8) Menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya 9) Menggunakan simulasi dan permainan 10) Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran 11) Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum 12) Memahami iklim sosial dalam sekolah Pemahaman iklim dan suasana sekolah merupakan pendorong kemudahan berbuat bagi siswa 13) Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat Guru memahami secara tepat bilamana dia harus menggunakan manifestasi kewibawaannya pada siswa untuk meningkatkan motivasi belajarnya 14) Memperpadukan motif-motif yang kuat Seorang siswa giat belajar mungkin karena latar belakang motif berprestasi sebagai motif yang kuat 15) Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai Makin jelas tujuan yang dicapai, makin terarah upaya untuk mencapainya 16) Merumuskan tujuan-tujuan sementara Tujuan-tujuan belajar yang umum itu seyogianya dipilah menjadi tujuan sementara yang lebih mudah dicapai 17) Memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai Dengan mengetahui hasil yang telah dicapai maka motivasi belajar siswa akan lebih kuat 18) Membuat suasana persainngan yang sehat diantara siswa Suasana ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengukur kemampuan dirinya melalui kemampuan orang lain 19) Mengembangkan persaingan dengan diri sendiri Persaingan semacam ini dilakukan dengan memberikan tugas dalam berbagai kegiatan yang dilakukan sendiri 20) Memberikan contoh yang positif Guru harus melakukan pengawasan dan pembimbingan yang memadai selama siswa mengerjakan tugas di kelas Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk motivasi adalah sebagai berikut: 1) Memberi ulangan Para siswa akan giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering karena akan membosankan dan bersifat rutinitas untuk siswa. 2) Menjadikan tahap dini saat pembelajaran menjadi mudah untuk siswa Hal ini memberikan semacam hadiah pada tahap awal belajar yang memungkinkan siswa semangat untuk belajar selanjutnya. 3) Saingan atau kompetensi Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual atau kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa 4) Pujian Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif yang sekaligus merupakan motivasi maka pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar sekaligus akan membangkitkan harga diri. d. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian motivasi Motivasi belajar penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru. Menurut Ranupandojo (Gintings, 2007: 99) memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan motivasi sebagaimana dirangkum berikut ini: 1) Memahami adanya perbedaan individu baik secara fisik maupun secara emosional. 2) Setiap individu memiliki kepribadian yang unik sehingga memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi situasi tertentu. 3) Semua perilaku terjadi akibat adanya perubahan baik dalam diri individu maupun dalam situasi yang dihadapinya. 4) Setiap individu memiliki rasa ego yang cenderung mengabaikan kepentingan orang lain, akan tetapi secara rasional ia dapat menyesuaikan dengan kepentingan orang lain. 5) Emosi seseorang biasanya dapat dengan mudah dikenali dan sangat dominan dalam membentuk prilaku seseorang. Dengan melihat emosinya, kita dapat memperkirakan bagaimana perilakunya. 6) Pada umumnya kita jarang mengetahui kondisi individu secara mendalam, sehingga sukar memperkirakan reaksinya terhadap situasi tertentu. Salah satu aspek penting dalam mengajar ialah membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Berbagai cara telah dianjurkan oleh ahli pendidikan untuk mencapai hal itu. Mengapa hal ini penting, adalah karena motivasi seseorang adalah bagian internal manusia. Dia menetapkan alasan dan membuat keputusannya sendiri berdasarkan lingkungannya. Tentang bagaimana guru mempengaruhi motivasi siswa adalah dengan menciptakan situasi eksternal sehingga siswa akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa cara untuk itu adalah seperti berikut: a. Buat sedemikian rupa agar kegiatan- kegiatan dan potensi belajar Nampak sebagai sesuatu yang berfaedah. 