UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN METODE INDEX CARD MATCH PADA PELAJARAN IPA MATERI DAUR AIR

Muhammad Rizki Risdianto, 105060204 (2016) UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN METODE INDEX CARD MATCH PADA PELAJARAN IPA MATERI DAUR AIR. Skripsi(S1) thesis, FKIP UNPAS.

[img] Text
Cover.docx

Download (48kB)
[img] Text
Halaman Awal.docx

Download (188kB)
[img] Text
isi Skripsi.docx

Download (2MB)
[img] Text
BAB I.docx

Download (39kB)
[img] Text
BAB II.docx

Download (46kB)
[img] Text
BAB III.docx

Download (85kB)
[img] Text
BAB IVm.docx
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] Text
BAB V.docx
Restricted to Repository staff only

Download (33kB)
[img] Text
Halaman Awal.docx

Download (188kB)

Abstract

ABSTRAK Oleh Muhammad Rizki Risdianto 105060204 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini di laksanakan di SD Negeri Melong Asih 7 Cimahi dengan objek penelitian adalah kelas VA. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA. Pada penelitian ini peneliti mengambil materi mengenai daur air dengan menggunakan model pembelajaran koperatif tipa Index Card Match dalam pembelajarannya. Objek penelitian adalah peserta didik kelas VA SD Negeri Melong Asih 7 Cimahi dengan jumlah 39 orang yang terdiri dari 16 laki-laki dan 23 Perempuan, adapun instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah lembar kerja peserta didik dan lembar evaluasi hasil belajar peserta didik. Pengolahan dan pengumpulan data berdasarkan dari hasil tes, lembar instrument dan hasil wawancara. Dari hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan presentase hasil belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran koperatif tipa Index Card Match mangalami peningkatan dalam setiap siklusnya, pada siklus I sebesar 17,94%,siklus II 58,97%, siklus III 84,62%. Nilai rata-rata dalam hasil belajar pun mengalami peningkatan dalam setiap siklusnya pada siklus I rata-rata sebesar 66,15 (kurang), pada siklus II nilai rata-rata sebasar 68,71 (cukup), pada siklus III nilai rata-rata 78,97 (baik). Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran koperatif tipa Index Card Match pada pembelajaran IPA dalam materi Daur Air dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kata kunci : model pembelajaran koperatif tipa Index Card Match dalam penbelajaran IPA pada materi Daur Air BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di indonesia selalu mengalami perubahan kurikulum, karena sedang mengalami kemajuan dalam dunia pendidikan, hal itu terjadi karena pendidikan harus terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang biasa kita sebut KBM harus di rancang sedemikian rupa yang sesuai dengan prinsip-prinsip belajar mengajar dan ilmu yang berkembang. Dalam Undang-undang No.23 Tahun 2003 Pasal 3, dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi, serta penyempurnaan dan peningkatan berbagai sarana dan prasarana pendidikan termasuk didalamnya teknik dan strategi pembelajaran, sebagaimana yang tercantum dalam PP/RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melaksanakan usaha tersebut adalah melalui pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien merupakan faktor yang sangat berperan besar dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Diperlukan kemauan dan kemampuan dari guru untuk menciptakan atmosfer proses pembelajaran dikelas yang menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian, apapun materi yang disampaikan oleh guru dapat diterima siswa secara optimal. Pencapaian tujuan pembelajaran pun akan berbanding lurus seiring dengan efektivitas kegiatan belajar yang diciptakan. Agar guru dapat melaksanakan kewajibannya dengan maksimal maka di atur dalam undang undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada pasal 20. yaitu: PASAL 20 Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Guru-guru pada saat ini harus dapat mengikuti kemajuan teknologi, karena teknologi akan terus berkembang. menurut Mastuhu, (2008), sains dan teknologi di satu sisi memang mangakibatkan dampak negatif, bahkan menghancurkan kehidupan. Tetapi di sisi lain, sains dan teknologi juga dapat membangun kehidupan yang maju, modern, dan juga beradab. Kekreatifan guru dalam membuat pola pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dengan cara apapun yang dapat memudahkan peserta didik dalam menerima materi yang disampaikan tanpa ada rasa tertekan dan dilakukan dengan rasa nyaman. Seperti yang di nyatakan oleh Mendler dalam bukunya yang berjudul “Mendidik dengan Hati” (2001,h 44) menyatakan bahwa : Seulas senyuman ramah mampu membuat seseorang percaya bahwa dirinya dianggap istimewa. Upaya yang dilakukannya tak seberapa namun hasilnya sangat besar. Pemikiran konvesional menganggap sebuat senyuman merupakan ekspresi kebahagiaan semata. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa tersenyum dan tertawa membuat orang-orang lebih sehat(Cousins,1980). Pesannya adalah: Takperu menunggu hati merasa senang untuk tersenyum-tersenyumlah dan perasaan senang akan mengikuti. Guru yang kurang kreatif akan menghambat proses belajar yang akan berdampak terhadap hasil belajar peserta didik yang cenderung rendah. Banyak faktor yang membuat masalah tersebut terjadi, salah satunya adalah kurangnya rasa kaingintahuan pendidik untuk selalu mencari informasi terbaru mengenai model-model pembelajaran yang selalu berkembang dan bertambah di setiap waktu. Kebanyakan guru terpaku pada salah satu model,metode,strategi yang ia katahuinya saja. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan ini, banyak metode yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran IPA. Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta seluruh peserta didik yaitu metode pembelajaran kooperatif. Pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif dengan cara menempatkan para peserta didik untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Dengan pembelajaran kooperatif, para peserta didik diharapkan dapat saling membantu dan saling berdiskusi. Dari hasil observasi saya ke SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi), didapat bahwa siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi-materi pembelajaran IPA, salah satunya yaitu materi Daur Air. Hal tersebut terjadi karena penyampaian materi pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah saja. Terbukti dengan melihat rata-rata nilai dari 39 peserta didik adalah 67. Nilai tersebut masih dibawah kriteria ketuntasan minimum SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi) pada mata pelajaran IPA yaitu 75. Memang benar IPA merupakan mata pelajaran yang biasa di sebut ilmu pasti, tetapi tetaplah harus dikemas dengan strategi mengajar yang menarik. Seluruh siswa pasti sudah tau apa itu air, karena air tidak akan lepas dari kehidupannya, mungkinsaja siswa tidak mengetahui bagai mana air itu tidak habis-habis di muka bumi ini. Dibutuhkan bantuan media yang dapat memberikan gambaran seperti apa daur air dan hal lain yang sulit di jangkau oleh penglihatan. Cara mengajar yang hanya mengandalkan metode ceramah saja, maka akan menimbulkan siswa memiliki multitafsir dan akan membayangkan objek yang dijelaskan sesuai dengan imajinasinya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan ada kemungkinan siswa membayangkan objek yang diharapkan sangat jauh dari apa yang seharusnya. Akibat lain yang ditimbulkan adalah rendahnya pemahaman siswa yang akan terlihat dari hasil dan prestasi belajar peserta didik di kelas. Metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk merangsang peserta didik adalah dengan metode pembelajaran Index Card Match yaitu merupakan strategi pengulangan (peninjauan kembali) materi, sehingga peserta didik dapat mengingat kembali materi yang telah dipelajarinya. Dalam strategi pembelajaran ini peserta didik dituntut untuk menguasai dan memahami konsep melalui pencarian kartu indeks, dimana kartu indeks terdiri dari dua bagian yaitu kartu soal dan kartu jawaban. Setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk memperoleh satu buah kartu. Dalam hal ini peserta didik diminta mencari pasangan dari kartu yang diperolehnya. Peserta didik yang mendapat kartu soal mencari peserta didik yang memiliki kartu jawaban, demikian sebaliknya. Strategi pembelajaran ini mengandung unsur permainan sehingga diharapkan peserta didik tidak bosan dalam belajar. Metode Index Card Match Adalah metode yang dapat merangsang siswa untuk mempelajari suatu materi dengan menyenangkan salah satunya materi daur air ini. Dengan metode ini dapat meningkatkan pemahaman siswa, karena yang sebelumnya metode yang digunakan guru kelasnya hanya metode-metode yang membuat siswa pasif. Materi air sangatlah penting, karena air tidak mungkin lepas dari kehidupan manusia, manusia tanpa air tidak mungkin dapat hidup. Akan tetapi untuk memahami bahwa air itu tidak diam dan selalu berputar seperti yang biasa kita sebut daur air, akan sulit bagi siswa karena ada beberapa hal pada proses daur air bersifat abstrak seperti proses turun hujan. Siswa bertanya mengapa air jatuh dari langit! Dan air laut dan darat berbeda rasa. Jika kita kaitkan dengan metode Index Card Match siswa akan lebih mudah mempelajari dan memahami materi air dengan maksimal karena siswa diharapkan bekerja sama dengan siswa lainnya sehingga menimbulkan kesenangan dan keceriaan dalam belajar. Dan hal ini di tunjang dengan media dan model pembelajaran yang menarik. Berpijak pada uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih luas permasalahan, yaitu dengan penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Dengan Metode Index Cad Match Pada Pelajaran IPA Materi Air Di Kelas V Semester II SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi)”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka, peneliti tertarik untuk mengambil judul ini. Adapun identifikasi masalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Pembelajaran IPA di kelas V SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi) hanya mengandalkan metode ceramah dan Buku Paket. 2. Rendahnya hasil belajar siswa kelas V SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi) dalam mata pelajaran IPA materi Daur air. 3. Kurangnya kreativitas guru dalam mengkombinasikan model dan metode pembelajaran di kelas. 4. Kurangnya motivasi guru untuk menyiapkan media pembelajaran. 5. Kurangnya pemahaman guru mengenai model pembelajaran terbaru yang semakin berkembang. C. Perumusan Masalah 1. Secara Umum Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, secara umum permasalahan yang akan diteliti adalah “Bagaimana Penggunaan metode pembelajaran Index Card Match Dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelajaran IPA materi daur air di kelas V semester II SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi) ?”. 2. Secara Khusus Masalah tersebut dijabarkan kedalam rumusan masalah yang lebih khusus yaitu berupa pertanyaan penelitian sebagai berikut : a. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran IPA melalui metode pembelajaran Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi daur air di kelas V semester II SDN Melong Asih 7 Cimahi)? b. Bagaimanakah proses pembelajaran IPA dengan metode pembelajaran Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi daur air di kelas V semester II SDN Melong Asih 7 Cimahi)? c. Apakah peningkatan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA dengan metode pembelajaran Index Card Match pokok bahasan Air di kelas V Semester II SDN Melong Asih 7 Cimahi)? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Perencanaan pembelajaran IPA ketika menggunakan metode pembelajaran Index Card Match dalam materi daur air di kelas V semester II SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi). 2. Proses pembelajaran IPA ketika menggunakan metode pembelajaran Index Card Match dalam materi daur air di kelas V semester II SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi). 3. Pengaruh penggunaan metode pembelajaran Index Card Match terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam materi daur Air di kelas V Semester II SDN Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 No. 195, Cimahi). E. Manfaat Hasil Penelitian Pembelajaran dengan menggunakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa : a. Meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi daur air. b. Membiasakan siswa untuk belajar aktif dan kreatif. c. Meningkatkan tanggungjawab dan rasa kebersamaan bagi setiap kelompok kerja dalam melaksanakan tugas pembelajaran. 2. Bagi guru : a. Memberikan informasi untuk menyelenggarakan pembelajaran aktif dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan. b. Memberi wacana baru tentang pembelajaran aktif melalui metode pembelajaran index card match. c. Memberikan informasi bahwa dengan adanya pembelajaran yang baik maka dapat mewujudkan siswa yang cerdas, terampil, bersikap baik dan berprestasi. 3. Bagi sekolah : a. Sebagai informasi untuk memotivasi tenaga kependidikan agar lebih menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. b. Sebagai tolak ukur peningkatkan kualitas sekolah dalam melakukan inovasi pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. c. Meningkatkan pengelolaan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. 