1) Guru sendiri harus menyenangi tugasnya 2) Menghubungkan tugas- tugas dan kegiatan siswa sesuai dengan kehidupan sehari- harinya di mana mungkin. 3) Tekankan segera nilai yang baik dan jangan menunda 4) Anjurkan siswa untuk turut sert dalam perencanaan 5) Hindari siswa agar tidak bergantung pada angka dan tingkat 6) Berikan berbagai kemungkinan agar siswa menemukan kegiatan bahan- bahan yang menarik minat serta bermakna. b. Gunakan motif 1) Sesuaikan pengajaran anda dengan sikap, minat, cita- cita dan tujuan mereka 2) Besarkan keingintahuan mereka 3) Berikan berbagai kemungkinan bagi keberhasilan mereka dan pengakuan orang lain dan berikan pujian pada saat yang tepat. 4) Ciptakan belajar menjadi tantangan yang menyenangkan 5) Gunakan kegiatan kelompok agar siswa dapat meningkatkan kemampuan sosialisasinya. c. Bantu siswa menyusun tujuan- tujuan dan tugas- tugasnya 1) Mengajar dan memberikan tugas dengan jelas 2) Siswa yakin dengan apa yang akan dilakukan 3) Yakin bahwa siswa mengetahui alasan melakukan sesuatu seharusnya dilakukan 4) Yakin bahwa siswa mengetahui bagaimana melakukan apa yang seharusnya dilakukan. d. Langkah- langkah harus tetap terpelihara 1) Hidupkan kegiatan- kegiatan belajar 2) Libatkan siswa dalam belajar menurut kemampuannya 3) Siapkan berbagai kegiatan 4) Beritahukan tentang kemajuan mereka e. Siapkan mereka untuk menerima f. Ciptakan suasana kelas yang menggembirakan, penuh tawa dan kegembiraan, kerjasama dan menyenangkan, penuh kesopanan yang secara keseluruhan dapat membuat kelas menjadi tempat yang menggembirakan. Dapat disimpulkan bahwa hal- hal yang perlu diperhatikan dalam memberi motivasi belajar yaitu buat sedemikian rupa kegiatan dan potensi, gunakan motif, bantu sisiwa menyususn tujuan dan tugas, langkah harus terpelihara, siapkan mereka untuk menerima, serta ciptakan suasana kelas yang menggembirakan. e. Factor- factor yang mendorong dan menghambat motivasi belajar Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. 1. Faktor Pendorong Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 97) ada beberapa factor yang mendorong motivasi belajar yaitu: 1) Cita- cita atau Aspirasi Siswa Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, dapat menyanyi, dan lain-lain selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari menimbulkan cita- cita dalam kehidupan. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau juga hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemauan menjadi cita-cita. 2) Kemampuan Siswa Kemampuan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. 3) Kondisi Siswa Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. 4) Kondisi Lingkungan Siswa Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan temapat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan. 5) Unsur- unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa factor yang mendorong motivasi belajar ada beberapa macam yaitu cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi linkungan siswa, serta unsur- unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. 2. Faktor Penghambat Secara umum factor- factor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi factor internal dan factor eksternal. Kedua factor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua factor penghambat belajar. a. Faktor Internal Factor Internal merupakan factor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Factor internal meliputi factor fisiologis dan biologis serta factor psikologis. 1. Factor Fisiologis dan Biologis Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Factor fisiologis adalah factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor ini dibedakan menjadi dua yaitu: • Keadaan Tonus Jasmani Keadaan tonus jasmani akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. • Keadaan fungsi Jasmani atau fisiologis Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. diderita anak akan mempengeruhi biologisnya, diantaranya: - Sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya - Ada perasaan takut dan diejek teman, - Merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman- teman lain. 2. Factor Psikologis Factor psikologis adalah