4. Bagi peneliti berikutnya a. Memberikan data dan permasalahan awal yang nantinya dapat dikembangkan oleh peneliti berikutnya b. Memberikan referensi dan contoh sistematika yang dapat diperbaharui jika ada hal-hal yang dianggap belum baik atau sempurna F. Definisi Operasional Beberapa definisi operasional dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : 1. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar dalam ranah kognitif berupa tes/skor yang diperoleh siswa dalam setiap akhir pembelajaran. 2. Materi IPA yang dimaksud dalam penelitian ini adalah materi daur air yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sekolah peneliti yaitu kurikulum 2006 (KTSP). 3. Pembelajaran kooperatif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. 4. Index Card Match Merupakan sebuah metode permainan mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban yang sesuai melalui interaksi dan kerjasama antar siswa. 5. Peserta didik Kelas V SD Negeri Melong Asih 7 Cimahi. yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Melong Asih 7 Cimahi semester II tahun pembelajaran 2013 - 2014. BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Belajar Sudah banyak ahli psikologis mengartikan apa yang di sebut dengan belajar. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan tergambar dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut Slameto (2010, h. 2) dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya menyatakan bahwa “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah pasti tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Ada beberapa cirri perubahan tingkah laku seseorang, ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Perubahan terjadi secara sadar 2. Perubahan dalam belajar bersifat berkelanjutan 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif 4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara 5. Perubahan dalam belajar memiliki tujuan atau terarah 6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang behubungan dengan belajar, serta setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar. Belajar dapat dikatakan sebagai proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. B. Hakikat IPA Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban baik tenteng gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis (Depdiknas, 2002a:1) Belajar sains tidak hanya sekedar belajar informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud’pengetahuan deklaratif’, akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja salam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah. Menurut Carin, (dalam Cartono dan Ibrahim, 2010, h. 46) menyatakan bahwa ”sains sebagai produk atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum teori sains. Sains sebagai proses merupakan sesuatu yang harus dilakukan dan diteliti yang dikenal dengan proses ilmiah”. Secara oprasional menurut indrawati (2009) sains memiliki makna: 1. Sekumpulan pengetahuan 2. Suatu proses pencarian 3. Siatu sarana pengembangan nilai-nilai 4. Suatu sarana untuk mengenal dunia 5. Suatu sarana untuk mengembangkan hubungan sosial 6. Suatu hasil konstruksi manusia 7. Bagian dari kehidupan manusia Dari makna tersebut, sering kita menyimpulkan bahwa sains pada hakikatnya terdiri atas aspek produk, proses dan nilai atau sikap yang kemudian kita kenal dengan istilah hakikat IPA. 1. Produk, merujuk pada sekumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, teori, hukum. 2. Proses, proses sains merujuk pada proses-proses pencarian sains yang dilakukan para ahli sering disebut siences as the process of inquiry. Ipa memiliki sesuatu metode, yang di kenal dengan sicientifik method/ atau metode ilmiah, yang meliputi kegiatan-kegiatan seperti: a. Mengenal dan merumuskan masalah. b. Mengumpulkan data c. Melakukan percobaan atau penelitian d. Melakukan pengamatan. e. Melakukan pengukuran. f. Menyimpulkan g. Mengkomunikasikan pengetahuan atau malaporkan hasil penemuan. Proses melakukan metode ilmiah meliputi mengamati, mengklasifikasi, menginfer, memprediksi, mencari hubungan, mengukur, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen, mengontrol variabel, menginterprestasikan data, menyimpulkan. 3. Sikap Para Ilmuwan IPA perlu memiliki sifat ilmiah, agar hasil yang dicapainya itu sesuai dengan harapannya. Sikap-sikap tersebut antara lain: a. Obyaktif terhadap fakta atau kenyataan b. Tidak tergesa-gesa di dalam mengambil kesimpulan atau keputusan. c. Berhati terbuka, bersedia mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain. d. Dapat membedakan antara fakta dan pendapat e. Bersikap tidak memihak suatu pendapat tertentu tanpa alasan yang didasarkan atas fakta f. Tidak mendasarkan kesimpulan atas prasangka g. Tidak percaya akan takhayul h. Tekun dan sabar dalam memecahkan masalah i. Bersedia mengkomunikasikan dan mengumumkan hasil penemuannya untuk diselidikim dikritik dan di sempurnakan. j. Dapat bekerjasama dengan orang lain. k. Selalu ingin tahu tentang apa, mengapa, dan bagaimana dari satu masalah atau gejala yang dijumpainya. C. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran IPA Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau natural science adalah pengetahuan tentang fakta dan hukum-hukum yang didasarkan atas pengamatan dan disusun dalam satu sisstem yang teratur. Pengertian lain menjelaskan bahwa sains adalah sekumpulan pengetahuan kealaman, dimana suatu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya memiliki hubungan kausal yang tumbuh sebagai hasil eksperimen dan observasi yang dapat dilakukan metode tertentu yang dapat diuji kebenarannya dengan kondisi dan syarat-syarat batas yang sama bila dilakukan ditempat lain oleh orang lain yang ingin mengujinya. Tujuan pembelajaran IPA di SD telah dirumuskan dalam kurikulum yang sekarang ini berlaku di Indonesia. Kurikulum yang sekarang berlaku di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam kurikulum KTSP selain dirumuskan tentang tujuan pembelajaran IPA juga dirumuskan tentang ruang lingkup pembelajaran IPA, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan arah pengembangan pembelajaran IPA untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sehingga setiap kegiatan pendidikan formal di SD harus mengacu pada kurikulum tersebut. Tujuan pembelajaran IPA di SD menurut Kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) secara terperinci adalah: a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaann-Nya. b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. d. Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. f. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan ketrampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP atau MTs. Ruang lingkup bahan kajian IPA di SD secara umum meliputi dua aspek yaitu kerja ilmiah dan pemahaman konsep. Lingkup kerja ilmiah meliputi kegiatan penyelidikan, berkomunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas, pemecahan masalah, sikap, dan nilai ilmiah. D. Karakteristik Siswa SD Perkembangan psikologis pribadi manusia di mulai sejak masa bayi hingga dewasa. Seperti halnya pada perkembangan fisik, perkembangan psikologis pun melalui beberapa tahap tertentu yang berbeda dengan tahapan perkembangan fisik. Mengenai perkembangan psikologis manusia ini sudah banyak dibahas oleh para ahli. Menurut J.J Rousseau (dalam Soemanto, 2006 h. 69) mengemukakan bahwa: Setiap tahapan perkembangan psikologis manusia memiliki karakteristik tersendiri. Perkembangan ini berlangsung dalam 5 tahap sebagai berikut: a) Tahap perkembangan masa bayi (0 – 2 tahun). Dalam tahap ini, perkembangan pribadi didominasi oleh perasaan. Perasaan ini sendiri tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimuli lingkungannya. b) Tahap perkembangan masa kanak-kanak (2 – 12 tahun). Dalam tahap ini, perkembangan pribadi anak di mulai dengan makin berkembangnya fungsi-fungsi indra anak untuk mengadakan pengamatan. Perkembangan fungsi ini memperkuat perkembangan fungsi pengamatan pada anak. Bahkan dapat dikatakan, bahwa perkembangan setiap aspek kejiwaan anak pada masih ini sangat didominasi oleh pengamatannya. c) Tahap perkembangan pada masa preadolesen (12 – 15 tahun). Dalam tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. d) Perkembangan pada masa adolesen (15 – 20 tahun). Dalam tahap perkembangan ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat.keadaan ini membuat orang mulai tertarik kepada orang lain yang berlainan jenis kelamin. e) Masa pematangan diri ( setelah umur 20 tahun). Dalam tahap ini, perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi, yaitu pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok dan pemuasan keinginan masyarakat. Dari penjelasan tersebut, perlu ditekankan bahwa karakteristik siswa SD berada pada tahap perkembangan masa kanak-kanak, dimana besarnya rasa ingin tahu akan segala hal sangatlah tinggi. Diperlukan banyak kegiatan pengamatan untuk mendapatkan hal-hal baru yang ingin diketahuinya. E. Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. pembelajarannya yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Roger dan Davi Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperativ harus diterapkan. Lima unsur tersedut adalah. 1. Saling ketergantungan positif, unsur ini menunjukan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut. 2. Tanggungjawab perseorangan 3. Interaksi promotif, unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. 4. Komunikasi antar anggota 5. Pemrosesan kelompok. F. Metode Index Card Match 1. Pengertian Metode Index Card Match Index Card Match Merupakan sebuah metode permainan mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban yang sesuai melalui interaksi dan kerjasama antar siswa. Pembelajaran dengan Index Card Match cukup menyenangkan jika digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian materi baru pun tetap dapat di ajarkan dengan metode ini dengan catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan untuk dikembangkan bersama-sama dalam diskusi kelas. 2. Tujuan Metode Index Card Match Tujuan dari metode Index Card Match adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan cara mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban yang dimiliki siswa lain. 3. Langkah-langkah penggunaan metode Index Card Match Langkah-langkah pembelajaran metode Index Cerd Match sebagai berikut : a. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam kelas. b. Bagilah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama. c. Pada separuh bagian, tulis pertanyaan tentang materi yang akan atau sudah di belajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan. d. Pada separuh kertas lain, tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah di buat. e. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.. f. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan separuh siswa akan mendapatkan jawaban. g. Mintalah kepada peserta didik untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, mintalah kepada mereka untuk duduk berdekatan. Jelaskan juga agar mereka tidak memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain. h. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang di peroleh dengan kertas kepada temannya yang lain selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya. i. Akhir proses ini dengan membuat klarifikasi dan kesimulan 4. Kelebihan Metode Index Card Match a. Meningkatkan pemahaman siswa b. Pembelajaran menjadi interaktif karena terdapat interaksi yang baik antara siswa yang mencari kartu soal dan siswa yang mencari kartu jawaban. 5. Kekurangan Metode Index Card Match a. Jika guru tidak pandai mengkondisikan kelas, ketika mancari kartu pasangannya maka suasana kelas akan menjadi sangat gaduh. b. Banyak kartu yang tercecer ketika siswa mencari kartu pasangannya sehingga sulit menemukan kartu pasangannya. c. Jika pemahaman siswa akan materi itu kurang, maka siswa akan kesulitan menemukan kartu pasangannya. G. Hasil Belajar Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne (dalam Suprijono 2009, h. 5) hasil belajar berupa: a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons merasa secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipusi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan. b. Ketermpilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis sintesis fakta konsep dan mengembangkn prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakn kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas. c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkain gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku. Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan, bukan hanya satu aspek saja. Peningkatan kualitas domain kognitif, afektif dan psikomotor juga berupakan bagian dari hasil belajar.Dengan demikian, hasil pembelajaran yang dinyatakan oleh para pakar pendidikan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah melainkan sesuatu yang bersifat komprehensif. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut: 1. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. 2. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. 3. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh pendidik untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila peserta didik sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. H. Daur Air 1. Penertian daur air Daur air merupakan sirkulasi (perputaran) air secara terus-menerus dari bumi keatmosfer dan kembali ke Bumi. Daur air ini terjadi melalui proses evaporasi (penguapan),presipitasi (pengendapan), dan kondensasi (pengembunan). a. Tahap evaporasi ( penguapan ) Air yang berada di lautan, danau, dan sungai akan mengalami evaporasi atau penguapan karena adanya pengaruh suhu panas yang berasal dari sinar matahari. b. Tahap presipitasi (pengendapan ) Setelah air mengalami proses penguapan maka akan menghasilkan butir–butir uap air. Uap air tersebut akan naik serta berkumpul di udara dan lama – kelamaan udara tersebut akan penuh sehingga udara tidak mampu menampung uap air yang cukup banyak. c. Tahap kondensasi (pengembuna ) Dengan adanya perubahan suhu yang cukup dingin, uap air tersebut akan berubah menjadi titik – titik air membentuk awan ( awan mendung ). Titik – titik air yang membentuk awan tersebut akan turun menjadi hujan, dimana air hujan tersebut akan mengalir ke sungai sampai ke laut dan menguap kembali. Hal tersebut terjadi secara terus menerus tanpa berhenti. 2. Faktor yang mempengaruhi daur air a. Hutan yang gundul akibat penebangan hutan secara liar. b. Pembakaran hutan untuk membuka lahan perindustrian. c. Pembangunan jalan dengan pengaspalan dan pembetonan baik di kota maupun di desa. Kegiatan – kegiatan tersebut mempengaruhi proses penyerapan air ke dalam tanah, sehingga saat hujan tidak merasap ke dalam tanah melainkan akan menjadi bencana seperti banjir. 3. Upaya penghematan pada air a. Menutup kran air segera setelah tempat penampungan air tersebut terisi penuh sehingga air tidak terbuang cuma – cuma. b. Memanfaatkan air bekas cucian apapun kecuali air bekas yang sudah tercampur zat kimia seperti sabun, deterjen dan lainnya, untuk menyiram tanaman (mangga dan bunga – bunga ). c. Tidak mencuci kendaraan setiap hari, hal itu akan mengakibatkan pemborosan akan menggunakan air. d. Menggunakan air seperlunya saja tidak berlebih – lebihan dalam penggunaan air bersih. e. Membuat aerah peresapan air, biasanya dinamakan lubang biopori f. Tidak membeton jalan g. Tidak menembang pohon sembarangan yang berlebihan berlebihan dan membakar hutan, selalu menggalangkan reboisasi hutan. Tabel 2.1 Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar Kelas V Semester 2 No. STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR 1. 7. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam . 7.4 Mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya I. Kerangka Pemikiran Disini penulis menggambarkan urutan pengerjaan yang akan dan telah dilakukan oleh peneliti. Adapun susunan kerangka pemikiran dalam PTK ini adalah sebagai berikut: 1. Melakukan observasi awal pada objek penelitian 2. Memilih dan memilah persoalan yang diperoleh di lapangan setelah melakukan observasi awal 3. Merumuskan masalah setelah dipilih persoalan yang akan diteliti 4. Menentukan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 5. Membuat perencanaan yang dikehendaki dalam PTK 6. Melakukan tindakan berdasarkan perencanaan 7. Melakukan pengamatan hasil tindakan 8. Melakukan refleksi sebagai langkah awal untuk melihat kesesuaian antara tujuan penelitian dengan hasil tindakan yang dilakukan. 9. Menyimpulkan hasil penelitian Agar hal tersebut berjalan sistematis , maka disajikan pula dalam bentuk diagram alur kerangka berfikir sebagai berikut: Bagan 2.1 Alur Kerangka Berpikir J. Asumsi dan Hipotesis 1. Asumsi Peneliti berasumsi bahwa dengan penerapan metode pembelajaran index card match dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan alasan sebagai berikut, bahwa dengan menggunakan metode index card match, diharapkan siswa memiliki tingkat konsentrasi yang lebih tinggi, kemampuan berpikir kritis dan logis lebih baik yang akan berdampak positif terhadap hasil dan prestasi belajar siswa. Selain itu, karena model ini merupakan jenis dari model pembelajaran cooperative learning, kemampuan bersosialisasi siswa akan ikut terlatih. Kemampuan tersebut antara lain, kemampuan untuk bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, bertanggungjawab, disiplin, jujur, dapat meneripa pendapat orang lain dan saling menghargai satu sama lain. 2. Hipotesis Berdasarkan asumsi diatas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: a. Diduga, dengan penerapan metode index card match dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas V semester II SDN MELONG ASIH 7 dalam pembelajaran IPA materi daur air. b. RPP yang disusun dengan menggunakan metode Index Card Match dalam pembelajaran IPA materi Daur air dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas V semester II SDN MELONG ASIH 7. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode Penelitian merupakan cara untuk mengumpulkan, menyusun dan menganalisa data tentang masalah yang menjadi objek penelitian. Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya guru atau praktisi pendidikan uji coba inovasi pembelajaran dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Menurut Wiraatmadja (2006:13). Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang di hadapai oleh guru di lapangan (wibawa, 2004:3). Arikunto (2007:3) mengartikan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pemcermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang disengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional (Sukidin, Basrowi dan Surnto,2002:16) Dari pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa PTK dapat artikan sebagai suatu bentuk kajian secara sengaja terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guna memperbaiki atau meningkatkan kondisi-kondisi atau bagian tertentu dalam pembelajaran. Menurut Hopkins (Rochiati, 2005:57-61), terdapat 6 prinsip penelitian tindakan kelas. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya PTK yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Ada dua hal penting terkait dengan prinsip ini. Pertama, mungkin metode pembelajaran yang diterapkannya dalam PTK tidak segera dapat memperbaiki pembelajarannya, atau hasilnya tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Sebagai pertanggungjawaban profesional, Guru hendaknya selalu secara konsisten menemukan sebabnya, mencari jalan keluar terbaik, atau menggantinya agar mampu memfasilitasi para siswa dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar secara lebih optimal. Kedua, banyaknya siklus yang diterapkan hendaknya mengutamakan pada ketercapaian kriteria keberhasilan, misalnya pembentukan pemahaman yang mendalam (deep understanding) ketimbang sekadar menghabiskan kurikulum (content coverage), dan tidak semata-mata mengacu pada kejenuhan informasi (saturation of information). 2. Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagaimana biasanya. Teknik pengumpulan data diuapayakan sesederhana mungkin, asal mampu memperoleh informasi yang cukup signifikan dan dapat dipercaya secara metodologis. 3. Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya yang memungkinkan Guru dapat mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelas, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis tindakannya. Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun PTK mestinya tetap dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan. 4. Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar membuat Guru galau, sehingga atas dasar tanggung jawab profesional, dia didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui PTK. Komitmen tersebut adalah dorongan hati yang paling dalam untuk memperoleh perbaikan secara nyata, proses dan hasil pelayanannya pada siswa dalam menjalankan tugas-tugas kesehariannya dibandingkan dengan proses dan hasil-hasil sebelumnya. Dengan demikian, mengajar adalah penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan sendiri agar mampu melakukan perbaikan praktiknya. 5. Pelaksanaan PTK seyogyanya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, PTK hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekan-rekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa layaknya sebagai manusia. 6. Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat PTK hendaknya tidak terbatas hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut. B. Desain Penelitian Pendapat Kemmis dan Mc. Taggart (Kasbolah, 1998: 14): Penelitian tindakan digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis dimana keempat aspek yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi harus dipahami bukan sebagai langkah-langkah yang statis, terselesaikan dengan sendirinya, tetapi lebih merupakan momen-momen dalam bentuk spiral yang menyangkut perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Prosedur penelitian yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini menggunakan metode spiral Kemmis dan Taggart (1988), adapun bentuknya sebagai berikut : Bagan 3.1 metode spiral Kemmis dan Taggart Merujuk pada metode spiral dari Kemmis dan Taggart (1988), maka rencana tindakan terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut : 1. Perencanaan (Plan) Setelah menemukan masalah, penulis bersama guru wali kelas merencanakan tindakan yang akan dilakukan, meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS), dan menyusun alat evaluasi pembelajaran. 2. Tindakan (Act) Merealisasikan perencanaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa 3. Pengamatan (Observe) Mencakup prosedur perekaman data tentang proses dan hasil implementasi tindakan yang dilakukan. Penggunaan pedoman atau instrument yang telah disiapkan sebelumnya. 4. Refleksi (Reflect) Menguraikan tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi tentang proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilakukan, serta kriteria dan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Pada siklus berikutnya, perencanaan direvisi disesuaikan dengan hasil pengamatan yang didapatkan dari siklus sebelumnya. C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Melong Asih 7 Jl. Melong Raya Blok 22 no. 195, kelurahan Melong 40534, kecamatan Cimahi selatan, Kota cimahi untuk mata pelajaran Ilmu Pengethuan Alam. sekolah berada tepat di pinggir jalan dan dilalui oleh kendaraan umum Elang Melong Asih. Disebelah utara, SDN Melong Asih 7 terdapat didalah sebuah komplek sekolah dasar yang terdiri dari SDN Melong Asih 4, SDN Melong Asih 5, SDN Melong Asih 8. Berbagai fasilitas mengajar sudah tersedia dan terawat dengan baik. SDN melong asih 7 memiliki 4 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang pendidik, 1 ruang perpustakaan, 1 mushala, 1 ruang Lab. komputer,1 ruang UKS, 1 toilet pendidik, 6 toilet peserta didik, lapangan olahraga, lapangan parkir, kantin biasa dan kantin kejujuran. Waktu untuk pembelajaran di bagi menjadi 3 Rombel ada kelas pagi, menjelang siang dan kelas siang, pada pagi hari kelas di pakai oleh peserta didik kelas 1, kelas 2A, dan kelas 4A. Pada Jam Menjelang siang pukul 10:00 yaitu kelas 2b dan kelas 3, Pada Siang hari pukul 12:30 yaitu kelas 4b, kelas 5a, kelas 5b, dan kelas 6b. Minat baca peserta didik SD Negeri Melong Asih 7 cukup tinggi. Terllihat dari banyaknya siswa yang meminjam buku dan juga mengerjakan tugas di dalam perpustakaan. Koleksi buku sangat berpariatif mulai dari Buku pelajaran, buku novel, cerpen, hasil karya siswa baik berupa puisi,naskah dan sebagainya. Diperpustakaan juga di simpan berbagai jenis media pembelajaran yang dapat di pinjam oleh guru kelas untuk menunjang pembelajarannya. Keadaan lingkungan sekolah cukup nyaman karena banyak siswa yang berakhlak dan budipekerti yang baik. Hal itu ditunjang dengan program sekolah yaitu kantin kejujuran yang dimana siswa di perbolahkan untuk mengambil makanan dan membayar dan juga mengambil kembalian secara pribadi/individu. Sehingga dengan hal tersebut akan lebih meningkatkan rasa tanggung jawab, kejujuan dan peduli sesama. Keadaan Peserta didik, berdasarkan sumber dari tata usaha di SDN Melong Asih 7, tabel keadaan kepala sekolah dan guru-guru yang bertugas saat ini seperti tercantum di bawah ini. Tabel 3.1 Keadaan Murid SDN Melong Asih 7 Tahun Pelajaran 2013-2014 No. Kelas Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 1. I 18 14 32 2. II A 19 13 32 3. II B 20 23 43 4. III 18 19 37 5. IV A 18 15 33 6. IV B 20 23 43 7. V A 16 23 39 8. V B 19 18 37 9. VI A 20 17 37 10. VI B 19 21 40 Jumlah 189 183 372 Tabel 3.2 Keadaan Guru SDN Melong Asih 7 Tahun Pelajaran 2013-2014 Nama Jabatan Dra. Utami Murniningsih Kepala Sekolah Imas Winarni, S.Pd.SD Guru Kelas I Fauziyah Nur Aisyah, S.Pd Guru Kelas II A Nurul Maya Sari, S.Pd Guru Kelas II B Ipong Rohaeti, A.Ma.Pd Guru Kelas III Siti Rokayah, S.Pd.SD Guru Kelas IV A Yati Setiawati, A.Ma.Pd Guru Kelas IV B Vina Febiani M, S.Pd Guru Kelas V A Etna Rosheryani Guru Kelas V B Tini Setianingsih, S.Pd.SD Guru Kelas VI B Hadiyat, S.Pd.SD Guru Kelas VI A Entin Seriyawati, S.Pd.I Guru PAI Novi Tresna, S.Pd Guru B. Inggris Muhammad Faisal Guru TU Nur Eva Andriani Guru Perpustakaan Siti Nurasminah Guru Olahraga Sobana Penjaga Sekolah 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V SD Negeri Melong Asih 7 Kota Cimahi, dengan jumlah peserta didik yaitu 39 orang, yang terdiri dari 19 peserta didik laki – laki dan 20 peserta didik perempuan. Pelaksanaan penelitian ini direncanakan pada semester genap tahun Pelajaran 2013-2014. Sasarannya adalah penerapan Metode Index Card Match untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran IPA materi Daur Air di kelas V Semester II SD Negeri Melong Asih 7 Kota Cimahi. 3. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei sampai dengan Juni 2014. Berhubung tahun ajaran 2013-2014 akan segera berakhir, maka penelitian akan dilaksanakan pada semester II dengan materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan. D. Operasionalisasi Variabel Dalam penelitian ini judul penelitiannya mengandung dua variabel, yaitu satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebasnya yaitu, penggunaan Metode Index Card Match, yang Merupakan sebuah metode permainan mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban yang sesuai melalui interaksi dan kerjasama antar siswa Untuk variabel terikatnya yaitu hasil belajar. Nana Sudjana (2009:3) mendefinisikan hasil belajar peserta didik pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Variabel yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah model cooperative learning tipe Index Card Match untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA tentang Daur Air. Di samping variabel tersebut masih ada beberapa variabel yang lain yaitu: 1. Input: sarana pembelajaran, lingkungan belajar, bahan ajar, guru, peserta didik dan prosedur evaluasi. 2. Proses kegiatan belajar mengajar: interaksi belajar, gaya mengajar, penggunaan model cooperative learning tipe index card match 3. Output: hasil belajar peserta didik berupa pemahaman konsep, motivasi dan sebagainya. E. Rancangan Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian 1. Rancangan Pengumpulan Data Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan peneliti adalah berupa lembar observasi Guru dan peserta didik, lembar wawancara, lembar angket respon peserta didik, lembar kerja siswa, lembara tes hasil belajar serta indikator kinerja. Untuk melaksanakan penelitian ini, pengumpulan data diperoleh dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Persiapan 1) Permohonan izin kepada Kepala Sekolah SDN Sindangsari 2 Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung serta kedinasan terkait 2) Observasi dan wawancara sebagai gambaran awal 3) Melaksanakan identifikasi masalah 4) Merumuskan model pembelajaran 5) Merumuskan dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 6) Menyusun atau menetapkan teknik pemantauan pada setiap tahapan penelitian b. Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini disesuaikan berdasarkan rencana yang telah disusun. Pelaksanaan penelitian terdiri dari kegiatan belajar mengajar, evaluasi dan refleksi yang dilakukan pada setiap siklus. F. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipergunakan peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pedoman Observasi Observasi terhadap Guru dilakukan untuk mengetahui aktivitas guru selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Index Card Match. Aspek-aspek yang di amati yaitu di mulai dari awal hingga akhir pembelajaran. Metode observasi yang dipilih penulis adalah metode observasi terstruktur. Metode terstruktur menurut Wiraatmadja (2005:114) adalah metode observasi dimana subjek observer telah menyetujui kriteria yang diamati observer, selanjutnya observer hanya tinggal menghitung (mentally) saja berapa kali jawaban, tindakan atau sikap yang sedang diteliti itu ditampilkan. Tabel 3.3 Format Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran No Indikator/ Aspek yang diamati Skor 1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 5 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 5 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 5. Kejelasan skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/ metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5 6. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/ model dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5 7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5 8. Kelengkapan instrument (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5 Skor total Buku Panduan PPL II (2014 :33) Tabel 3.4 Format Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran No. Indikator Aspek yang Diamati Skor I. Pra pembelajaran 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 4 5 2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 4 5 II. Kegiatan Inti Pembelajaran A. Penguasaan materi pelajaran 3. Menunjuk penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 5 4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5 5. Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 B. Pendekatan/ strategi pembelajaran 7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5 9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5 10. Melaksanakan pembelajaran secara kontekstual 1 2 3 4 5 11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif 1 2 3 4 5 12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan 1 2 3 4 5 C. Pemanfaatan Sumber Belajar/Media Pembelajaran 13. Menggunakan media secara efektif dan efesien 1 2 3 4 5 14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5 15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5 16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5 D. Pembelajaran yang memicu dan memlihara ketertiban siswa 17. Menunjukan sikap terbuka terhadap respons siswa 1 2 3 4 5 18. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5 E. Penilain proses dan Hasil belajar 19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5 20. Melakukan penialaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5 F. Penggunaan Bahasa 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulisan secara jelas, baik dan benar 1 2 3 4 5 22. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5 III. Penutup 23. Melaksanakan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 1 2 3 4 5 24. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. 1 2 3 4 5 Buku Panduan PPL II (2014 :33) Tabel 3.5 Observasi aktivitas peserta didik No Aktivitas Belajar Peserta Didik Skala Observasi Ket 4 3 2 1 1 Semangat Belajar 2 Perhatian/ fokus 3 Komunikasi 4 Kerja sama 5 Tanggungjawab 6 Disiplin/ taat 2. Pedoman Wawancara Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak dengan maksud tertentu (Moleong 2004:135). Pedoman wawancara merupakan pedoman yang digunakan pada saat proses pembelajaran IPA dan juga pengumpulan data. Dalam hal ini wawancara dilakukan kepada guru kelas V dan peserta didik kelas V SD Negeri Melong Asih 7 Cimahi untuk memperoleh data tentang pandangan atau pendapat peserta didik dalam pembelajaran IPA pada materi daur air dengan menggunakan metode Index Card Match. Wawancara dilaksanakan setelah proses pembelajaran berlangsung. Adapun bentuk wawancara yang dipilih penulis adalah bentuk wawacara terstruktur sesuai dengan pendapat Wiriatmadja (2005:118) bahwa wawancara terstruktur adalah wawancara dimana pewancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu. 3. Angket Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain agar orang tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Tujuan penyebaran angket adalah untuk mendapatkan gambaran nyata secara objektif, karena angket tidak dipengaruhi oleh peneliti secara langsung. Dalam artian responden dapat memberikan penilaian secara mandiri (Sugiyono, 2012, h. 199) Dengan angketnya kita dapat mengetahui respon peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Index Card Match, mengapa demikian karena objek penelitian saat ini adalah peserta didik, sehingga mereka langsung merasakan kekurangan dan kelebihannya dalam penggunaan model Cooperative Learning tipe Index Card Match pada materi pelajaran IPA yaitu aur Air khususnya Tabel 3.6 Angket Peserta Didik Berilah tanda Chek list () pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu. Pilihan jawaban terdiri dari Setuju, dan Tidak Setuju. Isilah seluruh pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Jawabanmu tidak akan mempengaruhi nilai. No. Pernyataan Tanggapan Setuju Tidak Setuju 1. Pelajaran IPA adalah pelajaran yang menyenangkan 2. Saya sangat semangat dalam pelajaran IPA 3. Saya senang saat berdiskusi dengan teman saat pembelajaran 4. Saya lebih senang menentukan sendiri pembentukan kelompok 5. Saya berani mengungkapkan pendapat saat berdiskusi 6. Diakhir pembelajarn saya dapat mengimpulkan hasil diskusi yang telah dilakukan 7. Pembelajaran IPA dengan metode Index Card Match menyenangkan bagi saya 8. Metode Index Card Match membuat saya lebih memahami materi 9. Saya merasa putusasa apabila tidak dapat mengerjakan soal 10. Saya merasa malu untuk bertanya pada materi yang saya belum mengerti 4. Lembar Kerja Peserta didik/Siswa (LKPD) Dengan LKS (LKPD) peserta didik akan lebih aktif dalam memproduksi dan mengkontruksi pengetahuannya. LKS (LKPD) diberikan pada saat kegiatan kelompok dengan tujuan dapat dikerjakan bersama-sama oleh setiap anggota kelompok. Dengan bekerja sama maka peserta didik dapat secara optimal mempergunakan pengetahuan, sikap dan psikomotornya dalam mengahadapi suatu masalah. 5. Lembar Tes Hasil Belajar (soal) Menurut Indrakusuma (Arikunto, 2001:32) memberikan penjelasan bahwa Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif serta praktis untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang tepat dan cepat. Lembar tes dalam penelitan ini adalah berupa lembar soal yang dikembangkan dari beberapa indikator yang harus dikerjakan oleh peserta didik secara individu. Tujuannya untuk melihat keberhasilan belajar peserta didik sebelum dan sesudah pemberian tindakan dengan cara membandingkan nilai rata-rata yang diperoleh. G. Indikator Kinerja Sebagai tolak ukur keberhasilan, maka ditetapkan secara eksplisit agar memudahkan dalam verifikasinya. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu indikator tentang keterlaksanaan skenario pembelajaran dan indikator keberhasilan belajar dalam pembelajaran IPA pada materi daur air. Skenario pembelajaran terlaksana dengan baik apabila minimal 80% pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, yang ditinjau dan dinilai dengan menggunakan lembar observasi dan format pelaksanaan pembelajaran. Para peserta didik yang menjadi objek penelitian ini dikatakan berhasil apabila 80% peserta didik telah memperoleh nilai minimal 72. H. Rancangan Analisis Data Menurut Sugiyono (2011:334) analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami,dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif yakni: 1. Analisis kualitatif digunakan pada data hasil observasi dan angket dengan triangulasi. Triangulasi berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru sebagai peneliti, sudut pandang peserta didik dan sud 4. Analisis Lembar Tes Hasil Belajar Menganalisis peningkatan hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan dau air yaitu dengan diberikannya soal evaluasi. I. Validasi Data Agar data yang diperoleh benar-benar valid, maka dalam penelitian ini penulis melakukan beberapa tindakan pada pendapat Hopkins (dalam Wiraatmadja, 2005: 168-170), yaitu: “member check, triangulasi, dan audit trail”. Sehubungan dengan penelitian penulis, maka ketiga validasi data tersebut dipaparkan sebagai berikut: 1. Member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dengan cara mengkonfirmasikannya dengan guru dan peserta didik melalui diskusi pada akhir tindakan. 2. Triangulasi, yakni memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh peneliti dengan hasil yang diperoleh mitra/observer secara kolaboratif. 3. Audit trail, yakni mengecek kebenaran prosedur dan metode pengumpulan data dengan cara mendiskusikannya dengan pembimbing. Agar data yang diperoleh memiliki validitas tinggi, dalam penelitian ini akan dilaksanakan ketiga kegiatan validitas data tersebut. Karena pada dasarnya ketiga kegiatan validasi data tersebut memiliki korelasi yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Dengan demikian data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Member check merupakan validitas data yang sudah pasti dilakukan, mengingat kegiatan ini merupakan tahap I. Validasi Data Agar data yang diperoleh benar-benar valid, maka dalam penelitian ini penulis melakukan beberapa tindakan pada pendapat Hopkins (dalam Wiraatmadja, 2005: 168-170), yaitu: “member check, triangulasi, dan audit trail”. Sehubungan dengan penelitian penulis, maka ketiga validasi data tersebut dipaparkan sebagai berikut: 1. Member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dengan cara mengkonfirmasikannya dengan guru dan peserta didik melalui diskusi pada akhir tindakan. 2. Triangulasi, yakni memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh peneliti dengan hasil yang diperoleh mitra/observer secara kolaboratif. 3. Audit trail, yakni mengecek kebenaran prosedur dan metode pengumpulan data dengan cara mendiskusikannya dengan pembimbing. Agar data yang diperoleh memiliki validitas tinggi, dalam penelitian ini akan dilaksanakan ketiga kegiatan validitas data tersebut. Karena pada dasarnya ketiga kegiatan validasi data tersebut memiliki korelasi yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Dengan demikian data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Member check merupakan validitas data yang sudah pasti dilakukan, mengingat kegiatan ini merupakan tahap awal validitas

Item Type: Thesis (Skripsi(S1))
Subjects: S1-Skripsi
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > PGSD 2014
Depositing User: Iyas -
Date Deposited: 28 Jun 2016 09:29
Last Modified: 28 Jun 2016 09:29
URI: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/5090

Actions (login required)

View Item View Item