factor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat. - Kecerdasan/ Intelegensi Siswa - Motivasi - Minat - Sikap - Bakat b. Faktor Eksternal Factor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Factor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolonglan menjadi factor lngkungan social dan non-sosial. • Lingkungan social Lingkungan social anak dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar. Lingkungan social dibagi menjadi tiga yaitu: - Lingkungan social sekolah - Lingkungan social masyarakat - Lingkungan keluarga • Lingkungan Non- Sosial - Lingkungan alamiah Lingkungan alamiah adalah kondisi yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, dan tenang. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa factor penghambat motivasi yaitu ada 2 macam factor internal dan factor eksternal. Factor eksternal meliputi factor fisiologis dan biologis, serta factor psikologis. Sedangkan factor internal meliputi lingkungan social dan lingkungan non-sosial. f. Upaya untuk meningkatkan motivasi belajar Perilaku belajar merupakan salah satu perilaku seorang anak yang membaca iklan surat kabar dengan keinginan mencari sekolah yang baik akan memperoleh kepuasan karena ia memperoleh informasi yang benar. Keinginan belajar di sekolah tertentu dipusatkan dengan iklan yang benar. Membaca iklan tersebut memuaskan sebab ia membaca dengan motivasi mencari sekolah. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013:101) ada beberapa cara atau upaya untuk meningkatkan motivasi belajar yaitu: a) Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar Dalam upaya pembelajaran, guru berhadapan dengan siswa dan bahan belajar. Untuk dapat membelajarkan atau mengajarkan bahan pelajaran dipersyaratkan (1) guru telah mempelajari bahan pelajaran, (2) guru telah memahami bagian- bagian yang mudah, sedang, dan sukar, (3) guru telah menguasai cara- cara mempelajari bahan, dan (4) guru telah memahami sifat bahan pelajaran tersebut. Sebagai ilustrasi, guru yang mengajarkan lagu Indonesia raya misalnya, harus memahami misi bahan, menguasai kata, nada dan lagu, serta nuansa syair lagu tersebut. Upaya pembelajaran terkait dengan beberapa prinsip belajar. Beberapa prinsip belajar tersebut antara lain sebagai berikut: (1) Belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar, oleh karena itu, guru perlu menjelaskan tujuan belajar secara hierarkis. Tujuan belajar memahami dan menghafal syair lagu Indonesia Raya misalnya, adalah agar siswa dapat menyanyikan lagu tersebut dengan baik. (2) Belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya; oleh karena itu peletakan urutan masalah yang menantang harus disusun guru dengan baik. (3) Belajar menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam program kegiatan tertentu; oleh karena itu, di samping mengajarkan bahan secara terpisah- pisah, guru sebaiknya membuat pembelajaran dalam pengajaran unit atau proyek. Sebagai ilustrasi siswa kelas satu SMP diberi tugas mempelajari lalu-lintas di kotanya. Pengajaran tentang “Lalu lintas di kota” tersebut sesuai dengan kebutuhan hidup siswa. (4) sesuai dengan perkembangan jiwa siswa, maka kebutuhan bahan- bahan belajar siswa yang semakin bertambah, oleh karena itu, guru perlu mengatur bahan dari yang paling sederhana sampai paling menantang. (5) Belajar menjadi menantang bila siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajarnya bagi kehidupan dikemudian hari; oleh karena itu guru perlu memberitahukan kriteria keberhasilan atau kegagalan belajar. b) Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran Guru adalah pendidik dan sekaligus pembimbing belajar. Guru lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa. Seringkali siswa lengah tentang nilai kesempatan belajar. Oleh karena itu guru dapat mengupayakan optimalisasi unsur- unsur dinamis yang ada dalam diri siswa dan yang ada di lingkkungan siswa. Upaya optimalisasi tersebut sebagai berikut: (1) pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengungkap hambatan belajar yang dialaminya. (2) memelihara minat, kemauan, dan semangat belajarnya sehingga terwujud tindak belajar, betapa lembat gerak belajar, guru “tetap secara terus menerus” mendorong; dalam hal ini berlaku semboyan “lambat asal selamat, tak akan lari gunung dikejar”. (3) meminta kesempatan pada orang tua siswa atau wali, agar memberi kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar. (4) memanfaatkan unsur- unsur lingkungan yang mendorong belajar. (5) menggunakan waktu secara tertib, penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku belajar, pada tingkat ini guru memberlakukan upaya “belajar merupakan aktualisasi diri siswa”. (6) guru merangsang siswa dengan penguatan memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan dan “pasti berhasil”. c) Optimalisasi Pemanfaatan Pengalaman dan Kemampuan Guru adalah “penggerak” perjalanan bagi siswa. Sebagai penggerak, maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran- kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau “tingkat kesukaran pengalaman belajar”, dan segera membantu mengatasi kesukaran belajar. “Bantuan mengatasi kesukaran belajar” peril diberikan sebelum siswa putus asa. Guru wajib menggunakan pengalaman belajar dan kemampuan siswa dalam mengelola belajar. Upaya optimalisasi pemanfaatan pengalaman siswa tersebut dapat dilakukan sebagai berikut: (1) Siswa ditugasi membaca bahan belajar sebelumnya; tiap membaca bahan belajar siswa mencatat hal- hal yang sukar, catatan hal- hal yang sukar tersebut diserahkan kepada guru. (2) Guru mempelajari hal- hal yang sukar bagi siswa. (3) Guru memecahkan hal- hal yang sukar, dengan mencari “cara memecahkan”. (4) Guru mengajarkan “cara memecahkan” dan mendidikkan keberanian mengatasi kesukaran. (5) Guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi kesukaran. (6) Guru memberi kesempatan kepada siswa yang mampu memecahkan masalah untuk membantu rekan- rekannya yang mengalami kesukaran. (7) Guru memberi penguatan kepada siswa yang berhasil mengatasi kesukaran belajarnya sendiri. (8) Guru menghargai pengalaman dan kemampuan siswa agar belajar secara mandiri. d) Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar Guru adalah pendidik anak bangsa. Ia berpeluang merekayasa dan mendidikkan cita- cita bangsa. Mendidik cita- cita belajar pada siswa merupakan upaya “memberantas” kebodohan masyarakat. Upaya mendidik dan mengembangkan cita- cita belajar tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara- cara mendidik dan mengembangkan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut: (1) Guru menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, seperti mengatur kelas dan sekolah yang indah dan tertib. (2) Guru mengikutsertakan semua siswa untuk memelihara fasilitas belajar, sebagai ilustrasi, siswa diajak serta memelihara ketertiban dan keindahan kelas, perpustakaan, alat- alat olah raga, halaman bermain, dan kebun sekolah. (3) Guru mengajak serta siswa untuk membuat perlombaan unjuk belajar, seperti lomba baca, lomba karya tulis ilmiah, lomba tanam bunga, lomba lukis, lomba kerajinan. Siswa yang sudah cukup terampil juga diajak serta menjadi panitia lomba. (4) Guru mengajak serta orang tua siswa untuk memperlengkap fasilitas belajar seperti buku bacaan, majalah, alat olah raga, dan kebun coba. (5) Guru memberanikan siswa untuk mencatat keinginan- keinginan di notes pramuka, dan mencatat keinginan yang tercapai dan tak tercapai; siswa diajak berdiskusi tentang keberhasilan atau kegagalan mencapai keinginan; selanjutnya siswa diminta merumuskan keinginan- keinginan yang “baru” yang diduga dapat tercapai. (6) Guru bekerja sama dengan pendidik lain seperti orang tua, ulama atau pendeta, pramuka, dan para instruktur pendidik pemuda, untuk mendidikkan dan mengembangkan cita- cita belajar sepanjang hayat. Jadi, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku belajar dilakukan oleh si pembelajar. Pada diri si pembelajar terdapat kekuatan mental penggerak belajar. Kekuatan mental yang berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita- cita itu disebut motivasi belajar. Komponen ut

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 12 Jul 2016 03:27
Last Modified: 12 Jul 2016 03:27
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5376

Actions (login required)

View Item View Item